Feb
20
Sarjana Palsu
Beberapa hari ini sejumlah media massa mengangkat isu pemalsuan tugas akademik, terutama skripsi dan tesis, sebagai syarat kelulusan pendidikan di universitas. Tentu saja, maraknya kecurangan itu wajib dipermasalahkan. Tapi, di saat yang sama, saya juga gatal untuk bertanya kepada perusahaan media massa yang mengangkat isu itu: apakah mereka mensyaratkan pendidikan S1 untuk calon pegawai mereka? Jika ya, maka keprihatinan mereka adalah keprihatinan yang percuma.
Kenapa?
Karena, syarat pendidikan minimal S1 yang disyaratkan banyak perusahaan, adalah penyebab utama dari pemalsuan tugas-tugas akademik itu. Oke, tentu saja ada pos-pos pekerjaan yang hanya mensyaratkan pendidikan D3 atau bahkan SMA. Tapi semua orang tahu, itu adalah pos-pos terendah. Untuk mendapatkan gaji yang layak, Anda harus lulus universitas. Ini syarat umum yang diterapkan oleh hampir seluruh perusahaan di Indonesia. Bahkan sejumlah perusahaan mensyaratkan IP tertentu. Konyol!
Hal ini membuat penilaian kualitas seseorang ditentukan oleh selembar ijazah, bukan oleh kompetensinya. Ijazah menjadi seperti tiket nonton pertandingan sepakbola. Tak penting Anda suka bola atau tidak, bukan masalah Anda mau bikin kerusuhan di dalam, tak penting Anda copet yang datang hanya untuk menguras kantong penonton lain, tak penting Anda membeli tiket dari calo… selama Anda memegang tiket itu, Anda boleh masuk stadion. Sementara yang benar-benar ingin memberi dukungan, yang tahu benar akan sepakbola, atau anak kecil yang punya obsesi menjadi pemain besar… selama mereka tak punya tiket, ke laut aja.
Dalam hal menonton sepakbola, hal itu tak bisa dihindari. Tapi, dalam penyaringan calon pegawai, itu bisa dihindari. Menghapus persyaratan S1 tak akan menurunkan kualitas pegawai yang Anda terima, percayalah. Toh para calon pegawai harus melewati serangkaian tes, perusahaan bisa membuat tes yang benar-benar mampu memfilter mereka yang kompeten. Kalau pun ada kesalahan dalam tes yang begitu banyak itu, ada masa magang selama 9 bulan. Ada kesempatan untuk menilai mereka lebih dalam.
Dan, yang terpenting, ijazah S1 sama sekali tak menggambarkan kualitas seseorang. Anda mungkin berkata, “Loh, ijazah S1 adalah salah satu cara untuk menentukan kompetensi seseorang. Jika sarjana saja banyak yang tak berkualitas, apalah lagi mereka yang hanya tamat SMA.” Untuk mereka yang berkata seperti ini, saya akan sodorkan kepada mereka sejumlah orang yang amat berkualitas meski mereka bukan sarjana. Serius, kualitas mereka (secara teknik dan etos kerja) jauh lebih baik dari rekan-rekan mereka yang lulus S1 atau bahkan pascasarjana. Tentu saja, ada pengecualian. Pekerjaan di bidang akademis (dosen atau peneliti) tetap harus diisi oleh para sarjana.
Selama perusahaan-perusahaan masih mensyaratkan pendidikan S1 dalam iklan lowongan kerja mereka, selama itu pulalah gelar sarjana menjadi tuhan. Apapun dilakukan agar mendapatkan gelar itu. Tak penting caranya. Mau tugas skripsinya dibuatkan orang lain, mau otak mereka sekosong bola kempis, sebodo amat. Toh nantinya yang dilihat oleh SDM di perusahaan-perusahaan itu adalah ijazan dan IP mereka. SDM tidak bertanya, “Kamu lulus dengan memakai skripsi buatan sendiri atau buatan tukang ketik di Jalan Pramuka?” Kalau pun hal itu ditanyakan, kita bisa menjawab: “Ya buat sendirilah.”
Jadi, daripada menerima para sarjana palsu dengan mental tempe yang bikin skripsi saja harus bayar orang lain, lebih baik membuka diri seluas-luasnya. Beri kesempatan kepada lulusan SMA/SMK yang cerdas dan berdedikasi tapi tak mampu masuk universitas karena uang pangkalnya mahal selangit.
Jd pngn crita nih,klo di purwokerto,t4 sy belajar,ad t4 smcm konsultan skripsi n sejenisny..dg jaminan pendampingan smpe pendadaran,pula.
Ap g mirip bisnis skripsi tuh?
Jangankan skripsi palsu..
Profesor plagiat aja gak dipecat kok…
Contek menyontek.. seperti halnya korupsi, sudah jadi budaya bangsa yang adi luhung.
Yang tidak menyontek dianggap sok alim..
yang tidak korupsi dianggap sok suci..
La wong gitu aja kok ribut.Di negara kita ini yang sarjana aja susah cari kerja apa lagi yang cuma SMA.Mau SMA/Sarjana semua itu kembali pada pengalaman masing2.Mau dia itu sarjana bermental tempe kalo memang dia ada usaha untuk memperbaiki Grade hidup dia kenapa tidak.jadi apa yang harus di ributkan.Toh skripsinya atau Tesisnya di buat oleh orang lain atau plagiat yang penting dia sudah berusaha.Jadi selama dia (sarjana)tidak merugikan orang lain kenapa harus di permasalahkan.
saya setuju dengan pendapat penulis, dan mengerti opini dari saudara Abdul Aziz diatas. menurut saya, banyak juga mahasiswa yang kecerdasannya diatas rata-rata dengan nilai IP tinggi dan masih menyerahkan penyelesaian tugas akhirya ke orang lain maupun melakukan plagiat dari penelitian yang sudah ada. jadi hal itu bukan hanya kerjaan mahasiswa bermental tempe saja. saya juga kenal baik mahasiswa atau sarjana yang berotak brilliant yang kemempuannya diatas pasca sarjana tapi skripsinya hanya tinggal copy paste. maksud mereka biasanya hanya ingin mempermudah perjalanan saja. plagiarisme skripsi itu seperti membeli tiket pertandingan bola pada calo tiket.
sayang aku bukan sarjana dan hanya dari Golkar (GOlongan pekerja KasAR)jadi gag bisa kasi koment yang bagus
Tapi sedikit pendapatku, sarjana model begini di Indonesia jumlahnya ribuan mungkin juga jutaan. Jadi yang lebih berperan adalah Moralnya. Malah sekarang banyak guru yang sekedar mengejar uji kompentensi dari diknas beramai2 kuliah S1 dengan irama masuk kuliah yang senin kamis asal ada uang bisa lulus S1.
Sy jd agak b’pikir, terutama lantaran pendapat saudara abdul aziz. Ya, sejatinya para plagiator itu tidak merugikan siapapun, apapun bahkan. Malahan mungkin menguntungkan, baik buat calon sarjana atau malah si orang tua.
Namun, persoalan plagiasi skripsi ini punya akses yg lebih krusial lg saya pikir. Bukan di titik siapa dirugikan siapa. Tapi, pada munculnya intimidasi terhadap pendidikan itu sendiri. Pemakluman jelas bukan sikap yg pas.
Saya bangga jadi lulusan SMA yang bisa survive di perusahaan besar.
ah , negara kita ruweeet. Cari sekolah bermutu dgn biaya terjangkau jg sulit. Lulus jg sulit,palagi cari kerja, wualaaah suliiit. meding janlan pintas aja
Tul mas Sugeng !!!! coba liat STKIP atawa PT Negeri/swasta jur pend. Mereka ingin seperti bapak, paman , atau mbahnya yang ikut sertifikasi.
Profesionalkah mereka ? Mbuuuuh !
Kali ini saya mau bicara soal pendidikan dan kenapa sistem itu di negeri ini hancur adalah karena Indonesia dalam mafia pejabat korup total. Mengenai pendidikan di Indonesia, sudah dihancurkan, dengan korup dan bisnis. Pemerintah sengaja tidak menyediakan buku-buku dan diktat semua pelajaran pokok (bahaas Indonesia, matematika, bahasa Inggris utamanya) secara gratis ke seluruh sekolah seluruh negeri. Padahal itu sangat pokok. Meskipun guru tidak bcus tetapi kalau semua murid ada buku pedoman seragam dan berkualiats yang disediakan oleh Diknas dan dibagikan sekolah amsing-amsing dan ditarik kembali oleh perpustakaan amsing-amsing sekolah begitu tiap semester maka murid-murid tetap banyak yang pintar. Ini tidak ada buku-buku standar itu tetapi Mendiknas Nuh tetap mengadakan ujian ansional, itu sinting menteri itu. Nuh dulu pernah membuat kesalahan melarang orang beropini bebas, keebbasan ebrpendapat, di inetrnet, sebenarnya ia tidak panats jadi menteri lagi ketika dulu jadi menkominfo, eh anehnya kemudian tetap diposisikan malahan menjadi mendiknas, rupanya SBY miring juga kali. Biang keladi ialah tidak adanya tiga buku mata pelajaran pokok yang diujikan itu yang disebar seluruh sekolah yang ada di Indonesia. Tetapi pemerintah justru menyerahkan buku dibuat oleh swasta penerbit Erlangga dan lain-lain, sehingga tidak ada kederagaman buku, lihat buku terbitan Erlangga mahal, sementara peenrbit lainnya banyak yang salah. Tetapi ujian ansional tetap dilaksanakan. Itu sinting menteri itu, dan SBY sebagai kepala peemrintah sinting juga karena tidak ada wawasan. Bagaimana negeri ini mau maju?
sebagai orang yang doyan bergiat di pendidikan saya hanya bisa mengelus dada seraya berdoa: Tuhan, semoga hamba bukan dari golongan sarjana palsu. menjadi sarjana muda yang lelah mencari kerja tak apa (seperti katanya Iwan Fals) asal jangan menipu…
Moral yang penting,lihat aja para wakil rakyat yang katanya lulusan >S1 tetep aja korupsi.Padahal mereka tau itu uang rakyat.Emang dasar moralnya pada bejat.
udah tahu bejat napa mesti dipilih mangkanya kita tata dulu moral kita biar bisa ditiru
Skripsi/tesis/desertasi adalah sebagian tugas akhir dari strata pendidikan. Adalah bukan semata mata untuk menguji kemampuan secara akademis, namun juga ada sisi lain yang di uji dari tugas akhir tersebut yaitu MENTAL. Sehingga pada proses penyusunan tugas akhir, mulai dari proposal judul seolah olah “dipersulit”. Hal ini yang barangkali berdampak pada maraknya “calon pemikir” menmpuh “jalan pintas” sebagai plagiator. Celakanya lagi hal tersebut ditangkap oleh “penjual jasa” yang menawarkan “jalan tol”. Terjadilah transaksi. Ingat bahwa Plagiasi/duplikat/nyontek = nyolong. Bangga?? Tanyakan pada diri sendiri. Itu semua hanya kebutuhan dan tuntutan duniawi semata. Tidak lebih !!
mendingan diri sendiri yang berubah…berpikir positif untuk kemajuan bangsa dan negara…kalo ada kesalahan ya disempurnakan…coba gimana nyelesaikan persoalan ini, saya ingin tahu solusinya !
sabar dan tawakal….
Yang palsu akan ketahuan jika setiap mau kerja perlu seleksi super ketat sehingga yg punya ijazah palsu ngak berani ikut tes.
yang diperlukan perusahaan adalah sarjana, ipk di atas rata-rata dan bermoral baik, artinya skripsinya bukan hasil plagiat
sebenarnya mahasiswanya itu belajar dari dosennya juga,..!!
di kampus saya banyak tu dosen yang kerjaan nya mroyek dari TA mahasiswanya. banyak juga yang lulus karena faktor kedekatan dengan dosen, bahkan ada yang lebih parah lagi, ada yang diluluskan hanya karena namanya sama dengan nama istri dosen.
ketahuan banget kalau susis dah…
ketika terpilih lagi 2004 dia diramalkan nggak sampai 2012. apa betul. jauh mendingan Suharto kata temen temen aku: 1) Suharto bisa nyejahterakan rakyat meskipun dengan ngutang. 2) rupiah saat itu macho dan murah harga sembako. 3) tapi kini presiden sekarang sudah berkuasa 6 tahun lebih tapi nggak manfaat buat rakyat. 4) Pemerintahannya ngutang pula tapi nggak untuk rakyat. 5) wawasan dan niatnya mensejahterakan rakyat nggak ada. ramalan teman temen aku tadi mungkin akan jadi kenyataan. rakyat yang melarat akan rusuh. dia dipaksa turun. Esok lusa, beberapa hari lagi atau beberapa bulan lagi. kemarin malam di depan tokoh lintas agama dia janji lagi. oooooeh kalau nggak dipenuhi apa jadinya. betul.
Saya ingin mengomentari mengenai mutu pendidikan di negeri kita ini yang begitu banyak perguruan tinggi baik negeri maupun swasta yang banyak diantara perguruan tinggi tersebut lebih mendahulukan pemasukkan duit dari pada mutu lulusan. Kalau kita lihat bahwa anggaran untuk Kementerian Pendidikan yang triliunan itu koq tidak bisa digunakan untuk membuat suatu sistem yang terintegrasi penuh diantara kementerian itu dengan perguruan tinggi sehingga semua perguruan tinggi itu dapat ditingkatkan mutu lulusannya.Bukankah banyak para pakar di kementerian dan perguruan tinggi yang bisa bersinergi untuk meningkatkan mutu perguruan tinggi di Indonesia ini. Jangan terlalu disalahkan kalau ada mahasiswa yang menyelesaikan skripsi dengan contek sana sini atau mengupah orang lain bagi penyelesaian skripsinya,namanya saja usaha tapi apabila sistem sudah baik insya Allah SWT hal itu tidak akan pernah terjadi.
Inilah masalahnya kita di Indonesia, banyak diantara kita membisniskan sesuatu yang bukan barang dagangan, tapi lucunya laris manis walau menguras harta dan membangkrutkan satu keluarga, contoh jual-beli ijazah itu!
Dinegara dimana sy berdomisili sekarang ini, ujian untuk mendapatkan ijazah/diploma bahasa saja didalam ujian sangat ketat pemeriksaannya, mulai izin tinggal, surat penggilan ujian harus disertakan, foto ID dan kita tak boleh dan gak bisa beda betul(misalnya foto ID bercambang dan berjenggot) tapi ketika ikut ujian jenggot dan cambang sudah dibabat, disuruh pulang!
Disini, kita juga tdk bisa protes karena sudah aturannya baik surat tertulis dan tersirat, ketoiletpun bila dalam ujian harus dikawal hingga pintu wc, gak boleh bawa hp, kertas, tas atau pen(semua sudah sedia), ujiannya juga dengan coputer!
Lagian bila melamar kerjaan, walau sudah ditest ditempatkan dikempuan yang bersangkutan, nanti setelah bekerja beberapa waktu dan kelakuan serta motivasi dan kerajinan baik akan diberi pelatihan dan kursus maka gaji akan naik dan pangkatpun naik!
Oya, pengalaman kerja yang lama/panjang akan nilai setara dengan kesarjanaan walau sebenarnya ijazah hanya setara SMA! Gimana Indonesia???
Pada pemerintaha Soeharto kelihatannya aman dan murah karena trik beliau bersama jajarannya, kalau semua keinginan rakyat terpenuhi oleh penguasa maka rakyat akan diam membisu dan masa bodoh(istilahnya yang penting makan, mau apalagi, utang? emang gua pikirin!). Tapi aneh, katanya Bapak Harto baik dan semua ada, tapi koq didemo besar-besaran dan dilengserkan sih dan mengapa negara bangkrut saat 1996-1998? Namun orang yang tidak pernah bangkrut dan susah ya keluarga Bapak Soeharto (anak, mantu dan cucu) dan kroni Bapak Harto itu hingga sekarang. Negara Indonesia aman dan tentram, karena gak ada demokrasi dan kebebasan berbicara, berani banyak omong media dibredel, golongan dan pribadi buka mulut hilang ditelan bumi(lenyap). Mendingan sekarang, menghina dan melecehkan Presiden dan mantan Presiden(Ibu Mega) atau siapa saja yang kita tidak cocok dan tidak segolongan kita bebasria mencacinya, kita aman-aman saja, koran, tv dll santai saja, tetap nyaring dan garing!