Aug
10
Jurus Jepang dan India
Menggambar kartun adalah sebuah tugas sedih: usaha menyebarkan rasa humor, kebahagiaan, tapi dengan duit kecil. Itulah yang sempat terlintas di pikiran animator kondang asal Jepang, Ryo Ono.
Selama lebih dari satu dekade, tubuh Ono tersedot di dunia produksi drama TV dan film di Tokyo. Malangnya, Tokyo tak ramah kepada direktur kreatif itu atau sang empunya ide. Pikiran dan energinya 10 tahun lalu hanya dihargai gaji Rp 8,5 juta per bulan. Studio dan stasiun TV kelewat pelit.
Ia tak mau menyerah kalah. Ono, 37 tahun, pindah ke Prefektur Shimane, wilayah kecil di luar Tokyo. Di Shimane, dia sedikit bisa bernapas. Ongkos hidup tak mencekik seperti di Tokyo. Dia mulai membikin animasi menggunakan sebuah komputer biasa dengan program yang murah, yakni Flash.
Kegigihannya itu menjelma di sebuah kamar. Cuma seukuran kamar kos mahasiswa biasa-biasa. Tapi itu tak terlalu sempit buat meniupkan imajinasi.
» baca selengkapnya