Enak di Blog dan Perlu

Portal

Tan Malaka, tokoh perjuangan yang begitu dipuja sebagian orang Indonesia, boleh saja mengatakan, “Imajinasi adalah takhayul yang meremehkan rasionalitas.” Tapi itu akan menjadi bahan tertawaan para inovator sejati. “Bukti kecerdasan sejati bukanlah pengetahuan, melainkan imajinasi,” begitu kata Albert Einstein.

Imajinasi, ya siapa yang bisa mengalahkannya. Sejumlah penemu hebat masa kini telah membuktikannya. Ketika pasar telepon seluler pintar atawa smartphone didominasi oleh Nokia dan sejumlah PDA berbasis Windows Mobile, imajinasi para teknokrat muda menggetarkan dunia. Steve Jobs datang dengan iPhone. Jim Balsillie dan Mike Lazaridis melahirkan BlackBerry. Dan, yang terbaru, para developer Google merilis Android.

Pasar ponsel pintar kemudian pecah berkeping-keping. Sebagian pasar itu direbut Balsillie dan Lazaridis. Sejak awal 1990, imajinasi kedua orang itu membubung ke langit. “Kami tahu surat elektronik akan menjadi fondasi bisnis, menggantikan faks.” Imajinasi mereka adalah membaca surat elektronik (surel) di ponsel di mana saja. Itulah yang membuat mereka kini bisa merebut separuh kue pasar ponsel pintar yang dikuasai Nokia.

» baca selengkapnya

, , ,

Merek-merek ponsel di Cina mirip-mirip alur cerita novel-novel J.K. Rowling: penuh kejutan. Sesekali mainlah ke Shenzhen. Anda akan mendapati merek-merek ponsel yang membuat kening Anda mengernyit. Lihatlah, ada merek NOKLA (bukan NOKIA). Ada juga iPhome (awas, bukan iPhone).

Bentuk ponsel itu mirip ponsel bikinan merek-merek ternama, seperti Nokia, Motorola, SonyEricsson, atau iPhone. Harganya tentu lebih miring daripada aslinya. Soal kualitas bahan maupun keandalan ponselnya jangan ditanya. Mereka mengincar pasar orang-orang yang menginginkan ponsel “gaya” tapi berharga di bawah sejuta rupiah. Biasanya ponsel jenis ini dijual di pasar gelap atau wilayah miskin, seperti Afrika, sebagian merembes ke Indonesia.

Di Cina, ponsel-ponsel seperti itu dibuat oleh pabrik kelas rumahan dengan karyawan cuma belasan orang. Di sana mereka menjulukinya “shanzhai ji” atau ponsel bandit. Di negeri itu, ada 3.000-4.000 pabrik ponsel bandit. “Anda tak akan bisa bersaing melawan mereka. Tak akan,” kata seorang petinggi produsen ponsel Huawei Technologies. “Sekarang nyaris mustahil mendapat untung karena mereka,” dia menambahkan.
Mengerikan? Mungkin. Tapi lihatlah dari sisi yang berbeda, betapa kreatifnya para kapitalis negeri Cina itu. Saking kreatifnya, para produsen ponsel bandit itu kini malah sudah masuk ke level berikutnya. Saya menyebutnya ponsel bandit 2.0.
» baca selengkapnya

, , ,