Enak di Blog dan Perlu

Blog, Digital

omong-omongMedia sosial disebut-sebut membuat orang antisosial. Facebook, Twitter, obrolan digital, menjadikan penggunanya asyik sendiri. Saatnya kita puasa media sosial?
Bertanyalah pada Mat Bloger yang siang itu terlihat murung sewaktu bertemu dengan saya di sebuah kedai kopi. Mulutnya terkunci rapat. Dan, ini yang lain daripada biasanya, tangannya kosong. Tak ada dua telepon pintar seri terbaru berlayar sentuh yang biasanya selalu ditenteng dan dipelototi layarnya terus-menerus.

Mat Bloger tanpa telepon pintar ibarat hansip tanpa pentungan. Sebab, dalam keseharian ia nyaris tak terpisahkan dari dua benda yang menghubungkannya dengan jagat maya dan jejaring sosial itu. » baca selengkapnya

, , , , , ,

sms-logoLebaran sebentar lagi. Dan hari-hari ini kita kembali menjalani ritual tahunan itu: mengirim dan menerima ucapan selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1431H, mohon maaf lahir dan batin, kepada sanak, kerabat, dan kolega. Tapi siapakah di antara kita yang masih setia dengan cara lama? Siapa yang masih sempat mencari kartu ucapan di toko-toko buku, menuliskan nama dan alamat tujuan, memasukkannya ke amplop, membubuhkan prangko, dan terakhir mencemplungkannya ke kotak surat di kantor pos?

Saya berusaha mengingat-ingat kapan terakhir kali melakukan cara kuno seperti itu. Mungkin 10 tahun yang lalu, mungkin lebih. Teknologi telah mengubah kebiasaan dan cara kita bermaaf-maafan. » baca selengkapnya

, , , , , , ,

radioSalah satu yang paling saya sukai di bulan Ramadan ini adalah ngabuburit. Menjelang waktu berbuka inilah biasanya tersedia aneka pilihan acara menarik, bermanfaat, dan–yang penting–tak membatalkan puasa. Nah, beberapa hari lalu, misalnya, saya ikut kelas Sosial Media di Rumah Langsat, Jakarta Selatan. Pembicaranya Enda Nasution, blogger dan Ketua Pesta Blogger 2007. Sore itu, di depan 30-an peserta, Enda menjelaskan dari A sampai Z tentang media sosial. Pada sesi tanya-jawab, para peserta mengajukan pelbagai pertanyaan.

Saya tertarik pada pertanyaan, “Siapa yang paling tepat mengelola media sosial di sebuahperusahaan? Sebaiknya tim atau satu orang saja?” » baca selengkapnya

, , , ,

Nama Shinta dan Jojo tiba-tiba melejit bak meteor. Dulu bukan siapa-siapa, kini hampir setiap orang membicarakan mereka. Dua gadis muda ini populer berkat rekaman video aksi mereka menyanyikan lagu Keong Racun secara lip-sync di YouTube. Hingga kemarin, video mereka disaksikan lebih dari 2 juta kali. Shinta-Jojo juga sempat masuk daftar topik hangat (trending topic) di Twitter. Para wartawan memburu mereka untuk mendapatkan wawancara. Agen-agen iklan pun berebut menawarkan kontrak.

Shinta dan Jojo adalah mahasiswi Universitas Pasundan, Bandung. Keong Racun adalah lagu dangdut karya Buy Akur, pencipta lagu asal Bandung. Lagu ini menjadi sangat terkenal setelah dibawakan Shinta dan Jojo secara lip-sync dengan gaya yang menggemaskan. Belakangan tersiar kabar bahwa lagu tersebut telah dibeli Charly, vokalis grup band terkenal ST12.

Kemasyhuran video Shinta dan Jojo memicu para epigon. Beberapa orang ikut mengunggah video serupa ke YouTube. Belakangan malah muncul duet perempuan asing yang dengan fasih menyanyikan Keong Racun dengan gaya lucu mirip pendahulunya. Namun video para pengekor itu ternyata tak mampu menggaet perhatian orang sebanyak Shinta dan Jojo.

Lalu orang bertanya-tanya, apa kunci sukses video Shinta dan Jojo? Bisakah kesuksesan mereka direplikasi? Apa saja faktor yang mendongkrak popularitas sebuah isu di media sosial? » baca selengkapnya

, , , , , , ,

Popularitas media sosial terus menanjak di Indonesia. Angka pengguna situs-situs layanan media sosial, seperti blog, forum, Twitter, Facebook, dan sebagainya, terus bertambah. Pengguna Facebook, misalnya, mencapai 26,2 juta menurut situs Check Facebook. Twitter di Indonesia memiliki lebih dari 5,7 juta pengguna. Jumlah blog sekitar 4,5 juta.

Meski penggunanya terus melejit, belum semuanya paham benar bagaimana mengisi media sosial. Saya bahkan sering mendapat pertanyaan tentang bagaimana membuat tulisan di media sosial. “Apakah kiatnya sama dengan menulis di koran?” tanya seorang teman. » baca selengkapnya

, , , ,

« sebelumnyaselanjutnya »