Enak di Blog dan Perlu

Digital, Ekonomi Bisnis

E-mail bukan teknologi baru bagi kebanyakan orang di masa sekarang. Sudah bertahun-tahun orang mengenalnya, jauh sebelum Friendster, Facebook, Twitter, LinkedIn, dan lain-lain hadir. Perkembangan ragam teknologi yang dinamai Web 2.0 telah mendorong berlangsungnya komunikasi yang intensif.

Bila di masa awal, teknologi Web 2.0 digunakan sebatas urusan pribadi, kini untuk memanfaatkan teknologi ini di dalam organisasi semakin menguat. Tujuannya melancarkan proses-proses bisnis sembari membangun kolaborasi. Inilah yang oleh Andrew McAfee, guru besar di Harvard Business School, diistilahkan sebagai Enterprise 2.0.

Sebagai strategi, Enterprise 2.0 membantu karyawan, pelanggan, dan pemasok untuk berkolaborasi, berbagi (sharing), dan mengorganisasi informasi. Berbagai platform social software (ada yang menyebutnya sebagai social computing) digunakan di dalam perusahaan, atau antar perusahaan dan mitra mereka atau dengan para pelanggan. Manfaat bisnis dari adopsi strategi Enterprise 2.0 memang dapat dipilah ke dalam tiga kategori: tujuan-tujuan internal, tujuan-tujuan yang berhubungan dengan pelanggan, dan kerjasama dengan mitra.

» baca selengkapnya

, ,

Selama berpuluh tahun, perusahaan bekerja dengan memanfaatkan kekuatan tim. Dengan menghimpun dalam satu tim, keunggulan tiap-tiap individu dapat disinergikan. Dan bila kimiawi tim berhasil diciptakan, keunggulan tim akan menjadi dahsyat dan sangat bermanfaat bagi perusahaan atau organisasi apapun.

Lazimnya, tim dipahami sebagai himpunan dari individu-individu yang jumlahnya masih lebih kecil dari bagian atau departemen, apalagi dibandingkan perusahaan. Mungkin lima atau sepuluh orang. Bisa pula lebih dan keanggotaannya bersifat lintas departemen.

Fase baru sudah tiba, di mana tim perlu dimaknai secara lebih luas dan lebih dalam. Pendekatannya, bagaimana agar orang-orang yang tidak secara formal tergabung dalam tim dapat berperan serta. Misalnya, menyumbangkan keahlian yang dimilikinya. Pilihannya ialah kolaborasi yang lebih luas.

» baca selengkapnya

, ,

Sejarah telah bertutur: jangan main-main dengan massa yang berkerumun. Penguasa sekuat apa pun bisa ambrol bila melawan massa seperti itu. Gerakan people power di Filipina telah menghancurkan rezim Ferdinand Marcos. Gelombang unjuk rasa mahasiswa pada 1998 juga telah melengserkan Soeharto.

Itu dulu, Bung. Untuk menumbangkan penguasa, orang perlu berkumpul di satu tempat. Mereka berunjuk rasa bersama-sama meniru demo ala Lech Walesa atau Tragedi Tiananmen. Lalu menggabungkan energi kemarahan sehingga menghasilkan tuntutan yang meledak-ledak.

Sekarang orang tak perlu berkerumun di satu tempat untuk menggerakkan people power. Ini zaman web 2.0 (meminjam definisi Tim Tim O’Reilly) , Bung, era orang bisa menyuarakan pendapatnya  dengan lantang . Facebook dan Twitter jauh merasuk ke relung-relung kantor, kampus, juga tempat-tempat nongkrong. Cukup teriakkan kepedihan bersama di Facebook, “jemaah fesbukiyah” akan mendukungnya spontan. Lihat saja gerakan mendukung dua pimpinan nonaktif Komisi Pemberantasan Korupsi, Bibit Samad Rianto dan Chandra M.

Hamzah. Hanya dalam hitungan hari, sekarang sudah terkumpul “kerumunan” yang terdiri atas lebih darisejuta pendukung.
Mereka sangat lantang dan juga galak. Gerakan mengenakan pita hitam atau baju hitam sebagai bentuk keprihatinan terhadap matinya keadilan hukum dan perlawanan terhadap kesewenang-wenangan polisi serta kejaksaan sebagai contohnya. Dalam sekejap, gerakan mengenakan pita hitam menyebar ke mana-mana.
» baca selengkapnya

, , , ,

youtubeApa yang kurang dari YouTube? Dia terkenal. Pengguna Internet di sudut mana pun di bumi ini nyaris mustahil tak tahu YouTube. Dia juga terbesar–untuk kategori situs penyedia video. Siapa yang bisa menandingi koleksi YouTube yang mencapai 5,9 miliar video?

Situs yang dirintis oleh tiga mahasiswa iseng dari sebuah kantor kecil di atas restoran Jepang, San Mateo, di California itu juga seksi. Situs ini dibanjiri pengunjung. Pada Maret 2009, misalnya, menurut comScore, ada 99,7 juta pengunjung. Ini angka yang dahsyat. Nyaris sama dengan separuh penduduk Indonesia.

Koleksinya juga beragam. Mau mencari video yang serius seperti video tentang Obama? Ada. Cara membuat roket dan klip musik juga ada. Bahkan video Tukul dan dangdut ngebor di salah satu acara kondangan Sidoarjo juga ada. Time bahkan menyebut situs tempat berbagi video ini salah satu alat demokrasi yang ampuh. Sebuah video tentang pelanggaran di Cina atau Malaysia yang diunggah ke YouTube bisa membuat rakyat bangkit melakukan perlawanan.

Dengan segudang prestasi itu, YouTube telah menjelma menjadi “gadis impian” seperti Penelope Cruz atau Angelina Jolie. Karena sangat “seksi” itulah, Google berani membeli situs ini pada 2006 seharga US$ 1,65 miliar (Rp 17,3 triliun).

Namun, di dunia dengan ekonomi yang murung seperti sekarang ini, “seksi” saja tak cukup. YouTube butuh model bisnis yang bisa mendatangkan uang. Sejak didirikan oleh tiga mahasiswa penggila komputer, Chad Hurley, Steve Chen, dan Jawed Karim, YouTube pada Mei 2005 memang belum meraup untung. Mereka memang pernah mendapat dua kali suntikan investor, dari Sequoia Capital US$ 11,5 juta (Rp 120 miliar) dan belakangan dari Google sebesar US$ 1,65 miliar (Rp 17,3 triliun). Tapi itu tak cukup untuk membuat YouTube menjadi mesin uang. Gara-gara rapor ini, Time menyebutnya sebagai satu dari 10 inovasi paling gagal.
» baca selengkapnya

, , ,