Dec
18
Jurnalis dan Internet ibarat ikan dan air. Keduanya nyaris tak terpisahkan. Bagi wartawan, tiada hari tanpa berselancar di mayantara. Dalam survei yang dilakukan oleh Research Center London School of Public Relations dan Maverick, terungkap 96,1 persen jurnalis mengakses Internet setiap hari, 2,3 persen 3 hari sekali, dan hanya 1,6 persen 5 hari sekali.
Hasil survei itu diumumkan Rabu lalu. Survei dilakukan pada Juni-September 2010 dengan jumlah responden 320 jurnalis dari 141 media di seluruh Indonesia. Ini adalah survei pertama tentang pola aktivitas wartawan Indonesia dalam menggunakan Internet dan jejaring sosial. Hasil survei tersebut penting bagi industri, terutama kalangan perhumasan dan pemasar, juga semua pihak yang ingin mengetahui hubungan antara wartawan dan Internet. » baca selengkapnya
internet, jurnalis, LSPR, Maverick, Survei
Oct
23
Bagaimana sebaiknya media tradisional memanfaatkan media sosial? Apa yang tidak dan boleh dilakukan oleh jurnalis ketika beraktivitas di media sosial?
Pertanyaan itu menari-nari di kepala saya setelah tersiar kabar bahwa Washington Post melayangkan memo kepada staf redaksi dan reporternya pada Rabu lalu. Memo itu berisi larangan kepada para jurnalis koran bergengsi di Amerika Serikat tersebut menjawab kritik publik melalui akun Twitter perusahaan maupun pribadi dengan mengatasnamakan perusahaan.
Memo itu keluar setelah Post — sebutan untuk koran itu — menerbitkan sebuah artikel dari penulis tamu, Tony Perkins, yang memicu kontroversi. Artikel Perkins itu merupakan pendapat pribadinya terhadap sejumlah aksi bunuh diri remaja di Amerika Serikat yang mendapat tekanan (bullying) karena menjadi gay. Perkins berpendapat bahwa homoseksualitas merupakan masalah kesehatan mental. Pendapat tersebut membuat kelompok aktivis pembela kaum gay, GLAAD (The Gay & Lesbian Alliance Against Defamation), melancarkan protes melalui Twitter dan situs web mereka. » baca selengkapnya
Facebook, jurnalis, Media, sosial, Twitter, Washington Post
Dec
21
TWITTERMU harimaumu. Pepatah pelesetan ini cocok untuk menggambarkan peristiwa yang menggegerkan media sosial pekan ini. Luna Maya–fotomodel, presenter, dan penyanyi–menghapus bilik kicauan digital pribadinya (Twitter).
Luna (@lunmay), yang memiliki lebih dari 125 ribu pengikut di Twitter, terpaksa menghapus ruang kicauan digital pribadinya setelah mendapat kecaman dari delapan penjuru angin. Gara-garanya, ia memasang status berbunyi, “Infotemnt derajatnya lebh HINA dr pd PELACUR, PEMBUNUH!!!! may ur soul burn in hell!!…”
Entah kenapa Luna tiba-tiba menuliskan status dengan kalimat kasar seperti itu. Khalayak seakan-akan tak mau tahu. Mereka justru langsung bereaksi. Sebagian mengecam kalimat umpatan itu, sebagian lagi bersikap netral dengan menanyakan asal-muasal perkara. Seseorang, misalnya, menyesalkan ucapan Luna yang kasar di ruang publik. Padahal, sebagai tokoh publik, Luna mestinya pandai-pandai membawa diri dan menjaga citra. Bukan malah berbicara sembarangan seperti itu di ranah publik. » baca selengkapnya
etik, infotaintment, jurnalis, luna maya
Nov
23
Apes betul jadi orang Indonesia. Hanya gara-gara tulisan, seseorang bisa masuk penjara atau setidaknya menjadi tersangka karena dianggap mencemarkan nama baik orang lain. Entah tulisan itu muncul di koran, majalah, buku, situs berita, surat elektronik, mailing list, Facebook, ataupun blog.
Korban terbaru adalah Khoe Seng Seng. Kamis lalu, dia diperiksa sebagai tersangka kasus pencemaran nama baik di Kepolisian Daerah Metro Jaya. Ia dituduh mencemarkan nama baik Henry S. Tjandra di blog. Sebelum terjerat kasus ini, Khoe pernah menjadi terpidana kasus pencemaran nama baik manajemen PT Duta Pertiwi Tbk lewat surat pembaca di dua harian nasional. » baca selengkapnya
hak tolak, jurnalis, jurnalisme, narablog, pers, posisi
Aug
22
Diskusi bisa dilakukan di mana saja. Bahkan di ranah daring pun bukan masalah. Selasa lalu, misalnya, saya melakukannya di ruang digital, Twitter, bersama Snezana Swasti Brodjonegoro alias Nena.
Topik yang menjadi pembicaraan saya dengan teman saya yang bekerja di perusahaan konsultan kehumasan Maverick itu adalah peran jurnalis dan posisi pers di era web 2.0 seperti sekarang. Nena lalu merangkum hasil obrolan itu dalam sebuah tulisan. Dan saya membagikannya di sini dengan harapan Anda memperoleh hikmahnya.
Diskusi berawal dari pertanyaan bagaimana seharusnya industri pers Indonesia memenuhi kebutuhan masyarakat, yang kian aktif dan kritis seiring dengan maraknya media sosial, seperti Twitter, Plurk, Facebook, dan YouTube.
Pertanyaan itu berangkat dari kenyataan yang menunjukkan masih adanya koran yang belum menggunakan situs daringnya secara optimal dan efektif. Padahal pers seharusnya menjadikan situsnya sebagai media untuk berita-berita yang cepat berganti, dan bukan hanya sebagai “tempat membuang” berita versi cetak.
Koran cetak harus mampu menyajikan berita-berita yang lebih mendalam, seperti majalah, sedangkan koran versi daring mesti mampu menjadi tempat terbentuknya komunitas, dan bukan sekadar ruang penayangan berita. » baca selengkapnya
jurnalis, new media, pers, tradisional