Enak di Blog dan Perlu

Blog

Apa sebetulnya manfaat Twitter bagi kita? Sekadar sebuah layanan media sosial atau lebih dari itu? Pertanyaan semacam ini menggoda saya pada saat jumlah pengguna microblogging itu semakin banyak. Di Indonesia saja diperkirakan ada sekitar 6 juta orang, terbanyak ketiga di dunia.

writingSetelah lebih dari dua tahun aktif di media sosial itu dan mengamati aktivitas penggunanya setiap hari, saya melihat Twitter memiliki banyak fungsi atau peran. Ada yang membuka ruang kuliah (orang menyebutnya “kultwit”), meminta dukungan untuk sebuah gerakan sosial, bersedekah, mencari donor darah, berbagi informasi lalu lintas, dan sebagainya.

Bagi sebagian orang lainnya, Twitter adalah tempat sampah yang sempurna untuk menampung semua keluhan. Di sanalah orang mengumpat arus lalu lintas jalanan yang macet, tetangganya yang berisik, pacarnya yang berselingkuh, atau gurunya yang menjengkelkan. » baca selengkapnya

, , , ,

“I miss the days when you had one phone number and one answering machine, and that one answering machine has one cassette tape, and that one cassette tape either had a message from a guy or it didn’t.”

googleSaya membaca kutipan dialog Mary Harris (diperankan oleh Drew Barrymore dalam film He’s Just Not That Into You) itu di sebuah blog. Penulisnya, sebut saja namanya Ririn, mengutip kalimat itu karena merasa seperti gadis yang kesepian di tengah keramaian pasar malam. Dia kehilangan pembicaraan yang intim dan personal, dari satu orang ke orang lain. Dan ia merindukan masa-masa ketika media sosial belum seriuh sekarang.

Media sosial memang telah mengubah cara orang berkomunikasi. Dulu satu individu bercakap-cakap dengan satu individu. Sekarang individu berkomunikasi dengan khalayak atau sebaliknya. » baca selengkapnya

, , , ,

Bagaimana wajah media digital tahun ini? Bagaimana strategi media-media konvensional menyongsong era digital? Begitulah pertanyaan yang membuat saya penasaran hari-hari ini.

Saya mencoba menengok ke belakang, melihat satu tonggak penting di ranah teknologi digital. Tahun lalu dunia menyaksikan terbitnya perangkat-perangkat tablet, seperti iPad dan Galaxy Tab. Dua debutan baru ini laris manis dalam waktu sekejap. Perangkat buatan Apple itu terjual 3 juta unit dalam tempo 80 hari sejak diluncurkan, sedangkan Galaxy sekitar 600 ribu dalam 30 hari.

Pada saat media-media cetak kesulitan mendongkrak tiras, perangkat tablet yang populer itu menjadi semacam harapan baru bagi para penerbit koran dan majalah di seluruh dunia. Tablet adalah kanal distribusi yang potensial menjangkau pembaca lebih luas. Beberapa penerbit media di Amerika dan Eropa bahkan telah memulainya tahun lalu dengan ramai-ramai membuat koran/majalah dalam versi iPad. » baca selengkapnya

, , , ,

Benarkah media sosial itu layanan yang selalu gratis? Mengapa agensi-agensi pemasaran itu mengenakan biaya ratusan juta?

***

freeSyahdan pada sebuah siang yang mendung. Seorang kawan yang menjabat brand manager perusahaan nasional tiba-tiba menelepon dan berkeluh kesah. Bukan karena dia menghadapi masalah rumah tangga, melainkan lantaran merasa tertipu oleh sebuah agensi yang meminta ratusan juta rupiah untuk tarif kampanye produk baru melalui media sosial. Padahal teman saya mengira yang namanya media sosial itu serba gratis. Kalaupun butuh biaya, biasanya tak terlalu membuat kantong jebol.

Mendengar keluhan teman itu, saya jadi teringat artikel B.L. Ochman, pemasar dan narablog Whatsnextonline. Menurut Ochman, orang memang sering salah paham tentang media sosial. Kesalahpahaman ini dipicu oleh mitos-mitos tentang media sosial. Apa saja? » baca selengkapnya

, , , , ,

Bagaimana sebaiknya media tradisional memanfaatkan media sosial? Apa yang tidak dan boleh dilakukan oleh jurnalis ketika beraktivitas di media sosial?

socialmediaPertanyaan itu menari-nari di kepala saya setelah tersiar kabar bahwa Washington Post melayangkan memo kepada staf redaksi dan reporternya pada Rabu lalu. Memo itu berisi larangan kepada para jurnalis koran bergengsi di Amerika Serikat tersebut menjawab kritik publik melalui akun Twitter perusahaan maupun pribadi dengan mengatasnamakan perusahaan.

Memo itu keluar setelah Post — sebutan untuk koran itu — menerbitkan sebuah artikel dari penulis tamu, Tony Perkins, yang memicu kontroversi. Artikel Perkins itu merupakan pendapat pribadinya terhadap sejumlah aksi bunuh diri remaja di Amerika Serikat yang mendapat tekanan (bullying) karena menjadi gay. Perkins berpendapat bahwa homoseksualitas merupakan masalah kesehatan mental. Pendapat tersebut membuat kelompok aktivis pembela kaum gay, GLAAD (The Gay & Lesbian Alliance Against Defamation), melancarkan protes melalui Twitter dan situs web mereka. » baca selengkapnya

, , , , ,

selanjutnya »