Enak di Blog dan Perlu

Di antara sekian pekerjaan yang mesti kita selesaikan, bagaimana caranya agar semua bisa tertangani dengan baik? Lazimnya kita diajak untuk pintar-pintar mengatur waktu agar jam kerja yang tersedia dapat dipakai sebaik-baiknya. Jika jam kerja sudah habis sedangkan pekerjaan belum selesai, pilihannya adalah lembur atau menunda pekerjaan ke esok hari.

Seperti kita tahu, waktu yang kita punya dalam sehari adalah 24 jam. Karena itu, ada yang menyarankan, buatlah prioritas. Namun, bagi masing-masing orang, yang disebut prioritas bisa berbeda-beda. Ada yang mengatakan, “Selesaikan dulu persoalan yang paling mudah.” Yang lain berujar, “Tuntaskan dulu masalah yang paling mendesak.” Pendapat lain menyebutkan, “Persoalan terpenting harus dipecahkan lebih dulu.”

Untuk menyelesaikan semua soal itu, bahkan untuk soal-soal yang ‘prioritas’ saja, siapapun pada akhirnya terbentur pada keterbatasan waktu. Padahal, waktu adalah sumber daya yang terbatas dan sama sekali tidak tergantikan. Bila 10 menit sudah berlalu, kita tidak bisa memperoleh penggantinya. Lantaran itu, kita mengenal kata ‘lembur’ yang sebenarnya mempunyai makna mengambil jatah waktu istirahat untuk terus bekerja.

Adakah cara pandang lain untuk memecahkan persoalan keterbatasan waktu? Tony Schwartz, pendiri Energy Project di New York City, dan Catherine McCarthy, menawarkan pendekatan lain agar kinerja kita tetap bagus walaupun banyak persoalan harus diselesaikan. Kuncinya: kelola energimu sebaik-baiknya, bukan waktumu. Waktu berada di luar kendali kita.

Schwartz dan McCarthy lebih menyarankan kita agar pintar mengelola energi, karena energi dapat diperbarui, sedangkan waktu tidak. Energi kita memiliki empat dimensi: fisik, emosi, pikiran, dan spirit. Tubuh merupakan sumber energi fisik. Kebugaran fisik berkontribusi terhadap kinerja yang bagus. Makanan bergizi, tidur yang cukup, olahraga yang memadai sangat berarti untuk menghasilkan energi fisik yang berkualitas.

Emosi berkaitan dengan kualitas energi. Tatkala orang mampu mengendalikan emosi dengan lebih baik, mereka dapat memperbaiki kualitas energi mereka, betapapun besar tekanan eksternal yang mereka hadapi. Pandangan ini ‘nyambung’ dengan perspektif Daniel Goleman tentang kecerdasan emosional—orang yang kecerdasan emosionalnya tinggi biasanya mampu mengatasi tekanan-tekanan dan memiliki peluang lebih besar untuk berhasil.

Sementara itu, pikiran terkait dengan bagaimana memusatkan energi. Banyak orang beranggapan menyelesaikan sejumlah pekerjaan secara bersamaan (multitasking) adalah cara untuk mengatasi keterbatasan waktu. Sayangnya, mereka kurang menyadari bahwa yang terjadi justru sebaliknya. Multitasking mengonsumsi waktu lebih banyak karena penggunaan energi secara bercabang pada saat yang bersamaan.

Nah, yang keempat, yang mungkin sering kita lupakan ialah spirit sebagai dimensi energi yang terkait dengan makna dan tujuan. Namun, di saat-saat letih, biasanya kita berpikir tentang ‘apa makna dan tujuan kita bekerja’ dan di saat seperti itu tiba-tiba kita merasa memperoleh kembali energi positif, bisa fokus dengan lebih baik.

Kemampuan kita dalam mengelola energi kemanusiaan ini—tubuh, emosi, pikiran, dan spirit—akan membuahkan hasil kerja yang lebih hebat dibandingkan dengan yang didapat dari kerumitan mengelola waktu. Lagi pula, masing-masing dimensi energi ini dapat dilatih, dikembangkan, dan diperbarui secara teratur lewat aktivitas-aktivitas tertentu. ***

Komentar [5]

Feed  •   Trackback  •   Kirim Komentar

5 Komentar untuk “Belajar Mengelola Empat Dimensi Energi”

  1. Adji | 27 May, 2012 04:07

    niatkan untuk ibadah saja

  2. Inu | 28 May, 2012 11:31

    Judul bukunya apa ya yg membahas tentang
    Belajar Mengelola Empat Dimensi Energi ? Thx

  3. asep akung maryadi | 28 May, 2012 16:25

    istirahat untuk mengembalikan energi yang terbuang dengan begitu kondisi fisik akan kembali meskipun tidak 100% fit

  4. Machfudz | 30 May, 2012 23:25

    hmmmee.. terus belajar deh pokoknya…

  5. yeni mickey | 9 August, 2012 18:21

    aduch qw bngung dimensi energi pha yach

Silakan berkomentar, kawan!