Enak di Blog dan Perlu

Blog

“I miss the days when you had one phone number and one answering machine, and that one answering machine has one cassette tape, and that one cassette tape either had a message from a guy or it didn’t.”

googleSaya membaca kutipan dialog Mary Harris (diperankan oleh Drew Barrymore dalam film He’s Just Not That Into You) itu di sebuah blog. Penulisnya, sebut saja namanya Ririn, mengutip kalimat itu karena merasa seperti gadis yang kesepian di tengah keramaian pasar malam. Dia kehilangan pembicaraan yang intim dan personal, dari satu orang ke orang lain. Dan ia merindukan masa-masa ketika media sosial belum seriuh sekarang.

Media sosial memang telah mengubah cara orang berkomunikasi. Dulu satu individu bercakap-cakap dengan satu individu. Sekarang individu berkomunikasi dengan khalayak atau sebaliknya. » baca selengkapnya

, , , ,

20110411-01

, ,

google-logo-2
Kabar buruk itu dari negeri jiran. Sekali lagi Indonesia kalah 1-0 oleh Malaysia. Ini bukan soal urusan tenaga kerja Indonesia. Bukan pula urusan sepak bola dan kecurangan penonton Malaysia dengan lasernya pada Piala AFF 2010. Tapi ini soal Google, yang memilih membangun kantor perwakilan Asia Tenggara di Kuala Lumpur. Bukan di Jakarta!

Kita tahu, Indonesia memang “compang-camping” dalam soal infrastruktur Internet dan tiada visi untuk memajukannya. Ribut-ribut soal pemblokiran BlackBerry adalah contohnya. Betapa pemerintah tak punya visi untuk memikat perusahaan-perusahaan teknologi dunia, seperti Research In Motion atau Microsoft. Tapi itu tak menghapus “prestasi” besar Indonesia. Inilah beberapa catatannya: Siapa yang membantah Indonesia adalah negeri Facebook dan Twitter terbesar, setelah Amerika Serikat? Dengan 31 juta pengguna Facebook dan 8 juta pengguna Twitter, Indonesia telah berkembang menjadi negeri yang sangat maju dalam soal sosial media.
» baca selengkapnya

, ,

Larry Page tidak lama lagi akan efektif sebagai chief executive officer (CEO) Google. Ia menggantikan Eric Schmidt. Sepuluh tahun dimentori Schmidt dalam menjalankan bisnis mungkin sudah cukup bagi Page untuk mengemudikan raksasa ini.

Apa yang dapat kita pelajari dari Google (Larry Page dan Sergey Brin) dan juga Apple (Steve Jobs)? Banyak. Di antara sekian pelajaran berharga yang bisa kita petik dari pengetahuan dan pengalaman mereka ialah mereka memiliki sudut pandang yang serupa. Apa itu? Mereka mencari masalah yang terlihat jelas untuk dipecahkan, yang akan memberi efek besar pada jutaan orang.

Page, Brin, dan Jobs, yang berasal dari generasi berbeda, memiliki kemiripan dalam melihat dunia ini. Banyak orang memandang dunia (bisnis) dengan cara tertentu, misalnya dari produk, merek, harga. Tentu saja ini penting, tapi mereka memilih dari sudut pandang manusia dan cara manusia menggunakan teknologi. Produk, merek, harga, mungkin saham, gaji, dan selanjutnya, dipandang sebagai “efek”.

» baca selengkapnya

, , , ,

Tawaran itu benar-benar menggoda si lelaki. Sebuah e-mail pendek telah menggetarkan semua sinyal saraf “kemaskulinan”-nya. “Anda diterima bekerja sebagai programmer di Facebook, Palo Alto,” begitu bunyi tawaran emas itu.

Lelaki kawan saya ini adalah satu dari sedikit anak muda yang gila komputer. Bertahun-tahun dia menekuni hobi “maskulin” tanpa jeda: membobol server, menulis ulang software, sampai menciptakan cheat atawa pintu curang agar menang main game. Kini hobi itu terbayar dengan proposal menggiurkan dari Facebook.

Facebook memang sedang melirik Indonesia. “Gosipnya, dia mau buka kantor di Indonesia,” kata kabar burung yang beredar di Twitter.

Indonesia menjadi incaran sejak pengguna Facebook terus melejit. Pekan lalu, jumlah pengguna Facebook dari Indonesia nomor dua terbesar di dunia setelah Amerika Serikat. Jumlahnya mencapai 27,9 juta. Prestasi itu menggeser Inggris, yang sebelumnya ada di peringkat kedua. Jumlah pengguna Facebook Inggris mencapai 27,8 juta. Amerika Serikat di peringkat pertama dengan jumlah pengguna Facebook mencapai 140 juta.

Jika Facebook benar-benar datang ke negeri ini, itu bisa jadi “perang bubat”. Mereka akan melawan Google, yang dua pekan terakhir sibuk berkampanye di Jakarta. Google meluncurkan program iklan barisnya yang kondang, Google Adsense, dan peta.
» baca selengkapnya

, ,

selanjutnya »