Enak di Blog dan Perlu

Sehubungan dengan gambar sampul majalah Tempo edisi 4-10 Februari 2008 yang telah melukai hati umat Kristiani, dengan ini kami menyampaikan permohonan maaf sebesar-besarnya.

Dalam merancang gambar sampul tersebut, tidak ada sedikit pun niat kami untuk melecehkan atau menistakan simbol keagamaan umat Kristiani. Gambar dalam sampul itu semata-mata merupakan interpretasi kami terhadap komposisi artistik lukisan Leonardo da Vinci.

Nyatanya, interpretasi kami telah melukai hati umat Kristiani. Kami sangat menyesalkan kejadian ini dan sekali lagi memohon maaf.

Kami juga menyiarkan permintaan maaf ini di Tempo Interaktif, di Koran Tempo edisi 6 Februari 2008, serta dalam rubrik Surat dari Redaksi majalah Tempo edisi 11-17 Februari 2008 pekan depan.

Semoga siaran pers ini dapat sampai dan diterima oleh semua pihak dengan sebaik-baiknya.

Atas perhatiannya kami ucapkan terima kasih.

Jakarta, 5 Februari 2008

Toriq Hadad
Pemimpin Redaksi

>> Berita tentang permintaaf maaf di Tempo Interaktif.

Komentar [43]

Feed  •   Trackback  •   Kirim Komentar

43 Komentar untuk “Tempo Minta Maaf”

  1. Bagaimana Jika Saya Seorang Pelacur ? « f e r t o b | 8 February, 2008 03:30

    [...] Dan saya berpikir, apakah ini bisa dianggap penghinaan dan pelecehan oleh sebagian kaum Kristen yang merasa lukisan itu identik dengan iman Kristen-nya dan menganggap ilustrasi Soeharto di cover majalah Tempo adalah bentuk penyejajaran Soeharto dan Yesus ? Dan memang ada beberapa protes dan organisasi-organisasi berbasis agama Kristen/Katolik misalnya [disini] dan [disini]. Tempo sendiri sudah meminta maaf lewat media Tempo Interaktif dan Blog Tempo Interaktif. [...]

  2. marco | 8 February, 2008 14:15

    minta maaf setelah ada protes dari umat kristiani merupakan sikap yg menggampangkan masalah.redaktur tempo mengaku tdk tahu lukisan itu mempunyai arti yg sakral bagi umat kristiani merupakan pengakuan yg sangat bodoh untuk org sekelasnya.sepertinya tempo selalu menyuguhkan berita yg lain dari media2 yg ada agar dapat pujian.saatnya tempo intropeksi agar majalah ini ttp enak dibaca dan dapat dipercaya,akhir2 ini tempo mulai memuakkan dgn berita dan karikaturnya terlalu arogan dan paling percaya diri.

  3. Olga | 8 February, 2008 19:29

    Memang susah ya kalau Tuhan bisa di lukis dan versi nya kan jadinya macam macam. DV sendiri belum tentu yang dia lukis itu JC kan??? Sudah nonton DVC??Go head Tempo.

  4. aditya | 9 February, 2008 18:43

    Aneh sekali, lukisan tersebut (aslinya) adalah lukisan Leonardo Da Vinci, yang setahu saya bukan orang suci di agama Kristen, lukisan tersebut pun bukan benda suci atau apapun dalam agama Kristen, jadi Tempo tidak menghina agama apapun dengan mengubah dan menampilkan lukisan tersebut (dan lagipula copyright lukisan tersebut sudah kadaluwarsa)

    Maju terus Tempo

  5. MenoTimika | 11 February, 2008 14:54

    Untung umat Kristiani… Coba kaya kartun yang dibuat media Denmark.. bisa luluh lantak tuh kantor Tempo…

    Kalu redaktur Tempo mengaku tidak tahu lukisan itu mempunyai arti yg sakral bagi umat kristiani. itu Redaktur BODOH dan Perlu disuruh makan sekolahan lg!!!

  6. Dion S.Soegijoko | 11 February, 2008 17:00

    Saya berpendapat redaktur Majalah Tempo tidak sensitif……! dan tidak cerdas ! Mengapa harus mengkaitkan “Soeharto yang telah pergi” dengan “adegan dalam lukisan The Last Supper” karya Leonardo da Vinci yang sudah mendunia itu….? Apakah takut “tidak laku” kalau tidak membuat heboh ? Keindahan jurnalistik yang menampilkan akurasi fakta dan interpretasi yg tidak menyinggung pihak lain (yg notabene tdk ada hubungannya….)ditabrak habis. Untuk apa itu semua ??? Tidakkah anda faham psikologis masyarakat ? Mengapa Tempo harus terjebak dalam jurnalisme murahan ? Saya pribadi berharap ini menjadi PELAJARAN u/redaktur MBM Tempo, jangan AROGAN dengan dalih kebebasan pers dan kebebasan berekspresi…..

  7. Yoseph | 11 February, 2008 17:25

    Untuk Saudara,atau saudari olga, anda berarti ngga ngerti, kalau adalah Manusia seperti halnya kita kalau mengenai lukisan Apa kamu tahu seperti apa Patih Gajah Mada…? tapi anda bisa melihatnya gambar2nya, begitu juga JC di lukiskan dengan sentuhan seni dan menggambarkan suasana tempat dan pada zamannya Zamannya.mengenai Tuhan Hanya JC saja yg mempunyai sifat dan kelakuan Tuhan. Bisa mengasihi Musuhnya , bisa mendoakan yg baik bagi musuhnya, dan mengampuni, musuh sekalipun Itulah sifat KETUHANAN dan itu hanya di miliki JC, tdk seperti Manusia Pada Umumnya bahkan Nabi sekalipun, di mana Kita di sakiti membalas menyakiti, bahkan di perangi pun membalas dengan peperangan, dengan kata lain mati membela Agama itu Baik, ha ha ha ha, jadi saya Rasa Anda Belum Tahun Benar Mengenai KeTuhanan..!dan untuk tempo saya rasa Sangat minim kreatifitasnya kenapa harus jauh2 DV sebagai intrprestasi kan sebetulnya banyak Penguasa lokal yg bisa di interprestasikan, Pada zaman krajaan2 di Jawa misalnya.dan Untuk Aditiya anda bisa bilang demikian karena ketidak tahuan anda bahwa lukisan itu sudah membumi di kalangan Kristiani, dan mungkin anda tidak tersinggung karena bukan umat anda yg mengalaminya, kalau umat anda mungkin tiandakan brutal kaum anda sudah merajalela da itu tindakan yg memalukan. atau anda umat kami tapi anda tidak Tahu bagai mana hharus bersikap.

  8. Dion.SS | 12 February, 2008 10:56

    REDAKTUR TEMPO PERLU MAWAS DIRI
    Saya sangat heran…..Tempo koq merasa perlu “memelesetkan” lukisan Leonardo da Vinci “perjamuan terakhir” untuk ilustrasi Soeharto telah pergi……! Bagi saya pribadi itu tindakan ceroboh yang bodoh. Apa yang mau disamakan antara Soeharto dengan Yesus Kristus ? Keduanya jauh berbeda ! Soeharto dan keluarganya Gila Harta…. Yesus Kristus mengajar para muridnya (para rasul)untuk memahami bahwa “KerajaanNya bukan di dunia….tetapi di surga”. Soeharto semasa berkuasa….menginjak-injak HAM, Yesus Kristus mengajar kebaikan dan cinta-kasih.Dia & hampir semua para rasul dianiaya tanpa kesalahan sampai pada kematiannya…… Jadi kreativitas artistik yang mana yang mau dituju/ditampilkan oleh Redaktur Tempo ? Ini bukan soal “menyakralkan gambar” atau mengkultus pelukis aselinya (Leonardo da Vinci), tetapi apa yg mau dituju oleh Redaktur Tempo dengan pemuatan itu ?! Pertanyaan “nakalnya”…lho koq Soeharto dan keluarganya tidak digambar dengan atribut sesuai kebanggaan dan keyakinannya …..Jenderal Besar TNI (Purn)Haji Muhammad…!bukankah dia secara resmi menempelkan gelar tsb. Lihat ucapan Terima Kasih keluarga besarnya (Kompas,Senin, 11 Feb 2008, hal.13.)
    Sudah saatnya pekerja media juga MAWAS DIRI, agar tidak terjatuh menjadi Fasis….yang selalu jumawa dengan gagasan dan sepak terjangnya sendiri. Kebebasan pers kita direbut dengan REFORMASI yang menelan darah - Jiwa - dan harta benda. Pergunakanlah sebaik-baiknya,masih banyak hal yang perlu dikerjakan - ditulis - diwartakan u/ kemaslahatan masyarakat banyak….tidak sekedar “bergenit-genit” dengan kebebasan pers seperti di negara belahan dunia yg lain. Sebagai pers bangsa besar yang majemuk, sensitiflah…. Salam.

  9. marcel | 12 February, 2008 17:24

    menurutku..sanatai aja bagi umat beriman yag telah matang dan dewasa. gak perlu seperti kambing kebakara jenggot jika menghadapi kasus2 seperti itu. intinya esensi agama tidak dilecehkan..pun klo dilecehkan tidak mengurangiatau menambah apapun pada agama.

  10. abdul | 13 February, 2008 10:51

    Jadi teringat dulu ketika dikeluarkan “Daftar Tokoh Terkenal” dimana di dalamnya terdapat nama nabi salah satu agama di Indo. Banyak juga yang kebakaran jenggot. Sekarang saya jadi maklum…

  11. d.sugiyarwo.s | 13 February, 2008 12:02

    Setahu saya juga tidak ada yang sampai “seperti kambing kebakaran jenggot” atau sampai “membakar kambing jenggotan”. Bahwa ada anggota masyarakat yang berkeberatan dgn “plesetan” kover MBM Tempo, harus dipahami dan diterima. Ini bagian dari interaksi media dengan masyarakat di mana media itu hidup. Saya pribadi juga tidak setuju dengan gaya “menghumorkan” apa saja.Buktinya Red.Tempo juga tidak punya jawaban yang cerdas sbg dasar tindakannya itu. Apakah seni & kreativitas media itu harus menjungkirbalikkan apa saja ? Apa perlunya ? Kalau sdh minta maaf, JANGAN DIULANGI ! Saya ibaratkan Tempo “jengkel dengan almarhum mertua….tetapi gambar kesayangan adik yang dijungkirbalikkan…….” Tak eloklah kawan…………….

  12. virgos | 15 February, 2008 13:58

    saya rasa sudah cukup untuk mengomentari hal2 yang tidak perlu lagi. Kita sebagai umat Kristiani harus bisa memaafkan orang lain, sperti yang diajarkan oleh Tuhan Yesus, bahwa kita tidak boleh menyimpan amarah sampai matahari terbenam, juga mengapuni orang lain. Tuhan Yesus saja bisa memaafkan orang yg menganiaya dirinya. begitu juga kita!

  13. tamam | 17 February, 2008 18:56

    salut buat tempo!

  14. d.sugiyarwo.s | 17 February, 2008 19:43

    Bung Virgo, anda tidak usah mengajari orang lain tentang memaafkan. Semua orang tahu itu. KITA SEMUA MEMAAFKAN MBM TEMPO. SEMUA ORANG punya hak bicara. Jangan menggurui.
    Salam.

  15. Dion | 19 February, 2008 10:34

    Kita memaafkan Tempo….,
    Jangan diulangi lagi “melukai” perasaan kelompok manapun.
    Salut buat sikap kritis pembaca Tempo !

  16. Rontal | 19 February, 2008 13:55

    Tempo tidak perlu meminta maaf.

    Saya kira kekhilafan sebagian umat Katolik/Kristen yang menuntut permintaan maaf tersebut adalah bagian dari ketidaktahuan tentang sejarah dan kurangnya pemahaman mengenai iman kristiani itu sendiri.
    Ada beberapa hal: Pertama, yang dilakukan MBM Tempo semata-mata hanyalah adaptasi dari imajinasi seorang maestro mengenai suatu kejadian. Tidak pernah ada pernyataan dari institusi gereja manapun yang mengakui bahwa lukisan Last Supper adalah penggambaran yang sah mengenai kejadian sesungguhnya. Ironis sekali, mengakui lukisan tsb sebagai penggambaran Injil/Alkitab mungkin setara dengan mengakui kesahihan Da Vinci Code (Dan Brown). Kedua, kekristenan bukanlah produk/jasa duniawi, kekristenan tidak peduli dengan citra. Bila Allah peduli citra maka Dia tidak akan mengutus putraNya yang tunggal Tuhan kita Yesus Kristus untuk turun setara dengan manusia dan bahkan disalib sementara salib adalah lambang penghinaan teramat sangat. Kalaupun misalnya karena kedangkalan kita mengarahkan kita pada “pengakuan” Last Supper sebagai bagian dari Injil/Alkitab, maka anggap saja Yesus kembali disalibkan oleh MBM Tempo. Ketiga, protes tersebut setara dengan penyangkalan Petrus yang kemudian berpegang hanya pada common sense tetapi lupa akan iman Kristiani. Bila ditilik lebih dalam, setiap lembar dalam edisi tersebut justru menggamblangkan penyaliban Yesus Kristus dalam bentuk penindasan dan pengekangan hak-hak hidup yang nyata di sekitar kita. Pemrotes hanya ketakutan dengan citra Yesus akan berubah mengerikan bila dikarikaturkan sama dengan Soeharto berikutnya juga melukai citra mereka sendiri. Dulu Petrus takut citra Yesus sebagai pesakitan juga membahayakan dirinya hingga Petrus menyangkalNya 3 kali. Keempat, kemarahan dengan dalih membela Tuhan dalam iman Kristen nyata-nyata tidak pernah dicontohkan oleh Yesus sendiri. Bahkan setiap pertanyaan mengenai keilahianNya dan segala tantangan imam-imam kepala juga digambarkan dijawab tanpa kemarahan. Hanya sekali Yesus digambarkan marah besar yaitu saat mengobrak-abrik praktik KKN di Bait Allah. Terus kenapa Anda sekalian marah? masih adakah alasan untuk marah? arahkan kemarahan Anda pada penyangkalan yang Anda lakukan terhadap Dia yang bersemayam di antara mereka yang terpinggirkan?

    Rontal

  17. oddworld | 20 February, 2008 06:09

    Pembelaan dari kartunis Denmark terkait masalah kartun Nabi Muhammad SAW didasarkan pada fakta bahwa ada sebagian kalangan dari umat Islam yang memanfaatkan ajaran Islam sebagai pembenaran akan aksi kekerasan. Sang kartunis mencoba memvisualisasikan secara satir kenyataan tersebut. Sebagai seorang muslim saya menghormati meski tidak sepenuhnya menyetujui alasan tersebut.
    Saya rasa efek satir itu juga yang diharapkan Tempo dalam pembuatan kover ini. Seolah menunjukkan bila saat Isa sebelum disalib dia dikelilingi oleh para murid-muridnya yang tanpa pamrih meski bukan darah dagingnya sendiri maka (Alm) Soeharto dikelilingi oleh darah dagingnya sendiri yang (mungkin) menyimpan pamrih.

    Penggunaan ulang simbol suatu kepercayaan lain bukan hanya milik Tempo atau publikasi populer lain. Simbol simbol Kristen dibangun diatas kebudayaan Romawi/Yunani. Islam di Jawa bisa tersebar dengan luas dengan memodifikasi simbol-simbol Jawa seperti wayang.

    Bila reaksi atas pemuatan kartun Denmark menunjukkan pembenaran bahwa ekstrimisme dalam Islam memang ada. Maka kali ini reaksi yang ada di blog ini menunjukkan bahwa ekstrimisme ada di setiap kepercayaan.

    Saya kutip sebagian.

    Marco : pengakuan yang sangat bodoh.memuakkan
    MenoTimika : perlu makan sekolah lagi
    DionSSoegijoko : jangan arogan
    Yoseph : sangat minim kreatifitasnya
    DionSS : agar tidak menjadi FASIS
    d.sugiyarwo.s : JANGAN DIULANGI
    d.sugiyarwo.s : jangan menggurui

    Semakin panjang jalan menuju Masyarakat Indonesia yang dewasa. Maju terus Tempo.

  18. Deden | 20 February, 2008 10:42

    Penjualannya lagi menurun ya mas…?
    itu sih trik kuno…tpi saran saya…pake trik yang baik dan benar..klo ndk benar jangan di tiru yaaaaa

  19. katinus | 20 February, 2008 18:52

    kalo tempo dah minta maaf….ya sudah.
    berarti tempo sudah sadar.
    jangan terpancing tinggi esmosi…..
    Tuhan pasti lg tersenyum koq….

  20. dadang | 21 February, 2008 23:27

    hahaha….
    pinter banget tempo…
    salut tempo!!!
    dari mulai jamannya nabi adam hingga adam malik….tempo pinter buat polemik!!!!

    aku mau daftar jadi wartawan tempo menghubungi siapa ya????aku punya banyak polemik yang harus di polemikan nih….

    peace ….!!!

  21. anto | 22 February, 2008 02:05

    Rontal on February 19, 2008 1:55 pm: “…arahkan kemarahan Anda pada penyangkalan yang Anda lakukan terhadap Dia yang bersemayam di antara mereka yang terpinggirkan”

    sungguh…
    saya jadi malu dan sekaligus takut…
    dan masih bingung (atau mbingungi, atau malah sok bingung) harus bagaimana.

    Rontal, komentar anda membuat panik nurani.

  22. Dion | 22 February, 2008 11:59

    HA..ha…ha…
    Rontal & Oddworld….(koq ya perlu pakai “samaran” sih,…polos napa..?), gue hargai pendapatmu…. Tapi anda juga harus bisa menemukan INTI.. dari pendapat orang. Berbeda biasa kan ….? Pers juga bukan “tuhan” kan ?. Seni pun bukan “tuhan”. Faktanya protes/keberatan disampaikan dengan tanpa kekerasan…DAMAI, dan Tempo dengan tulus meminta maaf.Yang keberatan/protes-pun memaafkan. So..what ?

  23. Tri | 25 February, 2008 13:28

    Hmm…..
    Aku juga pengikut JC…., tp gak marah koq.
    Tuhan JC paling senyum-senyum juga.
    Peace bwat smua.

  24. Parulian | 25 February, 2008 15:00

    makna sebuah gambar itu sangat banyak tergantung dari setiap orang yang melihatnya!!!kalo tempo menafsirkan itu bukan suatu penghinaan yah tidak usah dipusingkan!! sekarangkan hanya melihat sudut pandang dari tempo kalo mereka membuat gambar tersebut untuk menghina atau melecehkan agama kristen. baru ditindak dan diselesaikan secara hukum!!!!!

  25. eddy | 27 February, 2008 02:07

    Sebagai penganut Kristen, saya sama sekali tidak tersinggung dengan gambar itu. Lagipula, menurut saya, Tempo sama sekali tidak bermaksud menyakiti siapapun. Saya mungkin baru sedikit tersinggung ketika Tuhan yang saya percayai dimaki-maki orang. Tapi toh saya tidak akan marah-marah sama orang yang memaki-maki itu. Hanya sekedar tersinggung. Karena saya tahu bahwa semakin orang membenci Tuhan, suatu saat Tuhan akan “menangkap” dia dan dijadikan muridnya. Lagipula, siapakah saya dibanding Tuhan Yang Maha Kuasa itu? Tuhan punya cara yang paling baik dan paling tepat untuk membela diriNYA sendiri. Yang harus saya lakukan adalah menjalankan keyakinan saya dengan benar…sesuai yang diajarkan dalam agama yang saya anut. So…untuk apa kita marah-marah sama Tempo hanya karena “mempreteli” lukisan seperti itu? Justru itu adalah sebuah kreativitas yang patut dihargai dan menurut saya malah menarik….

  26. oddworld | 27 February, 2008 19:52

    @Dion Bentuk protes yang diterima Tempo adalah awal dari pembungkaman pers. Adalah hal yang menyedihkan kalau Tempo sampai terpaksa minta maaf. Lagipula protes yang ditampilkan di blog ini, seperti yang saya kutip sebelumnya, menurut hemat saya bukan kata-kata yang pantas diucapkan. Menurut saya penggunaan kata-kata tersebut juga merupakan suatu bentu kekerasan.
    Oddie Budi Santosa
    fs/email: lescarabiniers@yahoo.com

  27. Dion | 28 February, 2008 09:55

    Oddie BS,anda berprasangka terlalu jauh…… Agar dialog kita fokus, anda juga harus bisa membedakan beragam protes yang disampaikan atas Kover MBM Tempo tsb.
    Saya protes sebagai pribadi tanpa embel-embel apapun, dan tidak mengatasnamakan apapun. Jelas protes bagian dari kebebasan menyatakan pendapat baik lisan maupun tulisan yang dijamin oleh konstitusi dan merupakan HAM. Saya tidak membela Tuhan (saya paham Tuhan tidak perlu dibela).Tuhan juga tidak butuh pencitraan, saya setuju itu. Saya tidak pernah meminta MBM Tempo meminta maaf. Tetapi saya sebagai pribadi menyatakan KEBERATAN dengan interpretasi/adaptasi (atau mau diperhalus apapun istilahnya….sampai kabur sekalipun)yang ditampilkan dalam kover tersebut. Ini tidak saya maksudkan u/ memperpanjang masalah yang sudah selesai. Terhadap ungkapan saya yang anda rasakan (mungkin juga orang lain rasakan…)sbg kurang pantas (baca:kasar)itu adalah ungkapan kejengkelan saya. Saya jengkel dan heran….mengapa Tempo sebagai media kawakan dan orang-orang dibelakangnya yang sudah cukup makan asam garamnya bermedia di Indonesia….kok ya merasa perlu memakai idiom yang bagi saya pribadi Tidak Tepat.Keberagaman dan kesenjangan dari kita semua sebangsa dari Sabang-Merauke…..perlu menjadi pertimbangan.
    Tetapi terhadap kritik anda mengenai ungkapan saya yang kasar saya terima.Secara ksatria saya minta maaf.
    Perihal kebebasan pers, mestinya kebebasan itu kita rawat bersama-sama sehingga memberi manfaat yang sebaik-baiknya dan seluas-luasnya untuk bangsa dan kemanusiaan…Justru dalam kebebasan itulah kita perlu merasakan juga apa yang sensitif bagi orang/kelompok (walupun mungkin cuma sebagian kecilllllll…sekalipun). Alangkah elegannya media bermain substantif strategis,tidak terjebak dalam langkah pendek atraktif (yang maaf….sedikit dua dikit komersial).Saya bukan memberhalakan gambar/seni atau mengkultusindividukan tokoh/pelukis tertentu, tetapi saya menghormati yang illahi yang tidak tersentuh oleh gapaian manusia tetapi termanifestasikan dalam karya seni.Disitulah saya sebagai manusia biasa merasa perlu menghargai simbol/memoria yang ditampilkan oleh kalangan manapun…..Saya merasa sebagai manusia kurang beradab kalau saya tidak bisa bersama-sama saudara-saudara manusia yang lain…menghargai itu. Kebebasan pers menurut hemat saya tidak untuk diperlakukan sebagai berhala baru…..tetapi justru sebagai ruang bersama dimana masing-masing pihak bebas bergaul dan berbeda pendapat tanpa perlu terjadi saling memusnahkan.Menurut hemat saya, pelaku media juga perlu matang….jangan mudah cengeng. Diprotes sedikit….sudah teriak…kebebasan pers dipasung. Manfaatkan Dewan Pers sebagai pembelajaran bersama. Oleh sebab kebebasan pers bukan pencitraan tetapi kesejatian, perlulah tindak nyata para pelaku media dan masyarakat.
    Sampai di sini dulu,lain waktu lagi agar tidak mengganggu yang lain. Salam. (dionsoegijoko@gmail.com)

  28. oddworld | 1 March, 2008 09:47

    Seperti halnya comment saudara Dion, comment ini juga akan menjadi comment terakhir saya disini.

    Kita sudah dekat dengan era dimana agama didemonstrasikan oleh pemeluknya sebagai ajaran yang tidak tersentuh dan tidak boleh dikritisi. Saatnya kita menjaga agar suluh Pencerahan/Aufklarung yang sampai di Nusantara tidak hilang di masa post-modernisme ini. Pengelompokan dan radikalisasi berbagai kelompok-kelompok pemikiran dan keagamaan di Indonesia harus diwaspadai agar tidak memecah Indonesia.

    Kita pernah menerima pemikiran keagamaan Hindu, Buddha, Islam, Kristen Protestan dan Katolik. Kita telah memberi ruang pada berbagai pemikiran keagamaan tersebut untuk berkembang di masyarakat kita. Kita memberi perlindungan kepada berbagai pemikiran keagamaan tersebut. Adalah harapan saya agar berbagai pemikiran keagamaan tersebut dapat berlaku sebagai tamu yang santun di Indonesia.

    Permohonan maaf bung Dion saya terima, meski sebenarnya karena hanya menyangkut rasa, bung Dion tidak perlu minta maaf. Sedangkan untuk permohonan maaf Tempo saya kira hal itu menunjukkan salah satu contoh falsafah bangsa ini. ‘Sing Waras Ngalah’

    Terima kasih sebesar-besarnya untuk koran Tempo yang memberi ruang pada berbagai komentar di blog ini.

  29. Outworld | 3 March, 2008 15:38

    Falsafah bangsa ?! ….sing ora waras ngalah….

  30. ulan | 4 March, 2008 15:24

    aku cari gambar nya kenapa enggak dapet ya??

  31. anna | 5 March, 2008 08:35

    Merasa diri waras, seraya menganggap orang lain yang tidak sama pandangan dengan dirinya sebagai tidak waras, sesungguhnya adalah pengidap “ketidakwarasan” itu sendiri…

  32. Nova | 10 March, 2008 16:11

    Hal-hal yang berkaitan dengan simbol agama sangat sensitif, apalagi dijadikan cover dari suatu majalah. Harus lebih berhati-hati lagi sebelum memutuskan, pilah-pilih terlebih dahulu, agar tidak terulang kembali.
    Dengan meminta maaf sudah merupakan sifat kesatria tuk mengakui kesalahan, yang merasa telah tersakiti perasaannya akan gambar tersebut agar lebih berbesar hati tuk mau memaafkan kepada pihak-pihak yang telah melakukan kekhilafan dalam bertindak.
    Memaafkan dan Meminta Maaf merupakan hal yang terindah dalam hidup ini.
    Trims.

  33. tri boedomo | 17 March, 2008 15:31

    saudaraku, marilah semua belajar mengenai kearifan, mari kita isi hari-hari mendatang dengan penuh saling menghargai dan memaafkan atau menerima dengan tangan terbuka apabila orang lain minta maaf, hidup hanya satu kali dan terimakasih.

  34. tri boedomo | 17 March, 2008 15:42

    saling memberikan maaf dan menerima maaf adalah wujud kearifan seseorang, semoga penggemar bloger tempo juga begitu, salamku buat generasi > 55 tahun

  35. darso-papua | 25 March, 2008 12:51

    JC bukanlah milik sekelompok orang, tetapi milik semua umat manusia. Itulah sebabnya DV mengungkapkan rasa kepemilikannnya lewat The Last Supper, walaupun DV bukan penganut nasrani. Lagi pula belum ada agama nasrani yang mengakui Tha Last Supper sebagai simbol dari keyakinan nasrani. Kalau MBM Tempo mau menginterpretasikan kehidupan keluarga Haji Muhammad Suharto dengan The Last Supper, itu menunjukkan tingkat imannya sampai dimana. Saya percaya JC tidak akan marah dan tiak akan memerlukan satu orangpun untuk membelaNya di dunia ini. Yang JC perlukan adalah orang-orang yang harus hidup mengikut teladanNya, mengasihi dengan tidak memandang apapun keberadaan orang tersebut.
    Untuk tempo selamat berkreasi. Cobalah berkreasi yang lebih baik, dengan demikian masyarakat bisa menilai sejauh mana tingkatan iman dari kru Tempo. Bravo Tempo.

  36. Tjwan Bing | 3 April, 2008 15:12

    Sedikit Catatan

    Yesus Kristus milik semua umat manusia ? O ya milik semua orang yang secara eksplisit maupun implisit tidak menolak DIA…
    Iya toh…, lha kalau orang tidak percaya DIA, dan tidak suka DIA……, malah melecehkan DIA…. kan berarti TIDAK MAU MEMILIKI DIA….

    Lukisan Leonardo da Vinci “The Last Supper” (dlm bhs.Italia Il Cenacolo / L’Ultima Cena) didasarkan atas episode Alkitab saat Yesus Kristus mengadakan Perjamuan Malam Terakhir…Saat Yesus mengatakan :”Sesungguhnya, seorang di antara kamu akan menyerahkan Aku” (Yoh 13:21). Ia melukis The Last Supper pd dinding kamar makan sebuah Biara Benediktin (ordo dlm Gereja Katolik) Maria della Grazie. Sampai detik ini masih ada, biara tsb dijadikan Gereja Maria della Grazie, di kota Milano Italia. Mengatakan Leonardo da Vinci bukan nasrani (maksudnya Kristiani) tentu sangat gegabah…., sebagai seniman hidupnya bohemian…tetapi jelas dia memahami Alkitab terutama tentang episode Yesus Kristus dan berhasil “mememoria-kan” dengan talenta kepelukisannya yang jauh di atas rata-rata seniman…..sampai hari ini. Pada jamannya boleh dikata hampir semua bayi di Italia dibaptis dalam Gereja Katolik. Sayang dia sudah almaarhum….jadi saya tidak bisa menanyakan apa agamanya….? Hahahahaha

    Sepanjang pengetahuan saya, copy atau tiruan lukisan tsb dalam berbagai ukuran dan bahan serta berbagai mutu,….menghiasi rumah-rumah keluarga Kristiani apakah Katolik maupun Protestan dgn berbagai denominasinya. Bisa dikatakan lukisan/gambar tsb sebagai hiasan kedua populernya setelah salib. Atau khusus untuk keluarga Katolik, pd umumnya gambar tsb adalah hiasan ketiga, setelah salib - gambar/patung Bunda Maria menggendong Kanak-kanak Yesus. Gereja dari dulu sampai sekarang tidak pernah mewajibkan [dan MEMANG TIDAK PERLU DIWAJIBKAN...lha KRISTIANI itu kan IMAN YANG HIDUP karena pencurahan ROH KUDUS.....bukan agama hukum;...yg dikit2 lihat pasal berapa ayat berapa...instruksi pemimpinya apa ...gitu lho!] memasang dan menghormatinya. Namun buat pribadi yang memeluk Kristiani dengan sukarela dan tulus hati…..memahami kontekstual Alkitabnya tentu SANGAT MENGHARGAI. Menghargai tidak dalam konteks “MEMBERHALAKAN”, tetapi menghargai sebagai sebuah MEMORIA (saya terjemahkan sebagai KENANGAN yg HIDUP)akan Yesus Kristus - Allah yang rela menjadi manusia, karena mengasihi manusia. Bagi Yang tidak percaya dan tidak mengimaninya…. monggo silakan…

    Tapi mengertilah itu, hargailah orang lain (baik sedikit maupun banyak…baik berkelompok atawa tidak….itu lho Coy). Jadi sudah TEPAT…..PAT…PAT….Kalau MBM TEMPO dengan bijaksana meminta MAAF. Dan tentu pihak yang berkeberatan pun legowo MEMAAFKAN.

    Herannya….”orang luar pagar” maksud saya bukan orang TEMPO koq masygul….knapa ya ?
    Lucu toh…..wong yang merasa “menyerempet Perasaan” minta maaf….koq penonton bengok-bengok keberatan….. Aduuuhhh,….bangsa Indonesia….mASIH panjang nian…..jalan menuju bangsa toleran yang maju beradab.

    Kalau bicara kebebasan, lha ada mekanismenya koq…..itu DEWAN PERS….itu Pengadilan (dgn segala sorry lho buat pengadilan negeri kita tercintrong ini). TEMPO memilih MAAF bukan karena WARAS dan NGALAH… tapi sadar ada yang tidak TEPAT. Saya hargai sikap KSATRIA itu.
    Sejujurnya sebagai individu, saya tidak setuju dengan gaya Liberal Barat. APa2 boleh, menghina dianggap lucu ! Itu harus dikoreksi. Setidaknya Pers dan Masyarakat kita jangan SEKADAR FOTOCOPY negara MAJU ! Kita punya kepribadian koq…punya timbang rasa.

    Justru dalam KERBEBASAN kita mampu mengerti…menangkap perasaan orang lain, memilah apa yang perlu….dan apa yang tidak….tahu apa yang mempersatukan dan apa yang memecah-belah. Berbisnis kan luas to mas…tidak sekedar Duit azza,…relasi Coy penting juga.
    Nah itu sedikit catatan….(wah Banyakkk..hehe)
    BRAVO TEMPO…..BRAVO PEMROTES TEMPO….BRAVO yang KUCIWA (semoga tidak lagi ya..hehehe). Maju INDONESIA !
    Dah protes Fitna belon ?…Saya bukan muslim, tapi saya PROTES ke Pemerintah Belanda & parlemennya… Kampungan gitu lho ! bikin yang kayak gitu. Tapi kita tetap COOL…dan terus BEKERJA !

  37. Aso Siregar | 15 July, 2008 20:32

    Tempo ceroboh
    Tapi yang lebih ceroboh
    yang mengkultuskan lukisan Da Vinci

    Dariku Pecinta Yesus

  38. moe12180 | 26 August, 2008 17:03

    Kejadiannya bulan February 2008, sekarang dah hampir akhir August 2008, gw baru tau ada kehebohan… dan baru mbaca blog ini.

    Tapi boleh donk nyumbang pendapat pribadi.

    Gw setuju dengan Aso Siregar on July 15, 2008 8:32pm.

    Kenapa juga ada orang Indonesia yang mau mengkultuskan dan mengsakralkan lukisan?. Bukan mengkultuskan Yesus!.

    Ketika lukisan monalisa dipelesetkan (dibuat lebih kontemporer) ada juga pecinta lukisan monalisa yang marah. Siapa sih monalisa itu?

    Lalu siapa sih DV? apakah dia umat kristen yang taat? apakah DV juga seorang yang marah apabila ada orang yang mengusik Yesus? apakah perlu lukisan yang beliau hasilkan menjadi sakral? dibela? membela lukisan atau membela Yesus?

    Jangan-jangan Yesus juga akan protes kalau beliau tau, wajahnya dilukis tidak seindah warna aslinya oleh DV.

  39. ray | 12 September, 2008 13:16

    kita selangkah lebih maju dengan memperbaiki kesalahan

  40. ray | 12 September, 2008 13:17

    cari tambahan berita yang berbobot dong.

  41. ediman | 21 April, 2009 11:54

    jangankan gambar turut menghina dibunuh ajapun Yesus tidak komentar alias tidak membalas maka kami umatNya tidak mengadakan reaksi keras seperti “saudara” kami. karena Dia Tuhan tidak usah dibela. Salut buat TEMPO buat jiwa besarnya.

  42. kawit SH | 29 August, 2010 18:23

    Untung yg dihina Kresten. Kalau yang dihina Nabi Muhammad, pasti Tempo sudah tebakar.

  43. Rigpanda | 1 September, 2010 20:53

    Banyak hal…, yang bisa kita lakukan tanpa mengomentari sesuatu yang salah. lebih baik Meminta Maaf dan Memaafkan suatu perbuatan yang mulia dan terindahndah dalam hidup ini.

    Salam,
    berarti kita bisa

Silakan berkomentar, kawan!