Enak di Blog dan Perlu

Ekonomi Bisnis

Akhir-akhir ini aksi protes karyawan, atau bahkan mogok kerja, kian jamak kita saksikan di layar teve maupun kita baca di koran-koran. Nyaris setiap hari ada saja karyawan perusahaan yang menggelar acara demonstrasi untuk memprotes kebijakan manajemen perusahaan. Isu protes mereka terutama soal kesejahteraan: mulai dari gaji, tunjangan, sampai dana pensiun.

Jarang sekali ada protes karyawan yang mengangkat isu kondisi lingkungan kerja yang buruk. Jarang pula protes karyawan yang mempermasalahkan meja kerja yang berimpitan sehingga sesak napas. Secara sepintas, ini dapat ditafsirkan bahwa para pekerja kita umumnya bersedia bekerja keras dalam kondisi yang kurang nyaman asalkan pendapatan mereka layak dan sepadan.

Karena tak ada protes soal lingkungan kerja, manajemen perusahaan biasanya lantas menganggap semuanya oke. Fokus manajemen melulu keluar: apakah ada keluhan dari pelanggan? Apa keluhannya? Lalu keluar perintah: harap segera diatasi.

Ketika banyak perusahaan yang melakukan survey untuk mengetahui kepuasan pelanggan atas produk atau jasa yang mereka tawarkan, sangat sedikit perusahaan yang mengadakan survey untuk mengetahui kepuasan karyawannya. Pernahkan Anda sebagai karyawan ditanya: apakah menurut Anda, gaji Anda sepadan dengan jam kerja Anda, apakah ruang kerja Anda cukup lega, apakah jam lembur Anda terlalu banyak?

» baca selengkapnya

, ,

Apakah pengetahuan di perusahaan Anda berkembang? Mandeg, atau bahkan merosot? Siapa yang peduli? Mungkin tak banyak, atau lebih buruk dari itu, sama sekali tak ada yang mengacuhkan apakah pengetahuan dalam organisasi Anda bertambah atau berkurang. Toh, perusahaan tetap berjalan, jadi mengapa harus sibuk mengurus hal-hal yang rumit seperti itu?

Dibandingkan dengan asset berupa mesin, gedung, atau pun kapital yang dikelola dengan sangat serius oleh perusahaan, pengetahuan tergolong paling kurang memperoleh perhatian dari jajaran manajemen. Sangat sedikit perusahaan di Indonesia yang meletakkan pengetahuan sebagai bagian strategis dari asset maupun “manajemen pengetahuan” sebagai bagian dari upaya pengembangan perusahaan.

Perusahaan seperti ini biasanya menganggap enteng hilangnya sumberdaya manusia mereka dikarenakan pindah kerja, pensiun, sampai meninggal. Manajemen perusahaan tidak menyadari bahwa kepergian orang-orang ini membawa serta pengetahuan yang sudah mereka timba selama bekerja di perusahaan. Bagi manajemen, toh masih banyak orang yang mampu berkontribusi bagi perusahaan.

» baca selengkapnya

, , ,

Kekuatan motivasional apa yang mendorong karyawan untuk serius bekerja? Di mata kebanyakan para manajer, ada dua yang menonjol, yakni insentif dan pengakuan. Setidaknya, begitulah yang didapat oleh Teresa Amabile dalam surveinya terhadap 700 manajer dari berbagai perusahaan di seluruh dunia. Hanya 5% manajer yang meletakkan kemajuan sebagai kekuatan motivasional nomor satu.

Namun, dari studinya baru-baru ini, Teresa menemukan sesuatu yang niscaya mengejutkan para manajer. Dari hampir 12 ribu catatan kerja harian yang ia gali, guru besar Harvard Business School ini menemukan bahwa satu-satunya hal terpenting yang mendorong keterlibatan karyawan (employee engagement) ialah kemajuan. Inilah yang kemudian dituangkan oleh Teresa menjadi buku The Progress Principle yang terbit belum lama ini.

Para manajer, kata Teresa, kurang menyadari betapa penting kemajuan bagi motivasi manusia. Bahkan, inilah rahasia pertama mengapa video game berkembang pesat. Para desainernya menciptakan cara agar para pemain video game terus terlibat dalam permainan ini.

» baca selengkapnya

, ,

Bila Anda sempat membaca iklan di beberapa suratkabar nasional, mungkin Anda menemukan ada perusahaan yang memasang iklan dengan tagline seperti ini: “Tempat terbaik untuk bekerja.” Sangat gamblang.

Mengapa perusahaan ini memasang frasa tersebut di bagian awal iklan “lowongan kerja”-nya? Apakah bermaksud menyombongkan diri atau sekedar untuk gagah-gagahan?Apa pula hubungannya dengan kepuasan karyawan?

» baca selengkapnya

, , ,

Banyak manajer yang bingung bagaimana mengajak stafnya agar mau bekerja dengan penuh semangat. Karyawan-karyawan ini memang sudah bekerja. Tapi, menurut para manajer, mereka mestinya mampu bekerja lebih baik lagi, bukan bekerja pas bandrol.

Telah lama para manajer dan ahli manajemen mencari cara untuk “melibatkan” karyawan dalam mengembangkan produk, membesarkan merek, dan meningkatkan produktivitas. Dalam konteks ini, yang dimaksud “terlibat” ialah kesediaan karyawan untuk mencurahkan kemampuan terbaik mereka kepada perusahaan. Apa rahasianya?

» baca selengkapnya

, , ,

selanjutnya »