Jan
28

Selama sebulan ini, tak ada yang lebih menggoda ketimbang iklan iPhone 4S. Iklan itu menari-nari di halaman depan situs Tempo.co. “Cash back Rp 1 juta bagi 100 pembeli pertama,” begitu pesan yang tertulis di iklan tersebut. Benar-benar membuat hati berdebar, tak sabar menunggu antrean. Iklan itu tiba-tiba mengingatkan saya pada sebuah kisah di balik produksi “the most wanted handphone” di seluruh jagat itu.
Begini ceritanya: ada yang istimewa di Lembah Silikon Februari setahun silam. Untuk pertama kalinya Presiden Amerika Serikat Barrack Obama makan malam bersama CEO-CEO perusahaan komputer top dunia. Bukan santapannya yang istimewa, tapi diskusinya yang gayeng: penuh mimpi. Mungkin senikmat diskusi politik atau sepak bola di warung kopi di pinggir-pinggir jalan di Yogyakarta.
Sang tuan rumah adalah John Doerr. Namanya tidak seterkenal Steve Jobs atau Bill Gates. Tapi, dia orang penting di Lembah Silikon. Dialah yang menyuntikkan modal kepada perusahaan-perusahaan komputer inovatif. Dia berhasil mengajak Obama, bos Google Eric Schmidt, bos Apple Steve Jobs, pendiri Facebook Mark Zuckerberg, saling curhat mulai dari soal game Zynga yang merajalela sampai soal iPhone.
» baca selengkapnya
Apple, Foxconn, iPad, iPhone, iPhone 4S
Jul
8
A picture is worth a thousand words. Di Instagram, selembar foto tidak hanya bernilai lebih dari seribu kata, tapi juga membuat seseorang seolah-olah menjadi fotografer profesional. Ia mampu merekayasa foto yang biasa-biasa saja menjadi terlihat luar biasa berkat filter khusus dan tambahan berbagai macam aplikasi penunjang, seperti Camera+, Photo Express, dan High Dynamic Range (HDR). Filter dan aplikasi itu mampu menyulap sebuah foto menjadi bagaikan lukisan Picasso. Gradasi dan saturasi warna-warna yang dihasilkannya begitu kaya.
Untuk Anda yang belum tahu, Instagram adalah sebuah aplikasi berbagi foto khusus untuk perangkat berbasis iOS buatan Apple, seperti iPod dan iPhone, yang dikembangkan oleh Kevin Systrom dan Yosyp Shvab. Dengan menggunakan aplikasi ini, pengguna bisa merekam gambar, menyunting, dan mengunggahnya ke berbagai layanan jejaring sosial. » baca selengkapnya
aplikasi, foto, instagram, iPhone, kamera
Apr
30

“Only the paranoid survive.” Zaman tampaknya membuktikan kata-kata itu. Ya, hanya orang paranoid yang bisa bertahan.
Itu bukanlah kutipan dari novel Tom Clancy, bukan pula omongan jenderal pongah, Napoleon Bonaparte, yang Anda boleh mengabaikannya. Tapi, kata-kata itu keluar dari orang yang membesarkan bisnis prosesor, Intel Corp, yakni Andrew Grove atau biasa dipanggil Andy Grove.
Grove telah menjadi presiden direktur, CEO (chief executive officer), serta komisaris utama di Intel selama 18 tahun sejak 1979. Dia lelaki tangguh. Pria kurus ini sangat mafhum apa arti “paranoid” dan “survive”.
» baca selengkapnya
Andrew Grove, Andy Grove, Intel, iPhone, Motorola, nokia
Jun
26

Ben Paton & Alex Lee menjadi pembeli iPhone 4 di London (The Sun)
“Absurd!” Begitu mungkin komentar kebanyakan orang terhadap penggemar produk merek Apple. Tak ada yang lebih absurd dari mereka. Bahkan, para bonek Persebaya atau bobotoh Persib pun bisa kalah absurd dibanding mereka.
Lihatlah Joseph Lobato. Wajahnya kuyu. Dia duduk bersandar di depan salah satu gerai Apple di San Francisco. “Saya tidak tidur sudah 30 jam,” kata Joseph, pengantre paling depan iPhone 4 di gerai itu. Demi sebuah ponsel Joseph, pemuda 31 tahun itu, rela menderita puluhan jam. Dia bersama 20 orang pengantre lainnya harus menginap di depan toko. Mereka harus berjuang melawan hawa dingin. Bekal mereka, jaket, sleeping bag, kursi dan camilan.
Itu baru secuil kegilaan para pemburu ponsel iPhone generasi keempat yang pekan ini mulai dijual Apple. Alex Lee, 24 tahun, rela merogoh kocek dalam-dalam untuk membayar pesawat dari Dubai tempatnya tinggal, ke London, Inggris. Juga untuk antri iPhone 4 yang dijual perda pada 24 Juni 2010 di Amerika Serikat, Jepang dan Eropa.
» baca selengkapnya
Apple, BlackBerry, iPhone, iPhone 4, Steve Jobs
Jan
12
Orang mungkin lupa bagaimana Cina bangkit. Sejarah mereka disusun dengan gemuruh pada 1958. Waktu itu Mao Zedong dengan mulut tipis mirip tukang sulap menancapkan semangat kepada rakyatnya. “Cina harus setingkat Inggris, dalam waktu 15 tahun,” katanya.
Cita-cita Mao Zedong itu mengundang banyak cemoohan. “Dia sedang bermimpi,” begitu kata para kapitalis dari Inggris dan Amerika Serikat.
Setengah abad kemudian, sejarah membuktikan bahwa Mao Zedong tidak sedang bermimpi. Dia yakin negeri petani itu bisa menjadi negeri industri. Saat ini negeri mana yang bisa membendung aliran produk dari Cina? Bahkan komponen roket-roket Badan Antariksa Nasional Amerika Serikat (NASA) pun dari Cina–sebagian malah terungkap itu hasil komponen bekas yang dikumpulkan industri rumahan.
» baca selengkapnya
Cina, iPhone, Mao