Enak di Blog dan Perlu

Buku, Ekonomi Bisnis

Banyak manajer yang bingung bagaimana mengajak stafnya agar mau bekerja dengan penuh semangat. Karyawan-karyawan ini memang sudah bekerja. Tapi, menurut para manajer, mereka mestinya mampu bekerja lebih baik lagi, bukan bekerja pas bandrol.

Telah lama para manajer dan ahli manajemen mencari cara untuk “melibatkan” karyawan dalam mengembangkan produk, membesarkan merek, dan meningkatkan produktivitas. Dalam konteks ini, yang dimaksud “terlibat” ialah kesediaan karyawan untuk mencurahkan kemampuan terbaik mereka kepada perusahaan. Apa rahasianya?

» baca selengkapnya

, , ,

Sebagai manajer, manakah yang lebih Anda dulukan dalam menilai seorang calon karyawan: sikapnya atau ketrampilannya? Tentu saja, setiap perusahaan merekrut orang baru karena membutuhkan ketrampilan tertentu. Tapi ketrampilan tidak menceritakan seluruh kisahnya. Ketrampilan hanyalah sepenggal bagian dari jati diri seseorang yang hendak Anda rekrut ke dalam perusahaan Anda.

Ada perusahaan-perusahaan yang dilihat sepintas dari jenis industrinya membutuhkan lulusan perguruan tinggi yang trampil dalam jenis industri itu. Tapi mengapa justru yang direkrut lebih banyak lulusan dari bidang lain, bahkan jauh sekali. Apa pertimbangan manajemen perusahaan melakukan pilihan tersebut?

» baca selengkapnya

, ,

Masuknya orang baru ke dalam sebuah bagian atau departemen di perusahaan merupakan peristiwa yang kerap tak dicatat. Padahal, banyak hal yang kemudian dapat dipelajari tentang bagaimana sebuah organisasi menerima dan memperlakukan anggota-anggota baru.

Di sebuah bagian dalam perusahaan, misalnya, beragam respons terlontar menanggapi hadirnya anggota tim yang baru. Ada yang ingin menguji kemampuannya dengan member tugas ini dan itu. Tak kurang yang bersikap sekedar mengamati apa yang akan dilakukan orang baru itu, sehingga orang baru itu kebingungan sendiri. Ada pula yang acuh tak acuh seolah tak ada penambahan jumlah orang di bagiannya.

» baca selengkapnya

, ,

working1Hujan turun lagi, dan bisa diduga Jakarta bertambah macet lagi. Bang Foke masih pusing tujuh keliling memikirkan mana sarana transportasi umum yang terbaik bagi ibukota: busway, monorel, atau mass rapid transportation (MRT) lainnya. Sembari menunggu Bang Foke selesai berpikir, kita mungkin bisa menyodorkan alternatif lain untuk menyiasati kemacetan agar produktivitas kerja tidak menurun.

Lantaran kemacetan yang amat parah, berapakah waktu, energi, emosi, daya tahan tubuh dan psikologi, serta uang yang dihabiskan untuk tetap menyesuaikan diri dengan situasi itu? Tak ada yang menghitungnya, tapi niscaya sangat besar. Dari sisi waktu saja, berapa jam umur para pekerja, manajer, dan eksekutif yang dihabiskan di jalanan? “Tua di jalan,” kata orang Jakarta. » baca selengkapnya

, , , , ,

Mat Bloger sedang mabuk kepayang dalam pelukan Facebook. Jejaring sosial itu bagaikan pil nikmat yang bisa membuat dirinya ekstase. Setiap saat dia membuka Facebook dengan BlackBerry Storm miliknya, di kantor, di bus, di taksi, di mal, di kafe, di mana-mana. Macam-macam yang ia kerjakan: melihat status teman, mengunggah foto dan video, bincang-bincang dengan koleganya di mancanegara, memainkan game Trivian atau balapan mobil, dan sebagainya.

Saking terlenanya oleh Facebook, Mat Bloger ditegur bosnya. Dia dianggap lebih mementingkan jejaring sosial itu ketimbang pekerjaan. Produktivitasnya pun dinilai turun. Tentu saja Mat Bloger tak terima ditegur begitu.

“Semprul! Bos macam apa itu? Mosok saya disebut buang-buang waktu dan kurang produktif. Membuka Facebook kan bagian dari pekerjaan, Mas. Saya memperluas jaringan, berkomunikasi dengan para klien, dan memantau pasar. Huh, dasar sontoloyo!” » baca selengkapnya

, , , , ,

« sebelumnya