Enak di Blog dan Perlu
yos-rizal-banner

yos-rizal-banner

Inilah cerita tentang dendam yang beranak pinak: Manchester United versus Manchester City. Pertarungan dua kesebelasan satu kota atau biasa disebut derby ini begitu sengit, emosional dan sarat gengsi. Seluruh penggemar sepak bola di kota ini terbelah dua. Masing-masing membawa kebanggaan dan fanatisme yang telah berumur tua—yang mungkin ditularkan oleh orangtua, kakek-buyut, atau bahkan jauh lebih renta.

derbyPelatih Manchester United Alex Ferguson menyebut pertemuan dua klub itu sebagai pertemuan dua suporter yang memiliki sejarah panjang dalam silsilah fanatisme di keluarga mereka. Secara turun temurun, dukungan kepada United maupun City itu diwariskan–yang kini telah sampai entah ke generasi berapa. “Ia mengalir di darah pendukung,” ucap Ferguson.

Ketika United dan City bertemu pada Selasa dini hari (WIB) pekan ini untuk menentukan siapa yang pantas menjadi juara liga, cerita tentang gelegak para pendukung itu kembali mengemuka. Masing-masing fan akan merayakan hari pertandingan sebagai hari paling penting dalam hidup mereka. Semua kegiatan berhenti, berganti dengan yel-yel dan nyanyian sepanjang hari. Kantor, sekolah, hingga kedai-kedai kopi akan hiruk dengan cerita-cerita sepak bola: cerita gembira bagi yang menang, dan kisah kecewa bagi yang malang.

“Percakapan seru akan lebih banyak ditemui di jalan-jalan kota Manchester ketimbang di klub sepak bola itu sendiri,” ucap Fergie kepada Telegraph. Ya, di hari pertandingan itu, juga hingga beberapa hari kemudian, kisah derby akan menjadi menu primadona bagi warga kota, juga bagi warga dunia. Ya, cerita itu akan terus mereka ingat hingga pertarungan baru di tahun yang lebih baru menjadi bahan perbincangan baru.

Daya ingat para penggemar fanatik itu begitu lekat pada setiap pertemuan dua kubu itu. Kisah tentang Carlos Tevez, bekas pemain United yang hijrah ke City, dan sering menjadi momok bagi kesebelasan lamanya itu, misalnya, tiba-tiba oleh sejumlah fan berusia muda disamakan dengan kisah pengkhianatan Billy Meredith di masa-masa awal United dan City berdiri. Ini sebenarnya sebuah cerita yang sudah terkubur lama, tapi diungkit kembali. Cerita itu, juga cerita Sandy Turnbull dan Ernest Mangnall telah dianggap sebagai sumber atau akar dari berkecamuknya dendam kedua kubu.

Kisah Meredith, misalnya. Pemain ini diburu begitu lama oleh pemilik klub yang saat itu (1894) baru berganti nama dari Ardwick A.F.C menjadi Manchester City—nama pertama klub yang dibentuk oleh beberapa anggota gereja St. Marks pada 1880 ini adalah St. Marks (West Gorton). Sebelum mendapatkan Meredith, pemilik City harus terlebih dulu membujuk ibu Meredith di sebuah desa di Wales dan ”menyuap” seluruh penduduk desa dengan pesta. Ternyata setelah berhasil membesarkan Meredith, City justru kecolongan. United membujuk kapten City itu pindah dengan iming-iming uang.

Saat itu MU ditangani oleh Ernest Mangnall. Klub ini juga baru berganti nama dari Newton Heat F.C menjadi Manchester United pada 1902—nama pertama klub yang digagas pegawai depot Perusahaan Kereta Api Lancashire dan Yorkshire Railway di Newton Heath pada 1878 itu adalah Newton Heath L&YR F.C. United masih berada di Divisi 2 saat Mangnall diangkat sebagai manajer. Sebaliknya City sudah duduk di Divisi 1 atau divisi utama.

Setelah membeli Meredith dan Sandy Turnbull, prestasi United meroket dalam sekejap. United bahkan menjuarai liga untuk pertama kali pada 1908 dan menjuarai Piala FA setahun kemudian. Bandingkan dengan City yang baru menjuarai liga pada 1937.

Mangnall beralasan, United menarik dua pemain itu untuk menyelamatkan karier mereka yang hampir tamat lantaran mendapat skors FA, federasi sepak bola Inggris. City memang sedang diselidiki karena menggaji pemain di atas regulasi yang ditetapkan FA. Mereka didenda 250 poundsterling dan 18 pemain–termasuk Meredith dan Turnbull–dihukum tak boleh bermain untuk City pada tahun itu. Tapi aksi bajak itu tak pelak telah menerbitkan dendam di ubun-ubun sang rival United.

Di tangan United, Meredith dan Turnbull memang kian mengkilap. Meredith yang terkenal selalu mengunyah tusuk gigi setiap berada di lapangan hijau itu disebut oleh koran Manchester Guardian, sebagai ”seorang seniman bola”. Sang kapten dikenal piawai menusuk dari sayap kanan dengan dribling bola yang memukau sebelum mengakhirinya dengan umpan matang ke Turnbull yang telah menunggu di depan gawang. Turnbull disebut Telegraph sebagai striker dengan ”bahu yang lebar, berbadan gempal, dan berkepala persegi”. Dialah pemain pertama United yang mencetak gol di Old Traford. Dia pula yang mencetak 101 gol di sepanjang kariernya yang pendek: hanya lima tahun di MU. Sebuah prestasi yang baru bisa disamai Wayne Rooney seabad kemudian.

Tak hendak kalah, City yang sudah pulih secara finansial kembali merebut Meredith pada 1912. Tak cuma itu, The Eastland, sebutan City, juga memboyong Mangnall, sang pelatih. Akibat menyeberangnya sang manajer, United kembali terdegradasi pada 1922 setelah sepuluh tahun bermain di Divisi 1. United bahkan bermain tanpa memenangkan satu trofi pun selama 41 tahun. Mereka  mencapai posisi terendah sepanjang sejarah, yaitu posisi 20 klasemen Divisi 2 pada 1934. Terpuruknya MU itu tentu tak semata-mata karena kisah pengkhianatan tersebut, tapi juga karena klub mengalami kebangkrutan beberapa kali.

Kendati begitu, riwayat pengkhianatan yang menyakitkan itu terus terngiang ketika kisah yang sama terulang. Tevez dibeli City—klub kaya raya yang kini dimiliki Abu Dhabi United Group–dari MU tiga tahun lalu. Ada yang menyebut Tevez memang sudah tak diinginkan oleh Ferguson. Tapi cerita lain meyakini Ferguson marah lantaran pemain Argentina itu diam-diam bermain mata dengan City. Yang jelas, di setiap pertemuan United-City, Ferguson tak pernah absen mengomentari striker City itu. Derby Manchester selalu penuh emosi setiap kali Tevez tampil. Ia sudah mencetak tiga gol dalam lima pertemuan menghadapi MU.

Rivalitas keduanya kian memanas manakala statistik pertemuan United-City dibeberkan dan perang kata-kata didengungkan ke media massa. Terhadap tetangganya yang kaya raya dan berisik, Ferguson pernah berujar bahwa uang belum tentu bisa membeli gelar. Saat posisi City mulai melorot, suporter yang membenci City memasang spanduk bertulisan, ”Belanja pemain saja tak cukup untuk naik kelas”.

Sebaliknya manajer City Roberto Mancini tak pernah menunjukkan lidah tajamnya. Ia justru merendah dengan mengatakan, “MU memiliki kekuatan internal yang lahir dari semua kesuksesan mereka”. Tapi ia menutup kalimat dengan “selama 20 tahun terakhir, Manchester United selalu menang”, sebuah ucapan yang sebetulnya menyiratkan makna terselubung: ”inilah saatnya City mengakhiri era dominasi United.”

Dari statistik, sejak era Liga Primer bergulir pada 1992, MU sudah meraih 12 gelar juara. Total Setan Merah sudah meraih 19 gelar juara liga. Sedangkan City baru dua. Itu pun sebelum era Liga Primer bergulir. Dilihat dari sejarah pertemuan kedua klub, MU lebih unggul. Sebelum pertandingan Selasa dini hari, mereka sudah 136 kali saling berhadapan. United menang 54 kali dan hanya kalah 38 kali. Sebanyak 45 pertandingan lainnya berakhir imbang.

Salah satu derby panas yang banyak dikenang adalah partai terakhir di musim liga 1973-1974. Saat itu City maupun United harus menang agar bisa selamat dari degradasi. Pemain MU, Denis Law, akhirnya mencetak satu-satunya gol kemenangan yang juga otomatis melempar rival sekotanya ke Divisi 2. Namun, City juga punya cerita penaklukan yang bisa mereka kenang: mereka mempermalukan United di Old Trafford dengan skor telak 6-1 pada tahun lalu.

Cerita tentang dendam dan pengkhianatan inilah yang mendidihkan kembali pertemuan keduanya Selasa ini. Derby yang selalu berulang sejak lebih seabad lalu dan mengalirkan fanatisme di dalam darah para pendukung, secara turun temurun. Begitu lama. Begitu membara.

Yos Rizal

Komentar [2]

Feed  •   Trackback  •   Kirim Komentar

2 Komentar untuk “Di Balik Derby Sengit Manchester”

  1. hendro60 | 30 April, 2012 12:25

    saya penggemar MU,dan saya berharap MU akan menang dinihari nanti,dan saya juga tahu sepakbola bukan matematika, tim yg mentalnya lebih siap akan lebih tenang menghadapi pertandingan dinihari nanti…bravo MU.

  2. Tiket Olimpiade sepak bola 2012 kembali dijual – ANTARA | www.AgenBola855.com | 30 April, 2012 19:47

    [...] Mulai DijualMedia Indonesia3 artikel berita sekaligus » sepak bola - Google WartaMedia IndonesiaTiket Olimpiade sepak bola 2012 kembali dijualANTARALondon (ANTARA News) - London 201…-_0wLrQM/0.jpg” alt=”" border=”1″ width=”80″ height=”53″ />Media IndonesiaTiket Olimpiade sepak bola [...]

Silakan berkomentar, kawan!