Jan
23
Siapa tak kenal Kodak? Namanya bukan hanya jadi merek produk film, tapi pernah menjadi nama generik untuk kamera. Banyak orang di negeri ini yang menyebut kamera dengan Kodak. “Kodakmu merek apa?” adalah pertanyaan yang lazim diajukan. Tapi itu dulu, ketika Kodak masih merajai dunia perfilman yang merekam peristiwa dalam kehidupan seseorang.

Salah satu logo yang pernah dipakai Kodak
Memang, hampir di sepanjang abad ke-20, Kodak memainkan peran yang sangat penting dalam kehidupan jutaan orang di muka Bumi, merekam berbagai peristiwa bersejarah, menjadi saksi berharga yang nyaris abadi. Kepada Kodak-lah, banyak orang mempercayakan “kenangan” mereka—orang zaman dulu menyebutnya ‘momen Kodak’. Orang mengabadikan acara ulang tahun, berpesiar ke pantai, atau menyaksikan huru-hara di film Kodak.
Namun kini, perusahaan yang didirikan oleh George Eastman pada 1880 itu akhirnya mencapai titik nadir. Setelah lama berjuang untuk bertahan di tengah gempuran teknologi film digital, produsen film selulosa serta kamera ini akhirnya menyerah. Manajemen Kodak memasukkan berkas permohonan perlindungan kepailitan ke pengadilan AS pekan lalu.
» baca selengkapnya
film, Kodak
Feb
23
Diskusi #indonesiana kembali,
Rencana pemerintah untuk menerapkan bea impor untuk film-film asing, baik film Hollywood maupun non Hollywood, membuat importir film meradang. Mereka mengancam tak akan mengedarkan film Hollywood. Apakah Indonesia bakal “gulita” dari film-film Hollywood?
Direktur Teknis Kepabeanan, Direktorat Jenderal Bea Cukai Heri Kristiono mengatakan, penetapan nilai pabean film impor sudah wajar. Alasannya, itu proteksin film nasional. Kedua, “Pajak yang dikenakan terhadap film nasional selama ini lebih tinggi dibandingkan film impor,” katanya.
Apa benar proteksi itu akan membuat film nasional bakal maju? Apa penolakan ini cuma akal-akalan para distributor film? karena ternyata Motion Picture Association membantah bahwa mereka memboikot pengedearan film Hollywood.
Ikuti diskusi santai yang digelar #indonesiana (by @tempointeraktif) hasil kerja bareng Delta FM, Obsat, dan #indonesiana .
Hari : Rabu, 23 Februari 2011
Pukul : 19:00 - 21:00
Tempat : Radio Delta FM, Jalan Adityawarman 71, Jaksel
Pembicara : Mira Lesmana, produser
Lala Timothy, produser
Rudy Sanyoto, Wakil Ketua Badan Perfilman Nasional
Pastinya bakalan seru nih.. kita bisa berdiskusi dan mendengar langsung kisah dibalik industri film nasional. Ditunggu kehadirannya ya… Ikuti pula diskusinya di Twitter di @tempointeraktif dengan tagar #indonesiana #forumDOT
film, Hollywood
Jul
13
Oleh AKMAL NASERY BASRAL
Dalam tulisan berjudul Inspirasi Muslim Baru (Koran Tempo, 2 Juli 2009), Eric Sasono menyoroti dua film yang dibuat berdasarkan novel laris karya Habiburrahman El-Shirazy, Ayat-ayat Cinta (AAC) dan Ketika Cinta Bertasbih (KCB). Dalam pandangan redaktur Rumahfilm.org ini, kedua film tersebut memiliki tautan erat dengan keberartian seorang muslim Indonesia kontemporer melalui dua hal: penyaluran hasrat cinta dan gelar kesarjanaan.
Lebih jauh lagi Eric melihat adanya tiga preposisi yang disodorkan kedua film di atas untuk memuluskan penyaluran hasrat itu yakni (1) mengasingkan diri ke Mesir sehingga tak perlu terlibat perbincangan masalah dalam negeri kontemporer, (2) lingkungan yang memungkinkan berjalannya logika-logika teks agama Islam (nash) menjadi argumen utama, dan (3) idealisasi karakter utama yang menjadi basis bagi kepahlawanan sang tokoh.
Sebagai konklusi, Eric menyimpulkan lahirnya model keislaman (lebih tepatnya film Islam) yang steril dari problem sosial politik dalam negeri dan tertutup dari diskursus di luar nash. Untuk memperkuat kesimpulan ini, Eric membandingkan AAC dan KCB dengan tiga film karya Asrul Sani Titian Serambut Dibelah Tujuh (1959/1982), Al-Kautsar (1977) dan Nada dan Dakwah (1990). “Institusi penyaluran hasrat cinta tidak dipersoalkan pada ketiga film itu,” tulis Eric.
Saya kira ada sejumlah bingkai cara pandang kurang pas yang digunakan Eric. Pertama, konstatasi bahwa AAC dan KCB sebagai representasi dari “inspirasi muslim baru” di tahun 2000-an ini adalah kesimpulan yang tergesa-gesa.
Sebab pada rentang waktu bersamaan munculnya kedua film itu (Januari-Juni 2009), beredar juga film Bukan Cinta Biasa (BCB) tentang seorang remaja putri yang mampu membuat ayahnya, seorang rocker paruh baya, untuk kembali hidup tertib (berhenti minum alkohol, kembali shalat dan belajar mengaji).
Sebelum itu bahkan ada film Nagabonar Jadi 2 (NJ2), di mana pada salah satu adegan terlihat salah seorang tokoh (diperankan VJ MTV, Mike Muliadro) untuk izin shalat pada saat sedang berada di sebuah kelab dugem.
» baca selengkapnya
ayat-ayat cinta, film, ketika cinta bertasbih
Jun
4
Tadi pagi saya menonton Garuda di Dadaku. Terus terang, ada alasan emosional yang membuat saya rela bangun pagi dan cabut ke fx X’entre untuk menonton premiernya (baru tayang resmi tanggal 18 Juni). Saya adalah salah seorang yang selalu merinding saat yel-yel Garudaku menggema di Stadion Utama Senayan, setiap kali tim nasional kita (yang lebih sering kalah itu) bertanding. Meski ini film anak-anak, saya tetap akan menontonnya: toh ada timnas-timnasnya juga (meski U-13).
Karena ini film tentang bola, mari kita membicarakannya seperti membicarakan pertandingan sepak bola. Rata-rata panjang film mirip panjang pertandingan sepakbola: 1,5 jam, kurang lebih 90 menit. Kalau kita bagi dua, maka ada 45 menit pertama dan 45 menit kedua (meski menonton film tak pakai istirahat turun minum). Hasil pembabakan ini membuat film itu mirip pertandingan final klub non-Inggris: membosankan dan tegang pada babak pertama; dan lumayan rileks pada babak selanjutnya.
Terus terang, pada 45 menit pertama, saya kerap memejamkan mata karena tak tahan melihat adegan yang amat sinetron. Aktingnya kerap berlebihan, pengadeganannya verbal, dan tidak ada kematangan yang diperoleh dari hasil latihan dan penghayatan. Karakter tidak berkembang. Dan semua bermain amat kaku.
» baca selengkapnya
film, Garuda di Dadaku, mizan
Feb
27
Nur Hidayat
Bengkel mobil sudah jelas jadi tempat untuk memodifikasi mobil. “Vermak Lepis” milik Mang Juha di pojok Pasar Senen, juga sudah jelas jadi tempat untuk memodifikasi celana jins.
Nah, dimana tempat memodifikasi setan? Jawabnya adalah gedung bioskop! Kenapa?
Lihat saja film-film yang kini menjejali gedung bioskop di Tanah Air. Modifikasi atas berbagai bentuk setan itu telah diperlihatkan dengan canggihnya, bukan oleh dukun, tapi oleh para kreator film kita. Mulai dari Hantu Jeruk Purut, Bangku Kosong, Kuntilanak, Hantu Ambulans, sampai yang paling mutakhir: anaknya kuntilanak dalam Kuntilanak Beranak. » baca selengkapnya
film, hantu, setan