Apr
11
Tiga bulan terakhir ini saya terpaksa melakukan digital detox. Tak terus-menerus tentunya, hanya dua jam dalam seminggu — dan itu pun, seperti saya bilang tadi: terpaksa. Ceritanya di semester dua ini saya punya dosen yang sangat keras soal handphone, smart phone, tablet, dan laptop. Dia tak suka ada mahasiswa yang menunduk dan mengecek telepon genggamnya saat pelajaran berlangsung. Peraturan penting yang dia sampaikan pada pertemuan pertama adalah: tak boleh ada yang utak-atik alat digital saat kelas berlangsung (termasuk dia sendiri). Jika dia mendapati (pada kenyataannya, sering sekali) mahasiswa melihat ke bawah meja dan asyik bermain dengan telepon genggamnya, dia langsung berteriak: “Get off your phone!“; tak peduli itu di tengah-tengah dia memberikan penjelasan atau tidak.
“What did you read… get off your phone… in the past week? What happened in the UK, I said, get off your phone! Yes, what happened in the UK and EU in the past week? Someone is still on her phone!” ya, kurang lebih seperti itu. Terdengar lucu memang kalau diceritakan, tapi tidak jika Anda sendiri yang mengalaminya. Tak lucu sebab seisi kelas akan langsung menujukan pandangannya pada Anda. Dan normalnya, dia yang tertangkap basah jadi memerah pipinya sebab malu telah ketahuan melanggar peraturan. Jadi, itulah detoks digital saya. Hanya dua jam seminggu. Hanya? Ampun, dua jam saja sudah tersiksa rasanya jika tak bisa mengecek Facebook, Twitter, dan WhatsApp.
Oh yah, mungkin ada yang belum familiar dengan istilah digital detox? Singkatnya, detoks digital adalah di mana Anda melakukan detoksifikasi terhadap semua alat digital. Alias: anda tak boleh dekat-dekat dengan berbagai jenis alat (komunikasi) digital. Idealnya sih mulai dari telepon genggam, telepon pintar, komputer, dan komputer jinjing (ya! Anda pun akan dilarang untuk mengecek surat elektronik). Bagi saya detoks digital penting dan bermanfaat. Sebab dengan melepaskan diri dari perangkat digital itu kita akan memiliki waktu untuk melakukan hal lain. Misalnya: membaca buku-buku yang telah kita beli, menulis jurnal/diary (dengan pena dan buku, sekalian melatih kembali menulis dengan pulpen), memasak, berkebun, menggambar (di atas kertas/kanvas, bukan di tablet), berdiskusi, bertemu dengan teman dan mengobrol, atau menikmati alam sekitar.
Coba kita evaluasi, berapa jam dalam sehari kita habiskan waktu kita berkutat dengan alat digital dan internet? Dalam kasus saya, sebelum tidur dan ketika bangun pagi saya otomatis selalu mengecek Facebook, Twitter, dan WhatsApp. Apalagi di siang, sore, dan malam hari (ampun!). Jujur, kadang saya merasa terlalu banyak waktu saya buang dengan bersosial media. Sering saya berpikir, seandainya tidak ada Facebook, mungkin saya sudah melahap habis puluhan buku yang saya beli (saat ini tentunya buku-buku itu menumpuk saja tak terbaca). Tapi sekali lagi, sulit untuk benar-benar melakukan detoks digital. Maha sulit. Selalu ada rasa ingin tahu apa yang terjadi dengan lini masa Facebook dan Twitter, serta celotehan kawan-kawan di WhatsApp Group.
Saya beranggapan tak mungkin bagi saya untuk lepas dari semua itu, hingga beberapa waktu lalu ketika saya iseng-iseng membuka laman-laman di situs Adbusters. Saya menemukan soal kampanye “Digital Detox Week” (DDW) dan bahkan ada pula aplikasinya di Android.
» baca selengkapnya
detoks digital, digital detox, digital detox week, Facebook, Twitter
Jan
21

Bramantyo adalah anomali. Desainer muda itu, umurnya baru 28 tahun, benci dengan Facebook. Setiap kali dia jengah. Setiap bertemu dengan teman-temannya semasa kecil, dia selalu ditodong dengan pertanyaan yang membuat alisnya naik. “Apa akun Facebookmu?”
Pertanyaan yang bikin dia jengkel. “Apa salahnya tak punya akun Facebook?” kata dia dengan gusar. “Pertemanan di Facebook itu kan kebanyakan palsu. Penuh pencitraan.” Sudah lebih dari 10 tahun Bramantyo kenal Internet. Tapi, dia tak pernah tergoda untuk membuka akun Facebook. Alasannya sederhana, “Saya ingin berinteraksi secara langsung,” ujarnya.
Bramantyo adalah sebuah fenomena anti-Facebook yang kini diam-diam muncul. Di Indonesia, saat 35 juta orang Indonesia tergila-gila kepada situs buatan Mark Zuckerberg itu–sampai-sampai Indonesia menjadi negara nomor 2 pengakses Facebook terbanyak sedunia–Bramantyo justru bersikap sebaliknya.
Orang-orang seperti Bram ini ternyata jumlahnya cukup banyak. Bahkan, di Amerika Serikat, negara lahirnya Facebook, juga merebak orang yang anti-Facebook. Tyson Balcomb adalah contohnya. Dia memutuskan berhenti memakai Facebook, setelah tak sengaja bertemu dengan perempuan yang tak pernah dia kenal di dunia nyata. Pertemuan itu berlangsung di lift. Meski tak kenal, dia tahu semua hal tentang tetangganya itu–wajah saudaranya, asal kelahirannya yang dari pinggiran Washington, sampai berapa kali perempuan itu berkunjung ke Seattle. Semua itu dia ketahui lewat Facebook.
“Saya tahu semuanya meski tak pernah berbicara dengannya,” kata Balcomb.
Pertemuan tak terduga itu justru menyadarkan dia, betapa Facebook telah membuatnya “gila”. “Cara seperti ini tak sehat,” ujarnya.
» baca selengkapnya
Facebook
Aug
20
JEMPOL kini mempunyai fungsi baru. Dulu kita mengacungkan jempol sebagai tanda menyatakan setuju atau mengatakan bagus. Orang Jawa mengacungkan jempol untuk mempersilakan orang lain berjalan mendahului. Sekarang, dengan bantuan jari-jemari, jempol juga dipakai untuk ikut upacara, menaikkan bendera, atau bersedekah.
Upacara digital dengan jari dan jempol itu digelar oleh komunitas Indonesia Optimis. Pada perayaan hari Kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus, yang jatuh pada Rabu lalu, komunitas tersebut menggelar upacara bendera secara digital di situs ID-Optimis. Cukup dengan menggerakkan jari dan jempol di komputer, laptop, tablet, atau telepon pintar untuk masuk ke situs itu, pengunjung sudah menjadi peserta upacara. Dan seluruh prosesi upacara bisa diikuti di layar gadget.
Jika hendak mengikuti prosesi lainnya, seperti pembacaan teks proklamasi, mengheningkan cipta, atau pidato amanat pembina, peserta upacara bisa membuka akun Twitter @ID_Optimis. » baca selengkapnya
17an, Facebook, Indonesia, like, merdeka, Twitter
Jul
23
“I miss the days when you had one phone number and one answering machine, and that one answering machine has one cassette tape, and that one cassette tape either had a message from a guy or it didn’t.”
Saya membaca kutipan dialog Mary Harris (diperankan oleh Drew Barrymore dalam film He’s Just Not That Into You) itu di sebuah blog. Penulisnya, sebut saja namanya Ririn, mengutip kalimat itu karena merasa seperti gadis yang kesepian di tengah keramaian pasar malam. Dia kehilangan pembicaraan yang intim dan personal, dari satu orang ke orang lain. Dan ia merindukan masa-masa ketika media sosial belum seriuh sekarang.
Media sosial memang telah mengubah cara orang berkomunikasi. Dulu satu individu bercakap-cakap dengan satu individu. Sekarang individu berkomunikasi dengan khalayak atau sebaliknya. » baca selengkapnya
Facebook, google, Media, sosial, Twitter
Apr
21
Kata-katanya seperti mantra. Terutama saat dia bicara soal bisnis dotcom. Hanya dengan beberapa menit bertemu, dia bisa meyakinkan hati pendiri Facebook, Mark Zuckerberg. Dia juga melumerkan hati Peter Thiel untuk menyuntikkan modal ke Facebook.
Sean Parker, dialah sang “penyihir” itu. Namanya tak banyak dikenal. Tapi, dialah orang yang berhasil membesarkan Facebook pada 2004. Saat itu situs bikinan Zuckerberg sudah terkenal di Universitas Harvard, tapi belum di universitas lain. Eduardo Saverin, kawan Zuckerberg yang jago algoritma saat membuat Facebook, malah sibuk mencari iklan ketengan.
Sean Parker datang menertawakan yang dilakukan Saverin. Katanya, mencari iklan itu hal kecil. “Iklan apa yang bisa dicari di New York untuk Facebook?” tanya programmer yang pernah bekerja untuk Napster–bukan pendiri Napster seperti disebut dalam film The Social Network–itu. Dengan wajahnya yang santai dan urakan, dia mengejek Saverin, yang selama ini bermimpi membesarkan Facebook dengan mencari iklan, “(Dapat) sejuta dolar itu bukan hal keren. Kamu tahu yang disebut keren? (Dapat) semiliar dolar!”
» baca selengkapnya
evan williams, Facebook, PayPal, Peter Thiel, Sean Parker, start up, Twitter