Enak di Blog dan Perlu

Akademi Berbagi Bali (@AkBerBali) mengundang saya untuk mengisi sebuah acara berbagi pada akhir Juni 2013 silam. Saya langsung iyakan meskipun waktu itu topiknya belum pasti. Setelah berdiskusi lewat twitter dan email, saya dan Fahry, penggiat @AkBerBali, sepakat bahwa topik yang tepat adalah public speaking alias keterampilan berbicara di depan umum. Saya bukan pakar public speaking karena tidak pernah menekuni bidang ini secara formal tetapi memiliki cukup pengalaman. Fahry rupanya tahu, saya cukup sering presentasi di berbagai forum dan @AkBerBali ingin saya berbagi pengalaman itu. Saya pun bersedia.

Berbagi di AkBerBali

Berbagi di AkBerBali

Pagi-pagi subuh tanggal 30 Juni 2013, saya terbangun di sebuah hotel sederhana di Singapura karena beberapa hari lalunya saya mengikuti sebuah diskusi meja bundar dan memberi kuliah di sebuah institusi di Singapura. Saya harus bergegas ke Kuala Lumpur untuk meneruskan perjalanan ke Bali. Hari itu, apa yang menjadi kelakar di masa lalu, akhirnya menjadi kenyataan. Saya sarapan di Singapura, makan siang di Kuala Lumpur dan menikmati makan malam di Bali.

Sore hari saya tiba di Bandara Ngurah Rai dan langsung menuju ke Kopi Kultur, tempat dilangsungkannya acara berbagi public speaking itu. Meskipun itu bukan acara formal, mereka tetap menyebutnya dengan istilah kelas. Saya sebut nama acara itu “Kelas #16 @AkBerBali #PublicSpeaking”. Kopi Kultur bukan tempat minum kopi biasa. Itu adalah tempat pergulatan ide. Saya menganggapnya demikian karena minum kopi di sana biasanya diiringi dengan aktivitas bertukar gagasan.

Ini adalah kali pertama saya mengajar ditemani Ibu, Bapak, kakak dan adik saya. Yang istimwa, Lita, anak saya yang sedang ada di Bali juga menjadi bagian dari acara itu. Percayalah, sehebat apapun seorang presenter, ketegangannya meningkat saat disaksikan orang tuanya. Itulah yang terjadi pada saya sore itu. Meski demikain, the show must go on.

Peserta cukup banyak dann kata Fahry adalah salah satu yang terbanyak sepanjang sejarah @AkBerBali. Acara dibuka oleh Milly, ibu kepala sekolah @AkBerBali. Ibu kepala sekolah ini tentu saja tidak galak dan tidak tua. Milly masih muda, enerjik dan gaul tentu saja. Saya membuka dengan satu kelakar bahwa di masa kecil saya sering dimarahi ibu saya karena terlalu banyak bermain di luar rumah. Saya ingat pernah dimarahi karena mandi di sungai di banjar (dusun) tetangga. Ibu saya berucap “masak mandi saja di dusun tetangga? Terus kalau mau makan di mana? Mau ke Tabanan?” Itu saya katakan untuk menggambarkan betapa ibu saya tidak suka saya melakukan aktivitas keseharian di tempat-tempat yang jauh. Saya lalu lanjutkan “hati-hati apa yang Anda katakan pada anak suatu hari karena kita tidak tahu kalau 25 tahun kemudian dia akan sarapan di Singapura, makan siang di Malaysia dan makan malam di Indonesia dalam waktu satu hari”. Hadirin mulai terbawa kelakar saya.

Berbagi tak pernah rugi

Berbagi tak pernah rugi

Meski judulnya adalah belajar public speaking, saya tidak segera mulai dengan langkah satu, dua, dan tiga. Saya paham, belajar public speaking yang terbaik adalah dengan melihat contoh. Saya sampaikan, di antara semua kuliah atau presentasi yang saya bawakan, yang paling menantang adalah ketika membawakan materi public speaking. Mengapa menantang? Karena peserta bisa secara langsung menyimak pelajaran dari cara saya memberi kuliah itu. Akan sangat tidak elok jika saya bisa berbusa-busa mejelaskan teknik presentasi yang bagus padahal presentasi saya saat itu sama sekali tidak menarik. Maka saya serahkan pada penyimak ketika itu, jangan percaya apa yang saya sampaikan tetapi simak apa yang saya lakukan dalam 1,5 jam ke depan. Jika ada, maka ambilah pelajaran dari tindakan saya, baik itu pelajaran baik maupun buruk. Jika dirasa baik, belajarlah untuk meniru dan melakukannya, tetapi jika saya tampil buruk, belajarlah hal-hal yang tidak boleh dilakukan ketika presentasi. Dengan mengucapkan itu, saya juga membebaskan diri saya dari beban besar dalam memberi kuliah.

Di ruangan itu saya juga menyapa sebanyak mungkin hadirin untuk mengakrabkan diri. Saya perkenalkan keluarga dan terutama Lita, anak saya, yang rupanya sudah diketahui beberapa orang dari media sosial karena saya kadang bercerita tetang Lita. Selepas berbasa basi tibalah saatnya memulai materi public speaking hari itu dan saya menyampaikan 13 hal penting dalam public speaking.

Presentasi itu sederhana

Presentasi itu sederhana

  1. Nervous? Nikmatilah.
    Saya selalu yakin, orang yang grogi atau berdebar-debar ketika melakukan sesuatu adalah orang yang serius. Seorang remaja grogi jika bertemu orang yang ditaksirnya karena dia ingin tampil baik dan takut mengecewakan. public speaking juga demikian. Grogi terjadi karena kita serius ingin tampil baik. Tidak perlu terlalu khawatir karena itu hal biasa. Tips saya, yang juga diajarkan oleh Larry King, sampaikan saja kekhawatiran itu pada pendengar. Misalnya, saat memulai kelas di @AkBerBali saya menyampaikan bahwa mengajar public speaking itu sulit karena kualitas public speaking pembicara dipertaruhkan saat itu juga. Pengajarannya berhasil bukan dari tips yang disampaikannya tetapi dari penampilannya saat itu. Kekhawatiran perlu disampaikan agar secara psikologis pendengar memaklumi atau bahkan berpihak kita kita.

    Meski demikian, perlu diingat bahwa kita tidak cukup mengatakan bahwa kita grogi atau ‘baru belajar’ atau ‘belum apa-apa’ karena pendengar bisa kehilangan ketertarikan dan terutama kepercayaan. Setelah menyampaikan kekhawatiran, sampaikan juga bahwa Anda akan melakukan yang terbaik.

  2. Mulai dengan Intermezzo
    Intermezzo itu penting. Kalau sering melihat Jokowi pidato atau memberi materi, dia sering menyampaikan kejadian lucu ketika dia upacara bendera pertama kali sebagai bupati. Waktu itu dia lupa menurunkan tangannya duluan saat menghormat sehingga pemimpin upacara tidak berani memberi aba-aba “tegak grak”. Bisa dibayangkan apa akibatnya. Lelucon lain yang dia sampaikan adalah perihal ajudannya yang lebih ganteng dan lebih gagah dari dirinya dan itu sering menjadi masalah. Intermezzo ini sering juga dipakai oleh Dino Patti Djalal yang di awal pidatonya biasa menceritakan supirnya yang lebih tampan dari dirinya sehingga sering kali para tamu menjabat tangan sopirnya dan menyerahkan kunci mobil kepadanya. Lepas dari cerita yang agak dilebih-lebihkan, intermezzo seperti ini selalu berhasil mencairkan suasana. Saya biasanya berintermezzo tentang nama saya yang jika dibaca dengan pelafalan Bahasa Inggris “I made Andi Arsana” berarti “saya membuat Andi Arsana”. Cerita ini selalu berhasil membuat suasana tegang jadi segar dan santai.
  3. Menemukan kesamaan dengan audiens
    Dalam pidatonya, Obama selalu memulai dengan satu cerita bahwa dia dan audiens itu sama. Dia cerita tetang perjuangannya saat kuliah dengan pinjaman dari pemerintah, dia cerita tentang sulitnya melunasi hutang bahkan sampai dia menikah. Cara lain untuk menemukan kesamaan misalnya dengan bertanya “ada yang jadi followers saya di Twitter?” sehingga para pendengar yang utamanya anak muda akan merasa ‘satu frekuensi’ dengan saya sebagai pembicara. Kelakar ini biasanya saya lanjutkan dengan ucapan “yang bukan followers saya boleh keluar” dan biasanya hadirin selalu tertawa dan suasana jadi cair.
  4. Mengatasi dilemma anak muda
    Di Indonesia, menjadi muda dan pintar itu tidak mudah kadang. Orang masih melihat penampilan untuk bisa percaya. Makanya anak muda kadang dilematis jika harus presentasi di depan orang-orang yang lebih tua. Di satu sisi dia harus tampil bagus sekali agar dipercaya tetapi dengan berusaha tampil baik kadang menjadi terkesan sombong dan berlebihan. Hal ini perlu disadari anak muda, belajar berkomunikasi dengan menyeimbangkan tujuan agar dianggap mampu dengan tidak dituduh sombong. Memberikan pengakuan kepada beberapa orang audiens senior adalah salah satu caranya. Aneis Baswedan sering melakukan ini ketika diminta berpidato di depan hadirin yang bahkan adalah gurunya ketika muda. Dia selalu memuji gurunya atau bahkan menyampaikan ketidaklayakannya meggurui gurunya. Meski demikian, penting untuk menunjukkan kesiapan, misalnya dengan mengatakan “saya merasa terhormat sekali bisa berbicara di depan guru-guru saya, membawakan materi yang saya pelajari dari Ibu Bapak sekalian di masa lalu.”
  5. Kekuatan cerita
    Gagasan besar seringkali lebih mudah diterima lewat cerita sehari-hari yang sederhana. Ketika menyampaikan perlunya universal health care, Obama selalu mulai dengan menceritakan kehidupan sebuah keluarga di suatu kawasan di Amerika yang ditemuinya. Dia menegaskan betapa berat perjuangan mereka tanpa kehadiran negara. Saat bercerita tentang betapa pentingnya menjadi bagian dari sejarah, dia bercerita tentang seorang perempuan yang berumur di atas 100 tahun dan telah melewati naik turunnya Amerika. Saya juga ceritakan di @AkBerBali bahwa Lita, anak saya, mau menuruti nasihat saya jika disampaikan lewat cerita yang akrab dengan dunianya. Pernah suatu kali Lita membuat keonaran di sekolahnya karena suka menangkap serangga dan tidak ada satu nasihatpun yang mempan sebelum akhirnya saya membuatkan sebuah cerita fabel. Lita perlu diposisikan sebagai serangga untuk bisa menerima nasihat saya. Public speaking juga demikian.
  6. Menggunakan animasi
    Hampir semua pembaca tulisan ini bisa menggunakan perangkat lunak presentasi seperti power point. sayangnya tidak sedikit yang masih menggunakan power point seperti layaknya overhead projector di masa lalu, hanya untuk menayangkan huruf dan angka. Pertama, kita harus ingat bahwa gambar itu bernilai seribu kata dan animasi itu bisa lebih dari gambar. Jika tidak bisa animasi, setidaknya bisa memastikan tampilnya obyek presentasi secara berurutan yang membantu alur cerita. Di bidang saya yang mempelajari pemetaan dan batas maritim, visualisasi dan animasi ini menjadi sangat amat penting. Dalam presentasi di @AkBerBali saya juga contohkan bahwa animasi itu juga bisa digunakan oleh disiplin sosial seperti sejarah dan pengajaran bahasa.
  7. Menguasai materi dengan baik
    Ini nasihat standar, siapapun sudah memahaminya. Jangan tampil tanpa menguasai materi.
  8. Berlatih untuk menjadi sempurna
    Saya tidak pernah bisa tampil dengan baik tanpa latihan. Ada yang kadang mengatakan “masak perlu latihan lagi, kan sudah bagus?” Dia tidak tahu, seseorang bisa bagus, justru karena latihan. Ada orang yang tidak percaya kalau saya selalu latihan sebelum presentasi di sebuah forum bahkan berkali-kali. Kalau saya mengatakan “jika latihan 30 kali belum bagus, lakukan 70 kali” itu memang benar adanya. Bukan lelucon. Saya berlatih dengan membuat naskah lengkap, menghafalkannya dan mensimulasikannya berkali-kali seakan sudah presentasi sebenarnya.
  9. Memanfaatkan waktu dengan baik
    Tidak ada yang lebih mengganggu dari presentasi yang melebihi waktu yang ditetapkan, terutama ketika presentasinya juga tidak menarik. Tidak jarang ini terjadi pada para pakar karena terlalu banyak ilmu yang dikuasai sehingga banyak yang ingin disampaikan. Bagaimana mengatasi ini? Lakukan latihan dengan simulasi waktu yang ketat. Jangan berhenti berlatih sebelum bisa tepat waktu. Jangan berharap bisa tepat waktu saat tampil sebenarnya jika saat latihan saja masih belepotan. Kalaupun hal ini bisa terjadi pada sementara orang, itu pasti keberuntungan tingkat tinggi dan kita tidak bisa terus-terusan berharap pada keberuntungan saja.
  10. Menjaga kontak mata
    Komunikasi yang efektif bisa tercapai dengan kontak mata. Dalam banyak hal, kontak mata sering membantu bahkan menggantikan komunikasi verbal. Keseriusan mata dalam memandang dan kontak dengan audiens bisa menguatkan pesan yang ingin disampaikan. Bagaimana kalau risih menatap mata? Tatap keningnya.
  11. Melakukan interaksi
    Sekali waktu perlu melakukan interaksi dengan pendengar atau bahkan pembicara sebelumnya. Hal ini bisa dilakukan dengan bertanya, atau sekedar menyebut nama salah satu audiens. Misalnya, “di sini juga ada Pak X yang memiliki pemahaman yang baik tentang isu ini” atau “teman-teman dari jurusan anu yang ada di ruangan ini mungkin mengetahui perkara ini dengan lebih baik.” Jika merasa percaya diri, bisa melakukan interaksi berupa tanya jawab. Akan baik juga jika bisa mengaitkan materi presentasi kita dengan materi presenter sebelumnya sambil menyampaikan pujian. Bukan kritik.
  12. Mengutamakan kejujuran dan kebenaran
    Di @AkBerBali saya mencontohkan pidato Michelle Obama saat mendukung nominasi suaminya, Barak Obama, sebagai presiden AS periode kedua. Michelle menyampaikan pidatonya tanpa kata-kata sulit, tidak juga berapi-api tetapi dengan kejujuran yang begitu menyentuh. Michelle berhasil membius pendengar, bukan dari gaya retorikanya yang membahana tetapi karena dia mengungkap sisi kemanusiaan dari Obama. Semua itu menghadirkan kejujuran, menunjukkan kebenaran. Pidato yang baik adalah yang benar dan jujur meski disampaikan dengan sederhana. Saya kutip sebuah ungkapan saat di Bali bahwa “the truth might be ugly, but easy to defend”. Kebenaran itu kadang menyakitkan tetapi mudah untuk dipertahankan dan dibela.
  13. Mengakhiri dengan cara yang mengesankan
    Sebuah pidato harus diakhir dengan mengesankan. Usahakan ada hal penting sebagai penutup agar penonton merasa justru ada di puncak ketertarikan bukan di puncak kebosanan. Maka dari itu, sebaiknya pidato tidak terlalu panjang agar penonton tidak kehilangan ketertarikan. Selain itu, sampaikan penutup dengan satu ucapan menggelitik, pertanyaan atau bahkan pernyataan yang mengundang reaksi atau perenungan. Saat menyampaikan pemanfaatan power point untuk presentasi, saya menutup dengan satu ucapan “we use power point to make our points more powerful, not because we don’t have power neither point”.

Presentasi adalah proses interaksi

Presentasi adalah proses interaksi

Hadirian bertepuk tangan begitu saya mengakhir sesi public speaking di @AkBerBali dan kamipun segera hanyut dalam diskusi yang hangat dan mencerahkan. Dalam perjalanan pulang dari Kopi Kultur ke Tabanan, saya mendapat koreksi dari Lita “Ayah, it’s not nervous, it’s nervous”. “What Lita?” “You made a mistake during the presentation. You said nérves. It’s nerves Ayah, not nérves.” Ternyata saya mengatakan nervous dengan “ne” diucapkan seperti pada kata “menembak” padahal seharusnya seperti pada kata “menelan”. Begitulah, Lita. Masih bagus dia tidak mengoreksi saya di depan peserta kelas @AkBerBali. Dia tidak ingin mempermalukan ayahnya, rupanya.

Komentar [4]

Feed  •   Trackback  •   Kirim Komentar

4 Komentar untuk “13 Tips Presentasi Efektif”

  1. Ridwan | 5 September, 2013 05:29

    Butuh jam terbang juga mas. Terus kenapa ya kalo sebelum presentasi suka mules gitu … wkwkwk !!

  2. I Made Andi Arsana | 6 September, 2013 07:12

    Betul sekali :) Makanya harus berani melakukan yg pertama saat mules2 itu agar punya jam terbang… :)

  3. komang | 6 September, 2013 14:52

    saya juga ikut belajar Bli Andi..

  4. tongato m atmowinoto | 28 January, 2014 19:49

    terima kasih telah berbagi pengalaman, pak Andi. Anekdot di awal akan mencairkan suasana. kesan akhir, menjadi tak terlupakan.

Silakan berkomentar, kawan!