Enak di Blog dan Perlu

Blog

Apa sebetulnya manfaat Twitter bagi kita? Sekadar sebuah layanan media sosial atau lebih dari itu? Pertanyaan semacam ini menggoda saya pada saat jumlah pengguna microblogging itu semakin banyak. Di Indonesia saja diperkirakan ada sekitar 6 juta orang, terbanyak ketiga di dunia.

writingSetelah lebih dari dua tahun aktif di media sosial itu dan mengamati aktivitas penggunanya setiap hari, saya melihat Twitter memiliki banyak fungsi atau peran. Ada yang membuka ruang kuliah (orang menyebutnya “kultwit”), meminta dukungan untuk sebuah gerakan sosial, bersedekah, mencari donor darah, berbagi informasi lalu lintas, dan sebagainya.

Bagi sebagian orang lainnya, Twitter adalah tempat sampah yang sempurna untuk menampung semua keluhan. Di sanalah orang mengumpat arus lalu lintas jalanan yang macet, tetangganya yang berisik, pacarnya yang berselingkuh, atau gurunya yang menjengkelkan. » baca selengkapnya

, , , ,

“I miss the days when you had one phone number and one answering machine, and that one answering machine has one cassette tape, and that one cassette tape either had a message from a guy or it didn’t.”

googleSaya membaca kutipan dialog Mary Harris (diperankan oleh Drew Barrymore dalam film He’s Just Not That Into You) itu di sebuah blog. Penulisnya, sebut saja namanya Ririn, mengutip kalimat itu karena merasa seperti gadis yang kesepian di tengah keramaian pasar malam. Dia kehilangan pembicaraan yang intim dan personal, dari satu orang ke orang lain. Dan ia merindukan masa-masa ketika media sosial belum seriuh sekarang.

Media sosial memang telah mengubah cara orang berkomunikasi. Dulu satu individu bercakap-cakap dengan satu individu. Sekarang individu berkomunikasi dengan khalayak atau sebaliknya. » baca selengkapnya

, , , ,

helpPerlukah kita menjadi orang yang berpengaruh di media sosial? Di ranah blog? Di Twitter? Bagaimana caranya? Begitu seseorang pernah bertanya ke saya. Saya menduga-duga, tampaknya dia baru saja membaca berita tentang penghargaan yang diberikan sebuah lembaga kepada orang-orang yang dianggap sebagai “orang paling berpengaruh di media sosial.” Lalu dia penasaran atau mungkin juga ingin menjadi orang paling berpengaruh.

Terus terang saya tak tahu bagaimana menjawab pertanyaan dia. Saya bukan orang yang berpengaruh. Tapi pertanyaan itu mengingatkan saya kepada salah satu tulisan Chris Brogan. Narablog kondang itu pernah menulis, “The term “influence” doesn’t mean a lot, and yet, it seems to be the holy grail for online social media people.“

Menjadi orang berpengaruh itu tidak mudah. Menurut Brogan, sebelum menjadi orang yang berpengaruh kita lebih baik menempuh jalan sebagai orang yang mudah membantu atau ringan tangan. Kata kuncinya: membantu. » baca selengkapnya

, , , , , ,

Benarkah media sosial itu layanan yang selalu gratis? Mengapa agensi-agensi pemasaran itu mengenakan biaya ratusan juta?

***

freeSyahdan pada sebuah siang yang mendung. Seorang kawan yang menjabat brand manager perusahaan nasional tiba-tiba menelepon dan berkeluh kesah. Bukan karena dia menghadapi masalah rumah tangga, melainkan lantaran merasa tertipu oleh sebuah agensi yang meminta ratusan juta rupiah untuk tarif kampanye produk baru melalui media sosial. Padahal teman saya mengira yang namanya media sosial itu serba gratis. Kalaupun butuh biaya, biasanya tak terlalu membuat kantong jebol.

Mendengar keluhan teman itu, saya jadi teringat artikel B.L. Ochman, pemasar dan narablog Whatsnextonline. Menurut Ochman, orang memang sering salah paham tentang media sosial. Kesalahpahaman ini dipicu oleh mitos-mitos tentang media sosial. Apa saja? » baca selengkapnya

, , , , ,

Bagaimana sebaiknya media tradisional memanfaatkan media sosial? Apa yang tidak dan boleh dilakukan oleh jurnalis ketika beraktivitas di media sosial?

socialmediaPertanyaan itu menari-nari di kepala saya setelah tersiar kabar bahwa Washington Post melayangkan memo kepada staf redaksi dan reporternya pada Rabu lalu. Memo itu berisi larangan kepada para jurnalis koran bergengsi di Amerika Serikat tersebut menjawab kritik publik melalui akun Twitter perusahaan maupun pribadi dengan mengatasnamakan perusahaan.

Memo itu keluar setelah Post — sebutan untuk koran itu — menerbitkan sebuah artikel dari penulis tamu, Tony Perkins, yang memicu kontroversi. Artikel Perkins itu merupakan pendapat pribadinya terhadap sejumlah aksi bunuh diri remaja di Amerika Serikat yang mendapat tekanan (bullying) karena menjadi gay. Perkins berpendapat bahwa homoseksualitas merupakan masalah kesehatan mental. Pendapat tersebut membuat kelompok aktivis pembela kaum gay, GLAAD (The Gay & Lesbian Alliance Against Defamation), melancarkan protes melalui Twitter dan situs web mereka. » baca selengkapnya

, , , , ,

selanjutnya »