Enak di Blog dan Perlu

 Mardiyah Chamim 

Salam,
Banyak kawan menanyakan di mana mendapatkan Koran Tempo, edisi 12 Mei 2008, yang memuat edisi khusus 10 Tahun Reformasi. Sayang, berhubung umur koran cuma sehari, di lapak-lapak sudah tak tersedia lagi edisi tersebut. Berikut ini saya upload tulisan utama pada edisi tersebut.

terimakasih.

SISI-SISI GELAP PRAHARA MEI

Siang itu lusinan payung hitam terbentang di halaman depan Gedung Kejaksaan Agung, Jakarta. Payung duka yang menandai teriakan ribuan korban kerusuhan Mei 1998. Ruminah, 49 tahun, berkata dalam aksi diam Kamisan yang telah digelar 64 kali itu. “Ini cara kami berseru: jangan diam…!”

Jangan diam untuk apa? “Untuk semua kejahatan pelanggaran hak asasi manusia,” kata Ruminah di tengah aksi Kamisan, tiga pekan lalu. Bajunya yang serba hitam menegaskan sebuah drama. “Sudah habis air mata saya,” kata Ruminah, yang tinggal di Klender, Jakarta Timur.

Gunawan Subianto adalah nama anak ketiganya. Umur sang putra baru 13 tahun saat Jakarta dibakar angkara, 13 Mei 1998. Gunawan hilang entah ke mana. “Saya hanya menemukan bajunya di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo,” kata Ruminah, “tak ada raganya.”

Sepuluh tahun telah berlalu sejak Ruminah menemukan baju Gunawan. Sejuta pertanyaan masih menyesaki dadanya. Ke mana dia harus mencari jasad anaknya? Siapa yang harus dia mintai pertanggungjawaban? “Itu permainan orang gedean. Saya nggak ngerti,” kata ibu lima anak ini.

Teriakan Ruminah adalah teriakan bangsa ini. Telah satu dasawarsa tragedi kerusuhan, 13-15 Mei 1998, berlalu. Namun, apa yang terjadi di hari-hari gelap itu masih tak terungkap. Berkas penyelidikan perkara kerusuhan pun cuma dilempar bolak-balik oleh Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) dan Kejaksaan Agung (lihat: “Penantian Panjang Keluarga Korban”).

Dinding tebal misteri kerusuhan Mei belum goyah. Fakta-fakta yang dikumpulkan Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF), kemudian ditelusuri lagi oleh Komnas HAM, tenggelam tanpa daya di tengah riuh-rendah pertarungan politik.

Tragedi Mei bukanlah peristiwa tunggal. Krisis ekonomi, ketimpangan sosial yang makin kentara, telah membuat kekecewaan rakyat menggumpal pekat. Seusai Sidang Umum Majelis Permusyawaratan Rakyat, Maret 1998, ribuan mahasiswa turun ke jalan. Seperti gelombang, demonstrasi mahasiswa susul-menyusul tak kunjung putus (lihat: “Perjalanan Menuju Derita”).

Pada 9 Mei 1998, di tengah hiruk-pikuk demonstrasi, muncul informasi mengejutkan. “Ada yang bilang akan ada martir dari kalangan mahasiswa. Kami harus hati-hati,” kata Sukma Widyanti, 33 tahun, aktivis Keluarga Besar Universitas Indonesia ketika itu. Jaringan aktivis mahasiswa memutuskan menggelar minggu tenang. “Tak boleh ada demonstrasi minggu itu,” kata Sukma.

Tanpa diduga, mahasiswa Universitas Trisakti bergerak mengabaikan seruan duduk manis di rumah. Nahas. Pada 12 Mei itulah, Elang Mulya Lesmana, Hendrawan Sie, Heri Hertanto, dan Hafidin Roiyan gugur diterjang peluru tajam. Martir telah jatuh.

Laksana api disiram bensin, kerusuhan berkobar cepat. Laknat melanda. Jakarta berubah menjadi belantara barbar. Laporan TGPF menunjukkan ada 1.190 orang mati terpanggang, 27 orang meninggal karena senjata tajam, 52 korban pemerkosaan, dan 850 bangunan terbakar.

Sayang, deretan angka itu tak sanggup menggerakkan penguasa untuk menuntaskan penyelidikan. Sampai hari ini tak ada seorang pun yang diperiksa, apalagi dimintai pertanggungjawaban di pengadilan.

Koran Tempo berusaha menyingkap tabir tebal itu. Sebuah ikhtiar, yang harus diakui, tidak gampang. Sepuluh tahun tidak membuat saksi-saksi kunci bersedia membuka mulut, terutama karena tak ada jaminan perlindungan saksi. Seorang pensiunan tentara membatalkan janji wawancara. “Bos saya masih ada di posisi penting. Tak mungkin saya bisa aman kalau bicara,” katanya.

Di tengah kebuntuan dan ketakutan bersaksi, reporter kami membuka beberapa penggal jalan. Maria Hasugian menelusuri Pulau Untung Jawa, Kepulauan Seribu, tempat tiga jenazah yang diduga adalah Bimo Petrus, Wiji Thukul, dan Dedi Hamdun dibuang. Penculikan, penghilangan, dan pembunuhan aktivis adalah satu dari serangkaian peristiwa yang diyakini turut mematangkan proses menuju goro-goro kerusuhan 1998.

Dari kamar mayat RSCM, Istiqomatul Hayati mewawancarai Dr Djaja Surya Atmadja, ahli forensik, yang bersiaga penuh sejak 10 Mei 1998. Tim Djaja (14 dokter forensik dan puluhan mahasiswa praktek) bekerja keras mengidentifikasi 500-an jasad yang masuk ke RSCM dalam kondisi gosong. Tak sedikit jasad yang tangannya masih mendekap lembaran uang atau belasan baju lengkap dengan gantungannya (lihat: “Kisah dari Bilik Kematian”).

Kami juga menelusuri jejak kasus pemerkosaan massal. Inilah titik penting yang banyak diragukan kebenarannya lantaran tak satu pun korban mau bersaksi. Kepercayaan publik bahkan luntur ketika beredar kisah gadis bernama samaran Vivian di situs VOICE (Victimization of Indonesian Chinese Ethnicity), situs yang dibuat komunitas Cina internasional untuk mempersoalkan kerusuhan Mei. Vivian diperkosa lima pria di Apartemen Mitra Bahari di Jakarta Utara. Mereka konon berteriak “Allahu Akbar” saban kali hendak memerkosa Vivian.

Kontan cerita Vivian mengguncang jagat. Para jurnalis belingsatan memburu kebenaran berita ini. Nihil. Vivian hanya sosok fiktif. Harian Asia Wall Street Journal membongkar bahwa foto yang dipajang VOICE adalah manipulasi gambar pemerkosaan di tempat lain. Pengelola Mitra Bahari juga membantah tudingan terjadi pemerkosaan di gedung mereka pada hari-hari itu (majalah Tempo, 12 Oktober 1998).

Kisruh jumlah korban pun menjadi poin krusial penyulut keraguan. Data Tim Relawan untuk Kemanusiaan dan TGPF terus-menerus berubah. Awalnya disebut ada 168, kemudian 92, 85, dan akhirnya angka resmi yang dirilis TGPF adalah 52 korban pemerkosaan. “Bukan karena salah hitung, tapi lebih karena perbedaan definisi,” kata Romo Sandyawan Sumardi, Sekretaris Tim Relawan.

Sandyawan menjelaskan, hukum di negeri ini hanya mendefinisikan pemerkosaan sebagai penetrasi alat kelamin secara paksa. Padahal, “Banyak kasus tidak seperti itu,” kata Sandyawan. “Ada korban yang puting payudaranya dipotong sampai mengalami perdarahan hebat.”

Keraguan akan adanya pemerkosaan menghebat ketika kepolisian menuntut bukti dan saksi. Letjen Roesmanhadi, Kepala Kepolisian RI saat itu, berkata, “Selama tidak ada bukti, tidak ada pemerkosaan.” Dia mengancam menyeret para aktivis ke pengadilan jika terus menggembar-gemborkan soal ini.

Tapi apakah kesaksian korban adalah mutlak? “Tidak,” kata Sandyawan, “itu membangkitkan trauma. Sama halnya kita memerkosa mereka lagi dan lagi.”

Dr Wimpie Pangkahila, ginekolog Universitas Udayana, Denpasar, berpendapat senada. Kepada Komnas HAM, Wimpie bersaksi telah mendampingi keluarga yang putrinya menjadi korban perkosaan. Wimpie menyerukan agar kasus pemerkosaan massal ditangani dengan melibatkan profesional. “Sikap yang apriori dan hanya menuntut adanya bukti korban, bila perlu yang masih meraung-raung, bukanlah sikap yang benar,” kata Wimpie. “Ini hanya akan menghambat pengungkapan.”

Seorang ginekolog akhirnya bersedia bertutur kepada Koran Tempo. Tiga korban pemerkosaan dia tangani. “Ada satu korban yang sampai hamil, tapi kemudian janinnya gugur,” katanya. Dokter yang pada waktu itu bertugas di RS Medika Griya, Sunter, ini tak mau disebutkan identitasnya. Berulang kali dia menerima ancaman, baik berupa pesan pendek maupun telepon. “Penelepon gelap itu mau membunuh saya kalau cerita rinci terungkap ke media,” katanya.

Tim kami juga bergerak menelusuri keganjilan dalam pembakaran dan penjarahan mal. Lagi-lagi tembok tebal menghadang. Berminggu-minggu tim Koran Tempo menghubungi berbagai kelompok pemuda dan preman. Kami berupaya menemukan orang-orang sangar yang, menurut laporan TGPF, telah “digunakan” untuk memprovokasi massa. Pencarian tak kunjung menemukan hasil.

Para provokator digambarkan berambut cepak, berbadan tegap, bertato, dan gahar. Mereka inilah yang aktif memanasi massa. Mereka berteriak, “Ayo, tidak dijaga. Ini hak kalian, ambil, jangan takut.” Provokasi begitu efektif hingga massa masuk ke mal dan mengambil apa saja. Tiba-tiba, entah bagaimana, api berkobar dan orang-orang pun terpanggang hidup-hidup. “Saya menyaksikan sendiri ada dua truk berisi orang-orang tak dikenal memprovokasi massa di Pasar Minggu,” kata Sayed Junaidi Rizaldi, 33 tahun, kala itu mahasiswa Universitas Pembangunan Nasional.

Ke mana gerangan perginya para provokator itu? Entahlah. “Mereka bergerak cepat. Hilang begitu massa terpancing masuk mal,” kata Sayed. Ratusan provokator itu seperti lenyap ditelan bumi. Dan sampai hari ini tak ada selembar pun berkas perkara pemeriksaan dilakukan. Yang diamankan polisi hanyalah remaja ingusan yang ikut-ikutan menjarah barang remeh.

Tiga hari setelah kerusuhan, Sandyawan berkata bahwa dia bersama beberapa aktivis mendatangi Kepolisian Daerah Metropolitan Jakarta Raya. Ada 180-an tahanan berdesakan di Polda Metro Jaya. “Pak Hamami (Mayor Jenderal Hamami Nata, Kepala Polda waktu itu) mengatakan, ‘ini kiriman dari kodim di seluruh Jakarta. Tapi kami bingung mau diapain? Lha mereka cuma ambil Coca-Cola atau sepatu yang kiri semua.’”

Hamami (meninggal pada 2003) meminta Sandyawan memilih 90-an remaja ingusan untuk dibebaskan. “Harus ada yang tetap ditahan supaya nggak ada masalah,” kata Hamami, seperti ditirukan Sandyawan. Bermasalah dengan siapa? Entahlah. Tak ada penjelasan dari Hamami.

Misteri, ketakutan bersaksi, keengganan pihak berwenang untuk menyelidiki, melengkapi kegelapan peristiwa Mei. Yang tampak jelas hanyalah pola kerusuhan yang nyaris sama. Provokasi, penjarahan, pembakaran mal di berbagai tempat begitu serupa. Amuk massa di Jatinegara Plaza, Slipi Plaza, Yogya Plaza, Supermal Karawaci, dan puluhan lokasi lainnya semua berpola sama. “Tak mungkin cuma kebetulan,” kata Stanley Adi Prasetya, anggota Komnas HAM.

Hasil penelitian Komnas HAM, menurut Stanley, menguatkan kecurigaan ada skenario besar yang memandu seluruh kerusuhan. “Ada pihak yang ingin menggiring situasi hingga gawat dan terjadi peralihan kekuasaan,” kata Stanley.

Siapa itu? Kecurigaan banyak mengarah pada keterlibatan militer. Nama yang paling kerap disebut adalah Letnan Jenderal (Purnawirawan) Prabowo Subianto, yang pada saat itu menjadi Komandan Pasukan Khusus.

Kepada majalah Tempo, edisi 25 Mei 2003, Prabowo mencurigai adanya konspirasi di balik kerusuhan Mei. “Saya dapat laporan kerusuhan itu kok agak terorganisasi,” kata Prabowo. “Saya dengar ada kelompok yang keliling dari toko ke toko. Ada yang menyiapkan bahan bakar dan sebagainya.”

Namun, Prabowo menolak tudingan keterlibatan dirinya dalam huru-hara demi menjatuhkan Soeharto. “Saat itu mungkin ada 70 lebih batalion yang akan ikut saya kalau hal itu (kudeta) saya lakukan,” katanya. “Tapi coba pikir. Kok saya tidak melakukan?”

Petinggi militer lain yang juga kerap disebut adalah Jenderal Wiranto, Panglima ABRI saat itu. Nama Wiranto dikaitkan dengan misteri acara serah-terima pasukan Kostrad di Malang, Jawa Timur. Pertemuan yang aneh karena digelar pada 14 Mei 1998 ketika Jakarta sedang berteriak minta tolong. Ketika ditemui Fanny Febiana dari Koran Tempo dua pekan lalu, Wiranto hanya berkata, “Saya nggak tertarik mengomentari kerusuhan Mei.”

Wiranto melanjutkan, rakyat di negeri ini sudah terlalu banyak berkorban. “Jangan selalu melihat ke masa lalu. Lihat masa depan,” katanya. “Masa lalu hanya perlu diambil yang baik-baik saja,” kata Wiranto, yang kini merintis jalan menuju Pemilihan Umum 2009 melalui Partai Hanura.

Ibunda Elang, Hery, Hendrawan, dan Hafidin tentu tak sepakat dengan Wiranto. Begitu pula dengan korban pemerkosaan dan ribuan ibu dari jasad-jasad yang terpanggang pada hari-hari itu. Mereka berhak mendapatkan jawab atas jutaan pertanyaan yang menggantung sepuluh tahun ini.

Asvi Warman Adam, sejarawan dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, menekankan bahwa pengungkapan kerusuhan Mei bukan sekadar untuk memenuhi rasa keadilan untuk keluarga korban. “Jangan sampai jejak berdarah bangsa ini dihapus untuk kepentingan politik pihak tertentu semata,” katanya. “Jangan sampai tragedi semacam ini terulang lagi di masa depan.”

Bangsa ini, menurut Asvi, sudah terlalu lelah dengan sejarah yang setengah gelap, dari huru-hara Gerakan 30 September, penculikan aktivis, sampai kerusuhan Mei. Mengungkap kebenaran, kata Asvi, adalah bagian dari upaya untuk lebih kukuh melangkah menuju masa depan.

l Mardiyah Chamim | Rini Kustiani | Fanny Febiana | Kurniasih Budi| Istiqomatul Hayati | Rofiqi Hasan

Komentar [24]

Feed  •   Trackback  •   Kirim Komentar

24 Komentar untuk “Sisi-Sisi Gelap Prahara Mei”

  1. MN | 18 May, 2008 19:35

    Saat ini ,masih jauh dr mungkin untuk mengetahui fakta yg sebenarnya terjadi. Para sutradara dan aktor yg terlibat masih berada dipanggung politik dan masih ingin tampil dan berkuasa,nanti menjelang ajal mungkin 15 atau 20 tahun mendatang kekelaman itu akan mulai terang,hanya kita tetap mengingatkan masih ada soal yg masih gelap dgn cara setiap tahun kita mengadakan ingatan2 akan peristiwa tsb. Moga2 lebih cepat dari itu.

    Bagi yg mngalami trauma atas peristiwa itu tetaplah berdoa agar segalanya menjadi terang dan para pelaku tobat, Tuhan tidak akan pernah diam,mereka pasti akan dikejar oleh dosa yg tidak akan terampunkan dan itu nanti mereka akan peroleh disana. Yakinlah, daya kita memang sdh maksimal,Pemerintah tidak akan mampu membuka tabir itu.

  2. Zulfi | 19 May, 2008 06:48

    Numpang ngopi pak…

    lumayan buat referensi…

  3. arbi prihandono | 24 May, 2008 09:33

    kasihan bangsaku ini ya..ya Allah lindungi kami dari bencana yang dibuat oleh manusia di bumi ini…!!!

  4. Ali Ahmadi | 24 May, 2008 14:39

    Terus gelapnya penelusuran Prahara Mei 1998 adalah satu indikasi bahwa negeri ini MASIH dikuasai oleh penguasa YANG SAMA dari saat itu hingga kini.
    Eksekutif, Yudikatif, dan Legislatif yang “kelihatannya” mengatur negeri ini, hanyalah boneka-boneka yang masih terus dikendalikan oleh “kekuatan tak terlihat” yang menggelar Prahara tsb.
    Tentara masih menjadi raja. Golkar masih merajalela. “Anak-anak” Soeharto masih saja menjadi penguasa.
    Lihatlah!
    SBY, Sutiyoso, Wiranto, serta jendral-jendral sebaya mereka dan dibawahnya;
    JK, Abu Rizal Bakrie, Agung Laksono, serta wadyabala Golkar dan underbow-underbownya;
    Stasiun-stasiun TV dan media massa masih didominasi oleh keluarga Cendana dan kiri-kanannya (sekurang-kurangnya simpatisan mereka, lihat, betapa gegap gempita pemberitaan ttg jasa-jasa Soeharto di hampir seluruh media massa pada saat meninggalnya, menutupi dosa-dosa akbar-nya);
    Jadi…
    Siapa bilang penguasa negeri ini sudah berganti?
    Peristiwa Reformasi hanyalah mimpi pelipur lara! Sesudah itu, kembali lagi seperti sedia kala.

  5. Abdul | 4 June, 2008 07:54

    KORAN TEMPO HENDAKNYA DAPAT MENJADI BACAAN DAN SUMBER INFORMASI YANG DAPAT DIPERCAYA MASYARAKAT, TIDAK ASAL-ASALAN MENGELUARKAN KEBENARAN BERITA DAN MALAH JADI MEDIA YANG JADI PROVOKASI KERUSUHAN. BERITA FPI SIAPA YANG DICEKIK?
    SEKALI LAGI JANGAN ASAL-ASALAN DAN JADI MEDIA PROVOKASI. BISA DIPERCAYA TIDAK?

  6. goten | 25 June, 2008 23:52

    gak kusangka……..tragedi mei begitu memukul rakyat indonesi(mahasiswa)rupanya begitu besar perjuangan senior-senior Aku,By mahasiswa STIE INDRAGIRI HULU RIAU.ANGKATAN 2007.

  7. Jantra | 14 December, 2008 22:20

    Aku tak peduli dng semua ini, apapun komentar kt, tak bw peruban sdkt pun.ok

  8. sasarere | 10 October, 2009 17:56

    aiu..aiu..aiu

  9. liza | 4 August, 2010 06:37

    ikut2an ngopi,pak…
    aq tempel dicatatanku….

  10. alfian | 4 August, 2010 10:50

    maju terus tempo kalahkan para tiran negri. rakyat pasti beri dukungan penuh.kemana lagi harus berharap????

  11. Hengki | 16 September, 2010 20:26

    Dunia akan lenyap bersama dengan keserakahan dan kebohongan manusis itu sendiri….

  12. Gombalamoh | 21 November, 2011 16:42

    Apa mungkin para pemimpin bangsa ini mengakui kesalahannya? Mereka menganggap enteng atas korban pembantaian demi pembantaian.

  13. andi tenrie | 21 November, 2011 17:35

    Uang adalah tuhannya manusia pemuja dan turunan ORBA! Lihat saja mereka bebas berbuat apa saja karena duitnya, boro-boro mau ngurusi korban penculikan dan pembunuhan Mei 1998! Malah ada yang sudah tidak mau mikirin apa yang terjadi saat itu, namun bila ada keluarga mereka(anak-bini dan kroninya yang hilang saat itu) mungkin lain lagi komennya. Termasuk Ibu Mega juga yang tidak berbuat apa-apa padahal banyak ada muda mempertaruhkan nyawanya demi dirinya….., sama saja semua kaki tangan ORBA!

  14. MAFTUFATUL | 28 January, 2012 14:23

    Indonesia negara jahat. moral bobrok. biarlah murka Allah membumihanguskan perbuatan jahat negara ini. Tuhan selalu adil pada umatNya.

  15. rizki | 6 March, 2012 12:33

    percuma comment..
    wong semua sudah dikuasai ama pemerintah..
    lihat saja semua saling tuding, semua bilang stop korupsi, tapi si bajingan itu tetap aja makan uang.. seandainya seluruh indonesia setuju tidak membayar ajak mungkin si tikus-tikus bangsat itu mati kelaparan,,,
    bebaskan saja antasari mantan ketua kpk, lalu di beri perlindungan badan internasional, karena semua kunci ada di dia,
    para petinggi buat kita seperti papan catur saja..
    demi mengalihkan perhatian rakyat terhadap kasusu korupsi wisma atlet, muncul lg kasus korupsi pajak , selesaikan dulu kasus wisma atlet pasti ada permainan dibalik ini.

  16. imus | 25 April, 2012 11:15

    wihhh, memilukan sangat

  17. hanny | 2 July, 2012 10:26

    waktu kejadian,,saya masih smp kelas 3,,tetangga saya banyak juga yg jadi korban kerusuhan di klender,,
    jadi pengen baca kisah dari bilik kematian,,

  18. Anonim | 26 November, 2012 12:15

    Kok bisa-bisanya sekarang Wiranto, Prabowo, Sutiyoso, Syafrie Samsuddin, Timur Pradopo pada bersikap innocent dan dengan pongahnya menyalonkan diri jadi Capres, menduduki jabatan2 tinggi, Ketua partai, dll. Siapa dong yg tanggung jawab kerusuhan Mei 1998 itu..??? Darah dan nyawa para korban akan menagih pertanggungjawaban kalian di alam kematian….Kalau mau tobat bener ya MUNDUR..!!jangan nyapres, njabat, jangan munafik kaya Wiranto …”HANURA: hati nurani rakyat” hati nurani rakyat yang mana???…Hati nurani rakyat korban kerusuhan mei 1998 dan keluarganya yang sampai sekarang tidak tahu minta keadilan kemana/kepada siapa itu emang anda peduli…??? Semoga ditunjukkan jalan yang lurus …
    SEMUA KANDIDAT CAPRES YANG ADA DI MEDIA sampai saat ini cuma DIDORONG OLEH SYAHWAT KEKUASAAN DAN MATERI…BUKAN KARENA/DEMI RAKYAT… Tapi pada pinter2 pada bohongi rakyat..seolah-olah mereka nyapres demi rakyat …BOHOOOOONG…. Pinter2lah kita milih pemimpin yang amanah, ikhlas lillahi ta’ala dan mampu…Dari semua kandidat yang muncul di media sampai saat ini ..belum ada yang saya rasa pas jadi Presiden RI 2014 dengan kriteria diatas. Semoga akan muncul si Satria Piningit untuk bangsa kita…….

  19. Bongffara | 20 January, 2013 22:14

    Rasanya saya tidak ingin memilih presiden sampai ada presiden yang membuat janji “Jika saya jadi presiden, saya akan ungkap Tragedi Mei 1998″
    Kapan ya ada presiden yang punya janji seperti itu..

    Pak Wiranto gag mau ngebahas kerusuhan Mei? Kenapa? Takut? Enak aja main bahas masa depan, masa depan ada karena ada masa lalu pak! Cih!

  20. bobby | 2 May, 2013 11:10

    Intinya disini setiap kita ngga usah ngurus orang lain fokus aja pada kehidupan masing-masing dan jangan serakah, sehingga mudah diprofokasi, be smart jangan bodohhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh

  21. sekon | 22 May, 2013 19:41

    Tuhan tidak pernah diam. Dia memandang dari atas tahta kemuliaanNya. Ada waktuNya Dia membalas semua ini.; gua kecewa kenapa pak Wiranto berucap seperti itu. Sbg org yg ber ‘hati nurani’ semestinya jgn seperti itu. Gua sangat sedih..coba kalau dia mengalami apa yg dialami kita semua saat peristiwa itu tjd. ; masa depan ada karena masa lalu. Betul kata Bongfarra ! Jangan pernah melupakan..

  22. TiongHoaPancasila | 17 October, 2013 21:49

    Prabowo boleh menyangkal tapi bukti-bukti di lapangan bahkan teman saya yg seorang letnan kopassus di jakarta bercerita seminggu sblm kerusuhan ada rapat besar di markas prabowo, dan dirinya sendiri yg mengingatkan saya agar berhati-hati pada tgl 10-20 mei
    Kami dari etnis minoritas tidak dendam dan tidak sakit hati atas kejadian ini karena ini hanyalah awal dari sebuah revolusi. Kita semua tahu kekuasaan soeharto berdiri di atas tumpukan bangsanya sendiri.
    Dan sekarang mereka berlomba-lomba mencari pencitraan pemuli 2014……masih adakah yg berminat memilih wiranto dan prabowo?
    Ingat Tuhan tdk pernah menutup mata….Cina wajahku NKRI Hidup dan matiku……Hidup Bhineka Tunggal Ika, Hidup Pancasila, Hidup Indonesiaku

  23. mbah dom | 11 November, 2013 09:17

    ngapain setiap 5th sekali kita harus memilih para pemimpin negri ini klo orang dan pemainya masih itu-itu saja percumah pasti tidak ada perubahan tentunya.

  24. Anggi | 7 April, 2014 15:45

    Laskar orde baru niat men’Capres 2014 ,,, gw mahasiswa Najis mencoblos .

Silakan berkomentar, kawan!