Enak di Blog dan Perlu

Jika di kantor Anda ada belasan orang yang rajin menulis blog, kira-kira kantor bakal untung atau rugi?

Anda tentu mafhum, tak semua blogger bicara dengan bahasa teduh. Ada juga yang meledak-ledak. Setiap alinea dibumbui kata-kata “kebun binatang”.

Anda tentu juga paham, tak semua orang pintar serta mengerti masalah. Tak sedikit pula blogger yang menulis agak ngawur tapi kontemplatif. Bahkan kadang tidak jarang blogger menjelek-jelekkan kantor sendiri atau mereka menggunting produktivitas karena kelewat rajin ngeblog.

Apakah itu baik untuk kantor Anda atau tidak?

Di kantor Nokia, eksperimen tentang budaya blog itu dimulai. Mereka membuat sebuah portal blog yang diberi nama Blog-Hub. Portal tersebut hanya bisa diakses secara internal. Pegawai Nokia bebas menuangkan idenya di sana. Jangan takut soal identitas. Boleh pakai nama alias. Pakai nama Transformer, Hulk, Jupe atawa Julia Perez, dan Inul juga boleh.

Di Blog-Hub itu para karyawan boleh menulis apa saja, misalnya pelajaran untuk mendongkrak penjualan atau bagaimana membuat peranti lunak ponsel bisa ngebut. Tak ada pemimpin kharismatis di sini, si jenius ahli matematika, atau orang-orang dengan keahlian khusus. Semua boleh bicara.

Percobaan pertama Nokia ini ternyata ada juga hasilnya. Banyak ide liar yang muncul dan kemudian berujung pada larisnya produk-produk gres. “Saya pikir, Anda tak bisa memerintahkan bawahan melahirkan inovasi,” kata Mary T. McDowell, Executive Vice President Nokia bagian riset dan strategi korporat.

McDowell benar. Laboratorium-laboratorium Nokia di Helsinki, Beijing, dan Palo alto (California) seperti mendapat minyak pelumas. Ide-ide baru terus mengalir. Laboratorium-laboratorium di tiga negara itu berdetak kencang dengan menghabiskan dana 16,2 persen dari total angka penjualan. Bujet riset Nokia juga terus menggelembung, naik 35 persen sejak 2006 ke 2008. Luar biasa.

Bayangkan betapa riuhnya Blog-Hub itu. Nokia memiliki 39 ribu karyawan khusus riset di seluruh dunia. Artinya, hampir satu dari tiga karyawan Nokia adalah peneliti. Mereka semua boleh bicara.

Manajemen Nokia juga kerap mengadakan kontes, misalnya siapa yang bisa membuat sistem layanan konsumen yang lebih baik. Atau siapa yang bisa membuat ponsel yang tak mudah kotor. Pemenangnya bisa memetik bonus setiap enam bulan.

Perang di lapangan membuktikan “kontes blog” model ini telah meneteskan produk-produk laris. Ponsel layar sentuh Nokia 5800 XpressMusic adalah contohnya. Ponsel yang meniru iPhone ini telah terjual 3 juta unit sejak November 2008.

Di antara ribuan blogger Nokia itu, mungkin ada yang terinspirasi oleh petinggi Apple yang pindah ke rivalnya, Palm. Kata dia, “Tiru saja iPhone, Anda pasti untung.” Omongan ini benar. Palm Pre, produk terbaru Palm, kini juga legit penjualannya.

Kelahiran Nokia N97, ponsel terbaru yang sudah diluncurkan di Jakarta dua pekan lalu, juga berkat suara-suara para blogger ini. Mereka membuat ponsel dengan papan ketik geser yang enak untuk menulis surat elektronik, berlayar sentuh, serta memiliki kapasitas simpan berkas hingga 32 gigabita. Mirip komputer mini.

Dengan cara ini pula beberapa kali Nokia berhasil mendului pesaingnya. Ponsel pintar Nokia Seri N, misalnya, telah diluncurkan pada 2005, dua tahun sebelum Apple membuat iPhone. Strategi ini pula yang membuat Nokia kini masih bertahan sebagai pemimpin pasar. Kue pasar mereka masih 37 persen.

Jadi, Anda siap mendengarkan gerundelan anak buah lewat blog?

Komentar [11]

Feed  •   Trackback  •   Kirim Komentar

11 Komentar untuk “‘Gerundelan’ di Balik N97”

  1. Skydrugz | 30 June, 2009 03:14

    Abang2 di Nokia hebat pisan euy!

  2. aisyah muna | 30 June, 2009 11:57

    heem…bisa..bisa…

  3. ASridadi | 2 July, 2009 15:37

    Kenapa E90 tdk bisa melacak SMS dng searching abjad depan nama spt halnya produk lama 9500 ? menjadi repot utk saya.

  4. Erensdh | 3 July, 2009 07:05

    Para petinggi parpol maupun pemerintah Indonesia mesti belajar dari strategi seperti ini agar rasisme menjauh dari masyrakat NKRI, sekaligus membunuh (paling tidak membungkam) tokoh-tokoh rasis (yang suka terlihat agamamis), yang umumnya tumbuh berkembang dari ‘kebun binatang’ lalu ke parpol atau pemerintahan itu.

  5. Erensdh | 3 July, 2009 07:07

    Para petinggi parpol maupun pemerintah Indonesia mesti belajar dari strategi seperti ini agar rasisme menjauh dari masyrakat NKRI, sekaligus membunuh (paling tidak membungkam) tokoh-tokoh rasis (yang suka terlihat agamamis), yang umumnya tumbuh berkembang dari ‘kebun binatang’ lalu ke parpol atau pemerintahan itu.
    Agar ‘N97′ bisa muncul di Indonesia, gitu.

  6. kipanji | 3 July, 2009 08:12

    m Tenun Ikat Sambas
    PONTIANAK - Malaysia sepertinya tidak bosan mengklaim karya Indonesia. Yang terbaru, tenun ikat kerajinan Sambas, Kalimantan Barat, diakui sebagai produk negeri jiran itu.

    Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Kalbar Dody S. Wardaya menemukan tenun ikat Sambas yang diberi label made in Malaysia.

    Tenun ikat itu aslinya memang diproduksi para perajin asal Sambas. Pemasarannya sampai ke Malaysia. Saat beredar di pasar negeri jiran, produk itu dilabeli made in Malaysia. ”Supaya jangan sampai berlarut-larut, ini segera kita daftarkan jenis-jenisnya,” kata Dody.

    Begitu juga jenis tenun ikat lain dari kabupaten/kota di Kalbar dan hasil industri kreatif lain seperti tikar. Kerajinan itu juga diincar Malaysia. “Di Waterfront Kuching, Malaysia, banyak pedagang kaki lima di sana menjual produk dari Indonesia dengan label made in Malaysia. Mereka pandai, sebelum dijual, barang-barang itu dimasukkan dulu di rumah untuk diberi label. Saya melihatnya sendiri,” kata Dody.

    Dia berjanji pemerintah provinsi memberikan kemudahan pengurusan pendaftaran hak atas kekayaan intelektual ke Departemen Hukum dan HAM. “Karena itu, kami mendorong industri kreatif untuk mendaftarkan hak cipta dan patennya,” ujarnya.

    Ketua Lembaga Kajian Budaya Kalbar Yosi Pontian Delyuswar mengatakan, pengurusan hak atas kekayaan intelektual, hak paten, dan merek sebagai perlindungan hukum atas karya ciptanya tidak terlalu sulit. “Cuma karena kurang sosialisasi, produsen tidak tahu cara mendaftarkan hasil karya ciptanya,” kata pria yang lembaganya pernah menyelenggarakan sosialisasi tentang hak paten dan hak cipta di Pontianak beberapa bulan yang lalu kepada Pontianak Post belum lama ini. (zan/jpnn/ruk)

    >> Siapa yg mau dipersalahkan pemilik asal karya tsb atau mereka yg menciplak seenaknya..YG perlu dipersalahkan adalah pihak berwenang di Kalbar itu yg kerjanya nongkrong2 di kantor ,kapan dapat gaji melancong keperbatasan M”sia ..Wahai yg berwenang disono .kerjo sampean opo nyekel2 manuk wae yooo??!!>

  7. ‘Gerundelan’ di Balik N97 | Aloha2.co.cc | 4 July, 2009 16:10

    [...] Jika di kantor Anda ada belasan orang yang rajin menulis blog, kira-kira kantor bakal untung atau rugi? Anda tentu mafhum, tak semua blogger bicara dengan bahasa teduh. Ada juga yang meledak-ledak. Setiap alinea dibumbui kata-kata “kebun binatang”. Anda tentu juga paham, tak semua orang pintar serta mengerti masalah. Tak sedikit pula blogger yang menulis agak ngawur tapi [...] Read more… [...]

  8. Joan Felix | 16 July, 2009 15:07

    Butuh copy cd, duplikasi cd, replikasi cd & DVD kualitas Pabrik? MAU ? Printing di CD dgn teknologi Printing Offset
    021 339 09 209, 021 989 47 006, 0815 8686 9299 . Saya Joan Felix

  9. Nokia N97 Mini | 5 January, 2010 09:24

    sekarang udah ada N97 mini loh….. dan lebih murah :D

  10. ARI SUNARTO | 14 June, 2010 07:33

    iyA n97 LEBIH MURAH.TETAPI TETAP SAMA.SAMA SAMA GAMPANG TROUBLE DI SOFTWARE NYA..TERUS SERING RESTART SENDIRI DAN TERAKHIR MALAH MATI TOTAL.BARUSAN 2 HARI YG LALU SAYA UPDATE FIRMWARE NYA DI NOKIA CENTRE JL . SRIWIJAYA SEMARANG.

  11. Raquel Correro | 5 July, 2011 17:53

    The Zune specializes in as being a Portable Media Player. Not just a internet browser. Not just a game machine. Maybe later on it’ll do better still in those areas, for now it’s really a fantastic way to organize and pay attention to your music and videos, and is also without peer in that regard. The iPod’s strengths are its web browsing and apps. If those sound more compelling, perhaps it’s best option.

Silakan berkomentar, kawan!