Enak di Blog dan Perlu

Wicaksono

Free Image Hosting at allyoucanupload.comKetika Sukardal, tukang becak di Bandung, gantung diri karena alat mencari nafkahnya diangkut petugas Tibum, pemerintah mengatakan, “Pers jangan membesar-besarkan berita itu.”

Ketika warga Nusa Tenggara Timur menderita busung lapar, pemerintah memperingatkan, “Media massa jangan membesar-besarkan berita tentang orang lapar. Di mana-mana ada orang lapar. Itu sudah biasa.”

Kini, ketika banjir menenggelamkan sebagian besar wilayah Jakarta, giliran yang terhormat Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Aburizal Bakrie, menyalahkan media massa karena telah membesar-besarkan bencana banjir yang melanda Jakarta dan sekitarnya.

“Kalau kita lihat para korban itu masih ketawa. Jangan sampai dikondisikan seolah-olah dunia mau kiamat seperti yang televisi Anda katakan demikian,” kata Aburizal di Jakarta di depan layar SCTV, Selasa lalu.

Apa sebetulnya yang besar dan yang kecil, Tuan Ical? Tahukah Anda sebetulnya tentang satuan dan ukuran? Kenapa pula Anda seperti latah mengikuti pejabat tempo doeloe yang hobinya memperingatkan dan menyalahkan media?

Tahukah Tuan, gara-gara banjir itu 44 orang meninggal, 27.381 pengungsi sakit, dan 339 ribu warga Jakarta terpaksa mengungsi? Ini bukan sekadar statistik dari Kepolisian Jakarta dan Pemerintah Jakarta saja, Tuan. Kalaupun Anda menganggapnya sekadar angka, itu juga bukan angka yang kecil. Anak SD pun pasti tahu, Tuan.

Kita tahu, Aburizal Bakrie alias Tuan Ical itu pengusaha kaya, yang rumahnya belum pernah kebanjiran, yang hidupnya dari dulu tak pernah miskin. Namun, tetap saja saya terheran-heran dengan pernyataannya itu.

Saya curiga, jangan-jangan Tuan Ical sedang tak di Jakarta. Jangan-jangan Tuan Ical sedang pesiar di Cayman Island mengurus mega kontrak perusahaan tambang “apa itu” dengan mitra asing dari negara “apa ini”. Barangkali juga dia sedang berlayar di atas kapal pesiar di lepas pantai Dubai.

Saya tak tahu. Yang saya tahu, korban banjir itu kebanyakan memang miskin, belum pernah naik Toyota Alphard hitam seperti yang ada di garasi Tuan Ical. Saking miskinnya, tak punya apa-apa lagi, korban banjir itu cuma bisa tersenyum ketika air datang setinggi dada seperti yang Tuan Ical lihat di televisi. Sebab, apa lagi yang mereka punya, Tuan?

Mereka tak punya rumah di Menteng seperti Anda. Mereka tak punya pesawat pribadi. Mereka tak punya perusahaan batu bara. Mereka juga tak punya lumpur panas.

Para pengungsi yang pasti tak dia kenal namanya satu pun itu sekarang hanya mampu tinggal di pinggir-pinggir jalan, di bawah jalan layang, di halte-halte bus, di bawah tenda. Tentu saja kondisi mereka tak senyaman rumah Anda yang asri dan tak terjamah air itu.

Saya maklum, Tuan Ical memang tak pernah miskin, apalagi kebanjiran. Tapi, tak perlulah Tuan Ical mengumbar pernyataan yang tak simpatik seperti itu. Toh dengan diam pun, kekayaan dan kehormatan Tuan Ical sebetulnya tak berkurang secuil pun.

Ingat, Anda itu pejabat pemerintah. Tugas Anda mengurusi kesejahteraan rakyat, bukan menyepelekan kesengsaraan rakyat. Cobalah sensitif sedikit — sedikit saja — pada nasib rakyat.

Jangan cuma menyalahkan media massa pula. Menyalahkan media massa sama saja dengan menimpuk cermin di dalam kamar Tuan Ical yang ber-AC itu, yang telah berani menampilkan garis-garis ketuaan di jidat.

Media massa memang bukan kebenaran. Media massa itu justru sebuah ikhtiar mencari kebenaran. “Jalan menuju yang benar” itu kadang memang mampir ke tempat-tempat yang tak Anda sukai, Tuan Ical.

Sudahlah, Tuan Ical. Lebih baik Anda duduk tenang di rumah sambil mengisap cerutu. Uruslah badan Anda saja supaya tak kendor dan menampakkan tanda-tanda ketuaan. Exercise barang sejam dua jam di gym, mumpung rumah Anda belum kebanjiran air maupun lumpur panas. Anda belum pernah menyapu rumah yang terendam lumpur, kan?

Salam saya untuk Anda dan keluarga, Tuan Ical.

Komentar [36]

Feed  •   Trackback  •   Kirim Komentar

36 Komentar untuk “Karena Ical tak Pernah Miskin”

  1. Hedi | 8 February, 2007 20:59

    Komenku ini udah ada di blog lain, aku lupa di mana. Tapi, jelas orang seperti Ical ini kok kaya kena sindrom. Kalau ga bisa melakukan apapun, mbok ya ndak usah ngomong yang mungkin menyinggung orang lain. Ya ndak?

    setuju, sam!

  2. a'o | 8 February, 2007 21:00

    iya nih tuan ical, anda seharusnya bisa berempati dong… jangan mentang-mentang gak pernah miskin terus anda gak bisa merasakan kesusahan orang lain…

    saya yang gak pernah miskin aja bisa, masak anda gak bisa sih….

  3. acil | 8 February, 2007 21:04

    “Peradaban manusia bukan ditakar dari mobil dan rumah luks, bukan pula dari pakaian dan perabotan rumah yang mahal. [Namun demikian,] peradaban manusia diantaranya terletak pada budi pekerti, apa yang diucapkan, apa yang ditulis, dan apa yang dibaca.” (Prof. Charles Himawan, 1934 - 2002). Dikutip dari header arijuliano[dot]blogspot[com]

  4. Anthony | 8 February, 2007 21:07

    entah kenapa aku melihat orang ini kayaknya tidak mempunyai kemampuan apa-apa untuk menjabat sebagai menteri. sebagai rakyat Indonesia, aku tidak mau mempunyai menteri yang kerjanya hanya bisa ngomong nyinggun perasaan org saja tanpa adanya aksi konkrit di lapangan.

    ngomong-ngomong, pak…. gimana tuh nasib Lapindo? udah lepas tangan ya? untung aja sempat dilepas…..

  5. Ngurah | 8 February, 2007 22:30

    Klo gua jadi SBY….langsung gua berhentiin loe Cal

  6. Kang Kombor | 8 February, 2007 23:00

    Tuan Ical, orang kecil macam saya ini banyak yang punya pandangan hidup ini sudah susah maka nggak perlu dibikin susah. Kalau yang ketawa-ketawa itu bocah ya wajar saja. Kayak Sampeyan nggak punya anak saja. Tapi kalau yang ketawa itu orang dewasa, jangan langsung dikatakan mereka itu gembira. Saking getirnya dan nggak bisa berbuat apa-apa, kadang-kadang lelaki dewasa seperti ini kan hanya bisa tertawa tanpa bisa berbuat yang lain lagi.

    Wong ki nek rung tau dadi kere…

  7. sawung | 9 February, 2007 00:34

    Ini komentar yang benar-benar menyedihkan. Susahnya kalau pejabat negara gak punya hati buat melihat dan merasakan penderitaan orang lain. Sekali-kali coba TUAN ICAL tinggal di gubuk reot di pinggir kali agar tahu bagaimana rasanya sengsara karena didera bencana. Jangankan banjir, lah itu lumpur panas yang meluap-luap aja tidak juga dicarikan solusinya. Karena uangnya dia pikir dia bisa berbuat seenak udelnya. Ini sudah waktunya pak SBY untuk mencopot orang seperti ini dari jabatan publik! karena pejabat publik itu tugasnya melayani.

  8. Iwan | 9 February, 2007 06:26

    Anggota kabinet di Indonesia itu beruntung banget. Seperti Pak Ical ini, sama sekali tidak simpatik pernyataanya (alias ignorance) dgn kesusahan rakyat. Dia bisa sendiri lihat website di seluruh dunia seperti bbcnews.com, cnn.com, yahoo.com, mereka ada bukti foto, video dan komentar orang bagaimana banjir membuat susah jutaan orang di Jakarta dan kerusakan yg besar.

    Kalo Pak Ical itu menteri di negara lain seperti Amrik, dia sudah dipaksa turun. Seperti saya bilang betapa beruntungnya pejabat2 di Indonesia, tidak ada accountability dengan tindakan dan pernyataannya.

    Memang kasian rakyat Indonesia itu

  9. iway | 9 February, 2007 07:41

    ah dasar rakyat, masih mending gw ngasih komentar, ntar gw ga ngasih komentar dibilang bisu

  10. roel | 9 February, 2007 07:53

    Tuan Ical dan tuan sutiyoso musti di lelepin di kali ciliwung. ada yang berani?

  11. nidya | 9 February, 2007 08:50

    sepertinya para pejabat perlu sekali2 nyamar jadi rakyat kecil ‘n ngerasain sebentaaaarrrrr aja rasanya jadi rakyat kecil yang hidup di bawah gais kemiskinan (terinspirasi crita2 jaman kerajaan dulu ^_^)

  12. Pujiono | 9 February, 2007 09:11

    apa yang dilakukan ical kalo rumahnya terendam banjir? dia akan ngungsi ke hotel bintang 5. apa yang dilakukan ical kalau rumahnya terendam lumpur? dia akan mencari tanah lain untuk dibangun rumah yang lebih tinggi, lebih besar dan lebih mewah.

    sudah saatnya kita hanya memilih pejabat yang mempunyai H A T I

  13. Pangeran Kodok | 9 February, 2007 10:25

    Menkokesra itu singkatan dari Menteri KOordinator Kesejahteraan Rakyat

    JADI YA WAJAR…
    WONG YG DIURUS RAKYAT YG SEJAHTERA, BUKAN YG MISKIN ATO YG KENA BENCANA KAYA KITA..

  14. zaki | 9 February, 2007 10:47

    wajar saja ical bicara begitu. dia sebenarnya iri. orang susah aja masih bisa ketawa. ical sendiri -mungkin- meski banyak duit mulutnya sulit ketawa.

    jarang kok ada orang miskin kena stroke, karena mereka masih banyak ketawa.

    Wajar juga korban banjir ketawa, la wong mereka bisa renang gratis. Kalo ical kan harus bayar. makanya dia iri.

    so, bravo ical. selamat, anda dapat tiket gratis masuk neraka!

  15. Bee | 9 February, 2007 12:27

    Harusnya kita yang berempati dengan Pak Ical ini..sudah ga pernah miskin..ga pernah kebanjiran air atau lumpur..ga pernah pinter..ga pernah ga makan duit rakyat..ga pernah ga ngebohongin publik dgn laporan keuangan perusahaan2nya yg di ‘poles’abis2an..ga pernah punya perasaan…ga pernah mengeluarkan pernyataan2 yg berkualitas pula.

    Doa saya utk Pak Ical sekeluarga..mudah2an generasi Bakrie selanjutnya punya akhlak dan moral yg lebih baik dari yang sekarang supaya negara kita ga makin di gerogoti oleh orang2 seperti Pak Ical ini.

  16. ayrus | 9 February, 2007 14:26

    terus, hal konkrit yang media massa lakukan selain meliput apa? saya rasa si ical mungkin bermaksud baik, ingin menenangkan suasana, bukan mengecilkan masalah.

    mana nila ‘husnudzon’ kita - selalu berprasangka baik? kenapa media massa di indonesia terus berlaku ’suudzon’ - berprasangka buruk - terus?

    setuju, mungkin kita memang harus berbaik sangka pada siapa pun — wicaksono

  17. Tata Danamihardja | 9 February, 2007 15:35

    Hmm.. Inilah potret ‘pemimpin’ Indonesia masa kini.. Hoeekkhh…!

  18. ime | 9 February, 2007 15:45

    Andakan pejabat yang bertugas ngurusin kesejahteraan rakyat. Klo nggak bisa sejahterain rakyat, tapi jangan disengsarain dengan lumpur lagi. Jadi nggak usah nyalain media, kerja aja yang benar biar masalah lumpur n banjir bisa teratasi.

  19. syamsul | 9 February, 2007 20:45

    Saya sih hanya bisa tersenyum dan mengelus dada saja melihat komentar Tuan Ical. Yaah… ya hanya itu yang saya miliki dan bisa saya sumbangkan untuk Anda Tuan. Saya masih punya banyak seyum. Saya kaya… butuh senyum berapa kali lagi saya masih punya banyak.

  20. yW | 9 February, 2007 22:41

    Nice one

    Ketidakadilan itu memang ada ya. Biasanya yang hidup di atas itu kebanyakan orang2 yang moralnya udah ngak ada. contohnya manusia purba seperti ical ini

  21. Wijen | 10 February, 2007 15:15

    Yah, mestinya sekali2 pejabat harus diOSPEK dulu kale yaa, sebelum dia menjabat…OSPEK simpel aj, hidup bersama rakyat jelata yang ada di bantaran kali, di bawah jembatan layang. Pejabat juga harus ikt aktvts keseharian para rakyat, yahhh minmalnya sebulan lahhh…Biar pejabat kyk Pak Ical itu bener2 bisa ngrasain jadi rakyat jelata, paria, termarginalkan..Jadi pejabat2 itu ga cuma koar2 ajjj

    Ehhh, btw, kita juga harus refleksi, emang sepertinya media terlalu ekspose bencana yg ada, terutama Infotainment tuhhh…(ap g kelebihan??)

  22. kunderemp | 10 February, 2007 22:05

    Rumah saya tidak terkena banjir dan saya pun tidak bisa digolongkan sebagai orang miskin. Tetapi saya malu membaca ucapan anda, Pak Ical.

    Kemarin saya berkunjung ke rumah teman, dan saya tak tahu harus mengomentari apa selain, “wah.. apa saklar listriknya perlu ditinggikan lagi yah?”. Anda tahu apa artinya, Pak Ical? Banjir tahun ini lebih parah daripada banjir-banjir besar sebelumnya.

    Kawan saya itu, yang langganan banjir, sudah menempatkan saklarnya setinggi mungkin agar tidak terkena banjir, tetapi kemarin ternyata terendam air.

    Tetangga kawan saya, yang hanya berlantai satu, langsung hilang semua harta bendanya, karena memang tidak ada lantai dua tempat mengungsikan barang.

    Pak Ical,
    anda melihat orang-orang seperti kawan saya tertawa-tawa saat di TV. Tahukah anda bahwa mereka, kawan-kawan saya, tersenyum untuk meringankan penderitaan mereka.

    Memang apa yang ingin anda lihat, Pak Ical? Anda ingin melihat kawan saya menangis menjerit-jerit putus asa? Anda ingin melihat kawan-kawan saya gantung diri semua karena rumahnya dibanjiri air setinggi 2 meter? Atau anda ingin melihat kawan-kawan saya membuat kerusuhan menyerbu istana negara dan membakar lukisan-lukisan di dalamnya?

  23. Olas Novel | 10 February, 2007 23:55

    Hemm…. Pejabat yang paling B***AT adalah ical, meskipun banyak para pejabat yang b****at tapi mereka masih menutupi keb****atannya. lah yang ini betul betul atraksi dan bangga dengan ke-B****ATANNYA.

  24. aktual | 12 February, 2007 05:42

    Permisi pak Wicaksana… tulisannya saya postingkan di blog saya. soalnya pak ical itu masih paman saya. hehehheh

  25. rasyid | 12 February, 2007 15:32

    lumpur aja ngga ngaruh apalah air…

  26. Piet | 12 February, 2007 16:28

    Arogan…

    Sebagai anak saudagar, Ical dan Nirwan dari jaman kuliah memang sudah arogan.
    Tapi sama sohib-sohibnya paling royal.
    Ini juga nurun sama anaknya (Anin) yang dulu kalo gak salah di PL jkt.
    Kalo udah mabok, pasti rusuh…
    Jadi jangan tanya soal empati sama klan ini, maklum aja.

  27. Indah | 13 February, 2007 15:10

    apa salahnya orang ketawa? apa kalo orang masih bisa ketawa berarti dia sejahtera, tidak kekurangan apapun, toh cuma busung lapar? orang tertawa bisa aja karena uda ga bisa ngapa2in lagi, uda pasrah. tapi jangan2 om ical ngetawain mereka-mereka itu? padahal posisinya memungkinkan dia untuk berbuat banyak, untuk ngapa2in.

  28. Biho | 14 February, 2007 10:30

    senyum membawa luka…. Megy Zeeeetttt kale

  29. Reza | 16 February, 2007 17:00

    Ini Tuan Ical yang pernah bilang “Kalau ngga mampu jangan beli/masak pakai gas” bukan???

  30. Tukang Rokok Eceran | 19 February, 2007 22:32

    daripada capek komentar….

    lebih baiknya realisasinya…

    bakar orangnya!!!

  31. RI 1 | 15 March, 2007 10:30

    klo ga bisa di kritik dan tidak bisa kasih solusi , buat apa anda diangkat jadi menteri.

  32. budi santoso | 26 April, 2007 08:32

    barangkali mas wicak lupa kalo tulisan anda gak bakalan “diwaos” oleh “ndoro” ical wong buktinya kemarin masih juga berkomentar ten-
    tang ganti rugi korban lumpur “kel. bakri” di
    anggap sudah pantas koq, padahal ukurannya bu kan cuma kerugian materi toq yang mereka de rita juga kerugian immaterial (kehilangan pe kerjaan,kenikmatan,dll) yg saya pastikan tidak pernah akan dialami oleh “ndoro” ical.
    mari kita sama mendoakan agar “ndoro” ical se gera diberikan hidayah dan petunjuk oleh ALLAH yg paling pemberi rahmat u/ terbuka mata
    hatinya juga matanya bahwa nikmat yang “ndoro”
    ical miliki sekarang ini bukan miliknya sen diri tapi juga titipanNya AMIEN

  33. syahden tampan | 27 May, 2007 01:49

    salam kristen, islam, hindu, budha, kejawen dan yang lainnya.

    yang saya tangkap dari diskusi ini bahwa ada sebuah pesan yang ingin di sampaikan oleh bang ical bahwa hati-hatilah dengan bahasa media. seperti apapun dengan fenomena sosial yang terjadi misalnya seperti banjir dan lumpur lapindo, media harus menyampaikan sebenar-benarnya yang terjadi tidak boleh ada rekayasa. Jangan sampai karena kemanusiaan kita melupakan kemanusiaan kita dengan menghilangkan sisi kemanusiaan orang lain, misalnya saja dengan langsung menjastifikasi saudara ical dengan bahasa-bahasa emosional kita tanpa kita sadari kita melakukan bentuk penindasan kepada orang yang kita lihat tidak punya hati nurani terhadap kemanusiaan. Mungkin saja pesan yang ingin di sampaikan oleh saudara ical belum di tangkap oleh kawan-kawan semua. Semoga ini benar!? SYAHDEN KULIAH DI UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASSAR, TELP : 081354926346

    Wassalam

  34. mone | 8 November, 2007 16:08

    Mas, kenapa ya orang semacam Ical itu jadi Menko Kesra??? Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat! Orang yang gak punya empati blas…Di SDA, dia semestinya jadi Menteri Kesengsaraan Rakyat…..

    Gimana ya kalau Ical jatuh miskin?

  35. ROBERT SARAGIH | 23 September, 2009 11:01

    Selamat bertugas aja Ical semoga sukses!!!!!!!!!!!!Saya berharap tidak ada yang mengikuti jejak anda.

  36. kipanji | 24 September, 2009 02:36

    >Bibit2 kehancuran NKRI udah mula keliatan dipermukaan dgn dilantiknya orang yg tdk layak dan menduduki kursi jabatan yg memerlukan manusia prihatin-rendah hati-punya wawasan kesejahteraan rakyat.Tunggulah kemurkaan ALLAH SWT,karna kita merestui orang yg akan membawa kehancuran,dimana seorang konglomerat kaya raya menduduki kursi kemiskinan..MasyaAllah.

Silakan berkomentar, kawan!