Enak di Blog dan Perlu

Digital

Ben Paton & Alex Lee menjadi pembeli iPhone 4 di London (The Sun)

Ben Paton & Alex Lee menjadi pembeli iPhone 4 di London (The Sun)

“Absurd!” Begitu mungkin komentar kebanyakan orang terhadap penggemar produk merek Apple. Tak ada yang lebih absurd dari mereka. Bahkan, para bonek Persebaya atau bobotoh Persib pun bisa kalah absurd dibanding mereka.

Lihatlah Joseph Lobato. Wajahnya kuyu. Dia duduk bersandar di depan salah satu gerai Apple di San Francisco. “Saya tidak tidur sudah 30 jam,” kata Joseph, pengantre paling depan iPhone 4 di gerai itu. Demi sebuah ponsel Joseph, pemuda 31 tahun itu, rela menderita puluhan jam. Dia bersama 20 orang pengantre lainnya harus menginap di depan toko. Mereka harus berjuang melawan hawa dingin. Bekal mereka, jaket, sleeping bag, kursi dan camilan.

Itu baru secuil kegilaan para pemburu ponsel iPhone generasi keempat yang pekan ini mulai dijual Apple.  Alex Lee, 24 tahun, rela merogoh kocek dalam-dalam untuk membayar pesawat dari Dubai tempatnya tinggal, ke London, Inggris. Juga untuk antri iPhone 4 yang dijual perda pada 24 Juni 2010 di Amerika Serikat, Jepang dan Eropa.
» baca selengkapnya

, , , ,

Tan Malaka, tokoh perjuangan yang begitu dipuja sebagian orang Indonesia, boleh saja mengatakan, “Imajinasi adalah takhayul yang meremehkan rasionalitas.” Tapi itu akan menjadi bahan tertawaan para inovator sejati. “Bukti kecerdasan sejati bukanlah pengetahuan, melainkan imajinasi,” begitu kata Albert Einstein.

Imajinasi, ya siapa yang bisa mengalahkannya. Sejumlah penemu hebat masa kini telah membuktikannya. Ketika pasar telepon seluler pintar atawa smartphone didominasi oleh Nokia dan sejumlah PDA berbasis Windows Mobile, imajinasi para teknokrat muda menggetarkan dunia. Steve Jobs datang dengan iPhone. Jim Balsillie dan Mike Lazaridis melahirkan BlackBerry. Dan, yang terbaru, para developer Google merilis Android.

Pasar ponsel pintar kemudian pecah berkeping-keping. Sebagian pasar itu direbut Balsillie dan Lazaridis. Sejak awal 1990, imajinasi kedua orang itu membubung ke langit. “Kami tahu surat elektronik akan menjadi fondasi bisnis, menggantikan faks.” Imajinasi mereka adalah membaca surat elektronik (surel) di ponsel di mana saja. Itulah yang membuat mereka kini bisa merebut separuh kue pasar ponsel pintar yang dikuasai Nokia.

» baca selengkapnya

, , ,

Dalam BlackBerry itu lelaki tersebut tenggelam. Semua energinya seperti tersedot. Di tengah rapat penting atau di acara kongko di warung bebek, dia “terhipnotis” oleh ponsel itu.

Sesekali dia melempar tulisan ke blog, melihat foto atau video terbaru. Dan pekerjaan wajibnya adalah memperbarui Facebook dan men-Twit isu apa saja, dari soal Sheila Marcia hamil, Krisdayanti cerai, sampai soal pengadilan Prita Mulyasari dan penggarongan di Bank Century.

Di Indonesia, BlackBerry–juga iPhone dan ponsel pintar lainnya–telah mengenalkan cara baru “menikmati” ponsel.
Tapi apakah demam baru itu menguntungkan operator? Seorang kawan saya bilang, hal seperti itu tak usah ditanyakan. Katanya, “Lihatlah betapa bernafsunya para operator memburu pelanggan baru BlackBerry.”
» baca selengkapnya

, , ,

Pertanyaannya begitu menyengat. “Mau PIN BlackBerry cantik nggak?” Saya melongo mendengar pertanyaan itu. “Ha, PIN cantik? Bagaimana bisa?”

“Bisalah!” lelaki itu menyergah. “PIN (nomor identifikasi) BlackBerry yang ruwet bisa disulap jadi cantik.” Jadi, bila awalnya PIN itu bernomor B4FF4258, misalnya, bisa “dipermak” menjadi BURHAN01.O lala. Betapa mudahnya menghafalkan PIN cantik.

Belum selesai saya memikirkan kira-kira PIN cantik apa yang saya pilih, lelaki itu sudah menyodorkan tawaran lain. “Harganya murah kok, cuma Rp 4,5 juta.”

“Memang bisa?”
“Apa yang tak bisa dilakukan di Glodok?” tanyanya lagi.
» baca selengkapnya

, , , , , ,

« sebelumnya