Apr
2
Wimar’s World Dibredel

Sedianya tadi siang saya dan Mas Wimar Witoelar akan ngalor-ngidul seputar dunia blog di kantornya di bilangan Fatmawati, Jakarta Selatan. Tapi topik obrolan kami berubah karena ada kabar yang jelas tak mengenakkan. “Program Wimar’s World dihentikan tayangannya di JakTV mulai Rabu pekan ini.”
“Saya akan mengumumkan penghentian ini di rapat internal kami siang ini. Silahkan Anda ikut juga… supaya saya tidak perlu dua kali membacakan pointer-pointer yang saya buat tadi malam sebelum tidur,” katanya terkekeh.
Menurut Wimar, tidak ada pelanggaran kontrak dalam kasus ini. “Hanya saja tidak diperpanjang,” ujarnya. Tapi setahu dia, perpanjangan kontrak talk-show ini sudah sejak lama dijanjikan bakal diperpanjang. Bahkan, sudah direncanakan pembuatan billboard acara Wimar’s World. Rencananya, billboard itu bakal dipasang sederet billboard acara top lainnya di stasiun televisi yang berlokasi di kawasan SCBD Sudirman ini.
Janji untuk memperpanjang kontrak program ini jelas masuk akal, sebab Wimar’s World termasuk acara paling populer di JakTV.
Dalam postingnya pada 31 Maret 2005 di Perspektif.Net, Wimar bilang:
Terima kasih, Jak Audience! Kita sangat bangga acara kita bisa termasuk paling ditonton di Jak-TV. Baru bulan lalu Wimar’s World menempati peringkat pertama dari 90 acara, minggu ini dikabarkan talk show kita menempati peringkat kedua dari 102 acara di Jak-TV. Ini hanya bisa berkat anda, karena berdasarkan rating.
Dahsyat! Rating yang patut dibanggakan.
Tapi, kenapa dibredel?
“Mungkin ada yang tidak nyaman dengan komentar-komentar saya,” ujar Wimar. “Tapi sebagai pekerja TV, saya harus menghormati keputusan pimpinan stasiun yang menghentikan. Mungkin mereka juga tidak berdaya.”
Padahal, kalau ditilik lebih dalam, komentar-komentar Wimar yang agak nyelekit itu justru di program talk-show satunya lagi, Gubernur Kita, dengan host Effendi Gazali. Format acara Wimar’s World sendiri lebih reflektif dan mengalir — tidak berteriak-teriak ala mimbar bebas.
Tapi justru Wimar’s World disikat. Target antara? Entahlah. “Yang jelas, untuk acara Gubernur Kita hari Kamis malam ini saya masih diundang.”
Meskipun sudah “veteran” soal dibredel-bredel ini, Wimar tetap mengaku sedih, karena yang dirugikan justru para penonton dan penggemar acara tersebut.
“Saya tetap berterimakasih kepada JakTV yang telah memberi kesempatan saya tampil. Saya yakin keputusan pemberhentikan ini bukan atas kehendak mereka.”
“Ini juga semacam edukasi bagi publik. Pembredelan sekarang beda dengan model Soeharto.”
Wimar meminta maaf kepada para pemirsa karena tidak bisa melanjutkan Wimar’s World. “Mudah-mudahan saya tetapi bisa jumpa audiens di Gubernur Kita,” ulasnya.
Itu pun kalau Gubernur Kita tidak ikut-ikut dibredel ya, Mas?
* Catatan: Foto ilustrasi di atas adalah desain Billboard buat Wimar’s World yang sedianya akan dipasang di kantor JakTV. Billboard tersebut tak jadi dinaikkan karena acaranya sendiri keburu menghilang mulai Rabu malam pekan ini. Padahal desainnya bagus lho, Mas WW…
Baca juga:
- Wimar’s World Dicekal [Berpolitik.com]
- Breaking News! Wimar’s World Dihentikan! [Perspektif]
- Wimar Pecas Ndahe [Ndorokakung]
[...] Kabar sangat gres ini saya dapat dari blog sebelah, tulisan Budi Putra. [...]
“Dihentikan” dengan “tidak diperpanjang” artinya berbeda loh, Mas Budi.
Yang mana sebetulnya yang benar?
Jelas berbeda. Tapi dalam kasus Wimar, dua2nya jalan pada saat yang bersamaan. Kontrak yang mestinya diperpanjang karena ratingnya bagus dibatalkan karena pada saat yang sama ada keputusan untuk menghentikan.
Terimakasih untuk penjelasannya.
Rupanya kang Wimar emang langganan breidel, sejak jaman kuliah ya Kang.
Tapi mungkin bisa masuk MURI, orang yang acaranya paling banyak di breidel.
Hm… jangn jangan blog saya juga dibredel neh…
Usul nih, bang Wimar pindah kapal aja, kayak Effendi Ghazali gitu
tetep semangat kang!
bang Wimar, besok bikin acara masak-memasak aja deh, daripada cape deh……di bredel mulu…..usulan nama acaranya:
“Chef Wimar’s World”:
1. perkedel daging ala Wimar
2. perkedel ayam ala Wimar
3. dll…pokoknya yg menu dasarnya perkedel..
:)…
Saran, nih, Bang… Bagaimana kalo jadi pembawa acara gosip selebriti? Nggak perlu banyak baca buku. Hanya perlu banyak gosip. Jadi, musuhnya bukan politisi. Sekalian beramal meningkatkan popularitas artis kita.
Salam…:)
Hehe… Walaupun mas Wimar pernah menjadi “orang dalam” tetapi masih melekat pameo “Enak Dibredel dan Perlu”
sayang banget yah padahal acaranya ok banget lho. i’m a fans of your thought Mr. Wimar.
justru dengan dibredel gagasan 2 Bung Wimar akan menembus sekadar “kotak gambar idoep”
Atau jangan2 karena kegemukan kali..!
screen isinya perut sama rambut doank!..wank..wank..!
Breidel? Hare gene? Kalo dulu negara, sekarang siapa ya?
[...] Setelah acara yang diasuhnya langsung, Wimar’s World, yang dihentikan, kini sebagai panelis di talk-show Gubernur Kita di layar JakTV, ia pun tergusur sudah. [...]
breidel? napa yak?…. ada yg gak beres lagi nih!!!…. bisnis ama politik emang sohib gitu!!
wimar, sayang sekali ‘dimatikan’. MUlai dari zaman soeharto hingga SBY. Tapi kali ini, gubernur DKI nya yang kelewatan. Pfff…
http://lupakanlah-waktu.blogspot.com
Jadi inget jaman pertama kali saya buat animasi untuk acara Mas Wimar Witoelar …
saat itu saya masih bekerja di YTC yang kemudian bangkrut.
tetap semangat mas …
kalo ada info untuk fulltime job sebagai animator hubungi saya yah…
salamaniselalu,
herumedia
http://www.herumedia.co.nr
http://www.herumedia.multiply.com
Ngeblog aja mas Wimar, pasti laris manis.
Pandai
Sudut pandang dibuat selalu tumpul (mengapung). Macam mana teruk sangat bila kita tengok selalu liputan televisyen-televisyen swasta negeri jiran macam Metro TV juga mengenai sebuah kampung idiot di Balong. Macam mana kita menilai. Liputan tersebut diatur tumpul sahaja iaitu dengan menarik ke masa lampau bahawa idiotisme warga Balong itu bukan kerana keadaan baru-baru ini melainkan sudah lama sejak tahun 1980an.
Apa maknanya ini? Ini bermakna bukan kerana peemrintah (kerajaan) hari ini dalam SBY tetapi kerana kerajaan-kerajaan terdahulu. Kerajaan SBY sekarang dicuba diamankan terlepas banyak kekurangan dan kesalahan. Kumpulan-kumpulan lintas beragama negeri jiran tu cuba dan bermaksud menunjokkan terang pada kerajaan bahawa yalah penting memulakan kesejahteraan seluruh penduduk merata dan dengan sistem pengawasan yang benar. Televisyen-televisyen pemberitaan itu kurang membela kumpulan tersebut.
Pabila macam ni terus-terusan, pemberantasan pelbagai mafia dan pelbagai soalan apapun yang lain di negeri jiran tu nak mentah lagi dan tak nak mungkin terselesaikan. Televisyen-televisyen tu kerana tidak ambil sikap terang melainkan selalu membuat samara dan mengapungkan sendiri cerita daripada pemberitaannya. Nilai cerita nol besar dan mereka rupanya turut mempermainkan perasaan masyarakat tu.
Sedikit sangat wartawan televisyen negeri tu berpengetahuan jurnalisme yang membuat terang bagi membela warganya. Mereka pandai mengulas tak, pada isu-isu penting dan terhad macam isu idiotisme Balong menjadi sorotan yang nak membuat masyarakat boleh tarik kesimpulan bahawa kerajaan nak tertuding, dan justeru menumpul.
Berlaku justeru wartawan televisyen tampak menyerang nara sumber, macam yang berlaku terhadap aktivis Jhonson Panjaitan, walaupun wartawan tu langsung berdalih dan menyangkal.
Televisyen-televisyen jiran tu tiap hari mengulas pelbagai hal panas namun pabila diteliti tak ada makna ulasannya penting dalam begitu banyak cerita yang dibuat. Mereka memiliki human resources baik, tetapi tidak cukop dilatih ambil sudut pandang yang menunjokkan pada sebuah kebenaran terang. Mereka pun berani tak.
Pemilik televisyen, sementara, berkepentingan suatu masalah besar tetap direka mengapung tumpul, sehingga segala masalah mentah lagi. Di belakang pemilik televisyen-teelvisyen tampaknya ada pula orang parti politik kuat atau mantan. Tetapi yang mengandungi wang itu yalah pebisnez-pebisnez etnik Cina, macam di Malaysia juga, mereka pemegang asset-aset penting. Seakan-akan ambil peduli pada rakyat tetapi bukan itu tujun dan sesungguhnya.
Isu dibuat dan ditulis seakan-akan membela rakyat, tetapi semata jualan pengkhabaran. Semata mengeruk keuntungan iklan sebesar-besarnya, tentu dengan isu-isu panas sangat mengaduk-aduk peraasan rakyat yang merindukan mimpi yang tak kunjung datang.
Pepatah berkata: “Belanda harus dibuat jauh”. Liputan sekana-akan menuju provokesyen, protes-protes besar ataupun rusuhan meluas, tetapi begitu menajam maka mereka dinginkan lagi. Katanya kerana diancam via telepon. Macam tulah etnik Cina negeri jiran tu, pandai. Orang bumiputera di Indonesia pasti kalah cara dalam berfikir. Otak mereka, pun otak kita, tidak sampai ke sudut puncak sana. [Pabila punya opini lain, sila majukan ke kami: zaimahbintiabdulmutholib@msckl.my ]
Mbak…kalau dipikir-pikir Metro TV masih mendingan, agak lumayanlah, dibanding TVOne. KI, pemimpinnya, ngomong aja susah, mandek-mandek melulu, suaranya kagak kedengeran.