Enak di Blog dan Perlu

Ekonomi Bisnis

Di tengah pertumbuhan luar biasa pengguna blog, facebook, linkedin, dan twitter, para manajer pemasaran terus berupaya mencari jalan bagaimana mengambil mutiara dari dalamnya. Orang-orang public relations sudah lebih dulu memanfaatkan media sosial untuk berkomunikasi dengan pelanggan, mitra, kalayak luas. Mereka berusaha mendengarkan apa yang diinginkan pelanggan. Departemen pemasaran memakainya untuk menginformasikan produk/jasa,  membangun dan menguatkan merek.

Setidaknya ada empat faktor yang mendorong kecenderungan ini. Pertama, popularitas media sosial yang meningkat cepat. Kedua, melibatkan pelanggan dalam menciptakan produk/jasa kian dianggap penting. Ketiga, media sosial makin diterima sebagai alat persuasi yang ampuh. Dan keempat, media sosial dianggap menawarkan jalan keluar dari kesulitan yang ditemui dalam program komunikasi pemasaran tradisional. Misalnya keluasan jangkauan dan kecepatan respons.

Meskipun begitu, kebanyakan perusahaan masih berusaha memahami bagaimana menciptakan nilai dari pertumbuhan ini dan ujung-ujungnya memberikan revenue yang berarti bagi perusahaan. Perusahaan-perusahaan ini umumnya belum sanggup mengkapitalisasi informasi dan data yang mereka peroleh melalui media sosial menjadi wawasan yang berdampak pada bottom line mereka.

» baca selengkapnya

, , ,

Bagaimana seharusnya pejabat publik dan kantor-kantor pemerintah memanfaatkan media sosial? Apakah para pejabat sebaiknya memiliki akun Twitter?

social mediaBegitulah pertanyaan yang menggoda saya setelah membaca berita tentang isi pidato Presiden Susilo Bambang Yudhoyono saat membuka acara Overseas Private Investment Corporation (OPIC) di Jakarta, Rabu lalu. Acara ini dihadiri oleh ratusan pengusaha Amerika Serikat.

Dalam pidatonya, Presiden menyatakan Indonesia memiliki ‘kolam’ besar penduduk muda. Sekitar 50 persen dari 240 juta penduduk Indonesia berusia di bawah 29 tahun. “Pemuda kami ini bisa dibilang paling connected. Saat ini kita adalah pengguna Facebook tertinggi kedua di dunia, dan pengguna Twitter tertinggi ketiga,” kata Presiden.

Pernyataan itu menyiratkan banyak hal. Inilah untuk pertama kalinya kita mendengar pernyataan resmi Presiden mengenai perkembangan media sosial di Indonesia. Yudhoyono terkesan bangga atas pencapaian itu. Lantas bagaimana para pejabat di bawahnya menyikapi media sosial? » baca selengkapnya

, , , , ,

Benarkah media sosial itu layanan yang selalu gratis? Mengapa agensi-agensi pemasaran itu mengenakan biaya ratusan juta?

***

freeSyahdan pada sebuah siang yang mendung. Seorang kawan yang menjabat brand manager perusahaan nasional tiba-tiba menelepon dan berkeluh kesah. Bukan karena dia menghadapi masalah rumah tangga, melainkan lantaran merasa tertipu oleh sebuah agensi yang meminta ratusan juta rupiah untuk tarif kampanye produk baru melalui media sosial. Padahal teman saya mengira yang namanya media sosial itu serba gratis. Kalaupun butuh biaya, biasanya tak terlalu membuat kantong jebol.

Mendengar keluhan teman itu, saya jadi teringat artikel B.L. Ochman, pemasar dan narablog Whatsnextonline. Menurut Ochman, orang memang sering salah paham tentang media sosial. Kesalahpahaman ini dipicu oleh mitos-mitos tentang media sosial. Apa saja? » baca selengkapnya

, , , , ,

Kisah perseteruan “cicak” versus “buaya” bergulir bagaikan bola liar di ranah Internet. Guliran kasus makin seru setelah dua petinggi nonaktif Komisi Pemberantasan Korupsi, Chandra Hamzah dan Bibit Samad Rianto, ditangkap pada Kamis pekan lalu. Hari itu juga, dosen Universitas Muhammadiyah Bengkulu, Usman Yasin, membuat “Gerakan 1.000.000 Facebookers Dukung Chandra Hamzah & Bibit Samad Riyanto”. Dalam waktu sepekan, persisnya hari ini, aksi tersebut telah meraih lebih dari sejuta pendukung.

“Bagaimana aksi itu bisa mendapat dukungan secara cepat dan meluas, ya, Mas?” tanya Mat Bloger, kawan saya, yang sekarang gemar beraktivitas di media sosial, seperti Facebook dan Twitter. » baca selengkapnya

, , , , , ,

Seorang konsultan humas perusahaan telepon seluler terkemuka pernah bertanya kepada saya, “Berapa tarif memasang iklan di blog sampean? Bagaimana mengukur efektivitasnya? Berapa yang akan membeli handphone setelah saya memasang iklan di blog sampean?”

Diberondong pertanyaan semacam itu, tentu saja saya jadi pusing tujuh keliling. Selain jarang menerima iklan komersial, saya belum memiliki acuan tarif iklan dan tak mengerti bagaimana mengukur efektivitasnya.

Beberapa kawan narablog kerap menerima pertanyaan yang sama. Maklum, para pemegang merek lokal maupun internasional memang sedang gencar-gencarnya mendekati narablog dan pemain media-media sosial belakangan ini. Beberapa pesohor microblogging bahkan diminta mengkampanyekan sebuah program atau merek, misalnya, di Twitter. » baca selengkapnya

, , , ,