Enak di Blog dan Perlu

Naskah Terbaik Kompetisi Esai Mahasiswa Menjadi Indonesia 2012

Oleh:  Gigay Citta Acikgenc

Program pertukaran pelajar yang pernah saya ikuti dua tahun silam meninggalkan jejak abadi di bilik memori. Hari-hari di sekolah yang saya jalani selama satu tahun ajaran membuka pintu kesempatan untuk saya merasakan perbedaan sistem pendidikan di Italia dan di Indonesia. Pengalaman sekali seumur hidup ini sukses membuat saya mencetuskan sebuah cita-cita baru: Menteri Pendidikan Republik Indonesia. Dan setelah saya pulang ke tanah air, imajinasi posisi panglima tertinggi di sektor pendidikan formal tersebut semakin tumbuh di benak saya.

Sekolah yang Menyenangkan

Tatkala saya menjadi murid di sebuah SMA negeri di kota Roma, ada percik antusiasme yang membuncah sebelum saya berangkat ke sekolah. Terpaan angin dingin bumi eropa setiap pagi ketika sedang menunggu bus tidak menyurutkan semangat saya untuk hadir di ruang kelas. Kemampuan bahasa Italia saya yang belum seberapa juga tidak menciutkan nyali saya untuk mengikuti ujian lisan maupun tulis yang sebenarnya tidak wajib mengingat sekembalinya saya ke Indonesia saya tetap akan mengulang kelas tiga SMA. Akan tetapi, mata pelajaran yang menarik serta sistem evaluasi yang bebas dari model pilihan ganda mengaburkan kendala bahasa dan cuaca yang menghadang saya.

Sesuai dengan usia saya yang saat itu berumur 17 tahun, saya ditempatkan di kelas IV Liceo Scientifico Stanislao Cannizzaro. Kelas IV disana setara dengan kelas 2 SMA di negara kita. Dan seperti yang tertulis di nama sekolah saya, saya masuk di sekolah Ilmu Alam. Yang unik, selain belajar Matematika, Fisika, dan Kimia, alokasi jam Sastra Italia, Sastra Latin, Sastra Inggris, Filsafat, Sejarah, dan Sejarah Seni tidak dianak-tirikan. Tak hanya kemampuan berhitung yang diasah, namun kami dilatih pula untuk mengenal keping – keping masa lalu yang acap kali di Indonesia tidak diselami lebih dalam kecuali jika Anda mahasiswa Ilmu Sejarah.

Selama satu tahun tersebut, jendela wawasan saya diperlebar dan keran pengetahuan yang terbuka dari berbagai disiplin ilmu membanjiri isi kepala saya. Saya memaknai kutipan populer Carpe Diem di jam Literatur Latin. Carpe Diem yang ditulis oleh Horace – yang artinya adalah Seize the Day – mengingatkan saya untuk tidak menyia-nyiakan kesempatan hidup yang saya dapat hari ini. Lalu, di sesi Literatur Italia saya mengapresiasi fungsi moral dongeng Pinocchio dan Cinderella serta menganalisis faktor internal novel abad 17 karya Robinson Crusoe di jam Literatur Inggris. Saya juga membedah lukisan School of Athens karya Michelangelo dan mencoba memahami filsafat politik dari pemikiran filsuf asal Britania Raya, John Locke.

Saya tiba di Italia dengan kemampuan berbahasa sebatas ‘Halo! Nama saya Gea. Saya datang dari Indonesia’. Tiga bulan awal saya benar – benar merasa seperti alien. Ketika berada di kelas, menahan kantuk adalah kegiatan utama karena saya sama sekali tidak menangkap materi pelajaran atau obrolan yang sedang mereka bicarakan. Akan tetapi, seiring berjalannya waktu, saya membuktikan sendiri keajaiban otak manusia dalam beradaptasi dengan bahasa baru. Di bulan Desember 2011, saya mulai bisa berkomunikasi dua arah dan memberanikan diri untuk mengikuti ujian Literatur Italia dengan sub topik Il Purgatorio karya Dante.

Sepanjang satu tahun ajaran 2010/2011 itu, saya tidak pernah bertemu ujian dengan soal pilihan ganda. Yang saya hadapi adalah selembar kertas folio kosong. Saya tidak pernah menyilang jawaban, saya merangkai jawaban. Apa yang saya dan teman – teman pahami adalah yang akan kami tuangkan dalam bentuk tulisan. Beruntung sekali para guru sangat menghargai partisipasi saya setiap kali ada ujian. Mereka menilai ujian saya berdasarkan perkembangan tata bahasa Italia saya. Apresiasi ini pula yang membuat saya berangkat ke sekolah dengan perasaan senang, bukan paksaan atau pun sebuah keharusan.

Letup Semangat yang Lenyap

Perbedaan kontras sangat terasa ketika saya kembali dan mengulang kelas 3. Jam sekolah yang tinggi, materi yang padat dan diujikan dalam bentuk Ujian Nasional sebagai syarat kelulusan meredupkan percik api semangat yang dulu pernah saya rasakan. Saya kehilangan waktu luang dan kebebasan melukiskan pikiran dalam bentuk tulisan. Di Italia, saya hanya berada di sekolah dari pukul 8.30 sampai pukul 13.30. Dan untuk lulus SMA, murid – murid disana diperbolehkan menulis apa saja dalam bentuk karya ilmiah yang nantinya akan dipresentasikan. Host-brother saya kala itu menulis tentang badut dan kaitannya dengan karya pelukis Picasso. Selain karya ilmiah yang bisa dipersiapkan di rumah, ujian di dalam ruangan (sit-in test) juga diselenggarakan oleh pemerintah. Teman saya menulis sebuah esai dengan tema you are what you eat (Kamu adalah apa yang kamu makan).

Bukan berlebihan jika saya mengatakan masyarakat kita hari ini adalah produk kurikulum nasional. Pendidikan adalah salah satu faktor pembentuk karakter umum suatu masyarakat. Meskipun ada perubahan, kurikulum dulu dan kini sebetulnya memiliki napas yang sama: materi pelajaran yang membeludak, jam sekolah yang tinggi, sistem evaluasi model pilihan ganda, dan ujian yang terstandardisasi (standarised-test).

Kalau hari ini masih banyak orang yang tidak malu melakukan tindak pidana korupsi, bisa jadi karena pelaksanaan EBTA/EBTANAS sampai yang namanya diubah menjadi Ujian Nasional tidak dianggap sebagai tempat bersemainya benih – benih generasi koruptif. Pelaksanaan Ujian Nasional yang rentan kecurangan adalah rahasia umum. Banyak murid yang saking takutnya atau saking malasnya akhirnya membeli soal dari pihak yang tak bertanggungjawab. Karena mereka dituntut untuk memenuhi nilai minimum kelulusan, tidak semuanya mampu menomorsatukan kejujuran. Soal pilihan ganda yang diujikan memudahkan para murid untuk menghalalkan praktik sontek - menyontek. Model evaluasi yang melihat nilai sebagai indikator kelulusan dan keberhasilan siswa memproduksi peserta didik yang belajar dengan berorientasi pada nilai (score-oriented), bukan berorientasi pada spirit pembelajar sejati (learning-oriented) yang seharusnya menjadi landasan setiap orang yang pernah mengecap pendidikan formal.

Karena sifatnya berorientasi pada nilai, alhasil pola belajar - mengajar di kelas mau tidak mau berfokus pada bagaimana nanti kami (baca: siswa) bisa lulus Ujian Nasional. Akibatnya, yang kami pelajari di sekolah adalah skill menjawab soal dengan cepat dan tepat. Dan yang dikejar oleh para tenaga pengajar, kepala sekolah, dan Menteri Pendidikan adalah kenaikan angka statistik kelulusan.

Introspeksi Diri

Parameter keberhasilan pendidikan nasional yang diukur oleh nilai batas minimum yang mampu dilewati siswa adalah potret kesuksesan yang semu. Buktinya semakin banyak orang yang bisa sekolah, berita tawuran antarpelajar, demo mahasiswa yang berujung kericuhan masih santer terdengar. Apa pasal ini bisa terjadi? Di kelas tidak ada cukup ruang untuk melatih cara berkomunikasi yang santun melalui media diskusi tukar opini. Dua jam mata pelajaran tidak cukup efektif untuk mempertajam radar berimajinasi dan bereksplorasi.

Selama 12 tahun kami dijejali soal – soal  yang tidak akan kami hadapi di kehidupan nyata. Kami tidak dibekali cara berpikir kritis karena kami tidak dibiasakan menulis. Dari ulangan harian sampai Ujian Nasional yang berbentuk pilihan ganda tidak mendorong kami untuk mencintai riset pustaka alias merangsang kami untuk gemar membaca. Sehingga, akhirnya tidak terbentuk pola pikir yang kreatif dan berpikiran terbuka (open-minded) dalam menyelesaikan masalah. Pengenalan pentingnya leadership (kepemimpinan) dan entrepreneurship (kewirausahaan) ? Di sekolah – sekolah swasta mungkin dua hal ini diselipkan. Akan tetapi, di sekolah negeri yang notabene untuk rakyat semua kalangan? Belum tentu.

Kita perlu berbenah. Sebagai lembaga negara yang memegang tongkat kekuasaan, Kementrian Pendidikan Nasional harus tahu diri. Kita tidak boleh mengabaikan data Badan Pusat Statistik (BPS), pada Februari 2012 yang menyatakan bahwa jumlah pengangguran secara nasional pada Februari 2012 mencapai 7,6 juta orang dengan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Februari 2012 sebesar 6,32 persen. (sumber: http://www.pikiran-rakyat.com/node/203205 Selasa, 25 September 2012, 11.56 ). Alokasi dana APBN sebesar 20% jangan lagi digunakan untuk proyek yang tidak berdampak langsung terhadap kualitas peserta didik. Sistem perekrutan guru dan lulusan bergelar sarjana pendidikan wajib ditinjau ulang. Belajar dari negara dengan sistem pendidikan terbaik di dunia, Finlandia, guru – guru disana merupakan lulusan dengan nilai yang menduduki peringkat 1 sampai 5. Dengan model evaluasi berupa esai tentu dibutuhkan kompetensi sumber daya manusia yang lebih mumpuni agar tulisan yang dibuat benar – benar dapat melihat sejauh mana pemahaman siswa.

Jika Aku Menjadi Menteri Pendidikan

Saya ingin merampingkan materi yang terlalu detil dan memotong jam sekolah yang memakan waktu lama supaya percik api antusiasme yang pernah saya rasakan juga hadir di setiap individu. Saya ingin sedari dini warisan budaya seperti batik, wayang, upacara sakral, kesenian daerah diperkenalkan di sekolah. Setidaknya jika ada yang mengklaim, kita tidak hanya berteriak saling menyalahkan tetapi nyatanya kita tidak meruwat budaya Indonesia. Saya bermimpi profesi guru kembali kepada hakikatnya sebagai pendidik, bukan sekadar pengajar yang hanya mempersiapkan siswa untuk lulus ujian. Saya ingin nadi budaya baca – tulis dan rasa ingin tahu selalu berdenyut di pelosok pedesaan hingga jantung perkotaan. Saya tidak mau institusi modern mematikan potensi berpikir kritis anak – anak hanya karena tidak ada yang memicu kebiasaan berargumentasi di ruang kelas. Harapan saya pendidikan di tanah air tidak lagi menjadi ajang transfer ilmu yang menjadikan murid adalah cetak biru sang guru. Peserta didik harus mampu mentransformasi ilmu pengetahuan sehingga tujuan akhir pendidikan untuk mencetak generasi yang mampu menjawab tantangan zaman dapat tercapai.

Reformasi kurikulum hanya dapat diwujudkan oleh orang nomor satu di jajaran aparatur Kementrian Pendidikan Nasional. Saya belum tahu bagaimana caranya mecuri atensi presiden agar kelak beliau bersedia mengamanahi saya posisi yang menjadi poros utama penyelenggaraan pendidikan formal oleh negara. Akan tetapi, paling tidak mulai dari hari ini saya telah menghimpun gagasan perubahan yang layak diperjuangkan.

Dengan titel Ibu Menteri, saya juga ingin mengajak masyarakat untuk menghapus citra ‘Anak IPA lebih pintar dari anak IPS’. Nosi ‘Setiap Anak itu Unik’ harus disebarluaskan. Kelebihan di bidang olahraga, musik, seni rupa, jangan lagi diremehkan. Orang tua harus diberi pencerahan bahwa nilai di atas kertas bukan ukuran absolut keberhasilan anaknya. Ujian Nasional digantikan oleh tugas akhir berupa proyek sosial atau karya ilmiah agar siswa menyadari bahwa kesuksesan yang nyata tidak mendewakan angka semata. Namun, berawal dari ketekunan dan kerja keras, bukan dari tak-tik menjawab soal pilihan ganda dengan tangkas.

Imaji orang yang terpelajar dinilai berhasil karena pencapaiannya dalam bentuk materi; kaya raya, rumah dua, mobil merk ternama, harus pelan – pelan digeser menjadi imaji individu yang keberadaannya membawa manfaat sebanyak – sebanyaknya bagi sekitar.

****

Komentar [67]

Feed  •   Trackback  •   Kirim Komentar

67 Komentar untuk “Jika Aku Menjadi Menteri Pendidikan”

  1. intanpermataku | 13 December, 2012 10:41

    Sepakat..!! *emak yang gerah dengan pendidikan nasional*

  2. puri | 13 December, 2012 11:18

    Setuju
    Semoga cita2 sist gea untuk jadi menteri pendidikan dpt sgr terwujud

  3. adya | 13 December, 2012 11:22

    sungguh menginspirasi banget nie tulisan,,smoga nanti anda bisa jadi mentri pendidikan,saya doakan,,:)

  4. similikiti | 13 December, 2012 12:37

    Sepakat!! Kurikulum di Indonesia memang bisa dibilang absurd. Anak-anak dijejali pelajaran yang sebenernya belum begitu penting untuk mereka. Salah satu contohnya adalah bahasa Inggris. Anak kelas 1 SD kan baru belajar baca-tulis. Eh .. bahasa Indonesia aja belum lancar, udah dijejali dengan bahasa Inggris yang cara bacanya beda ama bahasa Indonesia. Ya punyeng anak saya :|

  5. Andries Sibarani | 13 December, 2012 12:52

    Tulisan yang sangat penting untuk dicermati oleh para perancang kebijakan pendidikan nasional di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

  6. Sriayu | 13 December, 2012 13:29

    Visi dan misimu tentang pendidikan nyaris sama dengan diriku, anak muda…!
    Sehingga terkadang muncul pemikiran; lebih asyik mengajar di bawah pohon mangga dari pada di sebuah tempat yang disebut sekolah.
    Semoga suatu hari negeri ini memiliki Mendiknas yg visinya seperti dirimu, atau justru mimpimu ini benar-benar terwujud suatu hari nanti.
    Proud of You..!

  7. arti | 13 December, 2012 15:58

    tahun berapa nih kira2 jadi menterinya mbak? asap ya, udah kacau balau nih pendidikan Ina :(

  8. Andi Tenrie | 13 December, 2012 16:12

    Nabi ummat Islam, Rasullah Muhammad SAW telah bersabda: `Ajarilah anakmu ketika ia masih diayunan´ jadi apa salahnya mendidik anak dgn bermacam ilmu ketika masih kecil selama tidak dipaksa dan dipukuli namun sebaiknya diajari berdisiplin ketika masih sangat kecil, tanpa bimbingan dan pengajaran dari ortu ataupun guru disekolah, heeemmmm! Kita manusia, bila kecil dimanja bersarnya teranja-anja/terbiasa, hanya ketika kita kecil bisa belajar salah dan benar, ketika kita sudah besar dan dewasa baru diajari salah-benar, maka banyak diantara kita yang melawan dan menentang!

  9. Ahsan | 13 December, 2012 16:12

    Luar biasa! Semoga menteri-menteri pendidikan selanjutnya adalah orang-orang yang mempunyai pemikiran seperti Anda. :)

  10. bayuaji | 13 December, 2012 17:55

    luar biasa , pendidikan berorientasi nilai akhir bukanlah solusi yang tepat bagi pelajar , karena yang kita butuhkan adalah praktek dan pengertian akan proses dalam belajar , bukan untuk menggunakan segala cara untuk mendapatkan nilai 100 , tak akhyal apabila negeri kita banyak koruptor karena dari awal pendidikan kita diajarkan untuk mendapatkan hasil akhir yang baik bagaimanapun caranya bukan bagaimana memahami pelajaran dengan baik bagaimanapu caranya, outstanding essay ! :)

  11. aris rinaldi | 13 December, 2012 18:27

    inspiratif sekali

  12. Muhammad Nuh | 13 December, 2012 19:01

    Luar biasa…! Sangat inspiratif. Smoga anda bersama pak Dahlan Iskan, pak Jokowi-Ahok, dapat segera berada pada posisi kepemimpinan negara ini melakukan transformasi radikal bangsa.

  13. Irtik Iriantika | 13 December, 2012 19:39

    Hebat!! Sebuah pathokan hanyalah pembatas kreativitas. Sistem kognitif para siswa menjadi stuck dengan adanya suatu target yang dipaksakan. Dukung Kak Gea jadi Mendiknas!! Jujur saya bosan ketika menjadi anak SMA, apalagi tuntutan nilai UN. Alhamdulillah sekarang sudah mahasiswa, bebas mengutarakan apa saja dalam mempelajari semua mata kuliah, lebih free, dan ikhlas menjalaninya. Sukses terus buat Kak Gea! :D

  14. noni | 13 December, 2012 21:11

    tulisan yg sangat mencerahkan dan inspiratif.
    memang ini yg diharapkan saat anak2 Indonesia mendapat kesempatan belajar keluar. Supaya mereka bisa melihat alternatif metode pembelajaran yang lebih ‘membebaskan’.

    Belajar dan sekolah seharusnya sarana agar insan menjadi lebih terdidik dan menjadi independent thinker.

    Bukannya menjadi terkungkung dengan pola pikir konservatif ‘guru selalu benar’ dan terpenjara oleh ukuran nilai seperti sekarang.

    Sy dukung dan doakan agar menjadi Menteri Pendidikan yg bisa membangun generasi penerus bgs ini ke arah yang benar.
    seperti yg dicita-citakan oleh para perintis kemerdekaan kita di jaman 1900an…

  15. Syafrudin | 13 December, 2012 21:26

    Ide2 Gea sudah ada di konsep Sekolah Alam. Jika konsep belajar seperti Sekolah Alam diterapkan, tidak ada siswa merasa jam sekolah terlalu banyak atau materi pelajaran terlalu detail. Yang ada hanya belajar, bermain, dan bertualang yang menyenangkan.

  16. Afrilia | 14 December, 2012 04:45

    luarbiasa!

    apa yang saya harapkan pada pemerintah dan budaya pendidikan ada di sini. sangat baik sekali, menuliskan apa yang seharusnya kita tulis untuk akhirnya menjadi dasar dari letak perubahan tersebut. saya ikut mendoakan agar Anda dapat secepatnya menjadi Menteri Pendidikan. aamiin.

  17. Musthofa Asrori | 14 December, 2012 07:26

    Keren.. Pilihan dan pilahan diksinya sungguh beda, menukik dan agak susah ditebak. Idenya brilian, inspiring, dan menghentak kesadaran. Cita luhurmu kan jadikan engkau Mendiknas esok. Terus berkarya, Citta..!

  18. rika | 14 December, 2012 08:00

    setuju. semoga jadi renungan bapak mendiknas, dan jajaran kementrian DIKNAS. #emak yang pengen liat anaknya lebih ke analitical thinking. bukan sekedar jawaban benar atau salah

  19. rika | 14 December, 2012 08:14

    semoga cita2nya terkabulkan

  20. Ucok Sahala | 14 December, 2012 09:13

    Adakah di antara kita yang dapat memastikan, agar “Uncle Nuh” dan “uncle BY” membaca tulisan ini?

  21. nungkasha | 14 December, 2012 10:45

    You go girl !

    Doaku besertamuuuu.. Aamiin !

  22. lennirosalia | 14 December, 2012 11:43

    emang benar kurikulum sekarang bikin anak didik stres, dan pantesan banyak anak sekolahan yang kesurupan karena jiwanya yang sdh tertekan dengan tuntutan kurikulum tadi.
    good….Gea.

  23. Tenri Salamun | 14 December, 2012 12:48

    Bravo Gea ! Tidak semua orang bisa mendapat kesempatan melihat dunia luar, tetapi yang lebih penting adalah tidak semua orang bisa memetik manfaat/keuntungan dari pengalaman hidupnya, dan berniat untuk membagi dengan banyak orang lain. Semoga Allah SWT melancarkan jalanmu mewujudkan sistem pendidikan nasional yang lebih baik, demi masa depan Indonesia tercinta. Amien !!!

  24. semino | 14 December, 2012 13:20

    Bagus Gigay!!
    Siapkan dirimu untuk menjadi Mentri Pendidikan Nasional

  25. Erik | 14 December, 2012 14:22

    Ayo Gigay, gantikan menteri pendidikan sekarang yang menurutku kurang becus bekerja..

  26. Panji Nugraha Gomis | 14 December, 2012 14:55

    amazing….
    tulisan yang benar2 luar biasa..
    semoga keinginanmu suatu saat akan terwujud…aamiin…

  27. oki | 14 December, 2012 16:07

    very touching….

    Masalahnya bagaimana agar pesan ini sampai ke menteri pendidikan, dan apakah dia care enough? Mudah2an jawabnya “ya”

  28. oky chindrawan | 14 December, 2012 19:00

    ini contoh sebuah karya ilmiah tentang perjalanan menuju cita-cita yang membawa manfaat… Gea doa kami untuk kita yang lebih bermanfaat :D sukses buat Gea.. Indonesia Satu

  29. Ahmad Zainudin | 14 December, 2012 19:34

    Semoga semangatnya bisa terlular kepada yang lainnya…

  30. Ferdin Niar | 14 December, 2012 20:06

    GREAT Tang!

  31. Novi_Yanti | 15 December, 2012 04:21

    agree with you! di sekolah, siswa harusnya dibekali dengan rasa cinta ilmu.. untuk menanamkan rasa cinta ilmu, kondisi2 tertentu harus dibiasakan dan dimasyarakatkan.. kondisi2 itu contohnya dari sistem tes, cara belajar-mengajar di kelas, kurikulum yg tidak padat materi, pemberian tugas bermakna pada siswa (bukan sekedar PR mengerjakan soal), dan masih banyak yg lainnya.. nah, untuk mencapai kondisi2 ideal seperti ini, bagaimana kita memulainya? sedangkan untuk mencapainya perlu tindakan tegas dari Mendiknas berkaitan dengan muatan kurikulum..

  32. Muhammad Marjuki | 16 December, 2012 15:00

    Salam Kemakmuran Rakyat Indonesia Raya!!! Sudah sa’atnya orang2 bervisi misi demi kejayaan dan kemakmuran Indonesia Raya bersatu padu mengendalikan Bangsa Indonesia….

  33. Andi Tenrie | 16 December, 2012 16:36

    Menurutku sih PENDIDIKAN yang nomer satu itu dirumah bukan disekolah, PENDIDIKAN dasar kita dari ORTU karena kita lahir dan dirawat serta diajar dari bayi baik mental/rohani dan dasar pengetahuan formal oleh AyahBunda kita tercinta, makanya patokannya yang paling hakiki dari yang diajarkan oleh Rasulullah Muhammad SAW adalah benar adanya! Kalau Pendidikan Formal Sekolah adalah tambahan yang tentunya sangat maha besar dan sangat perlu kalau bisa dikatakan WAJIB bagi setiap manusia, begitu penting dan wajibnya belajar dan berpendidikan makanya Allah SWT menurunkan surah Iqra dan juga Ummat Islam mengetahui dalam sabda Nabi Muhammad SAW: ´Tuntutlah Ilmu walau sampai ketanah China(tanah China sangat jauh dari Makkah, karena harus berjalan kaki atau berkuda atau naik onta pada saat itu, karena belum ada peasawat udara, kapal laut atau kendaraan bermotor lainnya, mungkin artinya, Belajar/Tuntutlah Ilmu walau harus ditempuh dgn jalan kaki alias jauh dari rumah, diujung langit sekalipun). Suksesnya seorang dalam Pendidikan Formal/Ilmu Tinggi diawali dari rumah/didikan ORTU hingga manusia itu benar-benar sudah berhasil menyelesaikan Ilmu Pendidikannya hingga selesai dan mandiri.

  34. ayudia gp | 17 December, 2012 08:08

    setuju, jujur saya mahasiswa ilmu sejarah yang termasuk dalam jurusan dominan peminatnya. banyak sekali kerabat, keluarga, bahkan orang tua mengucilkan kemampuan saya sebagai sejarawan, mereka hanya terpaku pada jurusan yang memang faktanya “lebih diutamkan” seperti ekonomi, politik, teknik, dll
    hal ini merupakan suatu tindakan penghancur karakter, bahwa tidak ada jurusan yang lebih baik dari itu. kita lihat di negeri orang! hampir semua jurusan rata-rata memiliki kapasitas yang sama dan lulusannya pun dapat dipertanggung jawabkan, tidak seperti dinegara kita. ini merupakan pengahancuran karakter yang seolah dibiarkan begitu saja. semoga pemerintah cepat merubah konsep pendidikan yang terjadi saat ini. dengan hal itu, indonesia bukan tidak mungkin menjadi negara yang maju. karena pembentukan karakter yang baik, erat hubungannya dengan akar pembangunan bangsa ini.

  35. Andi Tenrie | 17 December, 2012 17:18

    @ayudia, rupanya keluarga anda menginginkan anda setelah selesai kuliah di Universitas menjadi orang mapan, berada! Mungkin beliau-beliu berpikir ahli sejarah itu sangat lamban menjadi orang sukses dan memiliki nama besar!
    saran/pendapat mereka, sy rasa bukan pembunuhan karakter, tapi barangkali cuma pesimiss dalam bidang sejarah saja, makanya tunjukin bahwa anda benar-benar ahli dalam bidangnya, positif thingking aja yah, Mba!( mohon maaf, saya bukan ahli penasehat, hanya ikut komen saja).

  36. Ibu guru Anisah | 17 December, 2012 17:43

    30 tahun saya menjadi guru,rasanya saya seperti berteriak dipadang gurun…ketika saya asyik merajut nalar anak didik lagi-lagi robot hidup yg lebih di dewakan.mau kemana pendidikan kita ??

  37. Ibu guru Anisah | 17 December, 2012 17:44

    Pendidikan akan tak punya arah jika kita tidak konsisten dengan akar budaya bangsa.

  38. Fakhrizal | 17 December, 2012 19:18

    Semoga tetap konsisten ya dengan spiritnya! Semoga kita yang se-ideologi dapat berkumpul menciptakan sesuatu

  39. M. Jibril | 20 December, 2012 06:42

    kamu tidak perlu menjadi Prof.Dr. ntuk menjadi menteri pendidikan karena sudah terbukti prof. dr. tidak menjamin kualitas keputusan seorang menteri

  40. M. Giatman | 20 December, 2012 07:40

    setuju, begitulah perbedaan potret pendidikan negara kita dengan potret pendidikan negara maju, kita ingin semuanya distandarisasi, tanpa menyadari kebinekaan bangsa kita yang selalu didengungkan setiap saat tapi tidak dimaknai, semoga cita-cita adinda tercapai … amiiin..

  41. Lubna Algadrie | 20 December, 2012 08:37

    Bagus, anada telah menjelaskan dengan baik betapa sistem pendidikan kita tidak memberikan kesempatan berinnovasi. Semoga masukan ini dipertimbangkan oleh pembuat kebijaksanaan pendidikan di Indonesia

  42. Ama Nadir | 20 December, 2012 08:49

    tulisan yang sangat menarik, semoga penyusun kurikulum membacanya dan mewujudkan dalam perubahan kurikulum dan stakholder pendidikan mengaplikasikan, hal serupa sy saksikan di Jepang, siswa sangat senang di sekolah dan tdk pernah ada ujian menyilang tapi merangkai kata dan pemahaman…

  43. arry wardhany | 21 December, 2012 13:56

    Benar sekali apa yang Gea tuliskan. Sistem pendidikan di Indonesia memang tidak bisa lagi disebut pendidikan karena semuanya disamaratakan dalam bentuk angka ujian akhir. Generasi yang berpendidikan seharusnya adalah generasi yang berbudaya dan berakhlak yang baik. Bagaimana itu bisa dicapai jika murid lebih banyak menghabiskan waktu untuk mengejar target nilai lulus UAN? Percuma juga ada mata pelajaran PKN, IPS jika murid hanya dijejali latihan2 soal demi mengejar nilai bagus di sekolah. Menurut saya lebih baik jika pelajaran semacam sejarah, PKN tersebut diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, bukan hapalan dari buku.
    Sewaktu anak saya bersekolah di sekolah dasar di Australia, saya melihat bahwa sopan santun dan perilaku benar benar menjadi perhatian utama dalam sistem pendidikan disana disamping keberanian untuk mengemukakan pendapat. Gurunya pun menerapkan kebiasaan minta maaf, mengucapkan permisi kepada siswanya.
    Kunjungan lapangan untuk praktek sains, kunjungan ke museum merupakan hal yang menurut saya sangat efektif untuk memahami sains dan sejarah. Buktinya anak saya dengan sangat senang menceritakan bagian bagian tumbuhan setelah dia praktek menanam tumbuhan. Padahal ketika bersekolah di Indonesia dia tidak pernah mau menceritakan pelajaran di sekolahnya,mungkin karena di Indonesia murid tidak sempat untuk berpikir secara kritis dan tidak adanya kesempatan untuk mengemukakan pendapat.
    Mungkin memang perlu penyatuan suara bagi para pemerhati pendidikan di Indonesia untuk merombak sistem pendidikan sebelum kita kehilangan generasi penerus yang kritis, berbudaya dan punya keahlian berbicara di kancah internasional.

  44. Yamin | 22 December, 2012 20:02

    I couldn’t agree more!
    gimana sih caranya supaya bisa bikin karangan yg mendalam gitu?

  45. nDzie | 22 December, 2012 23:06

    lewat tulisan mbak, saya berkali kali menganggukkan kepala juga memicingkan mata

    hum,
    semoga Tuhan mempermudah jalan setiap doa doa baik

  46. Radhiyan Pribadi | 22 December, 2012 23:17

    Setuju bangeeeet!!!!!
    Revolusi pendidikan Indonesia itu sangat vital dan harus dilakukan secepatnya, karena pendidikan adalah pembangun utama bangsa!

  47. Angelina Rusmawati | 22 December, 2012 23:57

    ketika saya membaca tulisan ini, banyak pemikiran kakak sama dengan yang saya fikirkan. tapi untuk memotong pelajaran yang ada saya kurang setuju. karena saya awalnya juga berfikir kenapa Indonesia memiliki banyak pelajran yang sebenerenya malah memberatkan murid. tapi mama saya pernah bilang sama saya, beliau bilang Indonesia belum bisa menentukan arah untuk masa depan satu orang. jadi ini jalan yang terbaik buat memberikan semua pelajaran yang ada buat mereka menentukan jalannya sendiri. seperti yang terjadi sekarang, anak biologi bisa jadi economic. negara kita memaksa kita untuk mengetahui segalanya, karena mereka belum bisa menuntuk kita buat jadi satu jalan. sekarang saya lagi di Amerika, saya mengamati banyak sekali teman saya yang mempunyai mimpi yang jelas. dan mereka mendapatkan jalan yang sesuai dengan mimpi mereka. tapi untuk di Indonesia, lapangan kerja itu gak memadai, jadi susah untuk kita fokus di satu tujuan. tapi untuk masalah nilai, saya setuju banget. karena bukan masalah nilai yang tertulis tapi apa yang kita dapat di pikiran kita. aku berharap suatu hari nanti mimpi kakak bisa tercapai. aku dukung kakak buat jadi mentri pendidikan. tingkatkan pendidikan di Indonesia

  48. sagitaninta | 23 December, 2012 09:45

    Luar biasa sekali para pemberi komentar ini. Membuat saya melihat ada harapan bahwa masih banyak yang peduli terhadap Indonesia dan tidak semata-mata apatis terhadap keadaan sekarang. Semoga pemikiran kita semua bisa terwujudkan langsung tanpa perlu merutuki yang sudah-sudah dan saling menunggu. Mungkin yang bisa lebih cepat jadi menteri pendidikan bisa mewujudkan gagasan Gea tanpa menunggu Gea lulus, karena itu masih lama sekali sedangkan kita tidak boleh mengorbankan empat sampai lima generasi lagi, hehehe

  49. geacitta | 24 December, 2012 05:41

    Terkesan adalah impresi pertama saya ketika membaca apresiasi kalian semua di kolom komentar ini. Menurut saya, konten kurikukum, metode ajar, sistem evaluasi yang sering kita persoalkan sudah masuk ke tataran praktis hingga terkadang kita lupa akan pertanyaan paling fundamental : Pendidikan untuk apa? Apa tujuannya?

    Tujuan ini ibarat fondasi bangunan. Apabila sudah diketemukan, apa pun cara yang kita pilih untuk membangun proses pembelajaran yang ingin kita rancang kedepannya akan lebih tertata.

    Saya pribadi sudah menemukan tujuan saya berpendidikan. Anda? :)

  50. puspita | 24 December, 2012 15:19

    gea : sepakat,,, !

  51. luchan | 26 December, 2012 09:40

    sepakat dgn tulisannya. hasil dari pilihan gandan bisa diliat di anak saya baru mulai kelas 1 SD tahun ajaran 2012 ini dan baru kenal soal pilihan ganda. dan dia tau nyontek ga bole, ga diisi jg ga bole. nah lho puyeng kan dia akhirnya dia coba cara yg selalu dia pakai kalo dia binun memilih mainan yg mau dia beli,dia isi soal pilihan ganda dgn cara “Cap Cip Cup terbang kuncup” pas gw tanya napa gitu de? de2 bingung, tp kalo ga diisi ga bole kata bu guru..

  52. Mety Dora | 26 December, 2012 15:52

    amin. semoga cita2 Gea ini dapat terwujud yaah!

  53. wiendu nuryanti | 28 December, 2012 15:39

    Anda akan menjadi Mentri Pendidikan yg baik dan bangsa menunggu kontribusi pemikiran2 segar cemerlang spt anda2 ini kedepan.

  54. ing | 28 December, 2012 19:28

    truly agree dear..

  55. meutia | 28 December, 2012 21:36

    Amazing… luar biasa…..

  56. Brilliantwinona | 5 January, 2013 08:29

    Geaaaa so proud of uuuu.. Smoga cita2 mu tercapai yaahhh :))

  57. benny | 17 January, 2013 09:51

    saya dukung anda jadi mendiknas

  58. Gons Toro | 17 January, 2013 10:01

    Jadi merasa bersalah pd anak2ku…bhw seharusnya sisdik nya gak sperti ini, mereka terus belajar ditekan oleh sekolah,tapi gak ada pilihan lain Nak…..#secepatnay di rombak total plis plis Pemerintah..!!

  59. khus indra | 20 January, 2013 18:25

    Saya setuju dengan artikel ini.
    Tapi ada beberapa yang perlu diperhatikan yaitu budaya di Indonesia dengan yang di Eropa itu berbeda. Seperti dari mulai perilaku baik dari orangtua nya maupun dari lingkungannya.

  60. elvin | 20 January, 2013 21:09

    pada dasarnya isi dari artikel ini baik.
    tapi untuk membuat sistem tidak semudah membalik telapak tangan. apapun bentuk pendidikan negara lain, itu adalah mereka…dengan segala nilai sejarah dan budaya mereka.
    kita sendiri punya sejarah dan budaya yang menjadi keunikan dari negara lain.

    saya pernah membaca tulisan dari seorang tokoh pendidikan kita Ki Hajar Dewantara tentang arah pendidikan Indonesia, isinya luar biasa.
    sistem pendidikan kita yang terdahulu, telah banyak mengantarkan anak bangsa dengan prestasi yg luar biasa.

    jadi menurut saya, mari kita evaluasi pendidikan negeri ini dengan dasar yang sudah ada.
    tidak usah ikut - ikutan negara lain. karna perbedaan itu indah.justru karna perbedaan kita ada.
    mulai dari membuka kembali rumusan pendidikan yang telah disusun oleh para pendiri bangsa ini.

  61. SEFTARY YULIANA | 25 January, 2013 22:28

    wahhhh…
    luar biasa sekali ….
    !!!!!
    pemikiran yang sangat kritis..

  62. lomba apa saja | 11 March, 2013 23:01

    sumpah keren nih pemikirannya. brilian banget. aku setuju skali dg yg ditulis

  63. ilzar | 27 March, 2013 09:58

    saya terharu membaca tulisan saudari, saya doakan semoga kelak saudari bisa menjadi orang nomor satu didunia pendidikan di negeri ini……….. amin…..

  64. Aditya Fakhri Yahya | 26 April, 2013 13:33

    semoga bener-bener dapat mewujudkan cita-cita mulia ini, amin :)

  65. Isyana Marida Putri | 26 April, 2013 16:27

    Sungguh luar biasa,,,,
    jadi ikutaan termotivasi nie ;)

  66. alan | 8 November, 2013 21:31

    mudah2han terjadi,,,, dan q berharap jgan omongan tok,,, kerjakan. karna byak pemimpin hax ngomong tok kerjax ndak ada… okey,,,, amii!!!! sukses

  67. Sewa mobil jakarta | 11 December, 2013 08:44

    program yang bagus untuk di terapkan jika kamu memang menjadi mentri pendidikan :D

Silakan berkomentar, kawan!