Mar
24
iPad dan Kematian
Apakah setiap perang selalu berujung pada kematian? Setiap pembaca sejarah Adolf Hitler mungkin akan menjawab: ya! Perang yang dikobarkan diktator Jerman itu membuat ribuan orang Yahudi terbantai.
Itu di panggung politik. Di dunia bisnis, perang tak melulu berisi kematian dan kisah sedih. Lihatlah kelahiran iPhone pada 2007. Awalnya orang mengira kehadiran si imut dari Apple Inc ini bakal membuat BlackBerry dan Nokia gulung tikar.
Faktanya, kata Fortune, BlackBerry justru tumbuh pesat saat iPhone lahir. Ia tak mati karena perang. Bahkan pertumbuhan angka penjualan BlackBerry saat itu tertinggi dibanding periode sebelumnya. iPhone telah mengangkat industri ponsel untuk masuk ke segmen pasar baru.
Fenomena seperti ini pulalah yang diramalkan dengan kedatangan iPad. Komputer layar sentuh dari Apple itu tak akan membunuh netbook atau laptop. iPad justru akan membuka pasar baru yang selama ini gagal dikembangkan Bill Gates. Bos Microsoft itu telah merintis pasar komputer berlayar sentuh pada 2001. Tapi pasar emoh menerimanya.
Gara-gara iPad, kini industri prosesor sedang panen pesanan. Nvidia, salah satu produsen otak komputer, mengaku tengah mengerjakan proyek untuk 50 jenis komputer tablet.
“Pasar ini sangat besar dan akan mengubah wajah industri komputer,” kata Chief Executive Officer Nvidia Jen Hsun Huang.
Toshiba, Panasonic, HP, dan Dell, kini semua berlomba menelurkan komputer tablet seperti iPad. Bentuknya seperti buku diktat biasa. Hanya, ukurannya lebih tipis. Layarnya intuitif. Sekali sentuh, aplikasi langsung jalan. Persis seperti buku atau koran di dunia sihir yang difantasikan oleh J.K. Rowling dalam buku Harry Potter. Gambarnya bisa bergerak-gerak, bisa bicara seperti video.
Dunia buku dan percetakan bakal kena hebohnya. Bayangkan, apa gunanya percetakan kalau semua buku, majalah, dan brosur dibuat digital. Buku, koran, dan majalah tak butuh lagi loper atau toko buku konvensional. Dengan Internet, semua buku digital itu bisa dikirim secara cepat.
Apakah perang buku digital ini akan berakhir sedih seperti kisah Hitler atau happy ending seperti perang iPhone vs BlackBerry dan Nokia?
Sebagian orang sangsi iPad bakal sukses seperti iPhone. Prediksi paling optimistis, pada tahun pertama iPad akan terjual 2 sampai 3 juta unit. Angka itu tak sebanding dengan iPhone, yang dalam tahun pertama terjual 6 juta unit. Atau bandingkan dengan buku digital keluaran Amazon.com, Kindle. Kindle pada tahun pertama terjual satu setengah juta unit.
Nama Apple bukanlah jaminan bahwa produknya selalu laris di pasar. Ingat komputer Apple Newton pada 1980-an? Itu produk yang gagal di pasar. Karena kegagalan itulah, kemudian komputer yang dimotori oleh software Microsoft merajalela.
Perang yang dikobarkan iPad memang belum tentu dimenangi olehnya. Tapi setidaknya perang itu telah mendatangkan harapan baru. Produsen komputer sekarang yakin bahwa orang membutuhkan komputer jenis baru, yakni yang berlayar sentuh. Itu sebabnya, selain produsen komputer, banyak orang ingin terjun ke bisnis ini.
Intel, misalnya, berancang-ancang meluncurkan komputer berlayar sentuh yang diotaki cip Intel Atom–cip yang biasa dipakai di netbook. Intel menggandeng LG, Samsung, dan Dell.
Google juga emoh ketinggalan. Mereka meluncurkan peranti lunak berbasis Android untuk komputer berlayar sentuh. Namanya Chrome.
iPad telah membuktikan bahwa perang tak melulu berkisah tentang kematian. Tapi juga harapan.
Kenyataannya adalah orang-orang yang bahkan belum pernah melihat, memegang dan menggunakan iPad secara langsung, termasuk anda — banyak memberikan perhatiannya kepada iPad, dari hujatan hingga pujian.
Kunci emas bukan hanya dimiliki Apple, semua orang punya kesempatan yang sepadan, namun kenyataan membuktikan bahwa yang dilakukan Apple selama ini adalah membuat gelap jadi terang, membuat kesulitan jadi kemudahan, masalah menjadi solusi — seperti yang anda katakan, membuka pasar baru.
Sangat primitif untuk menggambarkan sehat atau tidaknya industri ponsel melalui siapa yang tumbang atau siapa yang kelah — ekonomi pasar hidup melalui persaingan lazim, mereka yang menang adalah mereka yang menjual solusi (kemudahan, keindahan, fungsionalitas) bukan permasalahan (kerumitan, bentuk tidak karuan, uselessness).
Kenaifan oranglah yang membuat permasalahan menjadi rumit, Apple atau bukan itu hanyalah merk, pada akhirnya kegunaan sebuah produklah yang penting, bukan Apple yang tumbang, atau Google/RIM/Nokia yang tumbuh berkembang.
Everyone’s got the piece of cake, as long as they aim for it.
kalo bicara produk, zyrex dgn wakatobi nya, menurut sy dia mendahului ide ipad dan cikalbakal pesaing yg sy perkirakan ber prosesor intel atom juga (supaya bisa bersaing murahnya). Hanya karena ini gaungnya dibunyikan oleh apple si fenomena, semua orang menjadi memperhatikan dan mengamini. Tetapi emang ada masalah lain sih, wakatobi secara ide cerdas, tapi secara eksekusi desain menyedihkan … sayang ya ..
Edisi Fortune yang mana yang menulis BB tumbuh pesat sejak lahirnya iPhone? Justru RIM gagal total menyaingi iPhone dengan Storm 1 dan Storm 2.
BB cuma tumbuh di Canada negara asalnya dan di Indonesia yang orang2nya merubah konsep BB dari alat komunikasi bisnis menjadi alat komunikasi sosial.
Silakan keliling Spore, Malaysia, Hong Kong, Australia dan tidak perlu ke USA maka Anda akan melihat mayoritas memakai iPhone.
perang terus.. yang penting mah harganya murah dan bermanfaat.
klo apple seharga kacang mah,,, banyak yang beli… wong ini harganya selangitttt….
Iphone Mahal tapi berkualitas
BB MURAH TAPI TAK BERMUTU.
Harga paket internetx mahal
kira-kira barapa harga ipad