Jul
14
RAPAT kabinet kemarin menjadi ajang pertemuan langsung yang pertama bagi Susilo Bambang Yudhoyono dengan Jusuf Kalla, setelah keduanya ”bertempur” dalam pemilihan presiden. Tak tampak ketegangan di antara keduanya, meski, semasa kampanye, keduanya sering saling serang dalam pernyataan yang dikutip banyak media.
Seperti diketahui, Yudhoyono dan Kalla mencalonkan diri menjadi presiden untuk periode 2009-2014. Setelah pencontrengan pada 8 Juli lalu, berdasarkan versi hasil hitung cepat beberapa lembaga survei, Yudhoyono, yang berpasangan dengan Boediono, diunggulkan menuju kursi RI-1. Perolehan pasangan itu jauh meninggalkan pasangan Kalla-Wiranto.
Dalam rapat kabinet membahas pencegahan dan pemberantasan korupsi, Presiden Yudhoyono, yang mengenakan baju safari abu-abu, dan Wakil Presiden Jusuf Kalla, memakai baju biru muda, tampak makin akrab. Mereka sempat berbisik-bisik sebelum rapat dimulai.
Sebelum rapat dimulai, Yudhoyono memberikan sambutan dengan serius, didampingi Kalla yang jarang tersenyum. Awal rapat pun jadi tampak tegang. Seusai pengantar, wartawan dipersilakan keluar. Dan rapat pun berlangsung tertutup.
Rapat dihadiri semua pimpinan lembaga negara yang terkait dengan penegakan hukum. Di antaranya, empat pimpinan KPK, yaitu Chandra Hamzah, Haryono Umar, Bibit Samad Riyanto, dan M. Jasin. Kemudian, Ketua Mahkamah Agung Harifin A. Tumpa, Kepala Kepolisian RI Jenderal Bambang Hendarso Danuri, Ketua Badan Pemeriksa Keuangan Anwar Nasution, Kepala Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan Didi Widayadi, Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Widodo A.S., Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Taufik Effendy, Menteri Hukum dan HAM Andi Mattalata, Menteri-Sekretaris Negara Hatta Rajasa, dan Sekretaris Kabinet Sudi Silalahi.
Seusai rapat, Taufik Effendy menceritakan, rapat berlangsung cair dan ketegangan di antara kedua kandidat presiden itu sudah lumer. Menurut dia, suasana rapat berlangsung seperti biasanya, kompetisi di antara keduanya sudah tak tampak lagi. “Wallohi suasananya seperti itu,” katanya.
Hal senada disampaikan Hatta. Menurut dia, rivalitas di antara keduanya sudah berakhir dan tidak mengganggu hubungan mereka. Ketua Tim Pemenangan SBY-Boediono itu mengungkapkan, dalam rapat tersebut Kalla juga sempat memberikan masukan bagaimana langkah lebih lanjut dalam pemberantasan korupsi.
Kalla, Pilpres, Presiden, Yudhoyono
Jul
5
Mendekati hari H pemilihan presiden yang akan digelar 8 Juli nanti, serba-serbi yang menyangkut pergelaran demokrasi lima tahunan itu semakin menarik. Cerita dibelakang layar semakin banyak yang terkuak, termasuk hal-hal pribadi atau bahkan yang berbau mistik.
Calon presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang kali membeberkan kisah yang selama ini tak banyak diketahui publik. Calon presiden incumbent itu membocorkan sebuah rahasia bahwa selama memasuki pemilu banyak ilmu sihir yang dialamatkan kepadanya.
“Ini musim pemilu, musim pilpres, banyak yang menggunakan ilmu sihir. Ini betul dan saya merasakan dengan keluarga,luar biasa” katanya saat memberikan sambutan dalam acara dzikir bersama di kediamannya Puri Cikeas, Bogor, Jumat malam (03/07). » baca selengkapnya
cikeas, dzikir, Pilpres, sihir, Yudhoyono
Jun
24
Calon Presiden Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono memang piawai untuk menyenangkan massa. Ia selalu menyesuaikan diri dengan karakter dan kebiasaan masyarakat setempat jika berpidato. Itulah yang Ia lakukan dihadapan ribuan masyarakat Minang yang memadati GOR Agus Salim, Padang, Sumatera Barat, saat berkampanye pemilihan presiden pekan ketiga, Senin (20/06).
Pensiunan jenderal bintang empat itu mencoba menarik simpati masyarakat Minang dengan menyatakan kalau dirinya dan keluarga sangat menyenangi masakan padang. “Ini rahasia, saya dan keluarga sangat menyenangi masakan padang,” katanya disambut riuh tepuk tangan dan teriakan dukungan dari masa yang memadati tempat tersebut.
Ia menceritakan di Cipanas ada rumah makan padang Simpang Raya yang menjadi langganannya sejak dia memulai berkarir di militer hingga menjabat presiden. Rumah makan itu, kata dia, milik sahabatnya.
Ada kebiasaan sahabatnya itu yang diingatnya hingga kini. “Setelah makan saya selalu ditanya, bagaimana makanan saya?,” katanya. Kemudian, sahabatnya itu selalu menyatakan. “Kalau makanan saya tidak enak tolong beri tahu saya, kalau enak beri tahu yang lain”
Nah, nasehat pemilik rumah makan padang itu pun kemudian digunakannya dalam menarik simpati agar mendukungnya menjadi presiden untuk kali kedia. “Jadi, kalau saudara sudah mantap dengan pilihanya dengan SBY-Boediono karena sudah memberi bukti dan bukan hanya angin surga, maka beritahu yang lain,” katanya bersemangat.
Ia pun meminta agar 8 Juli nanti pilihan masyarakat Minang jatuh kepada dirinya dan Boediono yang memiliki nomor urut dua.
Diawal pidato, Yudhoyono menyebutkan kunjunganya kali ini adalah kunjungan kesebelas kali ke Ranah Minang. Ia menilai masyarakat minang ramah, religius dan memiliki adat serta budaya yang tinggi.
Ia pun mempersembahkan sebuah pantun. “Dari Padang ke Bukittinggi, menjulang megah Bukit Singgalang, riang bahagia rasa hati, bertemu kembali masyarakat Minang,” katanya.
Padang, Pilpres, Yudhoyono
Apr
5
Demikianlah ki sanak. Tapi ini ramalan dari Lembaga Survey Indonesia. Boleh percaya boleh tidak. Tempointeraktif.com menuliskan hal ini.
“Riset terakhir Lembaga Survei Indonesia menunjukkan bahwa presiden saat ini, Susilo Bambang Yudhoyono, bakal meraup 52,5 persen suara. Jumlah suara ini cukup untuk membuat pemilihan presiden digelar hanya dalam satu putaran.
Direktur Riset Lembaga Survei Indonesia, Dodi Ambardi, Minggu (5/4), mengatakan tingkat keterpilihan Ketua Dewan Penasehat Partai Demokrat jauh di atas pesaingnya.
Berdasarkan survei terakhir LSI yang digelar 31 Maret-1 April 2009 itu, Megawati Soekarnoputri hanya memperoleh dukungan 18,5 persen. Urutan ketiga ditempati Prabowo dengan 5,6 persen dan Ketua Umum Partai Golkar, Jusuf Kalla, dengan 4,4 persen. (www.tempointeraktif.com)
Ada banyak yang mesti disikapi soal ini. Pertama, apakah ini cara Partai Demokrat dan SBY untuk membentuk opini masyarakat bahwa seolah-olah dia akan menang telak.
Dengan pembentukan opini itu, maka selanjutnya masyarakat yang belum memilih atau ragu-ragu kemudian berpikir, “ya sudahlah buat apa memilih yang lain, toh tak menang juga”. Suara mereka pun membanjir ke SBY. Ini yang dalam dunia politik disebut bandwagon effect. Apakah survei ini adalah survei bayaran dari Partai Demokrat? Wallahu a’lam.
» baca selengkapnya
kampane di masa tenang, Lembaga Survei Indonesia, LSI, SBY, Yudhoyono