Enak di Blog dan Perlu

Nasional

Hari-hari sekarang boleh jadi adalah hari yang sangat menantang bagi Raju Narisetti. Saya bertemu dengan Raju di kantornya di pusat Kota Washington, DC, Mei lalu. Tatapan matanya sangat ramah. Di sela-sela kumis dan jenggotnya yang sudah memutih selalu ada senyum lebar. Dia menyambut saya dan rombongan beberapa editor dari Rusia, Spanyol, Finlandia, Arab Saudi, serta Uni Emirat Arab dengan sangat antusias. Dia menyuguhi kami aneka jus dan snack. Sungguh itu sesuatu yang langka di Amerika Serikat, setidaknya itu pengalaman saya masuk ke kantor USA Today, Wall Street Journal, New York Times, kantor berita AP, dan beberapa kantor media lainnya. Kini dia menjadi Managing Editor Washington Post.

“Itu karena saya dari Selatan. Saya paham budaya beramah-tamah,” katanya, menanggapi keheranan kami atas suguhan itu. Raju memang keturunan India. Dia telah menghabiskan kariernya dengan melanglang ke Eropa dan Amerika Serikat di berbagai koran, termasuk Wall Street Journal.
» baca selengkapnya

, ,

twitterTWITTER itu seperti pasar bebas. Para penggunanya bisa mengirimkan kicauan apa pun ke linimasa (timeline), misalnya tentang masakan yang tengah disantapnya, kecelakaan yang dia lihat, dengar, atau kabar anak hilang. Pekicau bahkan boleh berbagi puisi, kalimat motivasi, atau informasi tentang kemacetan lalu lintas yang tengah menjebaknya.

Pada saat-saat tertentu, umpamanya ketika terjadi bencana alam, seperti tsunami atau gunung meletus, informasi kian riuh berseliweran di Twitter. Para pengguna Twitter suka meneruskan (RT) kabar tentang nasib korban, kebutuhan bantuan, dan sebagainya. Semakin banyak jumlah pekicau yang kita ikuti, semakin banjir pula kabar yang datang.

Tidak semua informasi yang berseliweran di linimasa itu sahih. Ada informasi yang memang sudah teruji kesahihannya karena bersumber dari situs kantor berita tradisional atau pejabat, ada pula kabar angin yang diragukan kebenarannya. » baca selengkapnya

, , , ,

Apes betul jadi orang Indonesia. Hanya gara-gara tulisan, seseorang bisa masuk penjara atau setidaknya menjadi tersangka karena dianggap mencemarkan nama baik orang lain. Entah tulisan itu muncul di koran, majalah, buku, situs berita, surat elektronik, mailing list, Facebook, ataupun blog.

Korban terbaru adalah Khoe Seng Seng. Kamis lalu, dia diperiksa sebagai tersangka kasus pencemaran nama baik di Kepolisian Daerah Metro Jaya. Ia dituduh mencemarkan nama baik Henry S. Tjandra di blog. Sebelum terjerat kasus ini, Khoe pernah menjadi terpidana kasus pencemaran nama baik manajemen PT Duta Pertiwi Tbk lewat surat pembaca di dua harian nasional. » baca selengkapnya

, , , , ,

Mat Bloger dan Kang Jurnalis ibarat air dan minyak. Tak pernah akur. Setiap kali bertemu, mereka selalu adu mulut. Mat Bloger kerap meledek pekerjaan Kang Jurnalis yang dianggapnya ketinggalan zaman. Laporannya selalu kalah cepat dibanding narablog (blogger) yang berada di mana-mana dan sangat lekas mempublikasikan informasi.

“Lihat saja sewaktu terjadi aksi kekerasan terhadap para pengunjuk rasa di Iran setelah pemilu kemarin, Kang. Siapa yang mengirim foto-foto dan kabar itu ke seluruh dunia? Siapa yang mengunggah video yang menayangkan bentrok antara aparat keamanan Iran dan para demonstran di YouTube? Pewarta warga dan para blogger, Kang. Bukan jurnalis tradisional seperti sampean,” kata Mat Bloger.

Kang Jurnalis merah padam karena diledek seperti itu. “Halah, baru sekali saja sudah bangga. Huh!” » baca selengkapnya

, , , , , ,