Apr
21
Kata-katanya seperti mantra. Terutama saat dia bicara soal bisnis dotcom. Hanya dengan beberapa menit bertemu, dia bisa meyakinkan hati pendiri Facebook, Mark Zuckerberg. Dia juga melumerkan hati Peter Thiel untuk menyuntikkan modal ke Facebook.
Sean Parker, dialah sang “penyihir” itu. Namanya tak banyak dikenal. Tapi, dialah orang yang berhasil membesarkan Facebook pada 2004. Saat itu situs bikinan Zuckerberg sudah terkenal di Universitas Harvard, tapi belum di universitas lain. Eduardo Saverin, kawan Zuckerberg yang jago algoritma saat membuat Facebook, malah sibuk mencari iklan ketengan.
Sean Parker datang menertawakan yang dilakukan Saverin. Katanya, mencari iklan itu hal kecil. “Iklan apa yang bisa dicari di New York untuk Facebook?” tanya programmer yang pernah bekerja untuk Napster–bukan pendiri Napster seperti disebut dalam film The Social Network–itu. Dengan wajahnya yang santai dan urakan, dia mengejek Saverin, yang selama ini bermimpi membesarkan Facebook dengan mencari iklan, “(Dapat) sejuta dolar itu bukan hal keren. Kamu tahu yang disebut keren? (Dapat) semiliar dolar!”
» baca selengkapnya
evan williams, Facebook, PayPal, Peter Thiel, Sean Parker, start up, Twitter
Dec
10
Dulu orang berkata, alangkah kasihannya anak muda itu. Kuliahnya tak tamat. Kerja luntang-lantung. Hidup pun dia harus berpindah-pindah dari Nebraska, Florida, dan Texas, California, untuk mencari kerja. “Setiap musim panas saya harus mengairi tanaman,” kata Evan Williams. Itu 10 tahun sebelum namanya berkibar sebagai pendiri Blogger.com dan Twitter.com.
Sekarang 55 juta pengguna Twitter dan puluhan juta pengguna Blogger akan berterima kasih kepada anak muda ini. Twitter dan Blogger telah menjadi denyut rutinitas sehari-hari. Siapa sangka dia begitu berpengaruh. Perusahaan-perusahaan hebat, seperti IBM, Dell, dan Jetblue, pun memakai Twitter–peranti pengirim pesan yang berisi 140 karakter. Petenis kondang Serena Williams, musisi John Mayer, sampai sutradara Joko Anwar serta pendeta-pendeta di Amerika banyak yang kecanduan Twitter. Bahkan pemilu di Iran pun bisa ditekan dunia internasional berkat Twitter–peranti yang tak bisa diblok pemerintah Iran.
Siapa sangka temuan ini lahir dari pemuda yang mengaku hidupnya berantakan. Sepuluh tahun hidupnya adalah sepuluh tahun yang sia-sia. Pada 1994, selepas SMA dia hidup bergantung pada kebodohan orang terhadap Internet. Saat Internet mulai tumbuh–apakah Anda sudah kenal Internet saat itu?–Williams memproduksi CD-ROM. Isinya video tentang cara menggunakan Internet. Dia juga menyewakan server untuk web hosting.
» baca selengkapnya
evan williams, Twitter
Oct
24
Siapa yang berani menyalahkan Evan Williams. Para konglomerat yang telah menggelontorkan ratusan dolar pun tak sanggup menyalahkan Williams.
Ia masih belia. Usianya baru 37 tahun. Sejarah Internet sudah dua kali menulis namanya dengan tinta emas. Dialah penemu istilah “blogger” sekaligus pencipta situs Blogger.com–yang akhirnya dibeli Google. Dia pula peletak fondasi situs mikroblog, yang cuma mengandalkan komunikasi dengan 140 huruf, yakni Twitter.
Sudah tiga tahun, sejak Williams dan Biz Stone mendirikan Twitter pada 2006, Twitter belum mencetak uang. Tapi itu tak membuatnya panik setitik pun.
» baca selengkapnya
evan williams, Twitter