Enak di Blog dan Perlu

Mardiyah Chamim 

Mei kembali datang. Hampir sepuluh tahun silam, Mei dipenuhi tangis dan darah. Amarah meledak di hampir seluruh pojok Jakarta, juga di beberapa kota lain di Indonesia. Entah berapa persisnya orang yang meregang nyawa di pertokoan dan gedung perkantoran yang sengaja dibakar, entah oleh siapa. Entah berapa pula perempuan yang diperkosa secara brutal dalam tragedi Mei 1998 itu. Tak pernah ada proses yang terang benderang untuk mengusut kekejian di hari-hari gelap yang disusul kejatuhan penguasa orde baru Soeharto.

Majalah Tempo memilih tragedi pemerkosaan massal ini sebagai cover story pada Oktober 1998, saat majalah ini bangkt lagi setelah mati suri dibredel. Tapi, pada saat itu, tak sedikit sumber yang memilih tutup mulut dan menyangkal kejadian sebenarnya. Aroma ketakutan di antara para korban dan saksi masih begitu kental, mungkin hingga kini.

Pada 2003, Komisi Nasional Hak Asasi Manusia meluncurkan serangkaian buku yang mendokumentasikan Tragedi 1998. Ratusan korban diwawancara dan dimuat testimoninya dalam buku bertajuk “DISANGKAL” . Sungguh sebuah judul yang tepat, mewakili sikap pemerintahan bangsa ini yang sangat enggan mengupas tuntas, dan cenderung menyangkal kebenaran kejadian kelam itu. Sebuah testimoni pada buku itu membuat saya bergidik. Seorang mahasiswi yang tinggal di Jakarta Barat diperkosa oleh gerombolan laki-laki bejat saat hendak pulang ke rumah. Tak cukup di situ, puting payudara Si Nona dipotong. Dalam kesakitan, Nona malang ini sempat menatap mata si pelaku laknat.Lebih dari dua tahun Si Nona mengungsi ke Singapura. Pulang dari Singapura, dia belum sanggup melewati jalanan tempat dia diperkosa. Sampai suatu kali, dengan ditemani ayah-ibunya, Si Nona memberanikan melewati jalanan itu. Dan, seluruh aliran darahnya berhenti manakala mata Si Nona bersiborok dengan mata lelaki pemerkosanya bertahun lampau. Si Nona langsung kejang. Kepedihan itu kembali menggigit.

Saya pribadi menghaturkan respek kepada Komnas HAM yang telah merilis buku ‘Disangkal’. Lembaga ini masih dipercaya sebagai tempat mengadu oleh korban kekejaman, termasuk Tragedi 1998.

Namun, saya juga sangat menyayangkan kualitas buku ‘Disangkal’ yang kurang dalam mewakili suara korban. Bahkan, bisa dibilang telah mereduksi penderitaan korban hanya dengan penggalan-penggalan testimoni yang cuma satu-dua paragraf, jauh dari komprehensif. Dimensi ruang dan waktu, kronologi kejadian, detik demi detik horor yang dialami korban tidak ditampilkan. Begitu pula proses konseling dan pemulihan diri yang bertahun-tahun dilalui korban, absen dari buku ‘Disangkal’.

Penggalan testimoni yang tidak komprehensif ini justru menghadirkan kesan tidak nyata. Kita jadi dibuat bertanya-tanya, “bener gak sih semua ini?” Jangan-jangan ini semua hanya khayalan? Tentu saja, Komnas HAM tidak mau kesan seperti ini yang justru mengemuka.

‘Disangkal’ justru memberi pentas pada para aktivis dan pemerhati pergerakan demokrasi. Ulasan mereka diberi tempat panjang-lebar. Padahal, seharusnyalah pentas diberikan kepada para korban yang mempercayakan kisah kepedihan mereka kepada Komnas HAM. Jangan mereduksi kisah mereka, jangan mengkhianati kepercayaan mereka.

Tahun depan, tragedi Mei 1998 bakal genap sepuluh tahun. Saya masih berharap Komnas HAM bergerak lebih progresif dengan menghadirkan dokumentasi yang lebih memadai. Mei yang kelabu hendaknya jangan terlupakan begitu saja.

****

Komentar [29]

Feed  •   Trackback  •   Kirim Komentar

29 Komentar untuk “Mengenang Mei Kelabu”

  1. Ben | 5 May, 2007 18:02

    Dari Tempo sendiri, dokumentasi soal kejadian itu gimana? Kurang lengkap utk dijadikan buku?

    Ayo dong Tempo bantu Komnas HAM bikin buku yg lebih bermutu, yang bisa mengingatkan kembali pihak pemerintah yang nampaknya tidak peduli.

  2. maylo | 5 May, 2007 23:34

    Ternyata sudah hampir 10 tahun peristiwa itu tapi sampai sekarang belum pernah ada kepastian jumlah korban dalam peristiwa itu. Komnas ham sudah berusaha tapi tidak atau belum maksimal kitapun tak pernah tahu. hanya sebatas usaha yang tidak jelas arahnya. Ini hanya menjadi sebagian kecil dari sejarah kelam untuk bangsa yang katanya besar.

  3. sastro | 6 May, 2007 20:05

    Sepakat dengan bung Ben, seharusnya sejarah ditulis apa adanya agar semua dapat mempelajari situasi pada saat itu. Tetapi sampai hari ini negara ini “menipu diri sendiri” dengan sejarah-sejarahnya. Maksudnya sih jelas untuk kepentingan rejim penguasa / kelompok minoritas. Atau bukan kepentingan rakyat yang tertindas hari ini.

    Apakah Tempo juga akan jadi bagian dari itu? itu sih pilihan. Kalau harapan saya Tempo harus berada pada kepentingan rakyat bukan penguasa.

  4. moe | 7 May, 2007 18:57

    Assalamualaikum

    Sebelumnya, saya sudah baca buku mbak Chamim tentang ”Sejarah Tumbuh di Kampung Kami”. Bagus sekali mbak.

    Dan sering ketika hendak menulis sebuah feature, saya menggunakan buku mbak Chamim sebagai panduan. Boleh kan mbak?

    Saya hanya pengen mengelar uneg-uneg saya saja di sini. Kebetulan tidak ada teman seprofesi yang mendengar uneg-uneg saya.

    May day juga sedang saya rasakan di Rembang mbak. Mulai Sabtu kemarin, semua dinas dan instansi tidak diperkenankan oleh Bupati untuk berbicara kepada pers. Kebijakan itu tertuang dalam SK Bupati.

    Pers juga tidak bisa langsung mencari konfirmasi berita ke dinas-dinas karena kebijakan itu.

    Untuk mencari konfirmasi, Pers harus lapor dulu ke Bagian Humas dan Infokom. Bagian humas dan infokom yang akan mengupayakan untuk mencari konfirmasinya. Selanjutnya Bagian Humas dan Infokom akan menggelar konfrensi pers bagi semua wartawan.

    Bagi yang memiliki berita ekslusif, dengan cara ini saya pikir, jangan harap bisa menjadi ekslusif. Karena beberapa kawan pers yang tidak tahu duduk permasalahan, turut diundang dan mendapatkan ”durian runtuh”.

    Sementara kawan yang memiliki berita eksklusif harus gigit jari karena ke ekslusifannya urung.

    Saya cuma sedang berpikir dan pengen meluapkan uneg-uneg ini kepada kawan. Kenapa di era bebas seperti ini, masih ada kebijakan-kebijakan dari pemerintah yang seperti ini. Sungguh sangat disayangkan sekali, karena kebebasan memperoleh informasi menjadi terganjal akibat kebijakan seperti itu.

    Untuk sementara gitu aja dulu mbak. Memang ini baru hari pertama. Tapi hari pertama itu sudah terasa tidak mengenakkan hati.

    Wasalamualaikum Wr Wb

  5. Piet Mambang | 8 May, 2007 10:57

    Sebagai saksi mata kerusuhan Mei 1998, saya cuma menghimbau supaya negara segera membubarkan milisi-milisi sipil yang berkedok organisasi kemasyarkatan dan keagamaan. “They are nothing but wolf in sheep’s clothing”

  6. Piet Mambang | 8 May, 2007 11:08

    Sedikit tambahan:
    seingat saya, sebelum kerusuhan “besar” barlangsung di pusatnya Indonesia (jakarta), beberapa kerusuhan pra kondisi sudah terjadi di beberapa daerah. Tapi yang mencolok adalah di medan yang hanya berselang kira-kira seminggu.
    Ada yang punya “memori” lain?

  7. Ook Nugroho | 9 May, 2007 12:42

    Mana ada ceritanya kejahatan yang dilakukan tentara di sini dibongkar. Lihat itu kasus 27 Juli. Apa yang sudah dibikin Megawati untuk kejadian itu? Nggak ada kan? Nggak berani kan dia nowel idung si baju ijo? Alih2 mengusut malah dia gandengan mesra banget sama algojo lapangannya. Asyik deh.

    Apalagi ini kasus Mei, yang korbannya kelompok menoritas yang memang sengaja dipelihara untuk dijadikan semacam “sansak” buat pemuas kemarahan sosial di lapis bawah. Jadi, saya sih skeptis sekali untuk soal ini.

  8. Iin | 11 May, 2007 12:27

    gimana ya perasaan para korban Mei baik dari pihak keluarga atau korban sendiri,semoga bulan berkabung ini -Mei- tidak terlang kembali di masa-masa depan Indonesia nan tercinta ini…

  9. heriyanto | 12 May, 2007 22:16

    Assalamualaikum

    Biar saja mau dibuka atau mau ditutupi, akhirnya murka dari ALLAH SWT juga yang menghukumnya.

    Indonesia tidak akan lepas dari bencana dan kehancuran karena ALLAH SWT yang akan menghukum Bangsa Indonesia terutama para pemimpin negeri ini.

    Semakin lama akan layu akibat dari bobrok dan munafiknya bangsa ini.

    Wasalamualaikum Wr Wb

  10. Mas Win | 16 May, 2007 10:05

    Menyembuhkan luka yang sudah terlanjur menjadi infeksi sangatlah sakit. semkain lama, luka itu semakin parah dan sulit diobati. Proses itulah yang tidak mau dialami oleh Bangsa Indonesia. Semoga Tuhan akan menyatakan keadilanNya kelak. Kepada teman-teman yang menjadi korban, Tuhan memberkatimu, Kawan. MataNya tidak kurang terang untuk melihatmu, telingaNya tidak kurang tajam untuk mendengarmu.
    Salam.

  11. oksan | 27 May, 2007 14:24

    bro tolong dong image kerusuhan meinya jangan cuman di ceritain (you see you belive it) lihat kerusuhan ambon sampai merc studio bikin dokumenternya “teluk hitam pasir galela”
    kita yang pada lihat menjadi sadar betapa nilai nyawa setiap org begitu berharga , membuat kita berpikir lagi bagaimana kalau kita yang mengalami hal yang seperti itu

  12. oksan | 27 May, 2007 14:31

    nd tdk perlu takut untuk itu semua , gue tertarik ama kejadian ini karena mirip ama pengayangan cina dimakassar yang hampir terjadi th 2005 - 2006 kasus latimojong disini digambarkan betapa masyarakat sadar dan udah bosan akan kebengisan walaupun di gerakkan oleh yang menggaku mahasiswa masyarakat sadar dan tdk mau ikut larut karena adanya dokumenter yang sempat terbit dan dipublikasikan oleh rekan rekan wartawan di makassar (apa kira 2x yang terjadi kalau rumah elo yang di lempari dan dibakar) itulah

  13. Adami | 30 July, 2007 14:07

    Tuk Para pelaku…….Hukum Karma !
    Kalau ada keluarga anda terkena musibah…ingatlah apa yang telah anda lakukan…Hukum itu akan berlaku..bila tidak ke orang tua pastilah ke anak atau cucu atau buyut….sekali lagi itu karena apa yang telah anda lakukan.

  14. Eko | 17 March, 2008 15:35

    Your’news are ver GoooooooooooooooooooooooD .

  15. amna | 14 May, 2008 23:14

    tidak akan pernah terselesaikan semua kasus-kasus seperti itu, apabila masih ada BIN yang bermain di dalamnya contohnya kasus munir, AMARAH UMI MAKASSAR, MEMAR MAKASSAR dan kasus-ksaus lainya yang mungkin tidak akan pernah diungkap.

  16. octavia alida mochtar | 23 June, 2008 23:01

    sungguh menyedihkan bangsa ini karna hingga detik ini, 23 juni 2008 tak ada tanda - tanda ataupun setitik harapan mengenai kejelasan kasus mei yang merupakan tragedi berdarah bagi bangsa ini dimana begitu banyak air mata darah tertumpah ,tanpa ada satu pihakpun yang bertanggungjawab atas terjadinya peristiwa tersebut.

    Nyatanya demokrasi yg diusung 10 tahun silam tak cukup membawa bangsa ini menjadi bangsa yang bermartabat. kita masih dapat melihat banyaknya tindakan anarki dan vandalisme, ketidakadilan dimana - mana, bahkan negara kita yang katanya negara hukumpun tak mampu mengungkap pelaku tragedi mei 98.

    menurut saya tragedi tersebut TIDAK AKAN PENAH TERUNGKAP selama peraturan hukum tersebut dijalankan oleh orang - orang yang tidak memiliki integritas dan hati nurani. bukan hukumnya yang salah tapi orang / oknumnyalah yang tidak menjalankan hukum itu sesuai aturannya.

    KOMNAS HAM, DPR, KEJAKSAAN, masing - masing harus bekerjasama menjalankan fungsinya sebagaimana mestinya. karna apabila kerjasama tersebut tidak berjalan maka hal itu akan menjadi sia2.

    kita sebagai generasi muda harus memiliki harapan dan kemauan untuk mengubah bangsa ini. bukan dengan vandalisme, bukan dengan adu otot, melainkan dengan integritas dan hati nurani untuk memusnahkan segala bentuk ketidakadilan. tidak ada yang salah dengan domonstrasi, karna merupakan alat penyampaain aspirasi kita, yang salah apabila aspirasi tersebut diikuti dengan tindak anarki dan hal - hal lain yang tidak selayaknya karna bangsa kita bukan bangsa reman.

    STOP VANDALISM

  17. fenny | 17 November, 2008 00:40

    kasus mei 1998 tidak akan pernah ditelusuri lebih lanjut oleh pemerintah,karena tingkat diskriminasi sangat tinggi..

    mengapa?
    karena hampir 90% korban pemerkosaan gadis ialah warga keturunan Tionghua,,
    jadi pemerintah mengambil tindakan “melupakan” sejarah itu..

    JIka benar ini terjadi..
    maka bencana tidak akan segan2 mendatangi Indonesia

  18. wen | 31 December, 2008 11:38

    satu kata buat para pelaku MEI…

    ANJING!!!

    malah kalian lbh rendah drpd binatang!!

    mpe neraka juga KARMA bakal ngehantuin kalian..

    TUNGGU AJA!!!!!!!!!1

  19. David | 26 March, 2009 06:45

    LO” Semua yg tribat di Mei Kelabu adalah orang” yg Katro,yg mau Melakukan apa saja hanya tuk Kpntingan Individual lo aja.

    Biar Tuhan aja yg Membalas semua kelakuan lo itu,asal lo tau.
    DOA PARA KORBAN akan Mengantakan lo k Neraka dan akan Menahan Jiwa lo Tuk Tetap Brda dsna Slama-lamanya…!!!

  20. Tragis | 8 April, 2009 23:15

    TRAGIS…

    Satu kata untuk kejadian Mei Kelabu ini…

    GILA…

    Satu kata untuk para pelaku Mei Kelabu ini…

    NERAKA…

    Satu katu untuk menggambarkan tempat yang sesuai untuk para pelaku Mei Kelabu ini

    SEDIH…

    Satu kata untuk menggambarkan emosi kerabat para korban Mei Kelabu ini…

    Salam Sedih…

  21. fucker | 20 July, 2009 21:40

    dasar anjing yg merasa terkait tragedi 98..

    lebih bagus kalian perkosa babi ato perkosa mak mu sendiri

    dasar manusia tak berotak

    ati2 lar kalian dtmpt yg gelap krn hantu2 gentangan menuntut bls atas perlakuan kalian..

    dasar pukimak natuuuuu org tak bermoral

  22. fucker | 20 July, 2009 21:49

    bagi org yg trkena musibah ne km brhrp tabah dlm menjalankan hidup ne…………

    biar tuhan yg membalas apa yg mereka lakukan…

    kalau bisa mudah2 tuhan mengutuk mereka dengan cara tragis seperti ditabrak kereta api,ditabrak mobil…,ampe badannya hancur lebur,,,

    aminnnnnnnnnn

  23. wanna | 17 September, 2009 22:07

    klo gw sbg ket,tionghoa gw merasa di lecehkan..gw ga trima..klo gw jadi pres.tionghoa gw bakal balas kelakuan indo yg kurang ajar…gw bakar tuh indo anjing

  24. alfito | 12 May, 2010 07:34

    terkutuk lah pelaku2 pemerkosaan massal, semoga kalian mendapat balasan dari Tuhan !!

  25. eko celsi | 12 May, 2010 10:18

    TUNGGU PEMBALASANYA DI AKHERAT NANTI

  26. ichal | 1 May, 2011 08:50

    knapa sih masalah tu gg di usut ampe tuntaas

  27. URL | 31 March, 2012 09:56

    … [Trackback] …

    [...] Read More: blog.tempointeraktif.com/portal/mengenang-mei-kelabu/ [...] …

  28. gold detecting | 12 April, 2012 23:38

    … [Trackback] …

    [...] Read More: blog.tempointeraktif.com/portal/mengenang-mei-kelabu/ [...] …

  29. nathan gold | 15 April, 2012 06:25

    … [Trackback] …

    [...] Informations on that Topic: blog.tempointeraktif.com/portal/mengenang-mei-kelabu/ [...] …

Silakan berkomentar, kawan!