Dec
29
Banyak sekali buku yang terbit di Indonesia tahun ini. Jumlah judul buku terjemahan kemungkinan masih lebih banyak dibandingkan dengan jumlah judul buku asli berbahasa Indonesia. Saya katakan mungkin, karena perkiraan ini hanya berdasarkan penglihatan selintas di rak-rak toko buku.
Di antara judul-judul itu, banyak yang menarik untuk dibaca karena memang bagus dari segi isi, desain sampulnya, tata letak isinya, cara menyajikannya, bahasa ungkapnya, maupun isi materinya. Banyak pula yang layak untuk memperoleh perhatian karena kebaruan temanya.
Sebagian naskah asli ada yang digarap serius, seperti buku Ketika Mozart Kecil Memainkan Jemarinya, tapi banyak pula buku yang digarap dengan gaya ‘kejar tayang’ seperti di dunia sinetron. Buku-buku seperti ini ditulis cepat karena “mengejar” momen tertentu.
Anda mungkin menemukan buku-buku terbitan 2011 yang menarik dan layak dibaca. Entah itu non-fiksi ataupun fiksi. Naskah Indonesia asli ataupun terjemahan. Nah, berikut ini beberapa buku non-fiksi yang menurut hemat saya menarik dan layak dibaca. Anda mungkin punya judul-judul lain yang tak kalah menarik.
» baca selengkapnya
Buku
Sep
14

Gadis itu berderai air mata saat membakar foto pria pujaan yang tak direstui orangtuanya. Foto terbakar habis dan abunya dicampurkan dengan kopi lantas ditenggak hingga tandas.
Barangkali gambaran minum kopi seperti gadis dalam penggalan adegan di sebuah film lawas tanah air itu kelewat ekstrim. Tapi bagi sebagian orang, minuman berkafein memang berkhasiat buat menelan problema hidup yang kadang sepahit kopi. Kisah-kisah hidup bersahabat dengan kopi itulah yang mereka bagikan dalam Chicken Soup for the Coffee Lover’s Soul.
» baca selengkapnya
Buku, kopi
Jul
25
Penggemar buku yang tengah bertandang ke AS, niscaya tak akan melewatkan waktu untuk mengunjungi toko buku Borders. Empat puluh tahun yang silam, Borders bersaudara, Tom and Louis Borders, ketika itu masih mahasiswa di University of Michigan, mendirikan toko buku khusus untuk buku-buku bekas di Ann Abror, Michigan. Selama empat dekade ini, toko tersebut beranak pinak hingga mencapai 650 toko, sebagian besar tersebar di Amerika, ada pula yang berlokasi di negara-negara lain.
Beberapa tahun yang silam, saya sempat mengunjungi toko Borders di Washington, D.C. Saya senang dapat menemukan beberapa buku klasik yang diterbitkan ulang, seperti karya mashur Charles Darwin, The Origin of Species.
Di toko ini, pengunjung bisa membaca buku, berbincang dengan pengunjung lain, sembari minum kopi. Koleksinya sangat banyak dan bukan lagi hanya buku-buku bekas. Buku yang baru saja turun cetak segera dipajang di stand New Arrivals.
Tapi kabar buruk datang minggu ini. Toko tersebut tutup, begitu pula toko-toko lain di dalam jaringan Borders Group. Permintaan likuidasi tengah diproses, menyusul upaya penyelamatan yang tak berhasil meski telah diupayakan berbulan-bulan sejak Februari lalu setelah sepertiga dari jaringan tokonya ditutup. Sekitar 11 ribu karyawan Borders menghadapi ancaman pehaka—jumlah yang tidak kecil, sebab di belakang mereka tentu ada orang-orang yang ditanggungkan.
» baca selengkapnya
borders, Buku, toko
Sep
22
oleh Okta Wiguna
Pekan terakhir sebelum lebaran Jakarta mulai sepi ditinggal mudik. Namun saat rata-rata kantor lain mulai sepi, kantor penerbit Grup Agromedia di Jagakarsa, Jakarta Selatan, yang saya sambangi menjelang lebaran justru masih penuh karyawan.
Rupanya tak ada libur lebaran di sana terutama bagi mereka yang bekerja di divisi pemasaran dan distribusi. Mereka mesti lembur lantaran pengalaman dari tahun ke tahun menunjukkan ada tren peningkatan penjualan buku di hari Lebaran.
Ramadan dan lebaran memang membawa berkah tersendiri bagi penerbit. Pada pekan-pekan inilah » baca selengkapnya
bisnis buku, bisnis perbukuan, Buku
May
18
Andari Karina Anom
SAYA tertambat pada Sophie Kinsella sejak menjamah Confessions of a Shopaholic pada 2003. Saya pun kecanduan. Terjerat. Terbius. Saya sudah menamatkan lima judul serial Shopaholic: Confessions of a Shopaholic, Shopaholic Abroad, Shopaholic Ties The Knot, Shopaholic and Sister dan Shopaholic and Baby. Saya juga sudah menuntaskan dua novel Kinsella lainnya: Can You Keep a Secret dan Do You Remember.
Novel-novel ini membuat saya belajar, terhibur dan bernostalgia. Belajar menceritakan sesuatu dengan “basah” — ini istilah kami di Tempo untuk mendeskripsikan sesuatu dengan sedetil-detilnya. Terhibur karena jalan ceritanya yang jenaka lagipula cerdas. Bernostalgia karena buku-buku itu berlatar ibukota Inggris. Saya serasa kembali menapaktilasi London setiap ia menyebut Tesco, WH Smith, Evening Standard, Charing Cross, Elephant and Castle, Natwest, Oyster Card, Eastender…
Maka ketika terbetik kabar Confessions of a Shopaholic difilmkan, saya pun melambungkan harapan setinggi langit. Di pekan pertama film ini diputar, saya dan my partner in crime, Tjut Riana, segera meluncur ke Blitz, Grand Indonesia.
Namun harapan tinggal harapan. Film ini sungguh mengacaukan segala-galanya. Alur ceritanya berubah tidak karuan dan sangat tidak fokus (ibarat sebuah tulisan yang tidak punya angle), karakter tokoh-tokohnya sama sekali berbeda dengan di buku, kejenakaan yang cerdas khas Kinsella berubah jadi humor slapstik yang sama sekali tidak lucu dan menjengkelkan. Yang terburuk: setting London dengan semena-mena dipindah ke New York. Alasan produsernya, untuk kepentingan pengambilan gambar, toko-toko di New York lebih “layak disorot” dibandingkan London. Are you kidding me?
Saya merasa terkhianati. Memang, buku dan film adalah dua produk yang berbeda. Modifikasi, pengurangan atau penambahan bukan sebuah “dosa”. Saya sangat mahfum: bahasa tulis tak mungkin sama persis dengan bahasa gambar. Bahkan film legendaris sekelas The Godfather pun tak setia-setia amat pada naskah Mario Puzo. Toh dua-duanya tetap enak dinikmati karena jiwa sang buku tetap hidup di filmnya. Di Indonesia, film Laskar Pelangi juga menyisipkan sejumlah adegan yang tak ada di karya Andrea Hirata. Tapi, menurutku, hasilnya malah jauh lebih bagus dari novelnya dan –yang terpenting– tak membunuh nyawa si buku.
» baca selengkapnya
Buku, Confessions of Shopaholic, Sophie Kinsella