Enak di Blog dan Perlu

Portal

burhan-blog

Bramantyo adalah anomali. Desainer muda itu, umurnya baru 28 tahun, benci dengan Facebook. Setiap kali dia jengah. Setiap bertemu dengan teman-temannya semasa kecil, dia selalu ditodong dengan pertanyaan yang membuat alisnya naik. “Apa akun Facebookmu?”

Pertanyaan yang bikin dia jengkel. “Apa salahnya tak punya akun Facebook?” kata dia dengan gusar. “Pertemanan di Facebook itu kan kebanyakan palsu. Penuh pencitraan.” Sudah lebih dari 10 tahun Bramantyo kenal Internet. Tapi, dia tak pernah tergoda untuk membuka akun Facebook. Alasannya sederhana, “Saya ingin berinteraksi secara langsung,” ujarnya.
Bramantyo adalah sebuah fenomena anti-Facebook yang kini diam-diam muncul. Di Indonesia, saat 35 juta orang Indonesia tergila-gila kepada situs buatan Mark Zuckerberg itu–sampai-sampai Indonesia menjadi negara nomor 2 pengakses Facebook terbanyak sedunia–Bramantyo justru bersikap sebaliknya.

Orang-orang seperti Bram ini ternyata jumlahnya cukup banyak. Bahkan, di Amerika Serikat, negara lahirnya Facebook, juga merebak orang yang anti-Facebook. Tyson Balcomb adalah contohnya. Dia memutuskan berhenti memakai Facebook, setelah tak sengaja bertemu dengan perempuan yang tak pernah dia kenal di dunia nyata. Pertemuan itu berlangsung di lift. Meski tak kenal, dia tahu semua hal tentang tetangganya itu–wajah saudaranya, asal kelahirannya yang dari pinggiran Washington, sampai berapa kali perempuan itu berkunjung ke Seattle. Semua itu dia ketahui lewat Facebook.
“Saya tahu semuanya meski tak pernah berbicara dengannya,” kata Balcomb.

Pertemuan tak terduga itu justru menyadarkan dia, betapa Facebook telah membuatnya “gila”. “Cara seperti ini tak sehat,” ujarnya.
» baca selengkapnya

JEMPOL kini mempunyai fungsi baru. Dulu kita mengacungkan jempol sebagai tanda menyatakan setuju atau mengatakan bagus. Orang Jawa mengacungkan jempol untuk mempersilakan orang lain berjalan mendahului. Sekarang, dengan bantuan jari-jemari, jempol juga dipakai untuk ikut upacara, menaikkan bendera, atau bersedekah.
 
jempol2Upacara digital dengan jari dan jempol itu digelar oleh komunitas Indonesia Optimis. Pada perayaan hari Kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus, yang jatuh pada Rabu lalu, komunitas tersebut menggelar upacara bendera secara digital di situs ID-Optimis. Cukup dengan menggerakkan jari dan jempol di komputer, laptop, tablet, atau telepon pintar untuk masuk ke situs itu, pengunjung sudah menjadi peserta upacara. Dan seluruh prosesi upacara bisa diikuti di layar gadget.
 
Jika hendak mengikuti prosesi lainnya, seperti pembacaan teks proklamasi, mengheningkan cipta, atau pidato amanat pembina, peserta upacara bisa membuka akun Twitter @ID_Optimis. » baca selengkapnya

, , , , ,

“I miss the days when you had one phone number and one answering machine, and that one answering machine has one cassette tape, and that one cassette tape either had a message from a guy or it didn’t.”

googleSaya membaca kutipan dialog Mary Harris (diperankan oleh Drew Barrymore dalam film He’s Just Not That Into You) itu di sebuah blog. Penulisnya, sebut saja namanya Ririn, mengutip kalimat itu karena merasa seperti gadis yang kesepian di tengah keramaian pasar malam. Dia kehilangan pembicaraan yang intim dan personal, dari satu orang ke orang lain. Dan ia merindukan masa-masa ketika media sosial belum seriuh sekarang.

Media sosial memang telah mengubah cara orang berkomunikasi. Dulu satu individu bercakap-cakap dengan satu individu. Sekarang individu berkomunikasi dengan khalayak atau sebaliknya. » baca selengkapnya

, , , ,

Kata-katanya seperti mantra. Terutama saat dia bicara soal bisnis dotcom. Hanya dengan beberapa menit bertemu, dia bisa meyakinkan hati pendiri Facebook, Mark Zuckerberg.  Dia juga melumerkan hati Peter Thiel untuk menyuntikkan modal ke Facebook.

Sean Parker, dialah sang “penyihir” itu. Namanya tak banyak dikenal. Tapi, dialah orang yang berhasil membesarkan Facebook pada 2004. Saat itu situs bikinan Zuckerberg sudah terkenal di Universitas Harvard, tapi belum di universitas lain. Eduardo Saverin, kawan Zuckerberg yang jago algoritma saat membuat Facebook, malah sibuk mencari iklan ketengan.

Sean Parker datang menertawakan yang dilakukan Saverin. Katanya, mencari iklan itu hal kecil. “Iklan apa yang bisa dicari di New York untuk Facebook?” tanya programmer yang pernah bekerja untuk Napster–bukan pendiri Napster seperti disebut dalam film The Social Network–itu. Dengan wajahnya yang santai dan urakan, dia mengejek Saverin, yang selama ini bermimpi membesarkan Facebook dengan mencari iklan, “(Dapat) sejuta dolar itu bukan hal keren. Kamu tahu yang disebut keren? (Dapat) semiliar dolar!”

» baca selengkapnya

, , , , , ,
foto

Gerakan massa di Mesir sekarang ini tidak lepas dari peran jejaring  sosial dalam menggalang kekuatan massa atau membentuk komunitas yang  mempunyai ide dan keinginan untuk perubahan ataupun melengserkan  Hosni Mubarak setelah 30 tahun lebih berkuasa.

Informasi  mengenai kepincangan sosial dan ide perubahan ini  mengalir demikian deras dari ponsel satu ke yang lain, dari blog satu ke  yang lain, dari akun Facebook satu ke yang lain, dan dari akun Twitter satu ke yang lain sehingga membentuk kesadaran kolektif mengenai  perlunya perubahan.

» baca selengkapnya

, , , ,

selanjutnya »