Nov
19
Sepertinya orang sekarang sudah tak sabar ingin seperti Tom Cruise. Dia polisi–tapi masih punya nurani. Hidup pada 2054 dan bekerja dengan komputer supercanggih dengan layar sentuh. “Itulah komputer paling intuitif, komputer di film Minority Report,” begitu kata seorang teman. Film ini memang disebut-sebut sebagai masterpiece karya visual Stephen Spielberg.
Tak ada layar monitor di sana. Tak ada kotak komputer. Yang ada cuma kaca dan sentuhan-sentuhan. Menyalin berkas, menampilkan foto, bahkan menentukan mati atau hidup seorang tahanan, semua dikendalikan dengan sebuah sentuhan.
Orang mafhum, Minority Report bukanlah film soal teknologi. Tapi siapa pun tak ada yang menyangkal bahwa film itu adalah sebuah propaganda teknologi layar sentuh. Film yang membuat banyak orang terhipnosis oleh keindahan layar sentuh.
Dulu orang mengira teknologi itu hanya mimpi. Baru ketika Steve Jobs menghadirkan iPod dengan sensasi layar sentuh, orang-orang tercengang. Kok bisa? Dua jari yang menari-nari di iPod (sebelumnya di iPod klasik, lalu disempurnakan di iPod Touch dan iPhone) bisa menjadi pengendali peranti tersebut.
» baca selengkapnya
iPhone, iPod touch, Multitouch, Steve Jobs, Windows 7
Oct
12
Tan Malaka, tokoh perjuangan yang begitu dipuja sebagian orang Indonesia, boleh saja mengatakan, “Imajinasi adalah takhayul yang meremehkan rasionalitas.” Tapi itu akan menjadi bahan tertawaan para inovator sejati. “Bukti kecerdasan sejati bukanlah pengetahuan, melainkan imajinasi,” begitu kata Albert Einstein.
Imajinasi, ya siapa yang bisa mengalahkannya. Sejumlah penemu hebat masa kini telah membuktikannya. Ketika pasar telepon seluler pintar atawa smartphone didominasi oleh Nokia dan sejumlah PDA berbasis Windows Mobile, imajinasi para teknokrat muda menggetarkan dunia. Steve Jobs datang dengan iPhone. Jim Balsillie dan Mike Lazaridis melahirkan BlackBerry. Dan, yang terbaru, para developer Google merilis Android.
Pasar ponsel pintar kemudian pecah berkeping-keping. Sebagian pasar itu direbut Balsillie dan Lazaridis. Sejak awal 1990, imajinasi kedua orang itu membubung ke langit. “Kami tahu surat elektronik akan menjadi fondasi bisnis, menggantikan faks.” Imajinasi mereka adalah membaca surat elektronik (surel) di ponsel di mana saja. Itulah yang membuat mereka kini bisa merebut separuh kue pasar ponsel pintar yang dikuasai Nokia.
» baca selengkapnya
BlackBerry, iPhone, nexianberry, smartphone
May
3
Burhan Sholihin
Tak ada resesi untuk kesenangan. Anda boleh percaya, boleh tidak, tapi industri game telah menuliskan sejarah tentang itu. Kembalilah ke tahun 2001. Saat itu industri “dotcom” menggelembung luar biasa. Perusahaan-perusahaan Internet bermunculan, lalu mereka rontok, karena dibangun tanpa dasar hitungan ekonomi yang matang. Balon-balon dotcom itu meletus. Duar!
Tapi, lihatlah industri game. Para pengelolanya, seperti Entertainment Arts atau Activisionm tetap bisa tersenyum lebar. Antrean pembeli Nintendo, PlayStation, maupun game komputer tetap panjang. Game seperti The Grand Thief Auto, The Sims, dan Halo tetap banyak dibeli.
Dalam masa malaise seperti sekarang ini, industri game lagi-lagi menunjukkan kedigdayaannya. Anak kecil atau orang dewasa di berbagai sudut bumi banyak mencoba melupakan impitan ekonomi dengan bermain Guitar Hero atau RockBand. Bahkan game genre baru yang dimainkan banyak orang bersamaan secara online melalui jaringan Facebook atau MySpace juga luput dari sergapan krisis. Salah satu contohnya adalah Texas Hold ‘Em, juga bikinan Zynga. Tiap hari game ini dimainkan oleh 2,5 juta orang di seluruh dunia. Dalam sebulan, jumlah pemaih game yang dibuat Mark Pincus itu mencapai 45 juta atau setara dengan seperempat penduduk Indonesia!
» baca selengkapnya
Facebook, game, iPhone, Koi Pond, Nintendo, social game, Texas Hold 'Em
Mar
21
Burhan Sholihin
Malam masih juga membelenggu Wayne Westerman. Wajah lelaki itu tegang. Seperti malam-malam sebelumnya, kandidat doktor Universitas Delaware, Amerika Serikat, ini “terbelenggu” di depan komputernya. Sudah memeras otak setengah mati, hasilnya tak lebih dari satu halaman. Itu terjadi setiap malam. Padahal batas pengumpulan disertasinya hampir masuk garis mati.
Ia stres berat. Ia dihantui oleh masa kelamnya dulu, ketika dia tak lulus.
“Saya tak bisa memencet papan ketik lagi,” Westerman mengeluh.
Seribu keluhan, sejuta serapah tetap tak menyelamatkan disertasinya. Hingga suatu malam, ketika kerja bermalam-malam pada 1999 itu membangunkan alam bawah sadarnya. “Mengapa tak membuat papan ketik tanpa tombol?” Meletiklah ide liar dari batok kepala Westerman.
» baca selengkapnya
Bill Gates, iPhone, John G. Elias, Nokia 5800 Xpress, Steve Jobs, Telkomsel, Wayne Westerman