Sep
16
Dalam BlackBerry itu lelaki tersebut tenggelam. Semua energinya seperti tersedot. Di tengah rapat penting atau di acara kongko di warung bebek, dia “terhipnotis” oleh ponsel itu.
Sesekali dia melempar tulisan ke blog, melihat foto atau video terbaru. Dan pekerjaan wajibnya adalah memperbarui Facebook dan men-Twit isu apa saja, dari soal Sheila Marcia hamil, Krisdayanti cerai, sampai soal pengadilan Prita Mulyasari dan penggarongan di Bank Century.
Di Indonesia, BlackBerry–juga iPhone dan ponsel pintar lainnya–telah mengenalkan cara baru “menikmati” ponsel.
Tapi apakah demam baru itu menguntungkan operator? Seorang kawan saya bilang, hal seperti itu tak usah ditanyakan. Katanya, “Lihatlah betapa bernafsunya para operator memburu pelanggan baru BlackBerry.”
» baca selengkapnya
BlackBerry, overload, Telkomsel, XL
Mar
21
Burhan Sholihin
Malam masih juga membelenggu Wayne Westerman. Wajah lelaki itu tegang. Seperti malam-malam sebelumnya, kandidat doktor Universitas Delaware, Amerika Serikat, ini “terbelenggu” di depan komputernya. Sudah memeras otak setengah mati, hasilnya tak lebih dari satu halaman. Itu terjadi setiap malam. Padahal batas pengumpulan disertasinya hampir masuk garis mati.
Ia stres berat. Ia dihantui oleh masa kelamnya dulu, ketika dia tak lulus.
“Saya tak bisa memencet papan ketik lagi,” Westerman mengeluh.
Seribu keluhan, sejuta serapah tetap tak menyelamatkan disertasinya. Hingga suatu malam, ketika kerja bermalam-malam pada 1999 itu membangunkan alam bawah sadarnya. “Mengapa tak membuat papan ketik tanpa tombol?” Meletiklah ide liar dari batok kepala Westerman.
» baca selengkapnya
Bill Gates, iPhone, John G. Elias, Nokia 5800 Xpress, Steve Jobs, Telkomsel, Wayne Westerman