Jun
21
Angka-angka memang kerap bikin pening kepala. Tapi angka-angka turunnya pasar BlackBerry, salah satu telepon seluler yang paling dipuja di Indonesia, mungkin bisa bikin Anda melek. Padahal, BlackBerry rajin beriklan.
Lima bulan terakhir pada 2010 adalah lima bulan yang buruk bagi BlackBerry. Ini cerita tentang pasar ponsel pintar di Amerika Serikat. Dari bulan Juni hingga November 2010, pasar BlackBerry terus anjlok. Sebaliknya, ponsel Android melesat. iPhone sami mawon. Kedua ponsel itu merebut mahkota dari tangan BlackBerry. Tak mengherankan jika situs Mashable menamakan berkas artikelnya dengan RIP-RIM. Artinya, rest in peace produsen BlackBerry, Research In Motions (RIM).
» baca selengkapnya
Android, BlackBerry
Apr
17
“Bukan yang terkuat yang akan bertahan, melainkan yang paling pintar beradaptasi.” Kutipan itu mungkin sudah dilupakan. Hanya para ilmuwan biologi gila yang masih mengingatnya. Ya, Charles Darwin, peletak dasar ilmu evolusi, pernah mengguncang dunia dengan temuan dan kutipannya.
Zaman tampaknya belum akan merusak kutipan itu, meski kutipan tersebut sudah berusia 130 tahun lebih. Lihatlah Microsoft. Tujuh tahun lalu, raja software ini adalah penguasa telepon seluler pintar. Semua personal digital assistant (PDA)–kalau Anda lupa, ini ponsel pintar yang bentuknya seperti sekotak rokok–memakai software Windows. HP, O2, dan belakangan HTC mengagung-agungkan sistem tersebut. Kala itu rasanya mustahil Windows Mobile, software di ponsel tersebut, bisa tergusur.
Faktanya, Windows Mobile tak beda nasibnya dengan dinosaurus: mati. Digerogoti para pesaing baru, seperti BlackBerry, iPhone, dan ponsel Nokia berbasis Symbian, Windows benar-benar tak berkutik. Ia bahkan menjelma menjadi seperti “alien”. Teknologi layar sentuhnya kalah oke dibanding iPhone, sistem surat elektroniknya dilibas BlackBerry, aplikasi tambahannya kalah oleh ponsel Android.
Windows Mobile bukanlah sosok penentang badai, yang berani berjuang dengan mental dan pikiran yang dahsyat. Ia berbeda dengan BlackBerry dan iPhone. iPhone, misalnya, membeli paten layar multisentuh yang mengalahkan Windows Mobile yang hanya bisa disentuh dengan alat khusus seperti stylus.
BlackBerry tak mau kalah. Ia terus memperkuat posisinya di peranti nomor satu dalam soal pengiriman surat elektronik. Lalu pelan-pelan ia juga mengejar iPhone dengan membeli paten-paten layar sentuh. Lihatlah evolusi BlackBerry. Pada 2004, kita masih melihat BlackBerry yang tak lebih indah daripada kalkulator tukang sayur. Untuk menggerakkan kursor, mereka memakai roda gerigi seperti pengatur volume radio. Benar-benar jadul.
Mereka lalu belajar membuat BlackBerry yang menggunakan teknologi layar sentuh. Hasilnya masih buruk, yakni Storm dan Storm II. Layar sentuh BlackBerry baru terasa enak setelah berevolusi lagi menjadi Torch.
BlackBerry mirip jerapah dalam teori Charles Darwin. Jerapah, dulu diduga, mulanya tak semua berleher panjang. Tapi, karena dedaunan yang dimakan makin lama makin habis, tinggal yang ada di posisi yang tinggi, akhirnya jerapah berleher panjang yang eksis.
Tahun ini BlackBerry berevolusi dengan memborong paten teknologi. Research In Motions (RIM) memang sedang ambisius. Mereka meneken kerja sama dengan Intellectual Ventures, perusahaan yang mengumpulkan 30 ribu paten teknologi. RIM ingin mengejar teknologi iPad dengan membuat Playbook.
Lompatan evolusi serupa dilakukan produsen ponsel lokal Nexian. Meski langkahnya tak sedahsyat BlackBerry, Nexian juga terus mencari “zona patahan” bisnis ponsel yang belum digarap kompetitor. Dulu, Nexia identik dengan ponsel berharga miring. Kini, Nexian mencoba melompat lebih jauh. Mereka ingin menjadi ponsel lokal pertama yang memakai Android. Mereka juga mengincar ponsel khusus untuk perempuan. Dan gebrakan terakhir adalah menggandeng raja game dunia Electronic Art (EA) untuk membuat ponsel murah yang kaya akan game. Dengan harga Rp 500 ribuan, kini Anda bisa mendapatkan ponsel dengan tombol QWERTY serta 30 game EA. Penggunanya bisa bermain game setelah dipotong pulsa Rp 1.000 per hari.
Target Esia, mereka bisa menjual setengah juta ponsel–berbagai jenis–tahun ini. Esia telah menjadi jerapah model Charles Darwin. Ia bukan dinosaurus yang bakal tersungkur.
BlackBerry, Charles Darwin, Nexian
Jan
26
Lupakanlah perdebatan soal pemblokiran BlackBerry. Biarlah itu berlalu, dan kita mengenangnya dengan sentimentil. Banyak orang tahu, menyerah adalah kata yang sulit ditemukan dalam kamus hidup Mike Lazaridis. Pendiri produsen BlackBerry, Research In Motion (RIM), itu kuat. Tekanan pasar adalah sarapan sehari-hari Lazaridis.
Nama aslinya Mihalis Lazaridis. Mister berambut perak ini lahir di Istanbul, Turki. Dalam tubuhnya mengalir darah Yunani. Dia kemudian hijrah ke Kanada kuliah di Universitas Waterloo Jurusan Electrical Engineering. Prestasinya mengkilap. Saat masih mahasiswa, dia sudah mendapat kontrak Rp 4,5 miliar (US$ 500 ribu) dari General Motors. Wow!
Lazaridis sejak kecil sadar dia adalah orang dengan bakat spesial. Dia pintar, rajin, dan selalu membikin sesuatu yang spesial. RIM awalnya bergerak di bidang komputer, barcode, dan film. Saat itu dia tahu dunia dikuasai para produsen ponsel. Tapi, sejak 1990, Lazaridis punya imajinasi yang membubung.
“Kami tahu surat elektronik akan menjadi fondasi bisnis, menggantikan faks,” katanya Imajinasi mereka adalah membaca surat elektronik (surel) di ponsel di mana saja. Terbukti, BlackBerry merombak semua dogma tentang ponsel pintar. BlackBerry lolos dari kepungan raja ponsel, seperti Nokia, Motorola, Samsung, dan sederet ponsel lainnya.
» baca selengkapnya
BlackBerry, iPad, PlayBook, Research In Motion, RIM
Sep
26
Media sosial disebut-sebut membuat orang antisosial. Facebook, Twitter, obrolan digital, menjadikan penggunanya asyik sendiri. Saatnya kita puasa media sosial?
Bertanyalah pada Mat Bloger yang siang itu terlihat murung sewaktu bertemu dengan saya di sebuah kedai kopi. Mulutnya terkunci rapat. Dan, ini yang lain daripada biasanya, tangannya kosong. Tak ada dua telepon pintar seri terbaru berlayar sentuh yang biasanya selalu ditenteng dan dipelototi layarnya terus-menerus.
Mat Bloger tanpa telepon pintar ibarat hansip tanpa pentungan. Sebab, dalam keseharian ia nyaris tak terpisahkan dari dua benda yang menghubungkannya dengan jagat maya dan jejaring sosial itu. » baca selengkapnya
BlackBerry, chatting, Facebook, Media, messenger, sosial, Twitter
Jun
26

Ben Paton & Alex Lee menjadi pembeli iPhone 4 di London (The Sun)
“Absurd!” Begitu mungkin komentar kebanyakan orang terhadap penggemar produk merek Apple. Tak ada yang lebih absurd dari mereka. Bahkan, para bonek Persebaya atau bobotoh Persib pun bisa kalah absurd dibanding mereka.
Lihatlah Joseph Lobato. Wajahnya kuyu. Dia duduk bersandar di depan salah satu gerai Apple di San Francisco. “Saya tidak tidur sudah 30 jam,” kata Joseph, pengantre paling depan iPhone 4 di gerai itu. Demi sebuah ponsel Joseph, pemuda 31 tahun itu, rela menderita puluhan jam. Dia bersama 20 orang pengantre lainnya harus menginap di depan toko. Mereka harus berjuang melawan hawa dingin. Bekal mereka, jaket, sleeping bag, kursi dan camilan.
Itu baru secuil kegilaan para pemburu ponsel iPhone generasi keempat yang pekan ini mulai dijual Apple. Alex Lee, 24 tahun, rela merogoh kocek dalam-dalam untuk membayar pesawat dari Dubai tempatnya tinggal, ke London, Inggris. Juga untuk antri iPhone 4 yang dijual perda pada 24 Juni 2010 di Amerika Serikat, Jepang dan Eropa.
» baca selengkapnya
Apple, BlackBerry, iPhone, iPhone 4, Steve Jobs