Jul
1

Kata orang, keberuntungan tidak datang dua kali. Memang benar. Sebab, keuntungan mendatangi saya tiga kali berturut-turut.
Keberuntungan pertama datang saat saya memenangi undian kartu kredit Visa untuk bisa berangkat ke Afrika Selatan menonton salah satu pertandingan Piala Dunia. Bagi seorang pencinta sepak bola, ini nasib baik tiada tara. Saya bahkan harus menelepon empat kali untuk meyakinkan bahwa pengumuman itu bukanlah tipuan. Ketika mengantongi tiket pesawat ke Cape Town, saya baru yakin bahwa ini bukan sekadar mimpi.
Saya lepas landas dari Jakarta pada 15 Juni 2010, pukul 3 sore. Sebuah perjalanan panjang: empat jam di atas pesawat menuju Hong Kong, tiga jam menunggu di bandar udara Hong Kong yang canggih, lanjut lagi ke Johannesburg dalam penerbangan 12 jam. Perjalanan yang membikin pantat tepos. Rasa bosan, capek, dan kedinginan (minus 2 derajat Celsius) mendera. Siksaan ini belum berakhir, karena saya harus menunggu tiga jam untuk naik pesawat menuju Cape Town.
Di tengah kebosanan itulah keberuntungan kedua terjadi.
**
Keberuntungan itu muncul di depan mata begitu saja, ketika saya berjalan di koridor Bandara Johannesburg–yang tak saya sangka ternyata amat mewah. Ketika menuju tempat boarding pesawat ke Cape Town, secara tidak sengaja saya melihat sesosok laki-laki berkulit hitam memakai jaket kanvas tebal sedang memainkan telepon seluler.
Yang membuat saya terus memandanginya (bukan karena saya naksir, ya) adalah matanya yang sayu dan bentuk muka yang khas. Mendadak sontak saya berhenti, lalu ingat namanya: Andy Cole! Ya, tak salah lagi, dia Cole, mantan pemain Manchester United yang mengantarkan klub itu merebut tiga gelar pada 1999. Dialah pencetak gol terbanyak di Premier League setelah Alan Shearer.
Tapi saya tak langsung percaya. Ini tanah Afrika. Ada jutaan orang berkulit hitam, dan bukan mustahil satu di antara mereka amat mirip Cole. Untuk memastikannya, tak ada cara lain kecuali menanyakannya langsung. Tentu saja, saya punya kendala bahasa.
Tapi peduli setan. Dia harus mengerti apa yang saya katakan, meski bahasa Inggris saya beraduk dengan bahasa Tarzan. Dialog kami berdua ada di bawah ini–yang tentunya sudah diterjemahkan dan dipercantik sedikit oleh redaktur saya.
Ijar Karim (IKR): Anda Andy Cole, kan? Betul, kan? Saya tidak salah, kan? (Saya perlu mengulang-ulang, karena setelah pertanyaan pertama, dia hanya tersenyum.)
Cole: Ya, Anda tidak salah.
IKR: Wah, senang sekali. Saya penggemar berat Anda. (Oke, saya sedikit berbohong. Saya mengenali dia saat semua orang di bandara tak mengacuhkannya. Tapi saya bukan penggemarnya. Saya lebih menyukai tim Italia dibanding tim Inggris.)
Cole: Terima kasih.
IKR: Saya dari Indonesia. Anda tahu Indonesia?
Cole: Iya, saya tahu. Baru sebulan yang lalu saya dari sana.
IKR: Oh, ya? (Saya berusaha tidak terkejut. Sebenarnya saya tidak tahu bahwa Mas Andy ini baru dari Indonesia. Setelah saya tanya Mbah Google, ternyata memang benar, Mei lalu, Andy ke Indonesia dalam rangka peluncuran salah satu kartu perdana GSM edisi Manchester United di Jakarta.)
Cole: Iya.
IKR: Kalau sepak bola Indonesia, Anda tahu?
Cole: Iya, saya pernah lihat. Dan juga melihat fan Manchester United di Indonesia ternyata sangat banyak.
IKR: Anda sudah tak bermain untuk tim nasional Inggris, untuk apa Anda datang?
Cole: Saya akan menonton pertandingan Inggris melawan Aljazair.
IKR: Wah, sama. Saya juga akan menyaksikan pertandingan itu. (Ini saya tak bohong. Dalam jadwal, saya memang akan menyaksikan pertandingan itu, meski nantinya berubah.)
Cole: Oh, bagus itu.
IKR: Apa pendapat Anda tentang tim nasional Inggris yang sekarang?
Cole: Saya lihat tim ini punya semangat tinggi. Pelatih (Fabio) Capello mampu menerapkan strategi yang dia punya, walaupun awalnya agak sulit.
IKR: David Beckham tidak ada dalam tim. Menurut Anda, adakah pengaruhnya?
Cole: Saya tidak melihat pengaruhnya. Tim ini sudah solid.
IKR: Artinya, besar kemungkinan tim ini sampai final?
Cole: Iya, saya harap sampai final.
Di sela-sela keasyikan mengobrol, orang-orang di sekitar saya tiba-tiba bergerak ke gerbang boarding, yang artinya saya harus segera masuk pesawat.
IKR: Oke, terima kasih banyak. Saya senang banget bisa ngobrol.
Cole: Sama-sama.
Kami berpisah–tentu setelah terlebih dulu berfoto bersama. Saat itulah orang-orang baru menyadari pria yang tadi saya ajak mengobrol adalah orang terkenal. Setelah bertanya siapa gerangan dia, mereka pun ikut berfoto bersama.
Dengan perasaan senang bukan kepalang, saya bergegas masuk pesawat dan menempati tempat duduk tiga baris dari belakang. Tak lama saya duduk, tiba-tiba Andy Cole lewat di samping saya. Wah, ternyata dia satu pesawat menuju Cape Town. Dia duduk di bangku paling belakang. Keberuntungan lagi, nih. Saya berpikir akan bisa meneruskan obrolan yang terputus tadi. Ternyata tidak. Begitu melesakkan pantatnya ke kursi, Cole mengeluarkan headphone dari dalam tasnya dan tidur. Cole hanya terbangun untuk makan dan tidur lagi. Sial!
Akhirnya pesawat yang kami tumpangi mendarat di Cape Town. Saya berusaha menunggu Cole dan berjalan di belakangnya. Untung-untungan, siapa tahu bisa mengobrol lagi. Nasib belum berpihak. Begitu keluar dari belalai gajah, puluhan wartawan dan fotografer menyerbunya. Di sinilah teman grup perjalanan saya yang semula meragukan keaslian Andy Cole baru benar-benar percaya. Cole berjalan cepat menghindari kepungan wartawan, dan hilang begitu saja.
Saat menunggu bagasi, tiba-tiba Cole berdiri di samping saya. “Hi, Sir,” kata saya. Dia menjawab sambil tersenyum. “Sudah dapat tasnya?” tanya saya lagi. Pertanyaan bodoh, karena kalau dia antre di sini, pasti tasnya belum keluar. “Ya, kita tunggu saja,” katanya. Tak lama kemudian tasnya keluar, dan saya tak bisa mengejarnya karena harus menunggu tas keluar. Bye-bye, Cole!
**
Keberuntungan ketiga muncul pada Sabtu, 19 Juni. Pukul empat pagi, suhu di Cape Town 4 derajat Celsius. Ketika itu saya sudah berada di Hotel PortsWood. Telepon berdering. Mata masih mengantuk, tapi telepon harus diangkat. “Hello… guys, it’s time to breakfast,” kata suara di ujung sana. Sarapan? Pukul lima? Kenapa sepagi ini?
Pesawat ke Durban (tempat pertandingan Belanda-Jepang yang akan kami saksikan) baru bertolak pukul 09.15, lima jam lagi. Tapi panitia tidak mau ambil risiko. Setelah sarapan pukul lima, kami diberi arahan singkat. Kami ditanya satu per satu apakah badan kami sehat, lalu kami dikasih satu kotak makanan ringan untuk bekal selama perjalanan ke Cape Town. Selain itu, kami mendapat jaket, syal, dan penutup kepala yang amat dibutuhkan dalam cuaca dingin. Yang paling penting, kami diberi tiket menonton. Saya dapat tempat duduk di bagian utara, gerbang K, level 3, blok 115, baris 22, dan nomor kursi 2. Pertandingan akan digelar pukul 13.30.
Untuk menonton pertandingan ini, saya tidak memakai kaus oranye milik Belanda atau biru milik Jepang. Saya mengenakan kostum tim nasional Indonesia PSSI dengan nomor punggung 9 bertulisan “Ilham”. Dia Ilham Jayakusuma, penyerang tim nasional sekitar lima tahun lalu. Selain saya pencinta sepak bola dalam negeri, saya sengaja memakai ini untuk berlagak saja di depan suporter negara lain. Memangnya hanya negara mereka yang punya tim nasional? Kami juga punya, meski tak pernah lolos ke final Piala Dunia.
Pesawat kami mendarat di Durban pukul 11 pagi. Saya kaget atas penyambutan kami dengan pengawalan superketat. Kami tidak keluar dari bandara melalui gerbang reguler, tapi menerobos lewat pintu belakang, yang dikhususkan untuk tamu-tamu istimewa. Keluar dari pintu belakang, kami langsung masuk bus mewah yang sudah siap bertolak ke Stadion Durban.
Pukul 12 kami sampai di lapangan parkir stadion. Kami lalu turun dan dapat pengarahan dari petugas FIFA mengenai peraturan selama menonton. Selesai pengarahan, nama saya dipanggil oleh petugas FIFA. Mereka menanyakan tiket yang saya punya, lalu mengambil tiket itu. Saya heran sekaligus deg-degan. Jangan-jangan ada kesalahan di data FIFA sehingga saya tidak bisa menyaksikan pertandingan. Apalagi yang dipanggil hanya saya. Anggota rombongan lain langsung jalan menuju tempat duduk mereka.
Wah, gawat!
Petugas bernama Kevin yang ganteng bak model itu kemudian memberi saya tiket pengganti. Saya mengintip tiket itu, dan… wah! Ada tulisan “suite” di atasnya. Apa tak salah? Tidak, karena selain tiket, mereka melingkarkan gelang besi bertulisan “suite” di lengan kanan saya. Dasar kere, saya tak langsung percaya. Curiga, jangan-jangan ada kesalahan teknis. Tapi saya enggan menanyakannya. Kalaupun ini kesalahan, biarkan mereka tak menyadarinya.
Selanjutnya, saya pun diperlakukan bak anak raja. Saya bayangkan, mungkin seperti inilah perlakuan mereka terhadap Prince Harry saat menonton Inggris, sehari sebelumnya. Dua pria berbadan tegap dan berkacamata hitam layaknya pria-pria yang ada dalam film Matrix memandu dan mengawal saya. Kami memasuki area stadion dan mengarah bukan ke pintu masuk reguler, melainkan ke arah pintu khusus yang dijaga oleh keamanan bersenjata lengkap, berpakaian seperti anggota Densus 88 lengkap dengan helm baja dan rompi antipeluru.
Tanpa ada percakapan, pasukan keamanan lengkap itu mempersilakan kami melewati pintu besi tersebut. Kemudian saya menaiki tangga beton hingga ke lantai 3. Di lantai ini kami disambut anak-anak berpakaian khas daerah-daerah di Afrika. Di sinilah kami berhenti dan masuk ke satu ruangan 5 x 5 meter.
Di dalamnya sudah tersedia berbagai makanan, dari tiramisu, steak kalkun, hingga nasi goreng mentega. Sepertinya hidangan ini sudah mereka siapkan untuk orang Asia seperti saya yang selalu rindu nasi. Minuman melimpah, dari jus segar, bir, macam-macam koktail, hingga wine. Semua gratis. Pelayanan sangat luar biasa.
Yang lebih menakjubkan dari ruangan itu adalah, sambil makan di meja makan berkursi tinggi, dari balik kaca saya bisa melihat pertandingan di bawah sana. Tapi, jika kurang puas–karena atmosfer penonton tak terasa–saya bisa keluar menuju balkon untuk langsung melihat pertandingan tanpa terhalang kaca.
Sinting! Ini benar-benar sinting! Saya baru tersadar bahwa saya menyaksikan pertandingan ini dari tempat yang mewah. Yang pertama saya lakukan adalah meminta dituangkan segelas wine putih untuk merayakan keberuntungan ini.
Saat bertanya di mana toilet, satu dari dua pengawal yang sedari tadi mengiringi saya tidak hanya menunjukkan tempat toilet dengan jarinya, tapi juga mengantar saya hingga ke depan pintu kamar mandi (untung dia tidak ikut masuk). Dan, saat saya keluar, ternyata sang pengawal itu masih di sana, tak bergerak, berdiri tegap dengan tetap memakai kacamata hitam. Benar-benar pengawal setia.
Tak lama berselang dan wine pun belum habis, saya sudah dipanggil kembali oleh petugas FIFA untuk bertemu dengan Dafne Rondelli, wanita Swiss manis berjas hitam. “Kita akan berkeliling, dan saya akan membawa Anda ke tempat yang orang lain tak bisa ke sana,” katanya setelah berkenalan. Waduh, kejutan apa lagi ini? Dia mengalungkan kartu bertulisan “Access all areas”.
Dengan tetap dikawal dua pria Matrix itu, saya mengikuti Dafne. Kami terus berjalan masuk lorong keluar lorong. Semua petugas keamanan yang kami lewati begitu hormat kepada Dafne. Mereka sedikit menundukkan kepala dan berkata, “Maam,” ketika berpapasan dengan perempuan itu. Saya menduga Dafne orang yang sangat penting dalam penyelenggaraan pertandingan ini.
Saya tak tahu akan dibawa ke mana sampai melihat lapangan hijau yang sejajar dengan tempat saya berdiri. Saya tak lagi di atas tribun penonton, tapi di gerbang menuju lapangan hijau! Saya syok dan gemetar.
Saya diminta berhenti di gerbang itu. Tak jadi masalah, dari sini pun saya sudah merasa mendapatkan sesuatu yang luar biasa. Tapi, belum hilang rasa syok dan gemetar, mendadak Dafne menepuk punggung saya, “C’mon, follow me!” Dia ternyata mengajak saya menginjak rumput dan mengelilingi lapangan.
Ya, Tuhan segala dewata! Saya berada di lapangan rumput ketika para pemain Belanda dan Jepang sedang melakukan pemanasan sebelum bertanding. Puluhan ribu penonton di kursi tribun hanya bisa iri (dan mungkin memaki) melihat pria berkaus merah dengan lambang Garuda cengengesan di dekat para pemain dunia.
Perasaan yang sudah saya tahan dari tadi akhirnya meledak. Saya berteriak-teriak dan melompat-lompat kegirangan. Saya berkali-kali meneriakkan, “Indonesia… Indonesia!” ke arah bangku penonton. Mungkin mereka bingung ada apa dengan orang Indonesia ini. Tapi saya tidak peduli. Walaupun tim nasional kita tidak pernah masuk Piala Dunia, setidaknya kostum Indonesia sudah masuk ke lapangan dan disaksikan oleh sekitar 62 ribu penonton.
Saya bahkan sempat tidur-tiduran di atas rumput empuk itu. Sempat terpikir saya akan lari ke tengah lapangan untuk menyalami Wesley Sneijder atau Dirk Kuyt dari Belanda, tapi saya ternyata tidak senekat itu. Nyali saya tidak sebesar Henry Mulyadi yang berani masuk lapangan Gelora Bung Karno, menggiring bola, saat tim nasional Indonesia melawan Oman di pertandingan Piala Asia tahun lalu.
Beberapa menit kemudian saya sudah berada kembali di bangku suite, menonton pertandingan di antara dua bekas penjajah kita yang dimenangi Belanda dengan skor 1-0. Sambil minum bir yang free flow, saya menonton pertandingan itu. Dan, kedua pria Matrix itu seakan terpaku di lantai, diam dengan wajah yang tak berubah meski penonton di sekitarnya berjingkrakan. (U Magazine)
Ijar Karim, wartawan U Magazine
Wow… Sungguh sangat tidak bisa dilupakan kenangan ini ya, samapi ke anak cucu. Selamat…
iihh pengalaman yang bikin iri semua orang.. Selamat Pak Ijar
Ouw..congrats ya.. you’re lucky guys. waiting complete journey story..
kapan saya bisa dapet kesempatan langka seperti pengalaman sampean mas…jadi ngiri nih…
sumpah..!!! iri banget aku…selamat y..!!
keren. nulisnya pake hati banget
saya yg baca aja jd ikutan seneng. Mkn ini hadiah dari Tuhan krn penulisnya sampe Afrika pun masih inget timnas Indo ;D
Selamat. Sungguh saya iri membaca tulisan anda ini. Kapan ya saya bisa seperti itu…
woah luar biasa pengalamannya mas!
Edaaaaan…. kenapa bukan saya sih yg berada di posisi anda?!?!?! SUMPAH, sebagai gila bola, saya 1000% ngiri dengan apa yg telah anda alami! Oiya, 1 hal yg juga penting adalah, jersey timnas Indonesia yg anda gunakan, secara tidak langsung anda telah ‘memukul’ PSSI hingga babak belur! I LIKE!!!
Mantab Pak, sy paling seneng baca pas Pak Ijar lari2 di lapangan hijau sambil triak2 Indonesia..haha bner2 momen yg luar biasa.
sumpah gw merinding !!!
congrtas yo pak..betapa beruntungnya dirimu..
bener-bener bikin ngiriiii!! tapi apa misteri mengenai darimana tiket ’suite’ yang bapak terima itu terjawab setelahnya? atau murni kesalahan petugas FIFA? kirain dikasih Andy Cole…
Hahahaha lucu sekali….Saya bukan penggila bola, tapi bisa sangat menikmati bola. Membaca cerita keberuntungan Anda saya bisa GILA BOLA HAHAHAHA…Anda super beruntung tung!!! Keberuntungan yang GILA!!
ayoo bung…lanjut lagi kisahnya…jangan berhenti di sini, saya senang sekali baca tulisan and yang benar2 EDAAAANNN, malaikat memang tidak salah memilih Anda…..coba kalo yang lain…mungkin menulis pengalamannya tidak akan se …seru tulisan Anda
mantap!!!
…tapi tiket `suite` itu masih menjadimisteri.Bagaimanapun .selamat untuk Anda…
…AMAZING…
ueedannnnnnnnnnnnn
anjritttttt!!! bruntung sekali Anda!!!
semprul nasibmu mas mas,ueeeeeeeeeeeennnnnnnnnnnaaaaaaaaaakkkkkkk tenaaaaaaaaaaaannnnnnn