Apr
21
Kata-katanya seperti mantra. Terutama saat dia bicara soal bisnis dotcom. Hanya dengan beberapa menit bertemu, dia bisa meyakinkan hati pendiri Facebook, Mark Zuckerberg. Dia juga melumerkan hati Peter Thiel untuk menyuntikkan modal ke Facebook.
Sean Parker, dialah sang “penyihir” itu. Namanya tak banyak dikenal. Tapi, dialah orang yang berhasil membesarkan Facebook pada 2004. Saat itu situs bikinan Zuckerberg sudah terkenal di Universitas Harvard, tapi belum di universitas lain. Eduardo Saverin, kawan Zuckerberg yang jago algoritma saat membuat Facebook, malah sibuk mencari iklan ketengan.
Sean Parker datang menertawakan yang dilakukan Saverin. Katanya, mencari iklan itu hal kecil. “Iklan apa yang bisa dicari di New York untuk Facebook?” tanya programmer yang pernah bekerja untuk Napster–bukan pendiri Napster seperti disebut dalam film The Social Network–itu. Dengan wajahnya yang santai dan urakan, dia mengejek Saverin, yang selama ini bermimpi membesarkan Facebook dengan mencari iklan, “(Dapat) sejuta dolar itu bukan hal keren. Kamu tahu yang disebut keren? (Dapat) semiliar dolar!”
» baca selengkapnya
evan williams, Facebook, PayPal, Peter Thiel, Sean Parker, start up, Twitter
Mar
26
TWITTER itu seperti pasar bebas. Para penggunanya bisa mengirimkan kicauan apa pun ke linimasa (timeline), misalnya tentang masakan yang tengah disantapnya, kecelakaan yang dia lihat, dengar, atau kabar anak hilang. Pekicau bahkan boleh berbagi puisi, kalimat motivasi, atau informasi tentang kemacetan lalu lintas yang tengah menjebaknya.
Pada saat-saat tertentu, umpamanya ketika terjadi bencana alam, seperti tsunami atau gunung meletus, informasi kian riuh berseliweran di Twitter. Para pengguna Twitter suka meneruskan (RT) kabar tentang nasib korban, kebutuhan bantuan, dan sebagainya. Semakin banyak jumlah pekicau yang kita ikuti, semakin banjir pula kabar yang datang.
Tidak semua informasi yang berseliweran di linimasa itu sahih. Ada informasi yang memang sudah teruji kesahihannya karena bersumber dari situs kantor berita tradisional atau pejabat, ada pula kabar angin yang diragukan kebenarannya. » baca selengkapnya
berita, informasi, jurnalisme, Twitter, verifikasi
Feb
17

Demokrasi pada masa kekuasaan Hosni Mubarak tidak mendapat tempat. Masyarakat Mesir tidak ada yang berani menyampaikan perbedaan pendapat. “Satu-satunya tempat paling demokratis adalah toilet umum,” kata Qaris Tadjudin, wartawan Tempo yang meliput di Mesir, dalam diskusi yang digelar @indonesiana soal ‘Revolusi Media Sosial’ di @atamerica, Pacific Place, Jakarta, Rabu (16/2).
Selama Mubarak berkuasa, kata Qaris, masyarakat tidak ada yang berani menyatakan pendapatnya. Mereka yang tidak mendukung pemerintah, lebih memilih diam dari pada bersuara. Namun, situasi berubah ketika mulai ada media sosial twitter dan Facebook. Terutama menjelang gerakan demonstrasi besar-besaran berlangsung.
» baca selengkapnya
Mesir, Revolusi sosial media, Twitter