Enak di Blog dan Perlu

burhan-blog

Pesan itu, meski tak dituliskan, begitu kuat menancap di The Waldorf School di Los Altos, California. Meski sekolah ini ada di Lembah Silikon, yang menjadi jantung industri komputer di Amerika Serikat, tak ada sebuah komputer pun di sekolah mereka. Juga tak ada iPad, laptop, ataupun proyektor. Juga tak ada akses nirkabel seperti yang ini menjadi tren di sekolah-sekolah elite di Jakarta. iPhone, BlackBerry, dan telepon seluler lainnya haram hukumnya bagi siswa.
Yang ada di sana justru seperti di sekolah di kampung Belitong. Hanya ada papan tulis, kapur warna-warni, rak-rak buku, dan bangku. Di sekolah juga tersedia pena, kertas, jarum dan benang rajut, serta tanah liat untuk membikin kerajinan tangan.

Kuno? Ya. Tapi sekolah ini justru diminati oleh para orang tua yang kebanyakan adalah bos-bos perusahaan di Lembah Silikon. Chief Technology Officer dari situs eBay.com mengirim anaknya duduk di kelas IX di sekolah ini. Sejumlah bos Google, Apple, Yahoo!, dan Hewlett-Packard juga melakukan hal yang sama.

Waldorf di Lembah Silikon ini hanya satu dari 160 sekolah Waldorf di seantero Amerika Serikat. Mereka menerapkan filosofi mengajar yang sudah berumur berabad-abad, yakni berfokus mengajarkan kegiatan fisik, belajar kreatif, serta menguatkan interaksi antarmanusia.

“Saya sepenuhnya tak setuju bahwa Anda butuh teknologi untuk mengajar tata bahasa,” kata Alan Eagle, 50 tahun, yang mengirim putrinya, Andie, menjadi 1 dari 196 siswa SD di Waldorf. “Kalau ada yang bilang bahwa iPad bisa membuat anak saya belajar aritmetika atau membaca, itu konyol.”

Eagle jelas bukan lelaki yang buta teknologi. Dia insinyur ilmu komputer di Dartmuth dan bekerja sebagai pejabat humas yang tinggi di Google. Dia bahkan menjadi penulis pidato bagi komisaris Eric E. Schmidt, komisaris Google. Dia biasa menggunakan iPad dan ponsel pintar untuk bekerja. “Anak saya, Andie, kelas V SD, belum bisa menggunakan Google. Anaknya yang kedua baru belajar memakai gadget setelah kelas VIII.

Guru Andie, Cathy Waheed, adalah mantan insinyur komputer. Dia mengajarkan ilmu pecahan dengan cara sederhana: memotong-motong kue atau apel menjadi seperempat, setengah, atau seperenam belas.

“Selama tiga minggu kami berbagi makanan sampai kenyang,” katanya. “Ketika saya membagikan pecahan makanan itu kepada siswa, saya berhasil memikat perhatian siswa.” Mereka belajar berinteraksi dengan sesama dan menonton film.

Apakah cara belajar melalui pecahan kue dan merajut ini lebih baik daripada sekolah konvensional? Pengelola Waldorf berdalih sekolah Waldorf tak diciptakan untuk melatih siswa yang sekadar memenuhi standar pelajaran matematika dan membaca kurikulum yang ditetapkan. Tapi tetap saja sekolah ini melahirkan siswa jempolan. Data dari Asosiasi Sekolah Waldorf di Amerika Utara menunjukkan bahwa 94 persen muridnya diterima di SMA bergengsi, seperti Oberlin, Berkeley, dan Vassar. Itu data 1994 sampai 2004.

Tak semua setuju dengan cara Waldorf, tentu saja. “Memberikan pendekatan teknologi akan memberi keunggulan,” kata Paul Thomas, profesor pendidikan di Furman University. Belajar komputer akan membuat mereka bisa berkompetisi di dunia modern.

Tapi para orang tua murid di Waldorf punya alasan lain. Mereka mempertanyakan apakah sebegitu penting anak-anak untuk belajar komputer, mengapa mesti terburu-buru belajar? “Komputer itu supermudah. Itu seperti memakai pasta gigi,” kata Eagle. Google, misalnya, telah diciptakan, sehingga tidak ada alasan anak kecil tak bisa memakainya.

Jadi, jangan merasa tugas Anda selesai bila Anda sudah menyekolahkan anak di sekolah penuh iPad, komputer, dan Internet. Jangan-jangan justru itu bukan sekolah terbaik? Siapa tahu.

Komentar [5]

Feed  •   Trackback  •   Kirim Komentar

5 Komentar untuk “Kapur, Tanah Liat, Papan Tulis dan Bukan Laptop!”

  1. andi tenrie | 19 January, 2012 23:49

    Nnnah lo! Lain di Los Altos, California lain di Indonesia! di Negara kita tercinta pada umumnya anak-anak sekolah SD dan SMP/SMU sudah gak mampu berhitung tanpa kalkulator atau belajar tanpa alat canggih termasuk didesa(kampungku)di Sul Sel, para guru pengajarpun ogah menulis dipapantulis dan menerangkan ajarannya(semua dicopy, murid harus belajar sendiri tanpa bimbingan sang Pengajar). Uuuuuh(sedih banget), banyak murid dan orang tuanya kalau sudah tidak memakai computer dan dll disekolah, mereka merasa sekolah itu primitif dan terkebelakang, sungguh menyedihkan gak bisa dan malas makai otaknya, harus dibantu oleh mesin!

  2. sandra | 31 January, 2012 18:38

    kegiatan fisik (seperti mengajarkan pecahan dgn apel) sudah pasti bisa menancap dikepala lebih dalam, bahwa komputer adalah yg perangkar super mudah (sesuai dgn tujuan penciptaannya) jga benar, tapi memisahkan anak dgn radikal thadap tehnologi malah akan menumbuhkan rasa penasaran mereka, jadi dengan mengutip lirik lagu dangdut ‘yang sedang2 saja’ adalah yang lebih baik… ;)

  3. Saipul | 6 February, 2012 04:53

    Menarik..mungkin boleh juga diterapkan secara seimbang disekolah Indonesia misalkan hari senin, rabu, jumat pakai cara non tekhnologi komputer lalu hari selasa, kamis dan sabtu dibolehkan memakai tekhnologi komputer..

  4. nap company | 10 July, 2012 13:06

    Oh ya, bener kah :-/

    Tapi klo di pahamin alasan nya, ada benernya juga sih

  5. conventional method learning,why not? | SugarLessCoffee | 26 February, 2013 14:12

    [...] “Kapur, Tanah Liat, Papan Tulis, dan bukan Laptop!” [...]

Silakan berkomentar, kawan!