Enak di Blog dan Perlu

Wicaksono

Cliff Muntu, 19 tahun, mahasiswa Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) meninggal Senin lalu.

Ia diduga menjadi korban kekerasan para seniornya. Cliff adalah korban meninggal akibat kekerasan ketiga di institut itu.

Lembaga pendidikan seperti IPDN mestinya bukan tempat penganiayaan. Anehnya, kenyataan yang ada justru sebaliknya.

Adakah yang salah di IPDN?

Portal karya Imam Yunni ini dibuat dengan semangat menyindir kampus calon pejabat pemerintah daerah yang mencatat rekor kekerasan tertinggi di Indonesia.

Ah, jangan-jangan singkatan IPDN mesti diganti menjadi Institut Penganiayaan Dalam Negeri?

Komentar [101]

Feed  •   Trackback  •   Kirim Komentar

101 Komentar untuk “Portal Kekerasan di IPDN”

  1. BH | 5 April, 2007 10:19

    Weleh.., weleh.., weleh…

    Rupanya sikap premanisme, pemaksaan kehendak, mau menang sendiri, dan penyelesaian masalah dengan kekerasan, bukan hanya terjadi di pasar tradisional, terminal, atau dihutan.., tapi juga terjadi pada institusi, yang justru dari institusi tsb diharapkan akan menghasilkan orang2 yang siap dan kompeten untuk memimpin bangsa dan negara ini..

    Saya jadi miris.., bagaimana dengan nasib anak2 dan bangsa ini kedepan, jika kelak bangsa dan negara ini dipimpin oleh alumni2 institusi tsb..
    Kalau untuk urusan lingkup sekolah saja diselesaikan dengan cara seperti itu, bagaimana kalau urusan kekuasaan, jabatan, atau uang..!!??
    Semoga orang2 yang terlibat pada kasus Cliff dan kasus2 yang lain, dan orang2 yang seperti mereka itu, tidak pernah mendapat kesempatan untuk menjadi pemimpin, pejabat, atau orang beruang sekalipun..!!!!

    Pak Polisi, dan aparat yang berwenang..,
    ayooo.., usut tuntas, dan hukum berat..,
    mereka2 yang terlibat..!
    Jangan sampai anak cucu kita hidup dibawah pimpinan preman2 yang memaksakan kehendak, mau menang sendiri, dan menyelesaikan segalanya dengan kekerasan..!!

    Salam..

  2. Piet Mambang | 5 April, 2007 10:50

    Kekerasan memang dibudayakan di IPDN, bahkan sejak masih berstatus STPDN. Ini untuk membiasakan pamong berhadapan dengan rakyat soal penggusuran, pencoblosan saat pemilu, demonstrasi, yang semuanya berpotensi menjadi kekerasan.
    Cuma enaknya, kalau lulus pasti langsung kerja, minimal camat di tangan.
    Sebut saja dosa-dosa orde baru terhadap rakyat, semua ada dikurikulum IPDN.

  3. Abbas | 5 April, 2007 13:12

    saya usul.. ganti aja namanya jadi “Institut Preman Dalam Negeri.” Biar Lebih jelas dan tegas!! Buat Lulusannya diharapkan untuk melanjutkan ke “Level” selanjutnya yaitu “Institut Preman Luar negeri” supaya kalo “Menganiaya” ngga keroyokan lagi, 1 lawan 1 gitu.. biar lebih jantan!!

  4. marco | 5 April, 2007 22:12

    lembaga yg dijalankan penuh dengan cara2 kkn pasti hasilnya demikian,saya yakin mulai dari penerimaan sampai selesai penuh dengan uang sogokan,dan juga para pegawai dan tenaga pengajarnya tidak terlepas dari kkn untuk mempertahankan jabatan.saran saya sekolah ini dibubarkan saja dan dijual kepada swasta untuk dijadikan perguruan tinggi.tenaga2 pamong cukup diambil dari akademi2 maupun perguruan tinggi yg ada.tdk perlu menghabiskan dana ratusan milyar setiap tahun hanya untuk mendapat calon koruptor dan preman.

  5. peyek | 6 April, 2007 20:15

    oalah… inilah “Institut Pendidikan Debus Nusantara” apa yang negeri ini harapkan dari lulusannya? Pemimpim masa depan? Preman Preketek, gombal, laten, Bubarkan aja!, Bubar! Bubaaarrr!!

  6. Ir. Bahar Asrul | 6 April, 2007 20:19

    terjadi lagi yah, ada yang tewas kena pukul di ipdn, menurut saya yang kebetulan jebolan sekolah yang mirip dgn ipdn, yaitu di asrama kan n jg kadang dipukulin, adalah sbg berikut : pemukulan kadang menjadi keharusan di sekolah yang ber asrama dan juga ber corak semi militer. pemukulan gunanya untuk membina mental dan juga untuk belajar menghormati senior, dan jg sebagai obat apabila senior lagi be te he he he. jalan keluar sih gampang aja, gini, pisah aja tingkat satu, dua tiga dan empat dikota yang berbeda, selesai deh.
    tks

  7. Voucha | 7 April, 2007 01:25

    Saya usul agar dibuatkan ring untuk smackdown di IPDN supaya “hoby” sebagian warganya bisa tersalurkan dengan sehat dan prima.

    Salam.

  8. Nicky | 7 April, 2007 05:11

    Kalo gua, senior2 yang ada di IPDN itu, kepengen banget gua sate hidup2 di depan orang tua nya.

  9. joko | 7 April, 2007 06:51

    BUBARKAN STPDN/IPDN!!!!!

  10. Fandagri Hartanto | 7 April, 2007 13:46

    Di berbagai media televisi khan udah sering diputerin video kekerasan di IPDN.
    Gimana klo para senior yang terlibat dilaporkan kepada pihak Kepolisian dan diberi tindakan hukum sebagai pelanggaran HAM dan tindak kekerasan.
    Kasus video mesum YZ dan ME aja bisa terungkap ?
    Walaupun para senior itu udah lulus, wajib dicari donk orangnya !!! Khan ada bukti yang berbicara.
    Gimana Pak Widodo AS, Setuju enggak…..?
    HARUS SETUJU DONK………

  11. doni | 7 April, 2007 14:51

    kalo pengen perang … masuk aja ke sekolah militer!!! stpdn bukan untuk mencetak hansip satpam ato tentara !! tapi stpdn mestinya untuk menyiapkan orang2 berkualitas yang akan duduk di pemerintahan kita. nah, kalo pendidikannya aja kayak gini, tentu saja saat menduduki kursi di pemerintahan tak ubahnya kayak drakula !!!!!!!!

  12. firman | 7 April, 2007 17:34

    Saya cukup terharu mendengar kasus stpnd/ipdn.Tapi saya juga mersa malu ternyata ada sekolah/institusi yang notabanenya non militer ko sampe kerasnya seperti ituh?institut militer aja yang mendidik seorang calon prajuri tidak dengan cara seperti yang diterapkan oleh ipdn.Mohon perlunya sistem pembaruan dalam penerapan kedisiplinan di kehidupan Praja ipdn,tiru aja AKMIL,AAU atau AAL.

  13. Antony Grivod | 7 April, 2007 19:04

    kita cukup prihatin atas barulangnya kekerasan yang terjadi di IPDN sampai menimbulkan kematian…saya melihat kekerasan ini sudah menjadi sistem di IPDN sehingga sebesar apapun kritik publik terhadap lembaga ini tetap saja kekerasan terus berlanjut.jika melihat dari tujuan IPDN adalah untuk mendidik calon prmimpin indonesia dengan kenyataan kekerasan yang ada maka saya sepakat jika IPDN dibubarkan saja dengan pertimbangan bahwa (1)sekarang jabatan-jabatan untuk pemimpin dipilih langsung oleh rakyat mulai dari Presiden sampai Kepala Desa (2) untuk jabatan struktural PNS sudah dilakukan rekruitmen secara terbuka artinya semua warga masyarakat berhak untuk mengikuti seleksi penerimaan PNS. sehingga tidak masuk akal kalau IPDN tetap dipertahankan keberadaanya yang justru akan menimbulkan paradoks terhadap lulusan IPDN…..apapun alasanya jika kekerasan sudah diajarkan dalam proses pendidikan maka lulusanyapun akan suka dengan kekerasan.

  14. mgunawan | 7 April, 2007 22:44

    Baru dengar dari tv, kalau pemerintah menganggarkan Rp 150 milyar utk operasional IPDN ini.
    Wah duit sebanyak itu menghasilkan para preman?? Sayang amat…Lebih baik dialokasikan ke tempat lain aja.
    Dan satu lagi yg miris.. tadi para mahasiswinya sempat demonstrasi agar salah seorang pengajarnya dikeluarkan, akibat yang bersangkutan katanya mengeluarkan statement yang tidak benar..
    Nah loh… entah apa yang terjadi :-)

  15. chyper | 8 April, 2007 16:21

    Kita gak bisa menyudutkan lembaga IPDN saja, tapi kita harus mencari penyebab eksistensi kekerasan di IPDN. Dari data yang saya dapat, sistem di IPDN sudah cukup baik, namun pelaksanaannya yang masih setengah-setengah sehingga mudah terjadi penyimpangan. Para praja hendaknya juga harus mendukung penghapusan kekerasan di IPDN dan jangan menutup-nutupinya. Media massa hendaknya lebih objektif lagi dalam memberikan informasi. Kejadian/kasus yang telah lalu jangan dibuat seolah-olah terjadi baru-baru ini. Seperti rekaman video di SCTV, itu merupakan kasus yang terjadi sebelum recovery tahun 2003.Semua pihak diharapkan dapat berpikir bijaksana dan lebih dewasa karena IPDN masih diperlukan di negara kita.Hanya saja memang diperlukan perbaikan-perbaikan secara mendalam, tidak hanya sekedar simbol…

  16. maulana | 8 April, 2007 17:46

    STPDN/IPDN=BULLSHIT!

    Kok mau aja sih orang nyekolahin anaknya disitu, pake seleksi yang ketat lagi..
    Mau mati konyol aja kok rebutan

    Mendingan masuk pesantren aja…

  17. Ardana | 8 April, 2007 19:00

    Bubarkan saja IPDN, untuk apa negara menghabiskan banyak uang untuk menghasilkan preman-preman yang bermental bejat. Buat Praja wanita IPDN, kalau memang ada seks bebas di IPDN kenapa harus ditutupi !!. Jangan mengeluarkan air mata buaya di depan pers, akui aja kalau institut kalian sudah sangat bejat !!. Kalau itu ditutupi berarti IPDN juga melegalkan perbuatan zina di kampus (berarti selain kampus preman juga kampus zina !!!). Institut militer aja yang luluasannya memang dipersiapkan untuk berperang, mendidik seorang calon prajurit tidak dengan cara seperti yang diterapkan oleh IPDN. Perguruan Silat aja sistem pengajarannya tidak sekeras seperti di IPDN. Mahasiswa-mahasiswa IPDN mau menerapkan disiplin… OMONG KOSONG!!!…, LU SEMUA SEBAGIAN BESAR KALAU UDAH DUDUK DI PEMERINTAHAN JUGA JADI KORUPTOR SEMUA KOK !!!

  18. anti ipdn | 8 April, 2007 20:55

    BUBARKAN IPDN Sekarang juga !!! Jangan biarkan korban berjatuhan lagi.

  19. Ilman Zuhri Yadi. S.Kom., M.MSi. | 9 April, 2007 09:11

    Sedih… dan miris sekali melihat sistem pendidikan yg diterapkan di IPDN. Kita semua jadi heran, kenapa aksi premanisme dibiarkan tetap membudaya disana? Apa para pendidik disana sudah buta mata dan buta hati, apa mereka tidak merasa punya anak, apa juga bagi Praja juga merasa tidak punya saudara atau adik? Bagi sebagian Praja yang ingin belajar disana, niat awalnya untuk menjadi kebanggaan bagi keluarganya kelak. Janganlah menjadi IBLIS yang merenggut harapan dan masa depan mereka. Kalau alasan untuk menegakkan kedisiplinan bukan seperti itu, dari akibat pemukulan yang kalian lakukan semuanya pada bagian2 yg fatal pada tubuh manusia. Kalau pendidikan kekerasan seperti ini tetap dibudayakan disana, jadi sangat wajar sekali kalau kita lihat para Praja yg sudah terjun menjadi PNS, penyelesaian masalah selalu dengan kekerasan, pake POL-PP. Jadi solusinya hentikan semua kekerasan yang diterapkan disana, masih banyak penegakan kedisiplinan yang mendidik dan manusiawi yg dapat diterapkan. Kalau saya pribadi mendingan Institusi ini dibubarkan saja, terbukti Rektor dan para staffnya tidak berhasil menjaga instasinya dengan baik. Beruntung sekali waktu itu saya tidak jadi ikut STPDN, mungkin Allah SWT berkehendak lain.

  20. albantani | 9 April, 2007 11:10

    STPDN: Sekolah Tinggi Penuh Dendam Nasional

    Kekerasan yang dilakukan oleh para sisa (praja) STPDN, tidaklah berdiri sendiri dan terlepas dari kejadian sebelumnya, tapi telah diwariskan secara turun temurun menjadi “budaya kekerasan” dan “warisan dendam”. Layaknya film India, suatu kekerasan yang terjadi sebelumnya; baik pada anak, adik, kakak, orang tua dsb, belumlah “pupus” sebelum dibalas dengan kekerasan setara yang telah menimpanya. Jadi layak kalau kita sebut saja STPDN itu sebagai ” Sekolah Tinggi Penuh Dendam Nasional.
    Pesan saya: BUBARKAN SAJA STPDN !!!

  21. ridho | 9 April, 2007 16:01

    Memang sangat ironis, sebagai seorang manusia biasa saja pasti akan sangat dikatakan bodoh jika terjatuh untuk kedua kalinya pada lubang yang sama. Sedangkan yang terjadi di IPDN yang dulunya STPDN ini berarti amat sangat terlalu bodoh, setelah kasus kekerasan yang terjadi mengakibatkan hilangnya nyawa seseorang terjadi bukan yang keduakalinya tapi kesekian kalinya. Bahkan ternyata jika ditengok kebelakang bukan hanya kekerasan tetapi juga kebrobrokan moral yang parah. masak kampus sekelas IPDN ditengarai pernah terjadi kasus narkoba, miras, pelecehan seksual dan kasus free sex dimana prajanya pernah ada yang meninggal karna aborsi ilegal. Masyaallah jika kasus seperti ini terjadi di lingkungan dimana orang2nya tidak pernah mengenal pendidikan alias terminalan maka hal itu wajar tetapi yang terjadi hal yang sebaliknya. Tidak ada alasan lagi selain pengakuan secara jantan oleh pihak2 yang bersangkutan untuk mengakui kegagalan dalam sistim pendidikan ala premanisme seperti itu.Premanisme yang bukan hanya dilakukan oleh siswa2nya tetapi media massa telah membuktikna bahwa birokrasinyapun sama saja. Keslahan tidak akan terjadi lagi jika sekolah itu segera DIBUBARKAN masih banyak universitas lain yang bisa menampung siswanya seperti UGM UI dan lain sebagainya yang memiliki jurusan ilmu pemerintahan . sekarnag ini sebaiknya segera mulai dipikirkan rekruitment pamong praja yang lebih transparan yang lebih mengedepankan hati nurani dalam membimbing (orang jawa bilang ngemong) masyarakatnya bukan mempremani masyarakat memperkosa dan melecehkan wanita dan memberikan kontribusi rusaknya moral bangsa. Jika desakan2 yang tegas ini tidak diperhatikan maka tunggu saja aksi2 kekerasan yang lebih hebat dari yang pernah dilakukan di IPDN logikanya jika pamong prajanya seperti itu bagaimna masyarakatnya kelak pasti akan lebih pintar lebih dasyat dan lebih hebat dalam meledakkan “bom” kekerasan dan kehancuran moral masyarakatnya.

  22. Robby | 9 April, 2007 18:28

    satu kata yang tepat…BUBARKAN. sudah terbukti STPDN / IPDN mecetak Pamong “Sakit Moral” bgmn bisa jadi pejabat yang baik klo slama sekolah dididik untuk jadi penjahat, tidak punya nurani, belajar korup.

    sulit untuk mengungkapkan lagi mengenai kekerasan atau sistem pendidikan IPDN, yang ada hanya satu kata ” menjijikan “

  23. kakashi28 | 9 April, 2007 19:00

    Beraninya sama yang gak ngelawan.

    Sama yang ngelawan berani gak!!

  24. Basir | 9 April, 2007 19:37

    IPDN HARUS DIBUBARKAN !!!!!!
    IPDN( Institut Pengbiadaban Dalam negri ) Nama ini pantas diberikan. Jika pemerintah mempertahankan pendidikan Biadab ini maka aparat pemerintah kelak adalah orang2 Biadab.melanggar hak hak hidup manusia.
    Indonesia tidak membutuhkan orang2 biadab dalam pemerintahan.
    kemana aparat pemerintahan di generasi yang akan datang??.

  25. kenz | 10 April, 2007 08:48

    Saya percaya bahwa sebagian besar kita tentu paham bahwa kekerasan tidak efektif untuk membentuk kedisiplinan. Mungkin rektor dan pengajar IPDN juga tahu tentang itu. Masalah pelembagaan kekerasan di IPDN lebih karena sesuatu yang kompleks dari sekedar kekerasan untuk kedisiplinan, yaitu lingkaran setan waham-waham kebesaran yang pada akhirnya ditunjukkan dengan perilaku kekerasan.
    Sindrom Kekerasan IPDN (IPDN Violence Syndrome)

  26. ayu koeman | 10 April, 2007 09:11

    Menurut saya, kasus IPDN bener2 memalukan. katanya lembaga yg mendidik calon pemimpin bangsa, gimana ga bejat lulusan2nya wong pendidikannya kayak gitu..yg penting tuh otak, bukan fisik..kalo pun mau digembleng ya otaknya bukan penyiksaan fisik begitu..para dosen, rektor atau pengurus IPDN pun terkesan menutup mata pura2 gak tau,mereka lebih mentingin jabatanya daripada moral dan hati nurani, mungkin mereka takut juga karena para pelaku kekerasan disana notabene anak2 pejabat juga alias anak kolong..setelah ketauan media paling2 berkelit “kecolongan”..helow…kao cuma sekali baru boleh bilang kecolongan, tapi ini udah berkali2 korban tewas 32 (kalo gak salah), itu mah namanya “Kegoblokan”…
    udah bubarin aja, gak guna juga ada IPDN kalo suasana pendidikannya masih begitu..

    thanks..
    ayukoeman

  27. paijo | 10 April, 2007 09:19

    aduh… wong Rektor koq sampai salah ngomong yah, Kalau basa jawanya wong lanang sing di cekel kuwi omongane (Orang laki-laki yang dipegang omongannya) so…!!!

  28. Riefki | 10 April, 2007 11:20

    Guoblok banget ! semua yang di IPDN mulai rektor, dosen ama mahasiswa2nya…jadi menurut gue..kalo kasus matinya Cliff Muntu diusut jangan hanya mahasiswanya saja juga pejabat strukturalnya..jadi gak masuk akal dong kalo rektor bilang kecolongan itu kegiatan2 pribadi per pribadi.. jadi bagaimana pengawasan di IPDN. Sekarang bukan jamannya era militerisasi di kampus..saya pikir militer aja kayak AKABRI gak parah gitu dalam pembinaan … saya curiga neeh..ada budaya yang salah di IPDN yakni budaya balas dendam diantara praja2 selain itu para dosen membiarkan hal tersebut terjadi..mungkin gak diajarkan juga pelajaran budi pekerti…apa jadinya calon pejabat gak di ajarkan budi pekerti dan cinta kasih ! parah

  29. Amrullah (amuk nalar) | 10 April, 2007 11:57

    kasus IPDN merupakan potret penerapan disiplin primitif. Alternatif disilin tidak harus dengan fisik. Kekerasan fisik yang terjadi di IPDN sama sekali tidak berkaitan dengan tujuan yang hendak dicapai oleh pendidikan institusi itu sendiri. JIka model pendidikannya tidak bisa menjawab tantangan yang terjadi dalam dunia nyata, atau model penyelesaian masalahnya tidak kreatif maka yang akan muncul kemudian adalah berhala institusi.
    IPDN bubar? jangan dulu. Kesalahan bukan pada pembentukan institusi tapi pada sistem yang diterapkan. Ketika kita sakit kepala maka bukan kaki yang kita obati. OK, Emosi boleh tapi rasio tetap harus dipakai.
    Intinya displin primitif IPDN harus diakhiri. dengan segera.

  30. Mas Win | 10 April, 2007 15:11

    Para Praja IPDN lebih cocok dikirim ke perang di Afganistan daripada menjadi Abdi Negara. Kami nggak butuh pemimpin yang bisanya main fisik. Terlalu besar porsi kegiatan yang menggunakan fisik di sana menunjukkan kecilnya porsi kegiatan yang membutuhkan otak.

  31. Feri Koto | 10 April, 2007 20:51

    Bubarkan IPDN???? SAYA KURANG SETUJU!!!
    Dikantor saya kenal beberapa alumni STPDN/IPDN selama saya dinas di Pemda sejak tahun 2001. Saya malah bingung liat tayangan di TV dengan kenyataan alumni STPDN yang saya kenal. Dalam bekerja mereka lebih ramah, sopan dan sabar dalam melayani masyarakat. Jangankan main pukul, nada membentak aja nggak pernah keluar saat berhadapan sama masyarakat.
    Jadi setelah saya cermati, bukan IPDN yang harus dibubarkan, tapi pembenahan dan penegakan sanksi terhadap para pelanggar aturannya (Mahasiswa, dosen, dll) yang harus diperkuat. Jangankan main pukul, nampar yunior aja harus dipecat dari IPDN. begitu juga dosennya, kalo pake kekerasan pada mahasiswanya pecat aja…
    Kasih sanksi yang berat bagi yang langgar aturan di kampus IPDN saya setuju asal tidak pake kekerasan (kalo hukumannya pushup, jungkir-jungkir sih di pramuka, mapala, udah biasa… ngga papa tu…)
    Kalo IPDN di bubarin, bayangkan 4000 mahasiswanya mo dikemanain, kan kacian (yang bakal nanggung penderitaannya minimal 16000 orang=+> 4000 mhsw x (2 ortu + 2 kakak/adiknya) HUKUM aja yang main pukul, jangan yang lainnya jadi korban.. itu baru BIJAK. Kalo nyuruh bubarin sama aja lo ama yang bikin mati Cliff. OK coy…..

  32. Ryan Hidayat | 10 April, 2007 23:59

    STPDN atau IPDN sama aja ga da bedanya!!!
    seharusnya pemerintah harus lebih tanggap dalam mengani masalah ini jangan menutup mata seolah-olah masalah ini hanya angin lalu aja, karena apabila dibiarkan lambat laun bukan nya IPDN melahirkan para pelayan masyarakat tapi sebaliknya melahirkan para “Penganiaya tangguh”.
    Setidaknya ini harus menjadi pengajaran buat pemerintah agar masalah ini setidaknya bagaimana masalah kaya gini tidak terulang kembali. Tetapi apabila ga sanggup ya tidak ada jalan lain selain IPDN dibubarkan di ganti dengan IPDN ( Institut Penganiaya Dan Nonpemerintahan).
    Trim’s

  33. reynard | 11 April, 2007 02:24

    beberapa pejabat IPDN mungkin merupakan manusia tidak tahu diri, tahunya cuma bisa menutupi semua insiden-insiden kematian praja yang lain, selain cliff muntu. untuk Nyoman (re4ktor (Nuklir) IPDN) lu mundur saja, udah gak berguna lagi kok, emang lu PNS tapi kinerja lu gak bisa dipercaya lagi. terus kalau mau komentar di media harap jaga tu mulut, jangan menyakitkan oarng tua korban. yang bukan keluarga korban saja dengan komentar lu kesal.

  34. rr nurindah ws | 11 April, 2007 10:37

    Benar2 memalukan dan memilukan bagi kita semua sebagai bangsa Indonesia…lebih miris dan ironisnya adalah kekerasan spt ini terjadi di dunia pendidikan, apalagi pendidikan yg mencetak pemimpin2 yg ada di negara ini. Sudah terbukti bahwa ternyata orang2 yg duduk dipemerintahan kita adalah orang2 yg bermental bobrok, biadab, binatang, dan tidak berperikemanusiaan. Pantaslah kalau bangsa kita sampai saat ini ga maju2..orang pemimpin2nya aja kaya gitu…gimana skrg Indonesia ga ancur moral bangsanya…lha wong pemerintahannya aja kayak gini…mau di bawa kemana sih bangsa ini ???dimana hati nuranimu…BUBARKAN saja IPDN, tidak akan membawa bangsa ini kedalam kejayaan, tapi hanya akan menambah kebobrokan moral bangsa… periksa semua praja2 yg sudah menjabat di instansi2 pemerintahan..apakah mereka masih biadab atau tidak dalam menjalankan tugasnya. Jangan pernah mengiming2i masayarakat dg biaya sekolah gratis lah segala macem..kalo tyt sekolah disana taruhannya adalah nyawa!Betapa hancrnya hati orang tua mereka yg sudah menjadi korban…takkan bisa terobati dan terhapuskan walau pelakunya udah dihukum mati sekalipun..tak bisa termaafkaaannn…apalagi kalau seluruh dunia tau..ya..memang seluruh dunia ini sudah tau masalah ini…ck..ck…ck..hhmmmmff….benar apa kata Pak Taufik Ismail dalam sebuah puisinya…Malu Aku..Jadi Orang Indonesia…

  35. wadiyo | 11 April, 2007 13:28

    Tidak adakah cara yang lebih baik selain dengan kekerasan???
    masih punya hatikah para pemimpin negeri ini dengan melihat kekerasan itu terus terjadi.
    Jangan gunakan uang rakyat kalau digunakan untuk membantai manusia lain.
    Bagaimana negeri ini akan menjadi baik, kalau kader aparatnya dididik ala smack down.
    Masih manusiakah mereka??
    Kalau ada yang meninggal, paling ada beberapa siswanya yang dipecat,
    kemudian kembali seperti biasa.
    sekali lagi itu uangnya rakyat, bukan uangnya IPDN bung.

    Kecuali kalau IPDN mau dijadikan pendidikan untuk mencetak centheng, tukang pukul atau sukarelawan yang akan dikirim ke Irak dan Afghanistan, baru itu cocok.

    di negeri tercinta ini cara seperti itu tidak cocok dan sudah seharusnya dimasukan sebagai benda antik.

  36. dion | 11 April, 2007 14:23

    Se-Umpama pernyataan Inu mengenai banyaknya korban kekerasan di IPDN itu terbukti berarti memang benteng di IPDN tersebut kuat dan tidak tembus oleh hukum,lalu apa yang ada dalam pikiran para dosen-dosen, senior dikampus maut tersebut. Auzdubillah himindzalik

  37. mufaraa | 11 April, 2007 15:39

    solusi terbaik, ya buabarkan aja….
    toh selama ini juga cuma menghabiskan uang negara aja…
    bisa dibayangkan kita menghabiskan uang pajak kita cuma untuk mencetak birokrat-birokrat yang yang moral dan mentalnya bejat, dan koruptor…

  38. Jojo Rahardjo | 11 April, 2007 15:58

    JEJAK SETAN DI IPDN

    Hampir semua agama dan kitab suci memperingatkan kita tentang bahaya setan yang bisa menjerumuskan manusia ke dalam neraka.

    Namun apakah setan itu atau bagaimana bentuk setan itu? Di sini semua agama memiliki perbedaan dalam menggambarkannya. Sehingga muncul berbagai cerita tentang setan yang sering kali lucu bahkan tidak berdasarkan pada apa yang disampaikan kitab-kitab suci. Sering setan digambarkan seperti tukang sulap, illusionist atau bahkan sebuah species, bukan sebuah makhluk spritual atau makhluk metafisika. Cerita tentang setan memang begitu banyak dan hampir semuanya tidak layak dicerna di zaman IT ini.

    Setan seharusnya adalah sebuah konsep tentang sifat-sifat jahat yang ada dalam diri manusia. Sifat-sifat paling primitif yang masih dimiliki manusia dan memerlukan kekang, bahkan kerangkeng agar tidak terlepas. Keinginan untuk bereproduksi (berketurunan) dan bertahan hidup adalah sifat-sifat paling primitif yang memerlukan kekang dan kerangkeng. Agama telah banyak menginsipirasikan manusia dalam membuat norma atau aturan untuk menjadi kekang dan kerangkeng bagi sifat-sifat primitif itu.

    Namun apa yang kita saksikan beberapa hari terakhir ini di IPDN, sungguh merupakan kebangkitan setan di Indonesia. Bagaimana tidak, lembaga itu yang dulunya bernama APDN, sudah menerapkan cara-cara setan sejak tahun 1991 dalam metoda pengajarannya, yaitu kekerasan, tewas atau pun tidak. Para calon pengelola negeri ini diajarkan untuk menebarkan ketakutan dibanding menggunakan ilmu-ilmu yang sudah dicapai peradaban manusia modern. Hanya calon dengan mental dan jasmani yang kuat saja boleh lulus dari IPDN. Yang tidak kuat, silahkan mampus seketika atau pelan-pelan. Itu berlangsung begitu lama sekali! belasan tahun!

    Meski pun membuat jiwa gemetar, pilu, tidak percaya pada menggelindingnya kematian demi kematian di IPDN, namun tragedi itu telah mendentangkan lonceng peringatan tentang budaya kekerasan yang diam-diam dibangun di sebuah tempat tersembunyi yang juga bisa terjadi di mana saja. Tentu bukan hanya kematian dan luka-luka yang membuat kita prihatin, namun ditinggalkannya akal budi lah yang membuat kita amat gentar dan sempoyongan melihat masa depan Indonesia.

    Itu lah setan yang diperingatkan oleh semua agama!

    Tidak seorang pun atau sebuah kelompok manusia pun yang bisa menghalangi setan itu sejak awal kebangkitannya. Apalagi cuma SBY yang memang seorang yang lemah. Banyak yang kecewa dengan langkah-langkah melempem yang diambilnya baru-baru ini. Rektor yang seharusnya paling bertanggung-jawab dalam membangkitkan setan dibiarkan mengangkang berkacak-pinggang. Padahal setan itu bangkit di sebuah departemen pemerintah yang memiliki pengaruh pada cara-cara mengurus rakyat negeri yang dilanda sengsara berkepanjangan ini.

    Di zaman yang sesungguhnya amat modern ini, di zaman di mana proses belajar menjadi begitu praktis, di zaman di mana informasi bisa diperoleh hanya dengan menjentikkan jari, ada sekelompok manusia yang justru dikendalikan oleh setan. Mereka, species manusia, dikendalikan oleh sifat-sifat paling primitif yang diturunkan dari nenek-moyangnya, species hewan. Ilmu bela-diri untuk kesehatan jasmani dan ilmu pengetahuan manusia yang telah dibangun untuk peradaban manusia yang begitu cemerlang dalam beberapa abad terakhir ini menjadi amat percuma di Departemen Dalam Negeri Republik Indonesia. IPDN adalah kawah candradimuka tempat menetaskan setan-setan kecil untuk dijelmakan menjadi setan durjana di kemudian hari.

    Tuan Presiden negeri ini, saya akan amat memuja tuan, jika tuan seorang yang lantang berkata sambil menepuk dada dengan amat keras di depan moncong-moncong setan: “Saya, Soesilo Bambang Yudoyono, adalah seorang yang anti kekerasan dan kalian adalah hewan…. oleh karena itu kalian harus kembali ke neraka….”

    Namun ternyata tuan bukan orang yang seperti itu dan tuan pun tidak menunjukkan bahwa tuan anti kekerasan, kecuali seorang manusia yang melempem di depan moncong kekerasan yang menyeringai. Mohon tuan agar tidak berkilah sebagai seorang demokrat. Karena seorang demokrat tidak akan menyediakan jalan bagi kekerasan untuk tegak. Karena kekerasan adalah anti demokrasi. Karena kekerasan membariskan robot-robot kejam. Karena kekerasan membekukan daya cipta. Karena kekerasan memandegkan peradaban. Karena kekerasan hanya dimiliki oleh hewan….

    Sekali lagi, ini jejak setan. Semua harus bersama menumpasnya. Apakah kita, bangsa Indonesia, cukup memiliki „adab” untuk menumpasnya?

  39. danang | 11 April, 2007 17:53

    IPDN oh swdih ku mendengar…. baru mahasiswa saja sudah sadis… nanti jika menjdadi camat akan gusur dan gilas dengan satpol PP nya, atau bungkam suara jika korupsi bersama sama.
    IPDN harus dikembalikan ke universitas umum saja dan tidak bergaya Jagoan Pasar seperti itu. “Kami berduka jika satu anak bangsa harus pergi tanpa arti”

  40. beny zairalatha | 11 April, 2007 18:44

    bangsa ini adalah bangsa yang butuh perubahan IPDN adalah contoh dari keboborokan dari sistim yang ada di repulbik ini,fenomena IPDN adalah fenomena kekerasan mereka diciptakan untuk menjadi preman bukan pamong untuk negri ini jadi mari kita satukan langkah untuk membubarkan IPDN. karena masih banyak cara untuk ciptakan pamong negri ini dan kita tidak ingin lagi darah itu tumpah oleh mereka semoga kawan-kawan yang membaca ini untuk ikut serta dalam membubarkan IPDN.

  41. IBNU TAUFIK | 11 April, 2007 18:55

    APA ITU NAMANYA IPDN INSTITUT PEMERKOSAAN,PEMBANTAIAN,PELACURAN DALAM NEGERI! KALAU BISA TUTP SAJA YAN NAMANYA IPDN, dan senior yang menganiaya harus dihukum Gantung

  42. MasIndra | 12 April, 2007 07:50

    Penutupan IPDN tidak menyelesaikan masalah, malah menimbulkan permasalahan baru.

  43. Zaini Hafid | 12 April, 2007 08:45

    kalo liat di tv, gila itumah kekerasan beneran. bukan militer ko pake kekerasan.

  44. Kumpulan Laporan Kebejatan IPDN - Inikah profil calon pemimpin bangsa?, biar cuma sekelas Camat « Sains-Inreligion | 12 April, 2007 10:31

    [...] Ah, jangan-jangan singkatan IPDN mesti diganti menjadi Institut Penganiayaan Dalam Negeri? [...]

  45. Om Day | 12 April, 2007 14:08

    kacau…!!!, emang semua sekolah kedinasan cuma bis cetak algojo alias tukang pukul yg beraninya keroyokan… liat aja para pejabat & pamong praja di seluruh daerah di negeri ini… pass banget dengan gaya senior di STPDN karena emang hasil produk Sekolah Tinggi Preman Dalam Negeri…, PENGECUT & beraninya cuman kalo pake baju seragam & Rame-rame ….KAMPUNGAN..!!!

  46. ARI | 12 April, 2007 17:23

    IPDN BINtang

  47. bambang r | 12 April, 2007 18:27

    Semua tahu tragedi IPDN, getir, sadis, kasihan,tangis (bagus lho diangkat dalam sinetron, yakin ratingnya melesat). bagaimana cerita kampus tragedi diubah menjadi “wibawa” : Cuci Sistem Pendidikan IPDN, Cuci Otak Civitas akadenika (mahasiswa, Dosen, Karyawan)IPDN, sudah di cuci, jemur (biar ga bau apek), terus setrika (biar rapih), terus juuaaal Kampusnya. mau jadi PNS kuliah di PTS atau PTN pun banyak. Perguruan Tinggi kedinasan turut membantu kebangkrutan PTS lho. Mendidik orang serahkan saja kepada Dinas Pendidikan (PTN dan PTS) yang lebih tahu cara mendidik calon sarjana.

  48. joxzyn | 12 April, 2007 22:52

    gimana bisa bener jadi pemimpin, lha wong sekolahnya di IPDN.
    masih sekolah aja udah arogan, dibina untuk anarkis, tidak menghargai orang lain, melakukan pengancaman, penganiayaan, pembunuhan tanpa rasa bersalah, tanpa penyesalan…
    udah kerja di pemerintahan jadi lurah atau camat apalagi…pasti tidak akan memikirkan rakyatnya, pantes aja bangsa negara ini kacau balau…
    kepolisian harus mengusut semua kasus yang terjadi di IPDN/STPDN, semua harus diperiksa, semua praja, dosen, pembina tidak terkecuali semua alumni yang sudah kerja di pemerintahan.
    saya kuatir kalau-kalau lurah/camat saya seorang pembunuh juga. saya tidak mau dipimpin oleh seorang pembunuh…

  49. benis | 13 April, 2007 11:50

    Supaya tidak ada kekerasan lagi di lembaga pendidikan ini, sebaiknya tidak ada penerimaan calon praja baru sampai angkatan preman ini tamat/lulus.Jadi paling tidak 5 tahun lagi baru ada penerimaan praja baru. Lulusan STPD/IPDN yang sekarang, yang akan ditugaskan atau ditempatkan di instansi pemerintah di seluruh Indonesia sebagai PNS, agar namanya, bila perlu fotonya, dan tempat penempatannya diumumkan di media (RRI,TV,Website, surat khabar, majalah) biar masyarakat tahu, teristimewa instansi penerima PNS tersebut. Masyarakat akan bangga punya lulusan IPDN.

  50. Maulidika | 13 April, 2007 16:41

    menurut saya seharusnya semua program seperti itu di hilangkan dan segera ganti dengan program yang lebih sehat karena kita semua mendambakan para calon pemimpin yang bijaksana dan bukan kayak preman, BETUL kan

  51. topaz | 13 April, 2007 17:31

    Secara tidak langsung, kekerasan di IPDN disebabkan adanya pola tradisi turun temurun. Senioritas sangat kental, tapi saya yakin tidak semua praja senior yang ada bersikap anarkis terhadap juniornya…praja yang bersikap anarkis adalah praja-praja yang “sakit hati” lalu melakukan aksi “balas dendam” terhadap juniornya. Kalau boleh kasih usulan, sebaiknya kontak antara junior dan senior dikurangi dengan menempatkan para junior di asrama yang terpisah dengan senior-seniornya.

  52. dix[LenNOn]butUT | 14 April, 2007 13:57

    singkat aja..

    bubarkan IPDN..
    selesai masalah..

  53. bagus | 14 April, 2007 14:55

    kalau ipdn dibubarkan sayang dong,,
    menurut saya mendingan tradisi atas kesenioritasan ditiadakan lagi,,
    itu disebabakan karna kesenioritasan terlalu dijunjung jadi seenaknya aj bunuh anak orang.
    pake otak nggak sech para seniornya,,,,

  54. aya | 14 April, 2007 17:28

    aduuuuuh………..koq gtu sey…masih jaman ya maen tampol-tampolan??knp sey ga pake akal pikiran klo mw ngelakuin sesuatu..??

  55. vree | 14 April, 2007 18:22

    yang bisa aku katakan cuma satu “KEJI”
    jika sekolah pemerintahan seperti itu,gimana jadinya negara ini???untuk sekarang ini kita harus berpikir realistis dan jangan cuma SPEAK ZERO.

  56. reynard | 15 April, 2007 00:42

    hukum di negara ini bagai sarang laba2, kalau nyamuk terjerat, ditangkap terus dimakan, tapi kalau kena tikus hancur tuh sarangnya. pemkot bandung,pemkab sumedang, memang iya praja JABAR dibiayai dengan anggaran kalian, tapi kalau memang mereka pembunuh, penjahat kenapa masih dipertahankan(mungkin tu(preman)anaknya tikus)sudah jadi rahasia umum, pendidikan dengan ikatan dinas kebanyakan diisi anak-anak tikus.dan mereka butuh perlindungan tikus tua. BUBARKAN SAJA!! BUANG_BUANG ANGGARAN_NEGARA_DAERAH_KELUARGA_INDONESIA. I NYOMAN LU kemana?? sudah dipecat ya? Penipu.. seharusnya diPIDANA (melakukan Kebohongan Publik).

  57. idris | 15 April, 2007 09:02

    Memang benar IPDN harus dibuabarkan karena dilatih ala Jet Li,kasihan orang tua membanting tulang demi anaknya menjadi Gubernur,Bupati,Camat. Kalau anak bapak dibegitukan bagaimana perasaan keluarga bapak?

  58. ecep_tea | 15 April, 2007 15:31

    belajar itu pake otak bukan pake otot, ipdn cuma jadi ajang anarky

  59. ecep_tea | 15 April, 2007 15:33

    lebih baik peraturan atau tradisi kekerasan hilngkan karna tidak menyang kut dengan kinerja otak

  60. renijaya | 15 April, 2007 15:56

    Duuuuh….. marah benar para pembunuh praja IPDN yang saat ini lagi dikejar-kejar para ROH Praja yang mereka bunuh. Kok saudara takut juga bahwa pembunuh juga harus dibunuh nyawa ganti nyawa gituuuu masa takut mau dipenjara saja kok takut , dulu waktu jadi algojo rame-rame membunuh Wahyu dan C. Muntu mereka ketawa-ketawa merasa jadi orang yang berhak mencabut nyawa , kok sekarang para pembunuh yang sudah jadi pejabat di pemerintahan Daerah ketakutan setengah mati beluuuuum mati lho .. katamya jagoan bisa jadi pembunuh adik adik klasny. Dan anehnya masih ada saja para Pemimpin negeri INDONESIA yang terkenal PACASILAIS yang mempertahankan keberadaan kampus IPDN mati-matian dengan alasan mau dikemanain 4000 lebih mhsnya …. itu urusan siapa menabur dosa dan kejahatan dia harus menuai KEMATIAN nyawa gitu yang dicabut paksa koko masih dibelaim gi,ama sih …. para pemimpin
    negara INDONESIA tercinta sadar deh, bayak duit APBN yang bisa digunakan untuk beli obat sakit jiwa ke 4000 mhg ipdn jangan sok jadi pemimpin kalau tidak bisa memimpin masiswa supaya sembuh dari keinginan menyiksa adik-adiknya. Apakah lulusan ipdn tsb bisa diharapkan kelak jadi pemimpin yang dapat melindungi rakyat kecil dari kemiskinan dan kena bencana stunami dan bencana gempa seperti sekarang ini bencana terus terjadi ini artinya tidak direstui sadaaar dong jangan enak saja sekarang sudah gendu makan duit rakyat dari APBN tidak tahu maluuuu, kok mental begitu mau lanjuuut . sekali lagi BUBAAAAAAAAAKAN IPDN TIDAK ADA KOMPROMI apapun alasannya

  61. teddy | 16 April, 2007 13:31

    lebih baik IPDN bibar

  62. mosen simatupang | 16 April, 2007 16:50

    Kalau alasan 4.000an praja yang masih ada dijadikan alasan untuk tidak membubarkan IPDN, itu mah gampang penyelesaiannya.

    Tinggal tammatkan saja mereka cepat cepat. Toh kalaupun pendidikannya terus dilanjutkan akan memperburuk mental mereka saja. Dengan demikian uang negara bisa dihemat dan 4.000 an generasi indonesia bisa terselamatkan dari sakit jiwa kronis.

    Bubarkan IPDN

  63. haris.setiawan | 16 April, 2007 17:41

    bangsa indonesia sudah benar-benar parah kekerasaan yg ada di IPDN benar-benar susah menycoreng bangsa indonesia.kalo ma di usut semua aspek yg ada di IPDN ikut telibat atas semua kejadian2 yg ada di IPDN dari org yg paling atas(pejabat2) sampai pata perajanya mungkin faktor pertama UANG.biasa yg kaya yg berkuasa itu lah yg terjadi diIPDN para adik kelas wajib membayar kakak kelas ya untuk dekengan.sayang orang yg seharus ya jadi wakil rakyat malah nggancurin rakyat gimana mau maju bangsa ini kalo masalah ini aja pemerintah enga bisa menuntaskan.IPDN adalah sekolah pemerintah wajar kalo pemerintah melindunginya.kenapa org STPDN yg membunuh cuma dapat hukuman 1.5 thn sedangkan org biasa bisa 20 thn-seumur hidup malah bebas lagi.itu menandakan pemerintah masih blm bisa menegakkan hukum.wahai para pemerintah sadar lah tuhan ada,hukum tuhan lebih kejam dari pada hukum manusia.

  64. Indy | 17 April, 2007 09:30

    Apa yang terjadi sekian puluh tahun di STPDN/IPDN benar2 ga masuk akal, bagaimana mungkin sebuah institut besar yang katanya didirikan untuk melahirkan calon2 pemimpin bangsa, pembelajarannya diisi dengan aksi jotos, tendang, pukul dan sejuta kekerasan yang berujung dengan kematian?? dan yang lebih ga masuk akal sampai ke dosen, dekan dan rektor-nya pun saling unjuk kebohongan untuk menutup-nutupi borok dari institusi gila seperti itu! belum lagi ternyata pembunuh2 Wahyu Hidayat bebas berkeliaran dan berkarier dengan mulus pula, saya heran gimana sih sesungguhnya hukum di Indonesia ini? orang yg jelas2 bersalah, malah bebas eh giliran yang berani bersaksi dan membeberkan kebenaran seperti Inu Kencana malah sibuk dicekal! Lexi Giroth yg jelas2 memberi perintah utk menyuntikkan formalin malah belum jadi tersangka tapi yang menyuntikkan, Iyeng Supendi sudah positif jadi tersangka ck…ck…ck… hebat betul yah aparat penegak hukum kita, benar2 “ADIL” menilai mana yang salah dan mana yang benar, jadi guys menurut saya percuma aja IPDN dibubarkan kalo manusia2 hasil didikannya masih bercokol dan bekerja di pemerintahan, ibarat nebang pohon cuma daun pucuknya aja yang habis, sementara akarnya masih kuat dan masih mampu menghasilkan pucuk2 baru yang kalah “hebatnya” dari alumni2 STPD/IPDN skrg

  65. mus | 17 April, 2007 22:14

    aku punya sodara yang alumni ipdn d/h stpdn, tapi nggak nolak kalo ipdn atau apalah namanya lembaga pendidikan pemerintah yang bisa bikin orang baik-baik jadi pembunuh di bubarkan saja.
    jelas mereka melakukan pembunuhan, secar terstruktur. tak ada kata lain yang tepat kecuali bubaaaarkaaaaan saja.

    bubar, bubar, bubarkan saja
    bubarkan stpdn sekarang juga!

    buat, bapak-bapak yang jadi evaluator tolong kacamatanya dibenerin sehingga bisa melihat semuanya dengan bening dan jernih, dan merekomendasikan PEMBUBARAN IPDN!

  66. juli novianto | 18 April, 2007 11:18

    Bagus dunk ada pembantaian. kan biar disiplin siswanya. Tapi jangan sampai mati.

  67. regnaryo | 19 April, 2007 04:18

    Beon you peace,

    with this letter means we use glad have in this sde ipdn have victem cases education with criterial sex false,high otority,and drunken master.Causes it if some time long ago we heart some civiland have regriter ktp and kk have do asexuality prob,mind we have some cases condition .have thias moment all
    to repair aginst menta higent with reback LKMD and P-4 .hope this cant lern have dont many victim like hpen in upside.

    Thanks to atention.Beon you peace

  68. nesta | 19 April, 2007 16:30

    sayonara, sayonara, sayonara, sayonara……..
    bubarkan IPDN…………….
    sayonara, sayonara, sayonara, sayonara……..
    bubarkan IPDN…………….
    buat apa susah, buat apa susah………
    mikirin IPDN yang ga abis2nya……….
    mikirin kekerasan di IPDN……………….

    Sex Bebas…………….yo mari
    pantesan Lulusan IPDN kalau liat cewek matanya jelalatan…………..
    kayak kucing garon……………
    wakakak…..wakakak……wakakak……..

    baru make baju camat aja belagu………
    emangnya hidup cuma di dunia aja woi anak2 IPDN………..

    banyak sarjana di negeri ini…….
    emangnya IPDN aja………
    yang bisa jadi pemimpin………..

    sayonara, sayonara, sayonara, sayonara……..
    bubarkan IPDN…………….
    sayonara, sayonara, sayonara, sayonara……..
    bubarkan IPDN…………….
    buat apa susah, buat apa susah………
    mikirin IPDN yang ga abis2nya……….
    mikirin kekerasan di IPDN……………….

  69. Idung C | 24 April, 2007 11:57

    Saya dengar dari TV, sudah tidak ada sisi baiknya dari IPDN. Pengurus IPDN, siswa seniornya, bahwa siswa yuniornya adalah PENGECUT dan PECUNDANG.Menurut saya mereka MEMALUKAN, MRNJIJIKAN, sejenis KORENG juga KOTORAN. Saya katakan demikian karena mereka disiapkan untuk menjadi PEMIMPIN BANGSA. Sangat tidak sesuai. Ini masalah MORAL Boo! Bisa dipastikan seluruh lulusan IPDN adalah bagian dari sistem ini, karena yang melakukan dan yang mendiamkan adalam SAMA. Saya rakyat Indonesia malu, muak, jijik, dan marah terhadap IPDN dan seluruh sistem dan bagiannya.

  70. Setan Kampung | 25 April, 2007 22:04

    Hanya satu kata untuk IPDN : BUBARKAN!……
    gitu aja kok repot….ngapain yang kaya begituan dipelihara, ngehambur hamburin duit doang….kayaknya untuk menjadi seorang pemimpin,or aparatur negara ga usah ada yang kaya gituan (IPDN) juga negara ini bakalan tetep ada dan mungkin akan “lebih beradab”..buktinya dulu waktu zamannya Bung Karno, IPDN blon ada,negara kita bisa jadi negara kuat, dan aparatur negaranya “lebih clean”….sekali lagi buat IPDN dan kroni kroninya, kalian dibiayain pake duit rakyat,jadi ngga usah belagu dech apalagi so jadi atlet smackdown segala…***** aja dech di *******!!!
    ~basudewaputra~

  71. budi santoso | 26 April, 2007 07:12

    itulah yang menjadikan hampir semua petugas negara yg jadi pelayan publik terutama dri depdagri jadi dracula/ bersifat seperti preman/otoriter/merasa paling tahu dan kuasa/ koruptor/lebih mengedepankan kekuasaan dari pada amanah dll dll (astafirullah)
    maklum mereka terutama yg lulusan stpdn/ipdn
    ataupun sekolah2 kedinasan lain tidak pernah
    punya kurikulam u/ menjadikan lulusan mereka jadi abdi negara (PAMONG PRAJA) tapi hanya mencetak jadi penguasa negara (PANGREH PRAJA)
    semoga ALLAH mengembalikan mereka2 yg punya kuasadinegeri ini terbuka mata hatinya setelah kejadian ini AMIEN

  72. aku | 16 May, 2007 14:04

    wuisst..salut aku pada semua teman-teman yang mau berbicara dalam forum ini-hebat!!Tapi ‘mereka’ memang lebih hebat. Masa ada pendidikan yang layaknya pendidikan ‘kandang wedus’ menurut aku dan beberapa teman-temanku. Miris..kebenaran telah diketahui, tapi aparat hanya beberapa saja yng berusaha menyingsingkan lengan baju membenahi maslah ini, tapi yang lain sibuk menimbun kekayaan transferan uang barangkali dari pihak-pihak yang pasti banyak sekali ingin menyuap ‘mereka’.Pak Inu..aku salut padamu dengan 2 jari jempol yang ku miliki, mungkin untuk para penjajah pendidikan–aku juga mengacungkan jempol untuk kalian karena telah berhasil menciptakan kerusuhan dalam pendidikan…ha ha ha!!tertawalah kalian karena bisa menyuap aparat sekarang di dunia sehingga kalian lepas dari jeratan hukum.Siapa Tuhanmu??ingat Tuhan tak pernah memejamkan mata..siap-siap saja kelak di neraka!!Percuma IPDN di bubarkan jika para dosen..dekan..dan rektornya masih bernilai bobrok. Ya to??sudikah pemerintah tetap mengucurkan dana untuk institut yang tak layak seperti itu?pantas saja aparatur negara banyak yang g becus..ayo!!benahi semuanya..aku cinta Indonesia,aku cinta pendidikan di negaraku,jangan rusak pendidikan di negaraku..

  73. gue | 24 May, 2007 22:02

    IPDN??
    CUAPHE DEEEEEEEEHH…..!!!!!!

  74. CHATHY | 27 May, 2007 15:06

    anggota DPR berkelahi saat sidang, apakah DPR dibubarkan?
    Amggota DPR berzina, apakah DPR dibubarkan
    amggota polisi baku tembak, Apakah kepolisian dibubarkan.
    intinya kita semua manusia biasa yang tak luput dari salah dan khilaf

  75. NP.Dipa Pandu | 30 May, 2007 22:24

    ass…
    kepada semua saudara2 q yang terhormat,,,

    Sesungguhnya ap yang saudara2 semua pikirkan ttg kami tidaklah seperti apa yang ada didlam mindset saudara2 semua,, saya berbicara bkn tuk membela diri,, saya hanya berusaha memberikan sedikit penjelasan,,, tapi saya yakin didalam mindset saudara2 q sudah terbangun opini negatif tentang kami,,, mungkin itu karena Dirty Journalistik,,, yag saat ini bisa saya lakukan adalah dengan mengajak saudara2 q semua tuk datang an meihat lebih dekat,, setelah itu silahkan saudara berbicara,,,

  76. dee | 27 July, 2007 14:49

    heran banget ya!!!???
    senioritas masih dipertahankan!!!!
    segitu bangganya bisa jadi kakak kelas
    trus jadi seenaknya sendiri…
    emangnya tujuan sekolah tinggi-tinggi nyampe ipdn tu buat apa sih?
    klo cuma mau berantem sana di lapangan aja!
    lagian juga kekerasan dalam badan ipdn tu nggak cuma sekali aja kan?????
    kenapa semuanya pada diem???
    ga ada yang buka suara…
    baru deh kalo udah ketauan jeleknya gini,,,ribut semua!!! pake ngeles segala….

  77. Birokrat Indonesia | 28 July, 2007 14:02

    Psikopat!

  78. IPDN/STPDN Watch | 28 July, 2007 14:17
  79. komen | 13 September, 2007 15:22

    cm mo komentar dr NP.Dipa Pandu on May 30, 2007 10:24 pm
    “yag saat ini bisa saya lakukan adalah dengan mengajak saudara2 q semua tuk datang an meihat lebih dekat,, setelah itu silahkan saudara berbicara,,,”
    ya terang aj kl ud terjadi pasti ditutup2in
    biar keliatannya ga ad masalah ap2 d sana..

  80. tami | 18 December, 2007 15:22

    wah kayaknya kalo lulusan STPDN itu baiknya ditarush bukan dikecamatan,,, deh karna gak cocok banget,,, sebagai anggota yang melayani masayarakat kan harus bijaksana, baik hati, sabar, dan tegas (bukan kekerasan) kalo tindakannya kaya bgitu kasian juga anak STPDNnya jadi kritis jiwanya (so gue pernah pacaran sama anak STPDN) ampun deh sikapnya susah ditebak dan pendiam dan agak keras dan semua rata-rata begitu ungkap J.E.A (mantan aku) baiknya mereka ditaruh di LP..LP gitu biar tuh urusin NaPI yang bandel… kan mereka udah kebiasa dengan kekerasan so bagusan mereka taruh disana kan… kalo penjaga LP sekarang Lemah lembut banget… udah itu aja saran gue untuk Pemerintah… TARUH AJA LULUSAN STPDN DI LP…. SELURUH INDONESIA… (PASTI BANYAK YANG MIKIR UNTUK MASUK IPDN) CKCKCK….

  81. TEUKU 15 | 12 February, 2008 11:54

    IPDN jngan dibubarkan, karena bukan lembaganya yang salah, yang salah hanya sistem pengasuhannya saja kok, jd menerut saya yang sistem salah tsb. digantikan dngan sistem yang baru.biar IPDN lebih baik kedepannya,alias “masa gara2 2 ekor nyamuk kelambunya harus dibakar”?? orang yang menginginkan IPDN bubar hanya orang syirik aj,orang yg syirik ken tandanya ga mampu.

  82. TEUKU 15 | 12 February, 2008 12:03

    IPDN berjaya terus…!! walaupun banyak caci makian km tetap the best of the best, biar orang meliat dari sisi jeleknya aja, tp nanti dilapangan masyarakat akan tau da sadar dengan sendirinya kok kalo IPDN menghasilkan para birokrat yang pduli pada masyarakatnya.bukan menganiaya masyarakatnya seperti kata2 komentator2 itu..tu…

  83. abrew | 27 January, 2009 22:32

    tanpamu stpdn apa jadi nya pemerintahan ini ang I6

  84. agus | 4 March, 2009 22:53

    untuk “TEUKU” : kayaknya kamu gak tau diri nech….dah salah masih ketawa..mestinya ngaca….itulah negara kita sampai sekarang tidak sembuh dari gejolak ekonomi dan masyarakatnya banyak miskin ….bangsat lo…………..bubarkan ipdn

  85. seno | 20 March, 2009 23:43

    DOSA-DOSA IPDN 2

    Keberadaan Pakultas dan Jurusan (Manajemen dan Politik) di IPDN juga justru menambah buruk institusi. Hampir semua pekerjaan unit-unit, bagian dan bidang diambil alih atau kalo boleh menyebut DIRAMPOK oleh Pakultas. Banyak pegawai menganggur karena pekerjaan tersentralisasi pada Pakultas. Ironisnya, Pakultas tempat menampung para penjahat, buangan daerah, tidak kompeten.
    1. Menurut inpormasi. Pernah kejadian, anggaran praktek lapangan yang berada di bagian lain sebesar Rp. 1 milyar diminta oleh pakultas untuk pelaksanaan kegiatan PPL Muda Praja di Kabupaten Sukabumi. Padahal Bagian yang berwenang tsb katanya sudah ekspos di depan Bupati tinggal dilaksanakan, tapi karena diminta pakultas akhirnya bagian tsb mengalah.
    2. Banyak dosen dan pelatih tidak kebagian jatah mengajar dan melatih karena diambil oleh orang2 pakultas. Bayangkan dalam 1 semester, masing-masing dosen dan pelatih di pakultas mendapat jatah 9 kelas??
    Dimungkinkan ini terjadi karena orang2 pakultas tidak laku di luar atau mungkin takut kalah bersaing dengan kolega di unpad, unpas, uninus, unwim dsb (tidak usah menyebut ITB.. terlalu tinggi)!
    3. Dekan tidak pernah berkoordinasi dengan Purek I tapi justru potong kompas! Akibatnya, kurikulum tiap bulan berganti, mata kuliah aneh-aneh.
    4. Penghasilan orang2 pakultas jauh berada di atas orang2 unit2 lain.
    5. Mungkin pakultas overload pekerjaan, tapi coba tengok unit2 lain. Banyak pegawai yang datang hanya bengong… baca koran…. terus pulang.
    Bayangkan gimana seorang pegawai golongan 2 mau beli susu buat anaknya kalo gajinya kecil Cuma gara2 keberadaan pakultas!?? Kasian. Dholim bener.
    Ini menjadi kewajiban Rektor beserta para PR. Mampu tidak menyelesaikan permasalahan ini??
    Mudah2an jangan seperti Johanes Kaloh!
    Harus diakui…. IPDN pasca meninggalnya Cliff Muntu semakin buruk!!

    Tindakan yang perlu dilakukan :
    1. Hapus keberadaan Pakultas yang justru memperburuk citra IPDN. Tidak ada nilai tambah sama sekali karena justru menurunkan kualitas Praja.
    2. Ganti pejabat2 yang “money oriented” dengan individu2 yang kompeten. Kalau pimpinan mau, masih banyak kok org2 di IPDN yang baik2.
    Itu saja dulu…. Mampu gak rektor melakukan ini?????

    By kars_eno@radnet.id

  86. eno_ler | 22 March, 2009 06:17

    Saudara saya ada yang kerja di IPDN pernah cerita memang tidak ada yang bagus di IPDN. Ini semua katanya sengaja diskenario oleg Depdagri.

  87. ali | 27 March, 2009 21:23

    senior ipdn itu haus tahu artti cinta saa senior yach

  88. ali | 27 March, 2009 21:25

    tadi gw salah speak maksud gw senior hrs sayang ama yuniornya

  89. andreas | 24 May, 2009 14:21

    gw tetep mau ko daftar ipdn. yang suka menjelekan mungkin yang ga bsa masuk aja kale

  90. abdi negara | 1 June, 2009 04:56

    biar bagaimana ipdn tetap jadi prioritas kerja, karna emang menjamin kok

  91. guido XVII | 5 August, 2009 12:37

    berani taruhan yang jelekan nama IPDN pasti dulunya tidak lulus trus sakit hati atau temannya yang anak IPDN lebih sukses dari dia,hahaha, itu mah namanya cemburu….. jelek banget yah hatinya. cuci dong hatinya semua pantas aja negara tidak maju soalnya masyarakatnya tdk bs terima orang sukses,CEMBURUAN terus sihhhhh….hahahaha

  92. Haris | 6 August, 2009 22:00

    Dengar-dengar dari orang, untuk masuk ke ipdn harus sediakan uang minimal 100 jt, wah kalau saya mendingan buka usaha, ketimbang masuk ipdn

  93. silayar | 21 August, 2009 01:03

    buat guido xvII,apa begitu cara bicara seorang praja ipdn,pantas??????berbeda pendapat itu wajar,ngga ada yang cemburu ,lagian siapa juga yang cemburu dengan tukang biking ktp

  94. W 15 NU XVII | 20 September, 2009 16:23

    BHINEKA NARA EKA BHAKTI….
    PRAJA!!!!!!!!!!!!!!!

  95. Dipa Belajar Bijak | 28 December, 2009 10:26

    Yang Buruk2 jadikan pelajaran,,ambil hikmah…
    Yang Baik2..Pertahankan..toh Kalo Memank IPDN banyak buruk nya..dah dari dulu IPDN thu di Bumi Hanguskan Pemerintah..ga usah nunggu komen2..ato petisi ato apalah namanya…yang pasti pelajaran terbaik buat IPDN lengkap dengan Isi - Isi nya…Wajar jika Masyarakat Indonesia berkata keras,,ato merasa tidak puas..itu karena keberadaan Lembaga itu Pure dari Uang Rakyat…yang harus nya buat semua nya sadar…lakukan lebih baik..jika ada opini..alumni sama saja dengan pegawai yang lain,,itu harus jadi pelecut semangat…jadi…biarkan sekarang ipdn terekspos….semakin banyak celaan..makian..ato sumpah serapah..itu adalah dorongan semangat…jgn pernah terlena oleh pujian….dan birkan kontrol sosial masyarakat menghidupi keberadaan IPDN…

  96. wira | 27 February, 2010 08:09

    setiap kekerasan dan kesalah pemakaian wewenang di salah satu lembaga negara yang tinggi seperti IPDN ini harus di tindak keras dan dibersihkan.
    IPDN harus menghasilkan praja
    praja yang bersih dan siap untuk mengabdi kpd negara Indonesia tanpa keburukan sedikitpun.

    semoga IPDN akan menghasilkan anak bangsa yang baik bermartabat dan terpercaya!!!

    setiap orang pasti menginginkan ipdn akan baik!!!

  97. dodod | 13 March, 2010 22:39

    orang akedemisi hanya bisa komentar,banyak bicara tanpa aksi.yang terpenting kinerja bukan komentar.akademisi hanya bisa berpikir dan mengkritik tanpa bertindak, berbeda dengan JAR,LAT,SUH.itu tandanya orang pengecut, bagaimana bisa akademisi jadi pamong, sedikit-sedikit tawuran antar faultas, orang sipil gak akan bisa mimpin, gak tau pilosopfi.paling jadi penasehat dari pamong haha… pantas negara gak maju2, terlalu banyak akademisi yang berdebat dan bersitegang leher, bukan praktek dan bekerja.payah….beda dengan PAMONG.

  98. bed | 13 March, 2010 22:47

    ujung tombak dari pemerintahan adalah KEL/DESA, bukan presiden.kalau kerja sedikit-sedikit ngeluh, gak siap dalam segala situasi bisa bubar negara ini.kalau ada masyarakat yang datang bawa golok masa lari, macam anggota DPR.yang kuliah pake sistem kredit pikir dulu sebelum mengkritik, lebih parah kalian, sudah masa depan gak jelas, performance hancur-hancuran, hidup gak teratur,kuliah asal-asalan,gak ada kebanggaan,gak ada kehormatan, eh beraninya mengkritik,hidup gak teratur, mana bisa jadi pamong.PAYAH…

  99. cool | 13 March, 2010 22:52

    kuliah gratis, fasilitas lengkap,dapat gajih, ya banggalah wong dari gerbangnnya aja megah kaya gitu.lain dengan yang sistem kredit semester, udah bayar,masuk seenaknya, gak ada tujuan hidup, gak bisa bedain mana itu yang pantas sama enggak, tawuran melulu,gak dibentuk jadi orang yang berkarakter, pantas dilapangan kalah bersaing dengan pamong,Hidup praja!!!!!!!!!!!!…….

  100. wer | 13 March, 2010 22:55

    kalau ada yang mati di universitas lain, gak ada yang ribut.mungkin karena gak penting dan gak berharga kali ya hehe…(sama gak berkualitas haha…)tapi kalau di IPDN, satu orang yang mati, seluruh dunia ribu?ya iyalah, yang mati kan calon Lurah,Camat,Bupati,Gubernur hehe… masa dibiarin.

  101. pria paling ganteng di dunia | 15 June, 2011 17:06

    Great post. It really contains valuable information. Thanks for sharing!

Silakan berkomentar, kawan!