Enak di Blog dan Perlu

Ketika mendengar kabar bahwa Eastman Kodak Co. mengajukan permohonan perlindungan kepailitan pekan lalu, saya teringat pada satu buku menarik yang ditulis oleh Jagdish N. Sheth. Buku ini ditulis oleh guru besar kompetisi global di Goizueta Business School at Emory University, AS, tersebut sebagai jawaban atas pertanyaan yang diajukan seorang eksekutif perusahaan kepadanya. Pertanyaan yang membuat Sheth penasaran untuk mencari tahu jawabannya itu berbunyi seperti ini: “Mengapa perusahaan bagus bisa gagal?”

7-tanda-kehancuran-bisnis-suksesKarya yang berjudul The Self Destructive Habits of Good Companies (edisi Indonesianya: 7 Tanda Kehancuran Bisnis Sukses, Gramedia, 2008) ini memaparkan kebiasaan-kebiasaan buruk perusahaan sukses yang menyeret mereka ke dasar jurang. Banyak di antara 62 perusahaan yang dipuji-puji Tom Peters dan Robert Waterman dalam buku laris mereka, In Search of Excellence (1982), ternyata mengalami kesulitan serius dalam dua dekade terakhir, termasuk ikon bisnis AS seperti AT&T, Xerox, dan Kodak.

Sebagian di antara perusahaan itu mampu bangkit kembali. Ada yang tengah berusaha keras memulihkan diri ketika buku ini ditulis pada 2007. Lainnya kemungkinan besar bangkrut. Apa saja kebiasaan buruk yang membuat perusahaan sukes ini merosot tajam?

» baca selengkapnya

Siapa tak kenal Kodak? Namanya bukan hanya jadi merek produk film, tapi pernah menjadi nama generik untuk kamera. Banyak orang di negeri ini yang menyebut kamera dengan Kodak. “Kodakmu merek apa?” adalah pertanyaan yang lazim diajukan. Tapi itu dulu, ketika Kodak masih merajai dunia perfilman yang merekam peristiwa dalam kehidupan seseorang.

Salah satu logo yang pernah dipakai Kodak

Salah satu logo yang pernah dipakai Kodak

Memang, hampir di sepanjang abad ke-20, Kodak memainkan peran yang sangat penting dalam kehidupan jutaan orang di muka Bumi, merekam berbagai peristiwa bersejarah, menjadi saksi berharga yang nyaris abadi. Kepada Kodak-lah, banyak orang mempercayakan “kenangan” mereka—orang zaman dulu menyebutnya ‘momen Kodak’. Orang mengabadikan acara ulang tahun, berpesiar ke pantai, atau menyaksikan huru-hara di film Kodak.

Namun kini, perusahaan yang didirikan oleh George Eastman pada 1880 itu akhirnya mencapai titik nadir. Setelah lama berjuang untuk bertahan di tengah gempuran teknologi film digital, produsen film selulosa serta kamera ini akhirnya menyerah. Manajemen Kodak memasukkan berkas permohonan perlindungan kepailitan ke pengadilan AS pekan lalu.

» baca selengkapnya

burhan-blog

Bramantyo adalah anomali. Desainer muda itu, umurnya baru 28 tahun, benci dengan Facebook. Setiap kali dia jengah. Setiap bertemu dengan teman-temannya semasa kecil, dia selalu ditodong dengan pertanyaan yang membuat alisnya naik. “Apa akun Facebookmu?”

Pertanyaan yang bikin dia jengkel. “Apa salahnya tak punya akun Facebook?” kata dia dengan gusar. “Pertemanan di Facebook itu kan kebanyakan palsu. Penuh pencitraan.” Sudah lebih dari 10 tahun Bramantyo kenal Internet. Tapi, dia tak pernah tergoda untuk membuka akun Facebook. Alasannya sederhana, “Saya ingin berinteraksi secara langsung,” ujarnya.
Bramantyo adalah sebuah fenomena anti-Facebook yang kini diam-diam muncul. Di Indonesia, saat 35 juta orang Indonesia tergila-gila kepada situs buatan Mark Zuckerberg itu–sampai-sampai Indonesia menjadi negara nomor 2 pengakses Facebook terbanyak sedunia–Bramantyo justru bersikap sebaliknya.

Orang-orang seperti Bram ini ternyata jumlahnya cukup banyak. Bahkan, di Amerika Serikat, negara lahirnya Facebook, juga merebak orang yang anti-Facebook. Tyson Balcomb adalah contohnya. Dia memutuskan berhenti memakai Facebook, setelah tak sengaja bertemu dengan perempuan yang tak pernah dia kenal di dunia nyata. Pertemuan itu berlangsung di lift. Meski tak kenal, dia tahu semua hal tentang tetangganya itu–wajah saudaranya, asal kelahirannya yang dari pinggiran Washington, sampai berapa kali perempuan itu berkunjung ke Seattle. Semua itu dia ketahui lewat Facebook.
“Saya tahu semuanya meski tak pernah berbicara dengannya,” kata Balcomb.

Pertemuan tak terduga itu justru menyadarkan dia, betapa Facebook telah membuatnya “gila”. “Cara seperti ini tak sehat,” ujarnya.
» baca selengkapnya

burhan-blog

Pesan itu, meski tak dituliskan, begitu kuat menancap di The Waldorf School di Los Altos, California. Meski sekolah ini ada di Lembah Silikon, yang menjadi jantung industri komputer di Amerika Serikat, tak ada sebuah komputer pun di sekolah mereka. Juga tak ada iPad, laptop, ataupun proyektor. Juga tak ada akses nirkabel seperti yang ini menjadi tren di sekolah-sekolah elite di Jakarta. iPhone, BlackBerry, dan telepon seluler lainnya haram hukumnya bagi siswa.
Yang ada di sana justru seperti di sekolah di kampung Belitong. Hanya ada papan tulis, kapur warna-warni, rak-rak buku, dan bangku. Di sekolah juga tersedia pena, kertas, jarum dan benang rajut, serta tanah liat untuk membikin kerajinan tangan.

Kuno? Ya. Tapi sekolah ini justru diminati oleh para orang tua yang kebanyakan adalah bos-bos perusahaan di Lembah Silikon. Chief Technology Officer dari situs eBay.com mengirim anaknya duduk di kelas IX di sekolah ini. Sejumlah bos Google, Apple, Yahoo!, dan Hewlett-Packard juga melakukan hal yang sama.
» baca selengkapnya

“Kami sudah melakukan banyak perubahan untuk memberikan layanan yang lebih bagus,” ujar seorang manajer baru-baru ini. Dengan bangga ia menceritakan investasi besar yang dialokasikan perusahaannya untuk memperbaiki kualitas layanan, mulai dari perbaikan ruang tunggu, model antrian yang lebih efisien, serta servis yang lebih cepat.

Lantaran itu saya tertarik untuk mendatangi kantor cabang yang ia pimpin. Kebetulan saya ingin membuka rekening. Saat duduk di depan petugas customer service, saya mendapati wajah yang kurang ramah. Permintaan membuka rekening saya memang dilayani, tapi petugas ini bolak-balik bangkit dari tempat duduknya ke tempat lain tanpa ba-bi-bu.

Akhirnya, begitu urusan selesai, saya beranjak dengan satu pengalaman ‘service encounter’ yang tidak terlupakan. Sebenarnya saya tak ingin menceritakan pengalaman ini kepada kawan saya yang manajer itu. Tapi, jika ia tidak tahu, ia akan merasa pelayanan yang diberikan kantor cabangnya “oke-oke saja”.

» baca selengkapnya