Nov
22
Benarkah media sosial itu layanan yang selalu gratis? Mengapa agensi-agensi pemasaran itu mengenakan biaya ratusan juta?
***
Syahdan pada sebuah siang yang mendung. Seorang kawan yang menjabat brand manager perusahaan nasional tiba-tiba menelepon dan berkeluh kesah. Bukan karena dia menghadapi masalah rumah tangga, melainkan lantaran merasa tertipu oleh sebuah agensi yang meminta ratusan juta rupiah untuk tarif kampanye produk baru melalui media sosial. Padahal teman saya mengira yang namanya media sosial itu serba gratis. Kalaupun butuh biaya, biasanya tak terlalu membuat kantong jebol.
Mendengar keluhan teman itu, saya jadi teringat artikel B.L. Ochman, pemasar dan narablog Whatsnextonline. Menurut Ochman, orang memang sering salah paham tentang media sosial. Kesalahpahaman ini dipicu oleh mitos-mitos tentang media sosial. Apa saja? » baca selengkapnya
agensi, marketing, Media, media sosial, mitos, sosial
Aug
22
Orang-orang yang memiliki hobi yang sama seringkali berkumpul. Di waktu-waktu tertentu mereka bertemu untuk membicarakan hobi mereka. Penggemar sepeda gunung sama-sama ngumpul dengan penggemar sepeda gunung, bikin acara bersama, naik gunung bersama dengan bersepeda. Pendeknya, menikmati tantangan menjadi menyenangkan bila bersama orang-orang yang mempunyai hobi serupa.
Penggemar mobil VW kodok, Mercedes Benz model lama, prangko alias filateli, atau pun motor gede sudah lama berkumpul membentuk komunitas. Namun, dalam beberapa tahun terakhir kecenderungan membentuk komunitas ini meluas. Sepeda onthel yang berpuluh tahun menghilang kini digemari dan komunitasnya mudah dikenali ketika mengadakan acara keliling kota dengan berpakaian “pamong praja” zaman baheula.
Komunitas penggemar teknologi juga menjamur, ada yang fanatik seperti komunitas Macintosh yang “Apple-minded”, ada yang mengoprek sistem operasi Android dengan penuh rasa ingin tahu, ada pula online gamers yang tahan berjam-jam bermain bareng.
» baca selengkapnya
komunitas, marketing, Mercedes, merek, VW
Mar
6
Suatu hari di sebuah kafe kopi di Senayan City yang sibuk, ketika senja hampir jatuh di barat. Jalanan basah oleh hujan. Dan macet.
Saya sedang kongko-kongko dengan beberapa kawan yang kebetulan berprofesi sebagai PR. Ditemani beberapa potong pisang goreng keju dan cangkir-cangkir cappucino, kami berbincang tentang banyak hal. Ihwal pansus Century, lelucon tentang pengacara gundul yang jadi wakil rakyat itu, Twitter yang makin lama makin seru, Facebook yang kian riuh, dan sebagainya.
Obrolan santai itu kemudian sampai ke rencana membuat blog untuk perusahaan tempat teman saya bekerja itu. “Saya mau bikin, Mas. Ini proyek terbesar saya,” katanya. » baca selengkapnya
corporate, cs, customer service, konsumen, korporat, loyal, marketing
Dec
26
Wajah Fany Ariasari terlihat berseri-seri siang itu. Meski peluh membanjir di tubuhnya, senyum selalu terkembang di bibirnya. “Capek sih, tapi senang,” kata narablog asal Semarang itu.
Fany, juga dua narablog lainnya, Pitra Satvika dan Aulia Halimatussadiah alias Ollie, tengah mengikuti fun game yang diselenggarakan oleh PT Acer Indonesia di Gili Trawangan, Lombok. Fun game adalah acara selingan dari workshop teknologi termutakhir yang digelar oleh produsen laptop merek Acer itu pada 15-17 Desember lalu. » baca selengkapnya
brand, marketing, merek, narablog, promosi
Dec
7
Demam media sosial melanda Indonesia. Jumlah pengguna situs-situs seperti Facebook, Twitter, Plurk, bahkan blog naik terus. Pemilik Facebook di Indonesia, misalnya, sudah menembus angka 12 juta. Pemakai Twitter 1,8 juta. Jumlah blog di atas 1,5 juta. Dengan angka seperti itu, tak mengherankan bila media sosial menjadi tempat yang riuh.
Tempat khalayak berkerumun, apalagi yang riuh, jelas membuat para pemasar seperti melihat sepiring steik daging lembu muda. Tempat seperti itu sangat ideal dijadikan target pemasaran. Dan itu tidak salah. Ilmu bisnis memang mengajarkan demikian. Maka berbondong-bondonglah para pemasar menyerbu media sosial.
Sayang, belum semuanya siap terjun. Sebagian besar menyerbu tanpa bekal pengetahuan yang cukup tentang media sosial. Terjadi kebingungan dan kegamangan. Pasar yang mereka hadapi ternyata jauh berbeda dari yang sebelumnya mereka kenal. Beberapa di antara mereka lalu bertanya ke sana-sini, termasuk kepada saya. Pertanyaan mereka biasanya: bagaimana mencari blogger yang bersedia membantu memasarkan sebuah produk? Di manakah gerangan mereka berada? » baca selengkapnya
audiens, influencer, khalayak, marketing, Media, pengaruh, sosial