Enak di Blog dan Perlu

Nur Hidayat

Fantastis. Inilah kata yang tepat untuk perolehan jumlah penonton film Ayat-ayat Cinta. Bayangkan, hanya butuh waktu dua minggu, untuk menembus angka dua juta penonton. Dan, memasuki minggu keempat ini, jumlah pengunjung tetap membludak. Perjuangan saya untuk nonton film ini lewat jalur biasa, datang ke gedung bioskop dua jam sebelum pertunjukan, dua kali sudah, sia-sia belaka. Kata beberapa teman saya, kalau mau dapat karcis, harus pesan dari jam 10 pagi, atau bahkan beberapa hari sebelum jam pertunjukan. Film tentang hantu mana yang bisa mengalahkan fenomena ini? Atau, sebut satu saja film komedi lokal yang belakangan ini dipenuhi jalan cerita dan idiom-idiom yang biasanya kita temukan di situs-situs porno, yang bisa menandingi jumlah penonton film ini. Rasanya, tidak ada.


Produser Ayat-ayat Cinta, Manoj Punjabi, di berbagai media menyebutkan, penonton film ini ditargetkan mencapai 7 juta, jauh di atas rata-rata film lokal laris yang dibilang meledak di pasar cukup dengan sejuta penonton.

Apa yang terjadi dengan penonton film Indonesia? Mungkin mereka memang tengah mencari alternatif genre baru. Soalnya, selama beberapa tahun terakhir ini biokop memang dipenuhi dengan film hantu, kisah cinta yang “mentah ceritanya”, atau komedi yang “diangkat dari situs porno.”

Tapi, tunggu dulu. Jangan buru-buru bilang bahwa Ayat-ayat Cinta merupakan sebuah film yang sempurna sebagai sebuah film Islami. Eric Sasono, kritikus film yang hebat itu, di SCTV bilang, Hanung Bramantyo menafsirkan karakter Fahri menjadi berbeda. Fahri tak muncul sebagai seorang muslim, seorang lelaki, yang kuat. Padahal, di novel yang alur ceritanya sangat tidak tergarap dengan baik itu, Fahri adalah seorang muslim sejati yang perilakunya sudah lama menjadi trend di sebagian kalangan muslim. Jadi, saya tidak sepakat dengan Hanung, yang entah risetnya dari mana, bahwa Fahri (dalam versi novel) terlalu sempurna, sehingga kemudian muncul “Fahri baru” dalam film itu. Memang, sutradara berhak mengobrak-abrik karakter tokoh dan jalan cerita. Tapi, jika itu membuat film kehilangan roh, rasanya kok perubahan itu tidak tepat.

Tapi, apa boleh buat. Inilah budaya pop kita. Novel yang alur ceritanya tidak enak pun bisa laku keras. Film yang kehilangan roh juga sukses luar biasa.

Komentar [70]

Feed  •   Trackback  •   Kirim Komentar

70 Komentar untuk “Fenomena Ayat-ayat Cinta”

  1. Jorge Hasan | 13 March, 2008 20:42

    Bosan…

  2. siti | 14 March, 2008 12:11

    Trus ya baeknya apa dunk??
    Zaman sekarang, tontonan dan bacaan yg ideal itu yg mana?
    Kebanyakan tontonan sekarng lucu tp fulgar, berita? banyakan kriminal d mana2, klparan. Sehingga org mencopet, membunuh, sodomi, dkk, dianggap hal yg biasa-biasa aja karena seringnya dipertontonkan. Apa karna masyarakat kurang cerdas menilai?
    AKibatnya kita (penonton/pembaca) menganggap sosok sempurna seperti Fahri dalam novel AAC adalah mustahil.

  3. ringgo siringgo2x | 14 March, 2008 16:12

    Cerita yg ada di film udah banyak yg berbeda dengan novel aslinya, banyak scene2x yg gak penting malah ditampilkan, tapi point dari scene yang penting dan justru inti dari cerita banyak yg tidak tampil di film nya, sangat disayangkan…..
    contoh yang jelek seperti waktu maria ditabrak mobil, padahal di novel itu tidak ada, yg ada di novel maria masuk rumah sakit karena stress berat mendengar fahri sudah menikah.
    lalu suasana tidak mencerminkan kota mesir, lalu si aisyah bukan naek mobil Mercy tapi seharusnya mobil Nissan Terano yang disetir sama dia sendiri.
    lalu penjara tempat fahri di kurung tidak terlihat suram seperti di novel, yg ada di film malah suasana yg bersih cman ditambah dengan tikus doang, padahal kalau emang niat buat film, harus buat seting suasana yang mengena sama penonton, bisa aja lantai yg dibuat rusak dengan ada genangan airnya plus tikus2x nya, di film malah lantai nya mulus tapi kok ada tikus nya??? aneh kan???
    jujur aja kurang kena di film nya ama saya, saya lebih senang membaca novel nya, mudah2xan ini input buat para sutradara untuk lebih memperhatikan detail2x suasana dan point2x penting alur ceritanya, gak perlu ditambah2x kalau membuat cerita jadi norak (pake tabrakan segala, emang pilem india) :))
    LOL
    HIDUP PILEM INDONESIA !!!

  4. franditya | 14 March, 2008 16:13

    biasanya ada reduksi ketika sebuah karya novel coba ditampilkan dalam film. misalnya film kahlo, meski dibintangi dengan brilian oleh Salma Hayek pun tetap bias dengan tokoh kahlo dalam novel. hal ini terjadi di banyak karya novel yang mencoba tampil secara visual.

  5. Kuya | 14 March, 2008 17:52

    Saya belum menonton, tapi niat banget mau ngajak istri nonton, dengan harapan sehabis nonton film ini, istriku akan ridho kalau aku berpoligami. Terimaksih buat yang bikin novel dan film, mudah mudahan kamu masuk surga, sebagai imbalan melancarkan aku kawin lagi.

  6. francespolly | 15 March, 2008 16:07

    “ya apa boleh buat” untuk film yang benar-benar jelek ini, aneh aja penonton bisa membludak gitu ya? siapa yang salah?

  7. dwi | 15 March, 2008 17:01

    pendapat yang sudah baca novel biasanya sinis setelah nonton filemya tapi lihatlah dari sisi lainya karena tidak segampang memfilemkan novel banyak hal antara lain kesempurnaa katrakter utama dan setingan tempat yang ideal susaaaaaaaaaah bangeeet apalagi indonesia bukan hollywopd atau bollywood namun ada pesan menuju surga agar kalau solat janga lagi susah ajeeeee

  8. untung | 16 March, 2008 19:01

    Islam tidaklah seperti yang elo ungkapkan!!

  9. waduya | 16 March, 2008 19:03

    Emang filmnya seperti apa seh sampe heboh banget?? atau emang sengaja di heboh2kan?

  10. erwin | 17 March, 2008 11:03

    Hal pertama yang untuk memulai komentar ini adalah bagaimana memisahkan AAC sebagai produk novel dengan AAC produk film. Film adalah interpretasi sang sutradara setelah membaca novelnya, seperti halnya HArry Potter, Davinci Code dan lain sebagainya.
    Secara keseluruhan film ini memberi angin segar pada industri film nasional yang sudah jenuh dengan pocong (sudah 3 sekuel, mungkin mau menyaingi Die Hard) cinta ABG dan sex (era 80an).
    Kalau mau membandingkan AAC sebagai produk novel dengan AAC produk film ada beberapa scene di AAC versi novel tidak tertuang di film atau rada meleset misalkan :
    -paman nurul mengungkapkan keinginan nurul. di novel itu terjadi sebelum Fahri menikah, di film terjadi saat Fahri sudah menikah.
    -Maria memberi Fahri kado pernikahan, di novel bersama Yousep, di film bersama ibunya
    -Fahri dan Maria ngobrol,di novel tidak pernah ada, karena 2 orang berlainan jenis tidak boleh berkhalwat, di film terjadi beberapa kali diantaranya di jalan, di tepi sungai
    -Fahri curhat dengan temannya, di novel biasanya dilakukan di flat atau masjid, di film curhat di tepi sungai. teman fahri minum sambil berdiri (hukumnya makruh lagi….)

    Diasmping itu ada yang menarik dari film AAC yaitu sakitnya Maria lebih terlihat logis dibandingkan di novelnya.

  11. ummu hasanain | 17 March, 2008 11:31

    terlepas dari baik buruknya novel atau filmnya, hikmah apa yang anda dapatkan? saat ini, negara kita banyak sekali mengalami musibah. apa sebabnya? karena banyak manusia syirik kepada Allah, menuhankan materi dan cinta, tidak sholat, berzina, bahkan tidak tahu jawaban Allah itu ada dimana? mungkin anda akan menjawab “ada dimana-mana.” Jawaban itu salah!!!!! yang benar Allah itu ada di atas langit (dzatNya), dan ilmunya meliputi segala sesuatu.

    cerita maria dalam novel AAC, bagi saya bisa menyebabkan seseorang jatuh kepada syirik, karena hanya cinta pada hamba yang pasti tidak sempurna, hingga membuat sakit dan depresi.

    menurut saya, pengarang novel AAC harus berhati-hati memeberikan cerita bagi kalangan muda yang awam dengan agama Islam. jika Tauhidnya lemah, dia akan larut dengan isi cerita dan mengatakan bahwa tokoh Maria itu wajar dalam kehidupan nyata, dimana seseorang bisa depresi cinta kepada Mahluk. itulah syirik….

    cinta yang hakiki adalah kepada Allah. Tauhid itu tidak hanya sekedar diucapkan, tapi ada rukun dan syaratnya. jadi tidak akan merubah seseorang baik dari Novel dan film jika tauhidnya tidak lurus.

  12. forcytia | 17 March, 2008 11:38

    film memang tidak sama dengan novel. Alur cerita novel masih lumayan ttp filmnya amburadul. jauh sekali dari ruh novelnya. Tokoh Fahri sama sekali tdk mencerminkan seorang muslim yang hebat spt yg digambarkan novelnya. begitu juga Aisha, bukan seorang gadis Jerman yang muslimat dan kokoh, cerdas, mampu melakukan apa saja ttp justru seorang yang lemah dengan mudah menangis untuk hals sepele. Saya amat kecewa, mengapa pengarang buku ini mau berkompromi merubah total karakter tokoh-2nya. Film ini sama sekali tdk mencapai sasaran dan hanya diheboh-hebohkan untk kepentingan komersiil semata.

  13. Jurig | 17 March, 2008 13:18

    -pesan film ini: kaum Adam boleh poligami asal adil…padahal berlaku adil susaaaag banget
    -menurut saya film ini banyak miss-nya dengan yang ada di cerita novel..saya lebih suka novelnya dan berimajinasi dengan alam fantasi saya mengenai seting ceritanya.

  14. ferdiana | 17 March, 2008 14:02

    wajar kalau terdapat banyak kekurangan karna memang novel dan film itu seni yang beda

  15. natasha brown | 17 March, 2008 19:02

    Jika membandingkan antara novel dan movie, sampai kapanpun tidak akan perfect. Novel dan movie adalah dua hal berbeda. Penikmatnya pun berbeda. Buat all of you pembaca novel jangan paksa diri untuk nonoton movienya, Buat penikmat movie jangan juga terpengaruh dengan isi novelnya. Pada intinya Kang Abik sang pembuat novel turut serta bekerja sama dengan Mas Hanung dalam penggarapan Movie ini. Dan mereka berdua cukup puas dengan hasilnya. Kang Abik adalah master di bidangnya begitu pula Mas Hanung. Wajar aja kalau hasilnya juga luar biasa.

  16. grafityo | 17 March, 2008 21:54

    Allahuakbar. Berkali2 saya menemukan tipe orang Indonesia yang bisanya cuma mencibir, menkritisi tanpa memberikan solusi yang baik, bahkan berkesan selalu MENYALAHKAN! nggak heran deh negara ini jalan di tempat karena selalu melihat suatu masalah dari sudut pandang nya sendiri.

    Coba Anda- anda yang mencibir itu, disuruh buat karya, yang bagus- , yang layak dikonsumsi dan dinikmati semua orang, coba, saya mau lihat seperti apa?

  17. ocha | 18 March, 2008 11:17

    jgn t’llu sk m’hna kry rnq laen..
    krn lum tntu qt bs ngbwd kry yg shbad it..
    aac….
    sbwh kry yg crt’a sngad mnyentuh relung” jwa…
    byk p’ubhan dr dry org” swktu m’bc atw mnntn flm ini..
    slud n applause bwd habiburrahman el shirazy n mas hanung yg dh nylurin kry” hbad’a..
    ak hrp klian bs nngktin kry”a wad m’jd pljran utq ranq byk…

  18. M.Billah | 18 March, 2008 14:05

    Mungkin AAC sebagai film yang dapat memenuhi kehausan masyarakat kita dari nilai-nilai agung (bermakna), kalau demikian, ayo kedepan kita bikin film-film yang bermakna, jangan kacangan atau yang kampungan seperti hantu-hantu itu lhoo…

  19. Katerina | 18 March, 2008 14:19

    Kalo cuma bs mencela saja, ga intelek. Org cerdas itu dan baik itu menyukuri apa yg ada. Udah bagus ada film kayak AAC, lebih suka model film Virgin? Pocong? atau Kuntilanak? cuma merusak akidah.Islam itu indah, AAC cukup dlm menyampaikan keindahan itu. Msh lebih baik dari pada Ustad dan Kitab Suci dipake buatngusir hantu? Yg bilang suasana mesir nya ga dapet, emang sdh ke Mesir? Emang bisa bikin film? Emang punya dana utk jd produser? Mending kasih komentar positif dr pd sibuk mencari kekurangan. Meski tak sempurna film AAC bukanlah film norak, levelnya lbh tinggi drpd film komedi, cinta, hantu yg lo lo pikir?

  20. male69 | 18 March, 2008 16:38

    Akhirnya udah juga dech aku nonton film. walaupun udah di putar hampir 4 pekan. Filmnya bagus walaupun forum-forum mengatakan banyak yang gak sama dengan isi novelnya… benar gak? habis aku gak pernah baca novelnya sech…ehehehe.
    Aku mo nanya aja…pada semuanya, kirain aja aku yang salah faham.
    Di film ada beberapa hal yang buat pertanyaan dalam diri saya :
    1. Ayat-ayat Cinta? Cerita Fiktif apa Real sech?
    2. Bolehkah kita menikahi sesorang yang gak sadar?
    Itu aja dech mudah2an ada yg bisa jawab yach. plisss

  21. meelanisth | 18 March, 2008 20:21

    tmen2 smua…tlog jangan melihat ssuatu dari satu sisi.Yah..memg sy jg agak kcewa dgn crita AAC di filmnya…tapi pesan yang dsmpaikan begitu kuat dan coba pikirkan…kenapa film ini bisa “booming” dimana-mana??
    sebuah karya memang tidak bisa terlepas dari kontroversial.ingat…NOVEL dan FILM adalah suatu SENI yang berbeda.sy setju dgn komentar dr gRafityo..apakah kita semua mampu mmbuat sbuah karya yg lyak u/ dnikmati smua org?
    cobalah u/ menghargai suatu karya dr org lain…insya allah kita jg akan dihargai oleh org lain..
    afwan…

  22. denmaze | 19 March, 2008 08:07

    pada dasarnya novel emang beda ama film, masing2 punya kelebihan dan kekurangan…dan ga bakalan bisa sama persis, belum lagi…daya imajinasi orang kaga pernah sama…so…lebih baik kita hormati orang yang berkarya, daripada cuma bisa omdo’…omong doang emang gampang…salud buat kang abik dan mas hanung…ayo bikin karya yang ‘lebih’ heboh lagi dari AAC…brani…bisa…???

  23. eva | 19 March, 2008 16:30

    hehehehe…mending nonton wayang orang bharata atau sriwedari , mereka biarpun dibayar murah lebih bersungguh2 memberikan tontonan yang bermutu ;))

  24. amar | 20 March, 2008 11:33

    AAC, OK banget

  25. norman | 20 March, 2008 14:24

    AAC menurut gw mungkin udah dr sononye bkl laris manis sama sprt versi novelnya bayangin aja penontonnya membludak ampe jutaan org hbs nyentuh bnget filmnya sich… meski gw tdnya krg srek ama nich film trnyata AAC memberi kesan yg brbeda dari kebanyakan film lokal yg slama ini prnah diputar d bioskop. moga2 aje ada AAC season2 nti d filmin lg… saluttt dach sm sutrada & artis2ny kang abik,kang hanung,carissa,aisya ame fahri …. maju trus film nasional

  26. hana | 20 March, 2008 15:38

    gw setuju banget ma erwin and ringgo. di film byk adegan dan tokoh yang dihilangkan dan ditambah2…malah jadi aneh. tadi aja gw ke pasar dan lihat banyak jual bajakannya…gw mikir2 tau mw beli buat koleksi (walaupun gw udah nonton di bioskop) soalnya filmnya jadi aneh. maria ga pernah tabrakan. si yousef ma tuan boutros kmn? kalo di novel maria dan keluarga ke hurgada buat rekreasi tapi di film kok ke rumah neneknya? mobil aisha juga beda? trus di awal film fahri bilang talaqqi di alazhar tapi di novel di msjd abu bakar ash shiddiq di shubra el khaima…
    trus syeikh usman kok dimatiin ma mas hanung? padahal beliau kan yang sering jd tpt curhatnya fahri selain syeikh ahmad, kok malah jadi si saiful…padahal si saiful di novel perasaan kurang menonjol deh karakternya…ini sih sinetron bgt dimana tokoh utama hanya curhat ma orang yang itu ituuuuuuuu aja yang didaulat sebagai sohib kentalnya… yang sering mengesankan tipe org yang kurang bersosialisasi…dan seingat gw si fahri ga kyk gitu…dia tipe karakter yg curhat ke org berdasarkan jenis masalah yg dia alami…contoh: ketika dia minder dgn kekayaan aisha dia curhat ma syeikh usman yg juga pernah ngalami hal serupa dgn istrinya…masalah noura ceritanya sama maria, nurul dan syeikh ahmad…so???
    trus satu lagi yang aku dkk pas nonton itu terperangah banget, kecewa, merasa janggal adalah dialog maria ketika di mau mati…di bilang gini “fahri, AJARI AKU SHOLAT. aku ingin sholat bersama kalian”. ANEH!!! ga logis… padahal kalo kita jeli di film kan ceritanya si maria udah masuk islam pas nikah ma fahri di rs dan dia hidup berpoligami sampai berbulan2 kemudian sampai aisha hamil tua…msk islam udah bbrp bulan yg lalu tapi kok baru minta diajari sholat sekarang pas mau mati????
    padahal imej fahri kan sbg seorang yg lurus, org lain walau pun ga soleh2 amat juga pasti akan berusaha dari awal membimbing sholat istrinya yang muallaf…LOgis ga sih dialog maria itu…atau jgn2 penulis skenarionya lupa ngedit naskahnya kali ye?
    membuat film berdasarkan novel terkenal pasti ga mudah sih…tapi tolong deh ga usah diubah2 sedikit pun…bagi yang udah terlanjur fall in love ma novelnya pasti kecewa bgt ma filmnya…

  27. Retty | 20 March, 2008 16:19

    Eh lagunya Melly bagus tuh…film sama buku dari zaman kuda juga biasanya bagusan bukunya!

  28. adel | 20 March, 2008 18:14

    Sebenernya udah dari awal kepopuleran novel AAC saya sudah menduga akan difilmkan dan pasti sukses.

    Saya tahu tentang novel ini dari seorang teman chat yg berada di seberang sana.

    Wajar saja filmnya laris manis, karena noevlnyapun demikian.

    Ini merupakan sebuah realita bahwa kita semua haus akan nilai2 Islam yang diterapkan bukan hanya sekadar teori.

    http://www.hosting-gratisan.com
    Hosting Gratisan tanpa banner/iklan

  29. awin | 20 March, 2008 23:31

    setuju….uangel lho ngadopsi novel (katanya….,aq jg g p’nah bikin pilm)..
    lha dari pada g ada???Alhamdulillah to!!

  30. noa | 21 March, 2008 09:13

    Filmnya bagus kok… Walopun emang ada yang aga2 ganjil… Tapi nafas islaminya masih kerasa banget… Ngga usah ngehina2 karya orang… Emangnya situ suka kalo karya yang udah dilakuin susah payah dihina sama orang lain… Ngerjain tugas dapet nyontek dikasi nol aja sakit hati…

  31. ecky | 21 March, 2008 10:30

    setuju dgn hana tentang masalah dialog maria,

    saya gk setuju kl novel AAC dibilang gk bagus, menurut saya bagus banget koq..

    untuk bahan bacaan sebagai pertimbangan menilai film AAC, saya rekomendasi ke blog Mas Hanung aja, http://hanungbramantyo.multiply.com

  32. desca | 21 March, 2008 12:27

    Duh Udah DecH,,,Khan NGga Ad yG semPurNA d duNIa Ini…!!!
    GmNApUn JUga AnTAra NoVel Dan FilM Na MAsiNG” PnYA keLeBIHAn dan KeKurAnGAn
    YanG PasTi NoVel dan FiLm AYAt”CInTA Ud BIsa BIKIn IndoNesiA HeBOh
    HEhEhEHehhehEHEHEHe….
    ^o^

  33. yogi_muslim | 21 March, 2008 15:07

    assalamu’alaikum

    haduuhh…saya cukup prihatin dengan kondisi umat islam di indonesia ini!!!
    tidak cukupkah diri kalian dengan al-qur’an dan hadits???!!!

    coba kalian pikir & renungkan…
    lebih mudah mana???
    “mengeluarkan uang untuk infaq di masjid dan di berikan kepada fakir miskin atau mengeluarkan uang untuk membeli tiket nonton bioskop???!!!”

    coba kita asumsikan ya!!!
    1 tiket bioskop = Rp 15.000
    yang sudah nonton ayat2 cinta = -+ 2 juta penonton
    jadi!!! Rp 15.000 X 2juta = 30 milyard!!!
    “WHAT A MUCH MONEY!!!”

    banyak yang bisa kita lakukan dengan uang segitu!!!bisa buat bikin sekolah bagi masyarakat kurang mampu!!!bisa buat mengurangi angka kemiskinan!!!bisa buat bikin rumah allah yang cukup megah!!!dan bisa untuk membuat hal-hal berguna lainnya…
    tapi anehnya kenapa kita malah memberikan uang itu untuk hal yang ngga bermanfaat!!!??? kalaupun bermanfaat,mungkin hayna untuk kesenangan kalian di dunia!!!tapi nanti di akhirat,uang 15 ribu itu tak akan jadi pemberat amal bagi kalian!!!
    kalian lebih memilih memberikan uang kalian ke loket tiket bioskop dari pada ke loket syurga-nya Allah SWT!!!
    Astaghfirullahaladzim!!!

    yaaa sudah lah, toh uang yang sudah kalian berikan ke loket tiket bioskop itu tak akan bisa kembali!!!

    tapi cobalah,mulai sekarang kalian berfikir dahulu sebelum mengeluarkan uang, gunakan uang kita sebijaksana mungkin!!!

    maaf kalau ada kata-kata yang salah

    wassalamu’alaikum

  34. Nurhidayat | 21 March, 2008 16:28

    Maaf, saya mengritik sebenarnya demi kesempurnaan novel dan film Islami seperti AAC agar isinya lebih bagus lagi di masa depan. Sudah saya bilang, harus diakui, dibandingkan film horor dan komedi yang kebanyakan, novel dan film AAC sudah jauh lebih bagus, terutama dari sisi ide cerita, moralitas cerita. Namun, harus diakui, novel AAC tidak digarap dramaturginya secara menarik dari halaman ke halaman. Bandingkan, misalnya, dengan The Da Vinci Code, yang langsung atraktif sejak dari lembar pertama. Jadi, pandanglah kritik dari sisi yang positif. Btw, thx atas komentar yang begini banyak, sementara saya telat kasih komentar ulang karena internet di kantor sedang lelet.

  35. abel-almas | 21 March, 2008 21:51

    ketika sebelum nonton saya sedang mengalami putus cinta,saya bingung mw melakukan apa. setelah saya nonton film ini, rasa sakit itu hilang. thanks yah. filmnya oke. apalagi di tmbh music latar yg bgs. bikin lg yg lebih bgs yg memberikan pendidikan moral.

  36. only an ordinary one | 22 March, 2008 17:14

    adduuuhhh.
    gw heran de.
    knapa orang cma bsa nyibir.
    pada tau ga siih
    gmana susahnya bkin iitu film.
    gw udah baca prosesnya
    dri awal ampe akhir.
    mereka smwa gw rasa
    uda do the best from their best deh.
    baik itu mas hanunk dan tim.
    apalagi kang abik.

    jadi ya udahla.
    daripada qta nyibir dan
    blom tntu jga qta bsa bwat
    karya yg lebih baik ato min.
    sama laah. ga usah banyak omong deh.

    mndingan mana?

    ayat ayat cinta atau
    film horor yang sampah
    dan ga jlas
    juntrungannya itu?

  37. only an ordinary one | 22 March, 2008 17:20

    stuju bgt sma ecky coba deh click tuh site.
    baru abis tu kritik
    dan nyela lagii.
    di sana ada smwa kok
    alasan2 yang dipertanyakan sm penonton. T.T

  38. ika | 22 March, 2008 17:32

    menurtQ siCh AAC tuCH bgUZ bget Cz nE pelJrn bwt ank2 reMaja skrNg,SupaYa menYadaRi Bahwa ciNta yg diMilikI s’seorng itu tdk bs kiTa miLiki toek slAmaNya.kEYYY!!!

  39. syifaul fuad | 22 March, 2008 19:49

    mau gimana lagi…masak shalat pakai cadar, minum-makan berdiri, di nikahi ketika g sadar…

  40. Arman | 25 March, 2008 00:00

    ah biasa aja, luar biasa karena film-film kita banyak kuntilanaknya……

  41. demis | 25 March, 2008 05:43

    film ini tetap memberikan inspirasi bagi mahasiswa-mahasiswa kairo.. kenapa di sini ditulis kalau alur cerita novelnya tidak jelas dan filmnya kehilangan roh…..? trus apa kroelasinya dengan budaya pop penonton film bangsa kita

  42. adi isa | 25 March, 2008 11:14

    ra ngerti aku dengan masalah film indonesia, yang penting bagi aku, aku mau nonton karena memang mau nonton saja,
    dan film ini buat aku layak aku nonton.

  43. cahyo | 25 March, 2008 11:37

    Saya sependapat dengan (salah satunya) erwin, intinya film AAC benar-benar jauh dari ruh AAC versi novel.
    Fahri yang menjaga diri dan matanya dari memandang yang bukan haqnya jadi fahri yang jelalatan dan senang mencuri pandang.
    The guidance to be a good muslim and muslimah-nya menjadi hilang. Yang ada hanya roman picisan biasa dengan polah dan perilaku laki dan perempuan jaman sekarang.
    Fahri yang sangat menghormati keluarga koptik (Maria) dalam film justru dikesankan Fahri menghancurkan keluarga koptik itu dengan tidak mengabari tetangganya yang sangat dihormatinya.
    Fahri menikahi Maria hanya demi upayanya menjadi orang bebas kembali dan menjadi suami dan ayah yang ada disamping istri dan anak yang akan lahir. Dan akhirnya Fahri tidak pernah menyetubuhi Maria karena Maria meninggal setelah koma lagi pasca kesaksiannya dipengadilan. Sementara di film, Fahri-Aisha_maria sempat serumah, sehingga ada kesan Fahri sudah menggauli istri keduanya.

    Andai saja Hanung lebh fokus ke salah satu topik cerita mungkin lebih bagus daripada maunya diambil senovel tapi dibatasi dengan jam tayang.

    Itu semua pendapat saya, setuju ya nuhun, ga setuju juga ga masalah.

  44. sri rahayu | 25 March, 2008 14:38

    AAC versi novel dan versi film tetaplah sebuah karya yang luar biasa. Ke duanya harus dilihat dari kacamata apresiasi bukan kacamata emosi.

  45. sri rahayu | 25 March, 2008 14:39

    Tentu ada bagian-bagian yang berbeda antara film AAC dengan karya novelnya. Apa yang menyebabkan perbedaan itu tentu harus kita jawab dengan memahami prinsip kerja masing-masing jenis karya itu. Sebagai sebuah karya teks, novel memiliki kebebasan yang luar biasa dalam mengeksplorasi dirinya walaupun hanya sebatas kata-kata. Sebaliknya film memiliki keterbatasan dalam menerjemahkan teks ke bentuk visual, tetapi memiliki keleluasaan mengeskpresikan ide-ide barunya ke dalam bahasa gambar.

  46. made | 25 March, 2008 19:48

    ni baru ayat2 cinta…
    kite tunggu laskar pelangi-nya andrea hirata yang mo di bikin ma si riri…
    bikin heboh jg ga ya??

  47. loeboe | 25 March, 2008 19:52

    film ini masih sekelas dengan film kuntilanak dari sisi alur cerita, plot, casting, dll. bedanya cerita aja, yang satu mistis satunya diganti islam, yang satu horror satunya drama.
    kalau dibandingkan film2 indonesia jaman Alex Komang dll (titian serambut dibelah tujuh) yang juga ada nuansa islami/religius masih jauh sekali…..
    malu kalau menjajarkan film ini dengan karya Garin yang pantas mewakili indonesia di festival2 luar negeri

  48. ing | 25 March, 2008 22:37

    AAC? gak banget…. menurut gw nih film sinetron abis. pake acara adegan ketabrak mobil yg sinetron banget, sound effect yg sering sinetron banget, cerita yang buat saya tidak menarik malah jadi menyebalkan. Masa pas dikawinin bangun? eleh2…. pake acara jadi gila n pindah agama gara2 cowo. engga banget gitu!

    Saya non muslim dan penentang keras poligami, jadi kynya alasan apapun ga masuk akal buat jadiin poligami itu sah. Sori saya emang feminis, jadi poligami buat saya adalah merendahkan cewe.

    Balik lagi ke AAC….saya menyesal nonton, pertama kalinya saya nyesal ntn padahal cuma 15 ribu di hari biasa.
    ARgh….. Rianti dipuji2. aktingnya basi kaya gt, udah diaksen2in ga jelas lagi. ampun…. saya eneg ntnnya

  49. siti Zulaiha L | 26 March, 2008 20:34

    Saya sepndapat kalau filim ini agak berbeda dari filmnya, tapi inti dari pesan moril yang disampaikan dalam film maupun novelnya tersampaikan.walaupun emang ada hal2 penting yang disampaikan kang abik tidak ada dalm filimnya, contoh bagaiman kang abik menggambarkan perjlan fahri hingga dia mengambil keputusan menikahi aisha seperti shalt tahajud, jaga bagaimana fahri menjelaskan tentang ayat2 cinta kepada aisha ketika aisha bersedia membayar hakim asal fahri bisa bebas dari penjara,juga bagaiman syek usman menjelaskan kepada fahri bahwa seorang suami tidak harus kerdil di hadapn seorang istri yang lebih kaya, jaga bagamana fahri mejalani MP seprti fahri membaca salah stu doa di ubun2 kepala aisha lalu ketika itu azan berkumandang lalu kata fahri aisha cinta Allah sedang memangl kita. ada lagi dialog di film ketika aisha mengijinkan fahri menikahi maria tidak terlalu berbobot seperti di novel contohnya begini dialog antara fahri denan Aisha kalau tidak salah : Aisha: fahri nikahi Maria demi bayi dalam kandunagnku, Fahri: tapi poligami tidak semudah itu da banyak hal yang harus di pertimbangkan kamulah satu2nya kupilih denagn nama Allah, Aisha:kamu akan menyelamtkan banyak orang fahri, menyalamtkan aku dari status janda, menyelamtkan nyawa maria dan menyelatkan anaku, seorang ibu akan berbuat apapun pada anaknya, fahri; Aisha aku mencintai kalian semua tapi aku lebih mencintai Allah dan Rasulnya, budak hitam jauh lebig mulai daripada seorang wanita cantik yang bukan muslim, Aisha: ada diri muslimah dalam diri Maria, Fahri: Bagaimana kamu bsa seyakin itu Aisha, Aisha: bagaimana mungkin dia basa mecintaimu dengan begitu yakinnya dan dia bisa menerjamhkan kitab tentang islam untk Alice, Fahri:Tapi Aisha, Aisha: angaplah kita sedang berihtihajd, nanti kita kita akan mengayominya bersama2 dan serahkan semua pada Allah. tapi sayang hal2 sepenting ini tdak ada dalm film. buat komentarnya ing kalau anda tidak tau tntang poligami dalm agama saya angan anda kometari, karna dalam islam piigami itu di bolehkan tapi dengan syart2 yang haru di penuhi. AAC sukses secara dakwa karan menjaukau semua oranyang selama ini malas pergi ke tempat2 dakwa. berdakwa itu tidak harus di mesjid tapi di mna tempat saja bisa.akting para pemain ok bangat, AAC ada lh awal yang baik untuk saat di mana film2 indonesia di domonasi ole Film2 yang bertema Hantu dan seks. jadi sekali lagi seeeellllaaaammmmaaaaatttttttt.

  50. pamungkas | 27 March, 2008 06:40

    Assallamualaikum Wr Wb
    kalo menurutku sih film ini udah bagus, walau sedikit berbeda dengan yang di novel.tapi kan yang penting inti cerita dan hikmah yang disampaikan sama, antara lain:
    A.Dari segi cerita:
    1.Fahri dicintai 4 wanita
    2.Paman Nurul menyampaikan bahwa Nurul menyintai Fahri
    3.Fahri menikah dengan Aisha
    4.Nauro memfitnah Fahri
    5.Fahri bebas dengan bentuan Maria,yang terlebih dulu ia nikahi
    6.Maria meninggal dalam keadaan Islam
    B.Dari segi hikmah:
    1.Islam mengajarkan makna cinta yang begitu indah
    2.Allah SWT menuliskan takdir(jalan hidup) umatnya dengan baik dan sangat indah
    3.Sabar dan ikhlas kunci dalam menghadapi cobaan Allah SWT
    4.Bagaimana seorang non-muslim(Maria) bisa terkagum kagum pada Al-Qur’an,inilah yang harus bisa menjadikan dorongan kepada muslim lain untuk lebih mendalami makna yang terkandung dalam Al-Qur’an
    (menurut yang saya baca dari sebuah buku yang berjudul”Al-Qur’an dan Lautan”di dalam Al-Qur’an terdapat lebih 7000 ilmu)

  51. ILA | 27 March, 2008 14:17

    menurut saya film ini bagus2 aja walau ada yg blng bagusan di növel,Tp gak muñgkin juga bisa persìs2 bgt Kayak novel nya.
    bagi yg agama non muslim JANGAN NGIRI YA? apalagi jelek2 kin sutradara nya, mas Hanung kan udh ngeluarin bìaya bnyk trus udh berusaha krs. SUKSES BUAT MAS HANUNG DAN KANG ABIK.

  52. zekha | 27 March, 2008 16:12

    opzzzzz… maaf…maaf… neh,,,,, buat gwe ayat2 lop KEREEEEN banget, memang film and bukunya beda dikit2 tapi tetep keren, rianti matanya mirip amayang di buku, pokoknya cuma ada 1 kata KEREN!!!!

  53. Abah | 28 March, 2008 01:01

    menurut saya film t’sebut biasa2 saja ga ada yg istimewa, seperti film p’cintaan indonesia yg lain. juga para pemerannya ga pas sama apa yang diperankannya. tp walau begitu kita mesti berterima kasih kpd penonton yg masih mencintai produk indonesia. jaya terus per-film-an Indonesia

  54. Restu | 28 March, 2008 13:20

    dari pada membandingkan novel dan film, serta kesempurnaan ceriat keduanya, lebih baik kita ambil nilai nilai dakwah yang ada di dalamany. Mudah-mudahan bisa jadi bahan muhasabah (renungan) bagi diri sendiri dan bisa membuat umat manusia jadi lebih ISLAMI!!!!!
    wasalam

  55. HI Angsana 04 | 30 March, 2008 10:32

    wah, aneh bener nih film, sumpah, katanya membawa pesan-pesan islam, tp kok isinya agak sedikit gimana gt, dah gt musik ilustrasi nya yang pk biola itu sama persis ky musik ilustrasi dari film Schindler List yang bikinan Yahudi. Aneh…………………………………..

  56. masdar | 30 March, 2008 14:04

    Assalamu Alaikum Wr. Wb.
    Saya salut skali dengan pengarangnya yang tlah membawa kita semua untuk mengenal Islam lebih jauh, terlebih terhadap mas Hanung, tanpa mereka berdua kita semua tak akan berpikir tentang ISLAM…tak ada perdebatan sperti sekarang..yang penting pesan moral yang ditampilkan baik dalam novel maupun film yaitu “ISLAM ITU INDAH”…
    Terus berkarya…. Hidup Islam…

  57. aldebaran | 1 April, 2008 13:42

    mengenai tulisan:
    coba dengarkan ilustrasi musik film aac di menit : 17, 37, 56.
    ada agenda zionis dibalik film aac.ayat-ayat cinta pake ilustrasi musik spiritual yahudi. coba cek di film karya sutradara yahudi steven spielberg :schindler list (film yang dilarang diputar di Indonesia oleh pemerintah tahun 97-an karena berisi kampanye zionisme dan ditolak umat islam). Song theme schindler list sama persis dengan ilustrasi musik yang dipakai di ayat2 cinta(bukan yang lagunya rosa). coba search di youtube “schindler list music” atau
    di. http://www.youtube.com/watch?v=aX2qP3gP_Vs dan http://www.youtube.com/watch?v=ueWVV_GnRIA&feature=related musik itu digubahh komponis zion bernama itzhak Perlman yang diperuntukan untuk kampanye zionisme internasional . mengapa film islam menggunakan ilustrasi musik spiritual yahudi???

    tanggapan saya:
    benar, kalau kita perhatikan dengan seksama ada musik yahudi di film itu. saya udah cek di youtube. dan saya sudah nonton film schindler list dengan lengkap.film itu sangat jewish sekali. ada kesamaan dalam ilustrasi musiknya.kalau film aac sampai diketahui orang2 jewish ( yang nota bene sudah membunuh ratusan ribu muslim palestina), mereka pasti sangat bangga, betapa film islam yang ditonton oleh 3 juta (konon) orang menggunakan musik spiritual mereka.betapa mudahnya umat islam dikecoh dan dipecundangi oleh jewish

    kalo memang harus ada plagiat musik dalam film itu, kenapa yang dipilih lagu yahudi? kalo memang harus ada lagu yahudi di film itu kenapa harus dipilih lagu SPIRITUAL yahudi? kan banyak musik2 lainnya yang ngga provokatif yang bisa dibajak dan diplagiat. kalo memang harus ada ilustrasi film lain yang disisipi aac kenapa harus film schindler list? ?. pensisipan ilustrasi musik yahudi dalam aac saya yakin bukan unsur ketidaksengajaan. ada hidden massage, ada pesan tersembunyi, ada komunikasi konspiratif.film schindler list memang awam dikalangan masyarakat indonesia, karena film itu memang dilarang oleh MUI dan pemerintah indonesia. tapi dikalangan sineas? film itu bukan sesuatu yang asing.

  58. kezia | 1 April, 2008 21:06

    film sama novelnya patut diacungin jempol kok,,,gak ada yang salah sama ke duanya,,,walupun “sering lari dari batas”,,,hehehhehe,,,

    tapi,,intinya,,,kalo kita mw berpikir positif,,,ayat2 cinta memang buth appaluse yang banayk,,,satu langkah lagi utnuk ngubah pemikiran orang indonesia dalam memandang segala sesuatu,,,!!!

    bosen kan,,kalo di suguhin pelem2 cinta2 an,,yang malah bikin lemes badan,,atau pelem hantu,,yang notabene,,itu malah bikin kita jauh dari SANG PENCIPTA??

  59. Adhie | 1 April, 2008 22:24

    AAC bwtku tetep bgus,baik versi film maupun novelny.Walopun novelny mang lbh unggul,tp aq sngt mnghrgai krja krs hanung utk memfilmkan sbuah novel..Wajarlah kl msal setting filmny kurang dapat,fantasi imajinasi qt saat di novel tuh luas skali,qt bs mbayangkn panasny mesir,izzah dan “kesempurnaan” fahri,sholehah nya aishah,dari pikiran qt masing2 shingga stiap orang pnya fantasi yg brbeda.Ktika suatu imajinasi dipikiran qt direalisasikn oleh orang,psti tdk sama bhkan trkesan bnyak kekurangny..

    Tringat Kata kang abik saat talkshow kmrn,hrsny difilm itu tdk ada adegan maria syahadat,tp adegan maria msk islam digambarkan scra lbh halus,yaitu maria ingin belajar sholat&tayamum.Tp ada tmbhan adegan syahadat,jd trkesan saat syahadat ampe mnjelang mati maria tdk prnh sholat..

    Pkokny salut utk MD yg dah memproduksi film sprt itu.Drpada film hantu,sex remaja yg tujuan ny ga jelas,merusak moral dan trkesan hanya ingin ikut2an dunia barat utk merauk keuntungan..Inget dunk,qt nih di indonesia..

    Bwt produser perfilman indonesia,smg smkn maju dan smkn mampu memilah mana film yg pantas dan tdk utk qt warga indonesia

  60. treqasa | 2 April, 2008 12:42

    film aac bagus juga meskipun novelnya kental akan ekspresi narsisme dan egomaniacal dari penulisnya yang dikemas dalam eksibisme kesalehan dan kealiman. Menurut gua cerita di novel aac merupakan dakwah islami sekaligus keinginan bawah sadar dari penulisnya untuk dipuja-puja. digila-gilai , dipuja2kaum wanita. Sebuah obsesi yang tidak mencapai kenyataan, akhirnya diproyeksikan dalam bentuk novel. Mungkin penulisnya pengen banget jadi nabi Yusuf. Dipenjara, difitnah, jago ngaji,ganteng, sholeh, alim dan dikejar-kejar cewe-cewe. Mantaaap hehehe

  61. mbah gendeng | 10 May, 2008 19:32

    tapi kok beda y am versi novel?

  62. Azmini | 14 January, 2009 16:42

    Film ayat-ayat cinta bagus cukup. Mungkin kurang alami sahaja. Macam-macam film kami Malaysia jauh leboh alami dan sopan. Macam film-film Indon tidak sopan dan pelakon kurang meresapi makna dalam berlakon. Tak tega untuk berkata ‘palsu, tapi macam tu lah, macam Tun SBY/JK, palsu.

    Kapal ‘van der “wicked” Indon yang sedang tenggelam‘ kerana kepemimpinan ‘faked’ macam Tun SBY/JK kan? Tun SBY pura-pura mengutuk, padahal jelas boneka Amerika Syarikat dan Israel kan? Pilih Tun Tufatul S. ataupun Tun Amien Rais sahaja untuk undian pemilu 2009. Buatkan pulihkan reformasi, yang dibeloki Tun SBY/JK
    By Rohiyah Aziz, Malaysian Students Club MSC KL Malaysia
    rohiyahaziz@gmail.com
    Israel gempur Hamas di Gaza, mungkin nanti Amerika ataupun Israel nak serang Iran. Presiden Amerika Syarikat George W. Bush tahun lalu menolak permintaan Israel bagi bom-bom khusus penembus bunker kompleks nuklir Iran. Bush tolak permintaan rahasia tu dengan berkata dia telah perintahi aksi rahasia sabotase Iran kembangkan senjata nuklirnya.
    Bush sempat terkejut dengan permintaan Perdana Menteri Israel Ehud Olmert supaya Israel boleh terbangi wilayah Iraq untuk capai kompleks nuklir Natanz Iran. Bush tolak permintaan tu dan Israel urungkan rencana sekurangnya untuk sementara ini. Tetapi Bush dalam lepas jabatan telah serahkan sebuah rancangan rahasia kunci Amerika kepada Presiden terpilih Barack Obama. Mungkin Iran tetap nak dibom nanti.
    Soal serangan mengganas Israel atas Gazas ekarang ni, Amerika tak langsung turut terlibat kerana yalah Amerika yang menyalur senjata-senjata modern bagi Israel.
    Mantan perdana menteri kami, Tun Mahathir Mohammad, berkata bahawa yang buatkan kerajaan Israel nekad macam sekarang ini yalah Amerikat. ‘The main culprit is the United States’ Katanya rakyat Amerika tak boleh disalahkan kerana rakyat tu pun tak suka peperangan.
    Memang Amerika Syarikat yalah super power. Kekuatan senjatanya melebihi kekuatan senjata daripada berpuluh-puluh negara besar dunia pabila dipadukan.

    Tun Mahathir berkata bahawa bagaimanapun Amerika Syarikat hampir bangkrut, hutangnya $14 trilyun, dan boleh bertahan membuat senjata kerana perolehi pinjaman dari negara-negara muslim Arab. ‘Itu sebabnya Amerika boleh membuat senjata modern banyak-banyak’ termasuk untuk Israel.

    Macam mana peranan kita? Tun Mahathir berkata seumpama semua produsen minyak mahu dibayari hanyalah matawang euro ataupun matawang lain tetapi bukan USD, nescaya nilai USD nak tinggal setengahnya. ‘Pabila tu berlaku, Amerika tak nak dapat buat senjata modern banyak-banyak’ dan tak dapat lagi sokong Israel.

    Kami klub-klub mahasiswa Malaysia, yang sempat dibujuk dan dipandang mungkin macam keledai oleh seorang pejabat Indon di Malaysia dalam suatu kasus lain, tentu sependapat dengan Tuan Mahathir. Tun Mahathir pemimpin sejati dan berani yang pernah kami miliki sehingga sekarang ini. Dia betul-betul tiada takut kecuali pada Allah.

    Israel belum serang Iran tapi sekarang ini serang Gaza dan memangsa anak-anak dan penduduk awam muslim Gaza tak berdosa. Dalam serangan ganasan tu, tentera Israel menyebabkan lebih daripada 800 mangsa terbunuh dan lebih daripada 4000 cedera, majoriti penduduk awam dan anak-anak. Serangan roket-roket Hamas dibalas Israel tak sepadan. Israel gunakan senjata-senjata super modern termasuk ‘dime bombs’, bom-bom berisi beratus bom-bom picisan, yang serpihan-serpihannya pabila terkena badan tak terdeteksi sinar x. Israel pun gunakan ‘white phosphorous bombs’, bom-bom fosfor putih yang asapnya membakari kulit mangsa, membutakan mata dan merosak paru-paru, pelanggaran sebuah konvensi penggunaan senjata-senjata berkenaan. Israel telah melakukan kejahatan perang. Tetapi nak sulit diadili. Israel dan Amerika bukan anggota/penandatang konvensi berkenaan. Apa yang sebolehnya mesti kita lakukan?

    Kami perkumpulan mahasiswa Malaysia sekarang ni memboikot barangan macam minuman Cocacola dan restoran license Amerika macam McDonald dan yang lain mengenai Amerika. Kami makan dan minum hanyalah buatan sendiri ataupun buatan bukan Amerika. Rakan-rakan mahasiswa Indonesia dapat bersikap sama, tak sekadar unjukan teater yang kurang efektif.

    AGENDA DALAM NEGERI LEBIH OKELAH.
    Pabila macam kami lihat, agenda protes tempatan dalam negeri Indonesia pun banyak mestilah dilakukan. Macam pelbagai perkara terpenting kewajiban kenegaraan yang tak dilaksanakan kerajaan Indon dibawah Tun SBY/JK. Dibawah Tun SBY/JK, kami lihat Indonesia semakin teruk dan rosak: UU BHP yang membatasi hak-hak kunci anak-anak rakyat putra-putra bangsa Indonesia dalam perolehi universiti kerajaan yang murah, dan undang-undang tu dibiarkan dan belum dibatalkan pengadilan konstitusi MK. Suatu agenda sangat penting lain: harga-harga dipertahankan tinggi oleh Tun SBY/JK sejak harga-harga fuel dunia tinggi US$140 setong dan sekarang ini sudah turun tinggal $80 setong tapi harga-harga tu di Indonesia tak diturunkan sepadan. Tengoklah, di Indon, harga bensin, harga kerosene, harga barang kebutuhan pokok, ongkos angkutan umum masih tinggi sangat, tak sesusai dengan penghasilan rakyat Indon yang rednah sangat, yakni rata-rata kurang dari US$1 sehari. Di lain sisi, banyak orang sangat kaya-kaya di Jakarta dengan kereta-kereta pribadi mewah dan mahal, pertanda kerajaan Tun SBY/JK tidak membela rakyat. Kerajaan tak membela rakyat, pastilah negeri tu hancur. Hari lalu diakhbar harga fuel diumumkan diturunkan, tapi sedikit sangat, pertanda kerajaan Tun SBY/JK korup dan tak nak berhenti membodohi publik Indon. Penurunan sedikit sangat tu bermakna bahagian kampanye supaya dipilih lagi dalam undian 2009. Penurunan tu jelas kurang turun. Akhbar terbaru, menteri perdagangan Indon pun dengan rahasisa mengaku pemimpin kerajaannya tak profesionak dan samasekali tak perintahkan dia turunkan harga kebutuhan pokok.

    Rakan-rakan mahasiswa dan rakyat Indonesia semakin diperdayai: wang negara/rakyat hasil daripada bahagian hasil pertambangan emas, gas, timah dan lainnya daripada bumi Indonesia dimakan oleh siapa? Knapa tak bagi membangun kota dan membangun pabrik-pabrik negara? Knapa sebuah negara tak punya rencana-rencana baik bagi kelangsungan hidup sebagai sebuah negara? Tengoklah, satu angkutan umum terpenting ibukota pun tak ada. Satu ‘batang hidung’ MRT sahaja pun tak punya. Kuala Lumpur ada beberapa MRT. Tak tahukah keuntungan MRT? MRT jauh lebih murah daripada highway. Dia cepat, aman, nyaman. Untuk semua rakyat. Tak perlu membuatkan banyak highway yang hanyalah perkaya pemiliknya, tak perlu berpuluh-puluh juta mobil pribadi dan sepeda motor yang membuangi banyak asap CO ke udara kota, pun tak ada kelangkaan fuel, lagipun paru-paru/jantung sehat tak hirupkan CO. Tengoklah, udara KL bersih sangat-sangat. Macam mana Jakarta? Udara teruk dan kotor sangat bernafas dalam CO. Nimatkah? Tak malukah kerajaan Indon dan gubernur Jakarta, dengan kerajaan kami Malaysia yang merdeka lebih belakang dibandingkan Indon? Nampak Tun SBY tak berani perintahi gubernur Jakarta buatkan MRT kan? Tun SBY nyata jauh kualiti dibandingkan macam almarhum Datok Suharto. Suharto cinta rakyat dan pembangunan. Datok tu Bapak Pembangunan dan Bapak Nelayan/Petani. Tak malukan Jakarta hanyalah ada busway, kebijakan pintas dan salah sarat Kei-Kei-En. Bodoh sekali. Jalan menjadi bersempitan ‘dilahap’ jalan busway. Lagipun busway tak nak atasi kemacetan kan?

    Turutkan macam KL, seronok, kerana kunci tu ada: Pemimpin/pejabat kerajaan kami Malaysia tidak korupsi gila macam Indon. Korupsi tapi ada. Sikit-sikit. Pemimpin/pejabat Indon bukan membrantas korupsi tapi ‘menyatupadu dalam mafia lama turut korupsi kekayaan negara’. Pejabat-pejabat bawahan ikut korupsi sama atasan. Cara korupsi licik: buatkan isu seumpama nak bangun sebuah project. Pertama, diakhbarkan di televisyen bahawa mereka nak membangun project. Parlimen setujui kerana Ke-Ke-En, dan jadilah sebuah peluang korupsi berjamaah menggila. Ketika membangun project, tiada pengawasan ketat, kualiti buruk dan hasil pembangunan rosak tak bertahan lama. Macam tu lah kisah kerajaan manusia Indon di bawah Tun SBY, doktor hanyalah tahu sikit ilmu pertanian, kalah dengan almarhum Datok Suharto.

    Tun SBY/JK seakan brantas korupsi. Tapi sekadar konsumsi media. Tun SBY tak tahu membangun bangsa, tak tahu mmenejemen negara yang baik, departemen informasi Indon tak berfungsi membelajari nelayan/petani. Tun SBY mengaku bekerja 24 jam tapi hanya banyak cakap macam-macam 24 jam. Sementara Tun JK hari-hari bercanda tidak ada serius. Tun SBY/JK semakin sengsarakan rakyat. Bencana Indon dimana-mana. Tun SBY/JK tak mundur, malahan nekad minta dipilih lagi dalam undian 2009. Tun JK berkata: ‘Tak ada yang berharap padi itu hijau, padi pastilah kuning. Tapi kuning tak bermakna tanpa langit yang biru.’ Pertanda teruk Golkar/PD ingin lagi. Macam mana tak ada malukah?

    Macam kepemimpinan tu, koruptor-koruptor tertawa girang ‘nyaman’ Indon dipimpin Tun SBY/JK yang lemah dan hobi pura-pura. Koruptor-koruptor tetap berkorupsi bersama-sama, ‘berjamaah’, dengan pelbagai project ini itu. Tiada jera. Hukuman mati bagi koruptor besar tak ada. Tak ada pembuktian terbalik. Pabila pun nanti ada, semuanya boleh diatur, mentaliti berlarutan manusia pejabat Indon. Jangan berharap Indon dapat kejar kami Malaysia. Ketika majoriti ibukota di dunia ini ada MRT bahkan train-train elektrik bahkan dengan subway-subway kuat dan modern dimana-mana seluruh kota-kota, Indonesia MRT pun tak. Hanya punya busway. Macam Thai, Singapore sudah lama punya MRT. Jaringan train elektrik, ‘KRL’, bagus, ceoat, aman, nyaman, handalah. Macam kami Malaysia, udara sangat bersih. Paru-paru dan jantung kami aman. Macam mana Indon? Tak malukah? Kami Malaysia bersih, tertib, sopan, rakyat disejahtera, yalah kunci efektif sebuah kerajaan boleh pertahankan kekuasaan karena orang-orang kerajaan amanah bukan palsu macam Indon. Manusia pejabat/pemimpin Indon hanyalah suka pakai ‘kesejahteraan palsu’ macam BLT/PNPM, padahal cara licik ‘udang di balik batu’ supaya kembali dipilih 2009.

    Kerana mentaliti orang-orang kerajaan berpola pikir ‘feodal’ bukan ‘sepenuhnya mengabdi rakyat dan melayani ikhlas rakyat’ maka rosak, tak ada pemikiran manfaat membangun untuk rakyatnya. Macam pemimpin/pejabat kerajaan kami Malaysia selalu mengabdi kepada rakyat Malaysia, membuatkan fasiliti-fasiliti dan infrastruktur-infrastruktur semua berkerakyatan bagi rakyat bukan untuk sekelompok strata sosial tertentu. Adanya MRT berpemikiran untuk rakyat bukan mobil-mobil pribadi yang akhirnya justeru memaceti jalan dan highway dan memborosi fuel. Kerajaan Malaysia berpola pemikiran taat pada konstitusi, yang mirip UUD 45, menganut sistem kesejahteraan dan sosial sejati, bermakna pula bahawa pendidikan universiti kerajaan yang murah bagi semuanya tanpa kecuali. Kostitusi kami pun diadopsi dari sistem Eropa, menganut sistem kesejahteraan sosial bagi semua strata, semua rakyat. Kerajaan kami Malaysia melaksanakan amalan kerajaan selalu dalam satu kunci: ingat amanah rakyat. Bukan palsu dan pura-pura macam kerajaan Indon. Pemimpin/pejabat Malaysia tak peralat ugama dan Allah untuk memenangi kekuasaan. Pemimpin kami selalu ikhlas, sepenuhnya untuk rakyat Malaysia, semata-mata untuk bangsa Malaysia. Pendidikan kami Malaysia jauh lebih maju sekarang ni, walaupun dahulu kami kalah dengan Indon. Indon kini rosak hancur. Semua terletak pada satu: Kemimpinan nasional. Pabila buruk dan apalatgi langsung atau tak langsungu tunduk pada Asing, maka rusak/hancurlah. Pabila cinta rakyat dengan mengamalkan pelbagai pembangunan bagi rakyat, dan tidak memperalat ugama/Allah, maka baiklah negeri tu.

    BUSH, OLMERT PUN KERJA UNTUK RAKYATNYA.
    Indon dapat berubah pabila ada presiden hebat berpengetahuan membangun sendi-sendi ekonomi kenegaraan, kerana cinta rakyatnya, bermakna berani lepas dari mentaliti feodal yang tertanam lama dalam mafia penguasa, Indonesia dapat berubah dan nak maju. Manusia pemimpin Indon harus mampu menundukkan nafsu serakah dan ego ingin nampak hebat sendiri-sendiri, ciri buruk feodialis, dan berani menyerahkan kekuasaan berdasari ‘merit system,’ menyerahkan kepada tokoht-koh yang memang mampu dan berpngetahuan/’berwawasan’ kenegaraan yang baik dan berkualiti. Tengoklah, jangan salah, macam Bush dan Olmert pun dan pemimpin-pemimpin dunia kalibernya, berperang semata-mata karena ‘cinta rakyatnya’, ‘tunduk dan mengabdi pada rakyatnya’, untuk ‘kesejahteraan rakyatnya.’ Mereka takut rakyatnya. Macam mana orang-orang kerajaan Indon? Takutkah pada rakyatnya?

    INDON PERLU TUN TIFATUL ATAUPUN TUN AMIEN.
    Indon pun dapat berubah dan nak maju kalau pemimpinnya punya tujuan terpenting satu tu: untuk rakyatnya. Tapi orang-orang kerajaan Indon sadis. Majoriti rakyatnya dimiskinkan sangat-sangat. Hanyalah diberi BLT/PNPM yang bermakna ‘ada udang di balik baru’ sahaja. Dan tengoklah, tak mungkin rakyat Indon terpaksa datang bekerja di Malaysia pabila tidak dimiskinkan kerajaan Indon di negeri sendiri.

    Jadi menurut kami kami budak-budak mahasiswa Malaysia yang insyaAllah berpengetahuan politik Indon sikit-sikit, bolehlah menilai Indonesia 2009 mestilah mula mempunyai presiden betul-betul berbeza. Bolehlah macam Tun Tifatul Sembiring dari PKS bukan yang lain dari PKS. Atau bolehlah macam Tun Amien Rais dari PAN bukan tokoh lain dari PAN. Pabila macam tu dipilih tanpa dihalangi jaringan penguasa sekarang maka bolehlah Indonesia baharu mula bangkit dan nak maju. Tun Amien ‘malu-malu’, tapi pabila seluruh kumpulan mahasiswa se-Indon menobatkan beliau calon presiden, dan disetujui jeneral-jeneral TNI/Kepolisian, dan parlimen, maka Tun Amien pun mahu. Ini penting sangat.

    Kerana kami tengok macam Tun SBY/JK masih tak mampu. Pabila sekadar menjadi presiden/wakil presiden sahaja, rakyat dan negara tu hancur. Tun SBY/JK masih pola fikir mentaliti lama. Dia besar di institusi tentera negara berkembang dan Indon, suka pidato sekadar pidato. Almarhum Tun Suharto pun macam tu, tapi Datok membangun Indon nyata dan besar, walaupun dari hutang luar negeri. Mana lebih bagus: hutang tetapi membangun masif dan diawasi ketat terguided, untuk rakyat, atau gengsi berhutang macam Tun SBY tapi sengsarakan majoriti rakyat.

    PRESTASI GUS DUR, SUHARTO PUN HEBAT.
    Datok Suharto hebat. Tun SBY/JK tak bakal tinggali kesan baik berhistoris positif bagi rakyat kerana majoriti rakyat Indon di desa-desa seluruh Indonesia dimiskinkan: Pertanian/kenelayanan rosak, korot, tak terbtib, mereka sekadar sambung hidup dan lingkungan rusak, kerana bekas oil dibuang dalam laut, departemen informasi tak memberi penerangan melesari lingkungan alam apalagi memberi penerangan bernelayan/berpetani berhasil tak samasekali. hancur alam darat, udara dan laut kepulaun Indon. Tiada prestasi positif macam apapun Tun SBY/JK. Perkara hak azasi macam kebebasan berpendapat dan berkumpul dan sebagainya itupun bukan prestasi Tun SBY/JK tapi prestasi daripada Tun Gus Dur.

    **Pelbagai bencana silih berganti dibawah kerajaan Tun SBY/JK, kerana kedua-duanya dipilih berdasari ‘rekayasa pemenangan’ pemilu 2004, maka tidak amanah. Lagipun kedua-duanya banyak pura-pura, palsu, dan tak berpengetahuan membangun bangsa/negara. Datok Suharto mungkin kurang berpengetahuan tetapi Datok pandai mengelola orang dengan bahkan tangan besi, membuat semuanya takut, tunduk dan bekerja. Pabila tidak, nak ‘digebuk’. Itu kunci cara memimpin anak buah manapun.

    Banyak orang Indon di Malaysia pun berkata, Tun SBY/JK tak jelas dan tidak berisi serta tak dilaksanakan pidato. Pidato bagi pemimpin yalah sebuah kebijakan yang mesti dilaksanakan. Tun SBY berkata: ‘Dalam kompetisi pemilu harus cegah tindakan halalkan segala cara. Pemerintah sedang cuba atasi krisis keuangan dan nak lanjutkan pembangunan. Mari jaga ketentraman dan keamanan masyarakat.’ Tapi banyak orang menyedari bahawa bom dahsyat meledak di depan Kedutaan Besar Australia di Jakarta justeru mendekati pemilu 2004. Waktu itu presidennya Puan Megawati, orang sipil bukan Tuan SBY, eks militer. Seputar itu pejuang HAM Munir terbunuh diracun. Seorang pengamat dan peneliti di universiti Singapore dimuat sebuah surat kabar Singapore berkata: ‘Bom itu bermakna komuniti internasional tidak boleh sokong presiden Megawati menjadi presiden dan untuk kesani Indonesia tak aman dibawah [prediden] Megawati.’

    Itu justeru menarik dan memberi makna tersendiri dalam kaitannya keadaan sekarang ini. Dalam masa kerajaan Tun SBY/JK sehingga sekarang ini tiada satupun bom meledak apalagi dahsyat macam di depan kedutaan besar Australia masa itu. Yang ada hanyalah temuan-temuan granat ataupun dugaan bom ataupun telefon ancaman bom yang tak terbukti meledak.

    Melihat permainan teruk macam ni, tiadalah nak maju apapun Indon. Terkecuali muncul seorang pemimpin yang berwibawa, berani dan betul-betul berbeza. Orang sekarang ini menunggu macam Sukarno baharu ataupun Suharto baharu. Isu kuat bahawa Tun Prabowo ataupun Tun Wiranto nak jadi presiden 2009 sulit, macam mana caranya. Sekarang tinggal beberapa bulan dan belum ada pertanda kuat diantara kedua-duanya disuka pemilih. Tapi pabila memang, mampukah Tun Prabowo ataupun Tun Wiranto tetap menjaga HAM setiap penduduk Indonesia, dan bahkan membuatkan HAM terpenting yakni mensejahterakan dan pendidikan universiti kerajaan murah bagis seluruh putra rakyat dan berkualiti? Harus ada kepemimpinan yang berani dan berpengetahuan membangun basis ekonomi BUMN-BUMN yang non-korupsi bagi tercapainya kesejahteraakan seluruh rakyat, bukan dengan cara wang BLT/PNPM yang akan lenyap seketika. Tun Prabowo lebih cerdas dan berani, lebih berpengetahuan kenegaraan dan kebangsaan, selain kerana pun terlahir dari kalangan cendekia; (Tun Prabowo putra Professor ekonomi tersohor alm. Datok Sumitro Djojohadikusumo). Tetapi tidak serasi dengan Tun Wiranto, yang berpeluang pula; konon di balik dana ‘tak terbatas’ parti Hanura yalah keluarga presiden Suharto. Kedua-duanya ada peluang besar selamatkan Indon dari semakin mundur dan hanya setingkat Kamboja ataupun Filipina. Tengoklah matawang rupiah sekarang ini sejak jatuhnya Suharto sudah tidak bermakna samasekali. Indon boleh pulih nyata pabila rupiah boleh kembali beli 1 USD = Rp2500.

    Harus ada banyak yang berani mengalah dan memasang kepemimpinan nasional hanya ‘yang paling berani, tegas, amanah dan berpengetahuan’ membangun cerdas, cepat dan baik negara/bangsa. Hanya dengan tu, rakyat Indon nak diprihatini, diperhatikan, di dalam pendidikan universiti kerajaan yang murah dan berkualiti dimana kerajaan kembali mensubsidi, macam masa Sukarno/Suharto. Semua anak-anak rakyat boleh belajar universiti kerajaan dengan mudah dan murah. Negara nak muncul banyak putra-putra rakyat yang hebat, GERAKAN INDONESIA RAYA terkabuli. Stop pembelian tanah rakyat, perluas dan buatkan pertanian, maju dimana-mana. Indonesia nak swasembada, boleh ekspor barangan banyak-banyak, pabrik-pabrik banyak milik negara bagi industri barangan dan terus mesinan, itulah awal negara-negara industri dunia membangun bangsa yang Indon boleh tiru.

    Tapi tengoklah di Jakarta tak satu batang hidung MRT ada. (Indon merdeka lebih awal). 10 tahun reformasi pun berlalu, Indon kami tengok rakyatnya semaskin disengsarai. Dibawah Tun SBY, bencana banjir tanah longsor di mana-mana, kerana tak pandai hentikan illegal logging. Hubungan udara dan laut yang sangat penting bermenterikan macam pelawak. Pesawat terbang berjatuhan, kapal laut berkaraman kerana melanggar aturan tak ada pengawasan efektif. Begitu kena angin, kapal laut tu pasti karam, memangsa beribu-ribu penduduk tak berdosa selama hampir 5 tahun kerajaan Tun SBY/JK. Pun tiada hukuman/sanksi berat bagi pemilik kapal dan nahkoda.

    Tetapi Tun Tifatul Sembiring dan Tun Amien Rais pun sangat baik untuk presiden Indonesia 2009. Tun Amien telah membuktikan penggerak efektif reformasi yang sekarang ini gagal. Tun Tifatul yalah tokoh berani, baru-baru ni berani protes ke depan kedutaan besar Amerika di Jakarta, sedangkan Tun SBY/JK tak dan sekadar mengutuk. PKS parti ‘Islami sejati’, PAN ‘nasionalis sejati.’ Rakan-rakan mahasiswa Indonesia, ingat beritahukan semua anggota keluarga, semua kerabat, semua sahabat supaya jangan pilih Tun SBY/JK lagi, dan jangan pilih parti Golkar/Demokrat lagi. Pilih sahaja PAN/PKS. Senario semakin rumit kerana KPU dan Panwasundi dipasangi orang-orang tidak jelas, orang-orang penguasa, sedangkan cara undi pemilu dipersulit dengan contrengan, tak lagi coblosan, yang sederhana dan mudah. Ini jelas rekayasa supaya Golkar/PD kembali menang. Menurut kami sebetulnya PKB semula dibawah Tun Gus Dur bolehlah sebagai pilihan alternatif terbaik rakan-rakan, tetapi PKB sekarang ini digenggam Golkar/PD melalui tokoh ‘brutus’ Muhaimin. Maka penyokong PKB bolehlah golput sahaja ataupun pilih seumpama PKS ataupun PAN.

    Rakan-rakan, kami di Malaysia pilih Barisan Nasional (BN) dan Pak Lah (Tun Abdullah Badawi), karena BN (macam UMNO Tun Mahathir dahulu) sekarang telah pun dan tetap buatkan rakyat Malaysia disejahterai dan putra-putra Malaysia perolehi studi universiti-universiti kerajaan murah dan berkualiti. Seronok kerana kerajaan Malaysia amanah dan selalu mensubsidi penuh universiti-universiti kerajaan. Sedangkan Tun Anwar Ibrahim bagaimanapun merupakan tokoh berani. Itu sebabnya pula sebagian daripada kami pun nak pilih Tun Anwar dan PAS. Kembali perkara Indon pabila mahu berubah bersatulah orang-orang hebat Indon dan berikan peluang sebagai presiden/wakil presiden siapun yang memang hebat untuk sebuah tujuan terpenting: Membangun Indonesia yang sekarang ini sudah jauh sangat tertinggal dan hanyalah setingkat Kamboja dan Filipina. Tenggelamnya ‘kapal van der “wicked” katulistiwa Indon’, kerana kepemimpinan Tun SBY/JK yang tak becus, tak peras otak, dan sekadar ingin menjabat untuk tumpuk kekayaan, serakahi, dan buatkan posisi-posisi putra-putra sendiri dengan silaf. (Sebarang pandangan lain, bolehlah dimajukan di email saya: rohiyahaziz@gmail.com).

  63. 666 | 28 February, 2009 08:55

    ketawa yukz

  64. melao kamisama | 15 March, 2009 21:10

    setuju kalo dibilang novelnya tidak enak di baca..

    filmnya pun.. ya kalo di bilang bagus jelas nggak.. jelek.. juga nggak.. standar sebenernya..
    cuma dengan promosi yang luar biasa..embel -embel “religi dan cinta”
    weew.. komposisi yang sempurna untuk masyarakat indonesia..

    tapi kata kuncinya “cinta” saya tak yakin, tanpa ada embel2 ini, film maupun novelnya bakal laku..

    “kun faayakun” sudah membuktikan.. gagal total..juga film bergenre “religi” yang lain..

    tapi ramalan saya,film “ketika CINTA bertasbih” akan booming
    dan masyarakat..
    lagi lagi di bodohi “CINTA”

  65. niea | 25 April, 2009 10:21

    Menurut saya film ma novelnya bagus banget krn disitu kita dapat mengambil hikmah untuk bekal saya tentang ajaran agama islam

  66. Suryadi | 16 August, 2009 11:00

    gw Suryadi d Palembang,,,,,Menurut saya film dan novelnya bener-bener buat kt berkhayal ke dalam seluk beluk cerita nya ,,terlepas dari pendapat org laen tentang ilustrasi dan backround musiknya,,setiap orang boleh berpendapat,,,tetapi novel ini bener-bener membuat saya tahu betul tentang cinta yang sesungguhnya,lewat kaca mata islam cinta diturunkan begitu indahnya dan yang lebih pentingya setelah saya baca novel Ayat-ayat Cinta Ini saya langsung menangis karena ceritanya yang begitu mengiris hati dan saya ingin memberikan apresiasi kepada kang Abib yang telah menciptakan novel yang begitu indahnya.

  67. hosting murah indonesia | 23 May, 2010 11:51

    kunjungan sobat, infonya bagus :D643

    makasi informasi nya..

  68. andi tenrie | 8 October, 2011 20:02

    Bagusan film Dennis(?) yang anak Papua yang ingin sekolah dan betapa indahnya alam Papua sana. Saya terharu dalam film ini karena teman Dennis ingin melanjutkan pendidikannya, karena hasrat besarnya dia berlari pulang kerumahnya yang berjarak tigahari-tiga malam untuk mengambil surat bukti bahwa ia pernah sekolah yang ternyata hanya sepotong kertas lusuh bekas coretan-coretan yang pernah dia pelajari tulis menulis, bukan ijazah atau raport…..

  69. syahrini | 18 July, 2012 07:15

    walau terlambat komentar, tetap saja ayat-ayat cinta bikin saya nangis sesenggukan

  70. martha | 15 March, 2014 17:11

    nggak tahu knp, gue ga suka ama ayat2 cinta (filmnya). kalau novelnya lumayan walau tidak memberi kekayaan imajinasi.

    saya mah tetap lebih (jauh) suka film berbagi suami. perfect!

Silakan berkomentar, kawan!