Enak di Blog dan Perlu

Blog, Digital

Bagaimana seharusnya pejabat publik dan kantor-kantor pemerintah memanfaatkan media sosial? Apakah para pejabat sebaiknya memiliki akun Twitter?

social mediaBegitulah pertanyaan yang menggoda saya setelah membaca berita tentang isi pidato Presiden Susilo Bambang Yudhoyono saat membuka acara Overseas Private Investment Corporation (OPIC) di Jakarta, Rabu lalu. Acara ini dihadiri oleh ratusan pengusaha Amerika Serikat.

Dalam pidatonya, Presiden menyatakan Indonesia memiliki ‘kolam’ besar penduduk muda. Sekitar 50 persen dari 240 juta penduduk Indonesia berusia di bawah 29 tahun. “Pemuda kami ini bisa dibilang paling connected. Saat ini kita adalah pengguna Facebook tertinggi kedua di dunia, dan pengguna Twitter tertinggi ketiga,” kata Presiden.

Pernyataan itu menyiratkan banyak hal. Inilah untuk pertama kalinya kita mendengar pernyataan resmi Presiden mengenai perkembangan media sosial di Indonesia. Yudhoyono terkesan bangga atas pencapaian itu. Lantas bagaimana para pejabat di bawahnya menyikapi media sosial? » baca selengkapnya

, , , , ,

Indonesia terjangkit demam Obama. Gara-garanya, Presiden Amerika Serikat itu berencana melawat ke sini Sabtu pekan depan. Banyak kalangan seperti tersengat lebah dan bersiap-siap menyambutnya. Bukan hanya jajaran petinggi pemerintahan yang repot, orang biasa pun dibuat ikut sibuk.

Guru-guru dan murid SD Asisi di Menteng Dalam–tempat Presiden Amerika Serikat itu pernah bersekolah — misalnya, sudah sejak jauh hari membersihkan dan mengecat gedung sekolah. Mereka juga berlatih khusus untuk sebuah acara penyambutan. Daerah-daerah yang akan dikunjungi Obama, seperti Yogyakarta dan Bali, pun ikut beres-beres. Jalanan yang rusak diperbaiki. Semuanya dibikin rapi dan bersih agar sedap dipandang jika Obama nanti benar-benar jadi berkunjung.

Barack Obama memang bagaikan magnet. Semua gerak-gerik sang Presiden selalu menjadi berita dan menyedot perhatian orang. Itu sebabnya, media massa pun berlomba menurunkan liputan khusus menyambut lawatan pertama Obama ke Indonesia setelah dilantik jadi presiden. Media membuat tulisan feature tentang masa kecilnya di Jakarta, persiapan SD Asisi, wawancara dengan teman-teman dan tetangga di masa kecil dulu, dan seterusnya. Ada juga tulisan-tulisan ringan mengenai profil dan masa lalu Obama selama di Menteng. » baca selengkapnya

, , , , ,

RAPAT kabinet kemarin menjadi ajang pertemuan langsung yang pertama bagi Susilo Bambang Yudhoyono dengan Jusuf Kalla, setelah keduanya ”bertempur” dalam pemilihan presiden. Tak tampak ketegangan di antara keduanya, meski, semasa kampanye, keduanya sering saling serang dalam pernyataan yang dikutip banyak media.

Seperti diketahui, Yudhoyono dan Kalla mencalonkan diri menjadi presiden untuk periode 2009-2014. Setelah pencontrengan pada 8 Juli lalu, berdasarkan versi hasil hitung cepat beberapa lembaga survei, Yudhoyono, yang berpasangan dengan Boediono, diunggulkan menuju kursi RI-1. Perolehan pasangan itu jauh meninggalkan pasangan Kalla-Wiranto.

Dalam rapat kabinet membahas pencegahan dan pemberantasan korupsi, Presiden Yudhoyono, yang mengenakan baju safari abu-abu, dan Wakil Presiden Jusuf Kalla, memakai baju biru muda, tampak makin akrab. Mereka sempat berbisik-bisik sebelum rapat dimulai.

Sebelum rapat dimulai, Yudhoyono memberikan sambutan dengan serius, didampingi Kalla yang jarang tersenyum. Awal rapat pun jadi tampak tegang. Seusai pengantar, wartawan dipersilakan keluar. Dan rapat pun berlangsung tertutup.

Rapat dihadiri semua pimpinan lembaga negara yang terkait dengan penegakan hukum. Di antaranya, empat pimpinan KPK, yaitu Chandra Hamzah, Haryono Umar, Bibit Samad Riyanto, dan M. Jasin. Kemudian, Ketua Mahkamah Agung Harifin A. Tumpa, Kepala Kepolisian RI Jenderal Bambang Hendarso Danuri, Ketua Badan Pemeriksa Keuangan Anwar Nasution, Kepala Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan Didi Widayadi, Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Widodo A.S., Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Taufik Effendy, Menteri Hukum dan HAM Andi Mattalata, Menteri-Sekretaris Negara Hatta Rajasa, dan Sekretaris Kabinet Sudi Silalahi.

Seusai rapat, Taufik Effendy menceritakan, rapat berlangsung cair dan ketegangan di antara kedua kandidat presiden itu sudah lumer. Menurut dia, suasana rapat berlangsung seperti biasanya, kompetisi di antara keduanya sudah tak tampak lagi. “Wallohi suasananya seperti itu,” katanya.

Hal senada disampaikan Hatta. Menurut dia, rivalitas di antara keduanya sudah berakhir dan tidak mengganggu hubungan mereka. Ketua Tim Pemenangan SBY-Boediono itu mengungkapkan, dalam rapat tersebut Kalla juga sempat memberikan masukan bagaimana langkah lebih lanjut dalam pemberantasan korupsi.

, , ,