Enak di Blog dan Perlu

Portal

Setiap pemilihan umum adalah drama. Setiap detiknya seperti membuat jantung hampir copot. Itulah yang dialami Barack Obama. Dua kali ikut pemilu, dua kali dia harus menjalani “sport jantung”.

Dua pemilu yang penuh cemas itu adalah pertama dia maju sebagai presiden pada 2008, dan yang kedua adalah pemilu sela hari-hari ini yang memilih anggota Senat dan Dewan Perwakilan Rakyat. Di pemilihan anggota DPR, partai pendukung Obama, Partai Demokrat, keok. Jika itu terjadi, Obama bakal sulit bekerja karena kebijakannya akan diberangus habis di Senat dan DPR.

Dua momen menegangkan itu punya karakter berbeda. Satu di zaman analog, satu lagi di zaman digital.

Mari melongok pemilihan presiden 2008. Zaman itu Twitter, Facebook, dan Foursquare belumlah menjadi demam di mana-mana seperti sekarang. Karena itu, tak ada cara yang ampuh untuk melihat siapa yang menang selain memelototi polling analog (baca: non-digital) yang digelar jaringan televisi CNN dan ABC atau lembaga survei sekelas Gallup.

Angka-angka di televisi itu bisa berakrobat seperti harga saham. Hari ini naik, besok melorot. Sejumlah polling konvensional itulah yang bikin super-cemas.
» baca selengkapnya

, , ,

Bagaimana sebaiknya media tradisional memanfaatkan media sosial? Apa yang tidak dan boleh dilakukan oleh jurnalis ketika beraktivitas di media sosial?

socialmediaPertanyaan itu menari-nari di kepala saya setelah tersiar kabar bahwa Washington Post melayangkan memo kepada staf redaksi dan reporternya pada Rabu lalu. Memo itu berisi larangan kepada para jurnalis koran bergengsi di Amerika Serikat tersebut menjawab kritik publik melalui akun Twitter perusahaan maupun pribadi dengan mengatasnamakan perusahaan.

Memo itu keluar setelah Post — sebutan untuk koran itu — menerbitkan sebuah artikel dari penulis tamu, Tony Perkins, yang memicu kontroversi. Artikel Perkins itu merupakan pendapat pribadinya terhadap sejumlah aksi bunuh diri remaja di Amerika Serikat yang mendapat tekanan (bullying) karena menjadi gay. Perkins berpendapat bahwa homoseksualitas merupakan masalah kesehatan mental. Pendapat tersebut membuat kelompok aktivis pembela kaum gay, GLAAD (The Gay & Lesbian Alliance Against Defamation), melancarkan protes melalui Twitter dan situs web mereka. » baca selengkapnya

, , , , ,

Tawaran itu benar-benar menggoda si lelaki. Sebuah e-mail pendek telah menggetarkan semua sinyal saraf “kemaskulinan”-nya. “Anda diterima bekerja sebagai programmer di Facebook, Palo Alto,” begitu bunyi tawaran emas itu.

Lelaki kawan saya ini adalah satu dari sedikit anak muda yang gila komputer. Bertahun-tahun dia menekuni hobi “maskulin” tanpa jeda: membobol server, menulis ulang software, sampai menciptakan cheat atawa pintu curang agar menang main game. Kini hobi itu terbayar dengan proposal menggiurkan dari Facebook.

Facebook memang sedang melirik Indonesia. “Gosipnya, dia mau buka kantor di Indonesia,” kata kabar burung yang beredar di Twitter.

Indonesia menjadi incaran sejak pengguna Facebook terus melejit. Pekan lalu, jumlah pengguna Facebook dari Indonesia nomor dua terbesar di dunia setelah Amerika Serikat. Jumlahnya mencapai 27,9 juta. Prestasi itu menggeser Inggris, yang sebelumnya ada di peringkat kedua. Jumlah pengguna Facebook Inggris mencapai 27,8 juta. Amerika Serikat di peringkat pertama dengan jumlah pengguna Facebook mencapai 140 juta.

Jika Facebook benar-benar datang ke negeri ini, itu bisa jadi “perang bubat”. Mereka akan melawan Google, yang dua pekan terakhir sibuk berkampanye di Jakarta. Google meluncurkan program iklan barisnya yang kondang, Google Adsense, dan peta.
» baca selengkapnya

, ,

omong-omongMedia sosial disebut-sebut membuat orang antisosial. Facebook, Twitter, obrolan digital, menjadikan penggunanya asyik sendiri. Saatnya kita puasa media sosial?
Bertanyalah pada Mat Bloger yang siang itu terlihat murung sewaktu bertemu dengan saya di sebuah kedai kopi. Mulutnya terkunci rapat. Dan, ini yang lain daripada biasanya, tangannya kosong. Tak ada dua telepon pintar seri terbaru berlayar sentuh yang biasanya selalu ditenteng dan dipelototi layarnya terus-menerus.

Mat Bloger tanpa telepon pintar ibarat hansip tanpa pentungan. Sebab, dalam keseharian ia nyaris tak terpisahkan dari dua benda yang menghubungkannya dengan jagat maya dan jejaring sosial itu. » baca selengkapnya

, , , , , ,

“Dan inilah waktunya saya untuk menghilang sementara.”

Pesan terakhir penyanyi blues John Mayer di Twitter itu membuat dunia tersentak. Pemilik akun dengan 3,7 juta follower ini menutup akun Twitternya pada Senin lalu.

John Mayer dan Twitter, siapa yang tak tahu kedekatan keduanya. Bahkan Jennifer Aniston terpaksa putus pacaran dengan peraih Grammy Awards itu gara-gara Twitter. “Dia tak pernah sempat menelepon saya, tapi ke mana pun dia selalu sempat ‘berkicau’ di Twitter,” kata Aniston menjelaskan perpisahannya. Kini dunia terbalik. Mayer menjatuhkan “talak satu” kepada Twitter. » baca selengkapnya

,

« sebelumnyaselanjutnya »