Enak di Blog dan Perlu

godfather1Apa yang paling susah dalam hidup ini? Ya, mencari inspirasi adalah salah satu pekerjaan tersusah. Koran Tempo sudah dikenal sebagai koran progresif yang menampilkan desain unik, mengagetkan dan keren. Masalahnya, ketika kasus Antasari mulai bergulir, di benak awak Koran Tempo beterbangan banyak pertanyaan: “Apalagi yang mau ditampilkan? Kronologi percintaan sudah, kronologi pembunuhan sudah.”

“Lebay ah… infografis lagi … infografis lagi,” begitu kata seorang teman saat rapat redaksi sore.

Cling. Tiba-tiba saja Redaktur Eksekutif kami, Sudarsono, menantang kami untuk memunculkan desain koran bak poster film. Ide itu disambut dengan bersungut-sungut sebagian awak redaksi. “Apa lagi?” Memajang poster film sebagai sumber inspirasi desain koran memang sudah beberapa kali kami lakukan. Kami pernah terinspirasi film “Silence of The Lamb” saat ada tokoh politik yang tak kunjung bersaksi. Kami juga pernah memajang desain ala film “Pirate of The Caribbean” untuk menggambarkan “perampokan” uang negara.

Ide mentah inilah kemudian disodorkan kepada salah satu infografer kami, Machfoed Gembong. Setelah berdiskusi dan menghabiskan sebungkus kerupuk, menyeleksi beberapa film terkenal, seperti “Fast and Furious”, “Unforgiven”, “Bourne Ultimatum”, akhirnya muncullah ide untuk memasang desain ala film “The Godfather”.

Alasan pemilihannya simple: filmnya dikenal luas,  desainnya sederhana tapi sangat kuat, dan pembaca tahu pesan yang ingin disampaikan. Dan  inilah karya kolektif kami: Machfoed Gembong, Ehwan Kurniawan, Yudono, Yanuar, saya dan Riky F .  Juga ada sumbangan font Godfather dari Eko Punto Pambudi yang sedang cuti.

Di lain waktu kalau pembaca ingin menyumbangkan ide desain koran tempo. Monggo ditunggu.

Desain koran ala The Godfather

Komentar [37]

Feed  •   Trackback  •   Kirim Komentar

37 Komentar untuk “Antasari dan The Godfather?”

  1. refanidea | 5 May, 2009 10:26

    sampulnya mantaf bung..!

  2. R. Abidin | 5 May, 2009 13:40

    Kalau awak tak tengok teliti pelbagai perkara terbru permaian “di atas hukum” above the law, extra power daripada orang-orang terhubungan rezim Indon tu, maka awak tak mampu tengok kebenaran. Macam mana awak mustiah tengok kasus Antasari Azhar
    Rizanul Abidin MSC Terengganu Malaysia

    Orang Indon banyak keliru tengok kasus Antasari dan melihat dia jahat akibat kabar angin yang mudah menjadi kebenaran di negeri payah dan langka kebenaran itu terkuak. Jadi macam mana awak, anda, kalian mahu lihat kasus penangkapan ketua KPK Azhar? Ini multi permainan kekuasaan: 1. Ini boleh jadi merupakan upaya SBY membelokkan masalah daripada pikul tanggung jawab kegagalan dia mengadakan pemilu yang jurdil dimana pemilu terbukti banyak masalah dan kecurangan. Ini bermakna SBY cuba mengelak tangung jawab. 2. Ini berhubung KPU yang dicuba dielak dari pemeriksaan sarat korupsi. 3. Ini juga boleh bermakna justeru untuk semakin membuat SBY perolehi simpati dari majoriti rakyat Indonesia agar sukses terpilih lagi, dengan mengesankan banyak orang luaran pemerintahan ingin KPK digagalkan terutama dari kalangan koruptor-koruptor terjenayah; mereka dilihat membuat fight back. Tetapi kebenran semua ini baru nampak setelah pemilu presiden dimenangkan siapa; apabila SBY menjadi lagi, maka nyata SBY pandai melakukan permainan “pemcitraan” yang bersifat “menipu” untuk pemenangan. Tengok berbagai cara diupayakan mulai dari pura-pura memberantas narkoba dll yang pada dasarnya tidak menghasilkan apa-apa; korupsi pun tetap merajalela. Tetapi pabila Antasari boleh bebas dan dia berhasil menduduki jabatannya lagi dan tetap dipercaya sebagai ketua KPK oleh SBY, maka ini bermakna SBY benar dan perlu dipilih lagi.

  3. Yoshua Chong | 5 May, 2009 13:52

    Saya tidak ikutan soal Antasari. Kita orang lebih suka perhatikan soal pendidikan yang amburadul oleh pemerintah ini dan tidak ada perbaikan apalagi pemerataan keadilan dan persamaan derajat semuanya.

    “Indonesia” Juara Umum Olimpiade Fisika Polandia?

    Nama saya Yoshua Chong, orangtua indo tionghoa sunda, tinggal di rumah biasa di Banten. Tokoh idola saya Kwik Kian Gie, kakek itu, dan Sukarno.

    Pagi tadi sebelum jam 9.oo di tv one diekspos dia-dia orang teman-teman kami. Mereka menang bahkan untuk kategori umum pada Olimpiade Fisika di Polandia.

    Banyak yang bangga dan melihat teman-teman kami mewakili Indonesia. Ini tidak tepat. Mereka mewakili sekolah-sekolah mereka sendiri. Ini menjadi jualan. Sekolah-sekolah kami menjadi favorit khususnya oleh golongan etnis kami sendiri.

    Kalian kagum? Heran? Teman-teman itu tidak ada istimewanya. Mereka juga samasekali tidak merepresentasi Indonesia. “Indonesia” yang mana? Apa dia-dia orang tepat disebut merepresentasi Indonesia yang semakin tidak jelas ini?

    Pemerintah hanya senang mengelu-elukan sekolah gratis dan itupun hanya SD dan SMP.
    Jurang pendidikan dan ekonomi Indonesia semakin lebar tidak terkontrol dan tidak diatasi. Banyak sekolah-sekolah eksklusif, unggulan, level internasional.

    Pemerintah tidak menggalakkan sekolah-sekolah inklusif, semua sekolah berkualitas sama maju semuanya sama-sama. Uang dibuang sebagai BLT yang tidak jelas.

    Dia-dia orang pemenang olimpiade itu sudah dipersiapkan matang dan diseleksi yang terbaik oleh tim guru. Guru-guru itu mengajar di sekolah-sekolah kami dan mereka lebih serius dalam mengajar karena mendapat gaji lebih dari cukup dan tidak boleh korupsi.

    Mereka juara karena belajar di sekolah-sekolah kami yang maju milik yayasan-yayasan berkeuangan besar dari kami golongan Tionghoa. Dia-dia orang anak orangtua berkecukupan. Mereka bukan dari mayoritas teman-teman pribumi dengan ekonomi pas-pasan atau kurang.

    Dia-dia orang ceria, tidak ada beban, misalnya ikut memikirkan sulitnya para orangtua teman-teman pribumi mencari uang. Dia-dia orang tidak ada soal belajar lebih serius dan maksimal. Mereka makan minum cukup dan banyak, lezat dan bergizi, uang jajan cukup dan banyak.

    Otak dia-dia orang gampang nyala seperti mesin dengan oli nomer satu. Umpama binatang akrobat, dia-dia orang harimau atau ikan lomba-lomba itu. Saat dilatih dipacu maksi, otak dia-dia orang gesit.

    Dia-dia orang senang selalu, jarang bersedih. Khawatir ada saja tapi sedikit. Dia-dia orang pasti berprestasi maksimal. Tidak ada istimewanya. Mereka tidak merepresentasi sekolah-sekolah di Indonesia.

    Kalau saja dia-dia orang dari sekolah-sekolah biasa, sekolah-sekolah negeri atau bahkan mereka datang dari desa-desa yang terpencil atau dari keluarga-keluarga pribumi miskin, itu baru disebut istimewa dan kita boleh bangga atau terkejut setengah pingsan.

  4. zenteurio | 5 May, 2009 13:53

    kalo di indonesia tuh jangan terlalu jujur ntar kayak “AA” deh, sibapak aja ditangkep jangan-jangan nanti kemertua juga nih larinya. Padahal si mertua nih punya peluang jadi juara lagi, akhirnya si pemilik modal yang bertindak……… sebab kalo tidak uangnya takkan kembali.

  5. Skydrugz | 5 May, 2009 14:17

    @Abang Yosua Chong: Curahan hati Anda benar - benar menyentuh.

    @Mat Blogger: Desainnya majalahnya mantap, terlepas dari soal Antasari.

  6. Irwan M Santika | 5 May, 2009 15:42

    Banyak inspirasi baru yang bisa didapat dari blog ini.
    sangat bermanfaat dan menambah ilmu, sukses selalu.

  7. 3ndi | 5 May, 2009 21:06

    saya merasa tersinggung dengan mas R adilin diatas komentar anda itu jangn menyudutkan nama indonesia dong ,bilang indon lagi ngomong ya yang benar apa salahnya sih,indonesia tidak semuanya bejat,masih banyak yang baik juga,hanya karna antasari kena kasus anda seenaknya mencerca negriku indonesia, ingat indonesia bukan terdiri dari satu suku bangsa ,tapi berdiri dari ribuan suku bangsa biarakan antasari menyelesaikan masalhnya sendiri bagaimanapun juga kebaikan akan tetap menjadi pemenang dari keburukan

  8. Pozan | 5 May, 2009 23:36

    Mantap, i like it. Lain dari yang lain. Pasti laku abissss….

  9. an | 6 May, 2009 00:56

    wartawan wartawan… yg dipikirkan begitu. berita dianggap kacang goreng dan kalian mendesain kemasannya. rakyat jadi ngga berpendidikan.

  10. andi tenrie | 6 May, 2009 03:37

    Hallo oom blog, barangkali sekali-sekali oom tampilkan karikaturnya para pejabat, baik yang mimpin negeri ini atau para tokoh atawa yang lagi ngetop namanya. Kariktur kadang maknanya dalam, kocak apalagi kalau dibikin oleh seorang yang memiliki humor tinggi, pasti sangat menarik! Dulu, puteri DIANA almarhum menggantung banyak karikatur pangeran CHARLES DAN CAMILA(diambil dari guntingan tabloid) DI REST ROOM TAMU DI KENSHINGTON PALACE, LANDON!

  11. eko | 6 May, 2009 10:39

    wah..kalo saya tentang pak azhar ni cenderung ada konspirasi tingkat tinggi untuk menjatuhkannya, ini hnya dugaan..masalahnya pak azhar kanmusuhnya banyak…mulai dari DPR, kejagung dan pejabat2 laen…yang tidak tenang dengan kehadirannya sebagai ketua KPK yang ganas. Dan ereka semua orang2 yang punya duit, bukan duit recehan kayak saya, dutinya jutaan….dan ingat jaman sekarang apapun bisa dibeli dengan duit….hidup INDONESIA

  12. andi tenrie | 6 May, 2009 13:19

    Pak Antasari akan berlalu dari KPK dan MASALALU…, tapi biarlah, sebab ANTASARI hanya galak pada sebagian KORUPTOR! Laporan KORUPSI DARI PAK AGUS TJONDRO GAK DITENGOK… dan TANTE MIRANDA GULTHOM DIBIARKAN TEBAR PESONA SETIAP SAAT ALIAS BEBAS KAYAK BURUNG! Jadi, biarlah AA mempertanggung jawabkan berpuatan iblisnya yang sangat kejam karena melibatkan banyak orang serta menyengsaraan banyak anak dan istei, temasuk anak-isterinya sendiri!!!

  13. syamsul | 6 May, 2009 13:40

    Desainnya menarik. Terlepas benar atau tidak kasusnya, Antasari pernah memberikan sumbangan positif buat bangsa Indonesia. Semoga proses hukum berjalan sebagaimana mestinya.

    @R.Abidin:
    Saya malah tak melihat Malaysia bangsa terbuka. Bagai sekam demokrasi dibungkam. Semuanya hanya panggung sandiwara. Tertinggal sepuluh tahun dibanding Indonesia. Atau bahkan bisa lebih kalau tak kunjung terbuka.

    @Yoshua Chong:
    Apalah arti bangsa, etnis, negara? Manusia menjadi berarti kalau melakukan perbaikan. Mari melepaskan diri dari belenggu etnis, negara atau bangsa. Dunia ini cuman seonggok bola besar. Udara yang dihirup sama. Kalau bolanya meledak, semua juga akan ikut meledak. Jaga bersama. Jangan merusaknya karena juga akan rusak bersama.

  14. indonesia | 6 May, 2009 14:27

    aduh poesiing akoe

  15. gus dagdo | 7 May, 2009 05:20

    ya..ya..semua boleh komentar, semua boleh berpendapat…tp yg paling baik adalah diam menunggu digelar di pengadilan…pasti kebenaran yang menang klo tdk didunia ya diakhirat…kasihan nenek saya yang makin bingung & pusing membaca berita antasari.

  16. shoultan | 7 May, 2009 09:49

    hehe, kata orang tua dikampung saya begini. kalau dekat api pasti panas, kalau dekat air pasti dingin, kalau g ada kaki pasti g bisa berjalan, kalau g ada telinga pasti g bisa mendenga, kalau g ada mulut pasti bisu, kl dia g bisa berbicara BELUM TENTU BISU.

  17. shoultan | 7 May, 2009 09:50

    kalu cabe pedas rasanya, kalau jahe dicampur cabe pasti sangat pedas rasanya, kl ngak tau jangan coba2 ngawur, kalau sudah tahu jangan cb ngabur, dosa lo!

  18. Aulia | 7 May, 2009 10:37

    sampulnya sudah cukup mewakili dari isi berita yang akan diangkat, bagus!

  19. Dodo | 7 May, 2009 10:50

    Sebenarnya ga terlalu ironis seh, coba kalau AA ini terjerat masalah korupsi bisa lebih gawat nih,untung cuma masalah “pembunuhan”, jadi sekali lagi ga terlalu ironis…. hehehehehe

  20. bejo | 7 May, 2009 11:56

    Cuma masalahnya .. siapapun .. kok gampang sekali mbunuh orang .. kayak mbunuh ayam aja .. MAU LU GW BUNUH .. SINII

  21. ikiaku | 8 May, 2009 18:45

    joshua chong, komen anda bnr. kebersamaan antar etnis di Ind semu belaka,diskriminasi tdk hanya pd etnis anda tp jg pd pribumi yg bekerja pd etnis anda: Bank2, PRT. Teman tionghoa sy blg, selama org pribumi bs disogok kita nikmat hdp disini tp klo sdh tdk bs maka kt siap2 angkat kaki. Mari buktikan dr hati yg tulus bhw kt semua hidup,makan, mati di republik ini

  22. joni | 9 May, 2009 11:05

    mat bloger, jgn kejam gitu lho, pak AA ntu belum dijatuhin hukuman udah disiksa kyk gitu, belum sm mat bloger, ntar keluarga lu juga digituin gimane? apa mat bloger keluarganya pernah ditangkap KPK jaman pak AA sehingga mat bloger balas dendam? teman2 blog yang lain jgn blog ini dijadiin untuk mengintimidasi, menghina, pokoknya yg melanggar HAM dech. untuk joshua chong ingat kontribusi indonesia ambruk ini sebagian besar sahamnya ada di etnis ente lho, syukurlah loe cepat sadar etnis china ini dimanapun, kapanpun, bagaimanapun tetap berazaskan untung rugi, tidak pernah sama2 untung atau sama2 rugi.

  23. Rahmat | 9 May, 2009 19:46

    Orang Indon memang gampang disogok,mengkali bung AA juga korban dari cara ini.Disogok ama mbak Rhina,terpelantinglah bung AA ini.

  24. Rahmat | 9 May, 2009 19:48

    Apa lagi mesti gue kirim lagi?

  25. Joni Santun | 9 May, 2009 20:30

    Serem ah gambarnya….

  26. HENDRA S | 9 May, 2009 20:52

    apapun yang jerjadi pada negri ini saya tetap cinta negri ini dan orang luar yang memojokkan INDONESIA mohon anda berkaca pada negara anda, negara anda tidak lebih baik dari negara saya…kalau ibarat rumah negara kami seperti istana yang besar wajar perlu sapu yang banyak tapi kalau negara anda seperti rumah tipe 36 mo dibersihin mungkin perlu waktu 10 menit…tolong jangan ikut campur masala rumah tangga kam, kami sudah mempunyai hukum yang jelas dan klopun antasari bersalah pasti ia kena hukuman yang setimpal dengan perbuatannya. SBY memenangkan pemilu presiden atau tidak bukan urusan anda. rakyat kami sudah pintar dan tidak akan termakan isu murahan yang anda sebarkan…saya sudah dua kali kenegara anda dan saya lihat gak seperti yang diiklankan di Tv..

  27. Yanedi Jagau | 11 May, 2009 10:39

    Gambar halaman depan koran tempo sangat cocok dengan prasangka para pencari informasi kasus Antasari.
    Gambar ini didaptasi dari poster film godfater dan novel Mario Fuzo. Mudah-mudahan fakta kasus Antasari tdk sama dengan isi novel tersebut. Kalau hampir sama, sungguh tragis.

  28. c | 12 May, 2009 05:02

    ?

  29. budak layo | 12 May, 2009 23:17

    salut bwt temPo…
    ga ad abis akal kalo urusan imajinasi gambar..

  30. Winawita | 14 May, 2009 19:39

    Bagus…..tapi jangan keseringan ngambil dari film ya………
    Udah kehabisan ide??

  31. Fairness | 14 May, 2009 23:17

    Salah Image, krn menggiring opini org spt nya AA sdh lama pimpin Org Crime, pdhl kan bukan itu maksudnya, mgkn yg lbh tepat ttg Conspiracy

  32. YUS s | 15 May, 2009 01:30

    Bwt mas atau abang andi tanrie , saya setuju usulnya. Kali-kali, buat jarikatur pejabat, pengusaha atawa tokoh terkenal (atau jadi terkenal). Hanya, hati-hati aza, apa pejabat/pengusaha, etc, sudah cukup kuat mental lihat karikaturnya. Jangan-jangan nanti TEMPO dicariin (maksudnya pembuat karikaturnya). Kacian deh

  33. Fitra W | 19 May, 2009 16:28

    Bagus sampulnya……….
    Tapiii
    B’lum tent juga AA melakkan itu, karena susah sepertinya orang yang t’lah berjasa turut membersihkan negeri ini dianggap sbg mafia tkang dar der dor…….

  34. soket | 30 June, 2009 16:36

    Kreatif juga tuh picnya

  35. online | 30 December, 2009 16:15

    perlu memeriksa:)

  36. pramanahadi | 9 November, 2010 13:53

    Seperti halnya cerita “TEMPO” yang sampai pernah diperkarakan “TIME” sekarang muncul “Antasari Terancam Hukuman Mati” versus “The GODFATHER.” Menurut saya nafasnya tidak pas. Saya tak bisa mengusulkan contoh film yang pas, lama saya tak mengikuti trend. Ide “jiplakan” atau “mirip” hanya diapresiasi “lucu” saja, tidak lebih.

  37. Hudzaifa Fauzi | 16 May, 2011 19:23

    pasti ada…
    Hudzaifa Fauzi

Silakan berkomentar, kawan!