Jun
4
Garuda di Dadaku
Tadi pagi saya menonton Garuda di Dadaku. Terus terang, ada alasan emosional yang membuat saya rela bangun pagi dan cabut ke fx X’entre untuk menonton premiernya (baru tayang resmi tanggal 18 Juni). Saya adalah salah seorang yang selalu merinding saat yel-yel Garudaku menggema di Stadion Utama Senayan, setiap kali tim nasional kita (yang lebih sering kalah itu) bertanding. Meski ini film anak-anak, saya tetap akan menontonnya: toh ada timnas-timnasnya juga (meski U-13).
Karena ini film tentang bola, mari kita membicarakannya seperti membicarakan pertandingan sepak bola. Rata-rata panjang film mirip panjang pertandingan sepakbola: 1,5 jam, kurang lebih 90 menit. Kalau kita bagi dua, maka ada 45 menit pertama dan 45 menit kedua (meski menonton film tak pakai istirahat turun minum). Hasil pembabakan ini membuat film itu mirip pertandingan final klub non-Inggris: membosankan dan tegang pada babak pertama; dan lumayan rileks pada babak selanjutnya.
Terus terang, pada 45 menit pertama, saya kerap memejamkan mata karena tak tahan melihat adegan yang amat sinetron. Aktingnya kerap berlebihan, pengadeganannya verbal, dan tidak ada kematangan yang diperoleh dari hasil latihan dan penghayatan. Karakter tidak berkembang. Dan semua bermain amat kaku.
Belum lagi ditambah adegan shampo. Oke, film memakai sponsor tak haram, bahkan dengan menulis shampo Lifebuoy dalam kredit di awal film pun boleh saja. Oke jugalah, kalau kita melihat ada botol shampo di kamar mandi. Tapi, kenapa pula Pak Usman (Sang Kakek, yang diperankan Ikranegara) harus berteriak kepada Bayu agar keramas, lalu Bayu menjawab dengan mengambil botol shampo dan memencetnya. Teriakan dan adegan mengambil botol shampo itu adalah penegasan sponsor yang berlebihan.
Semua bermain tegang, kaku, tidak bisa menampakkan karakter di 45 menit pertama. Bahkan sejak awal, film dibuka dengan adegan yang buruk rupa. Hanya Bang Dullah (diperankan bagus oleh Ramzi) yang bisa bermain lebih rileks.
Alhamdulillah, pada 45 menit kedua, film mulai lancar. Entah mengapa, mungkin karena mereka sudah menemukan kimiawi saat penggarapan film berjalan separuh. Ramzi tetap yang paling rileks. Dia mengeluarkan celetukan Arab-Betawi yang khas, yang kemungkinan besar itu hasil improvisasi dia (tidak ada dalam naskah).
Tapi, tetap saja ada cacat besar di babak kedua ini. Karena ini soal jalan cerita, baiknya saya terangkan dulu jalan cerita secara umum. Alkisah ada Bayu yang tinggal bersama kakek dan ibunya (Maudi Kusnaedi). Ayahnya sudah meninggal, tabrakan saat menyopir taksi. Dulu almarhum pernah ingin menjadi pemain bola, tapi cidera berat, hingga harus jadi supir taksi. Sang kakek dendam pada sepakbola dan melarang cucunya, Bayu, bermain bola. Sebagai gantinya, Bayu dipersiapkan menjadi orang sukses dengan berbagai kursus, termasuk melukis.
Tapi Bayu mewarisi bakat sepakbola ayahnya. Ia bermain sembunyi-sembunyi bermain bola, hingga direkrut sekolah sepakbola Arsenal di Jakarta dengan beasiswa. Meski harus berbohong pada kakeknya, Bayu mau. Karena hanya dengan bergabung dengan klub dia punya peluang untuk masuk timnas U-13. Ini adalah cita-cita utamanya, memakai seragam timnas dengan gambar garuda di dada. Tentu saja kakeknya tak tahu, dia mengira Bayu kerja sosial di kuburan. Suatu hari dia tidak menjumpai Bayu di rumah dan kakek pun pergi ke kuburan. Tapi tak ada Bayu di sana. Di sana dia baru tahu bahwa lukisan yang selama ini dia kira sebagai lukisan Bayu, ternyata lukisan anak penjaga kuburan. Kakek marah karena dibohongi.
Nah, anehnya, setelah mengetahui kebohongan Bayu soal lukisan itu, sang kakek langsung ke sekolah sepak bola Arsenal. Pertanyaannya: dari mana sang kakek tahu Bayu ada di sana? Bukankah dia tidak tahu? Mungkin penjaga kuburan yang kasih tahu, tapi ini cuma tebakan saya.
Adegan dan dialog verbal serta lompatan-lompatan seperti itu membuat saya tidak bisa menikmati film ini—meski dengan berbagai pemakluman. Demikian juga seorang anak SD yang duduk di samping saya dan sepanjang film selalu bertanya kepada ibunya karena banyak adegan yang tidak dia mengerti.
Catatan lain, entah mengapa lagu Mereka Ada di Jalan dari Iwan Fals (http://www.youtube.com/watch?v=1MilyyyiqBQ) tidak dijadikan soundtrack, padahal lagu itu sangat cocok dengan film itu. Hanya perlu mengganti nama-nama pemain nasional jadul dalam lagu itu dengan Bambang Pamungkas dkk, lagu itu akan sangat pas menemani Bayu menggiring bola.
–
Pukul tiga sore hari
di jalan yang belum jadi
Aku melihat anak-anak kecil telanjang dada
Telanjang kaki asyik mengejar bola
Kuhampiri kudekati lalu duduk ditanah
Yang lebih tinggi
Agar lebih jelas lihat dan rasakan
Semangat mereka keringat mereka
Dalam memenangkan permainan
Ramang kecil Kadir kecil
Menggiring bola dijalanan
Ruly kecil Riky kecil
Lika-liku jebolkan gawang
Tiang gawang puing-puing
Sisa bangunan yang tergusur
Tanah lapang hanya tinggal cerita
Yang nampak mata hanya para pembual saja
Anak kota tak mampu beli sepatu
Anak kota tak punya tanah lapang
Sepak bola menjadi barang yang mahal
Milik mereka yang punya uang saja
Dan sementara kita disini
Di jalan ini
Bola kaki dari plastik
Ditendang mampir ke langit
Pecahlah sudah kaca jendela hati
Sebab terkena bola tentu
bukan salah mereka
Rony kecil Hery kecil
Gaya samba sodorkan bola
Nobon kecil Juki kecil
Jegal lawan amankan gawang
Cipto kecil Iswadi kecil
Tak tik tik tak terinjak paku
Yudo kecil Paslah kecil
Terkam bola jatuh menangis
kadang-kadang yang tukang bikin film itu jarang berpikir kualitas. yang penting siap, sponsor diyakinkan, tampil, modal balik (itupun kalau untung), beres urusan. sama halnya sinetron-sinetron kebanyakan. sama sekali tak asyik. tak mendidik. inilah orang Indonesia, kata Kartila…
ada yang lupa: PUSING!
Mohon rekan rekan hargai hasil karya anak negeri ini,apa susahnya sih menyenangkan orang lain. ingat bung tidak ada yang sempurna di dunia ini.
sang pengkritik apakah pernah membuat film sendiri atau cumanjago “bacot” doang. Ambil positifnya bung, temanya saja saya kira sudah lebih baik dari tema film yang ada sekarang.
apa sebegitu jeleknyakah film ini? temenku juga ada yang nonton dan menurut dia bagus. memang saya belom nonton, tapi setidaknya hargai orang-orang yang belum nonton. jangan tulis dulu ulasannya sebelum tanggal mainnya. setahu saya, film ini untuk semua umur. maaf kalo kesannya ‘nylot’, tapi ini hanya dari sudut pandang saya aja.
saya belum pernah melihat film ini.. bagaimanapun tetap harus dihormati lah karya2 indonesia.. bagaimanapun itu karya bangsa.. setidaknya berikan kesempatan bagi para orang2 baru di dunia akting untuk berusaha.. VIva perfilman Indonesia..
kalau kritikus film tak boleh mengkritik film lantas kapan perfilman kita mau maju, masak kita cuma mau berpuas diri hanya sekedar ada film negeri sendiri di layar lebar
saya yakin sutradara dan penulis naskahnya justru meminta kritik agar film berikutnya bisa lebih baik… lantas siapa ini yang meminta karya anak bangsa dihargai, ini sudah ditonton dan dikritik saja sudah pertanda menghargai
saya pikir pengamatan teman kita terhadap film tersebut amat baik. Mungkin saya menyebut pandangan beliau terhadap film tersebut bukan sebagai kritikan tetapi lebih kepada harapan kualitas film produksi anak bangsa seharusnya dapat lebih baik daripada sekedar memuaskan sponsor.
maksud saya bukannya tidak menghargai, tapi kan kasihan yang belum nonton. saya sedang googling tentang garuda di dadaku, tapi sudah ada review ini, rasanya ngga enak aja, ini film yang cukup ditunggu, saya juga menunggu, tapi kenapa sudah ada reviewnya? teman saya tidak bercerita tentang isinya, hanya menurut dia cukup bagus, sudah hanya itu komentar dia, tidak ada kalimat apapun tentang ceritanya itu sendiri.
Untuk Soundtrack Bung, kiranya jauh sekali lagu dari Iwan Fals Sang legenda itu jd bagianya… dalam sekali, sungguh mengena dijaman hati rakyat jelata, dan perlu diakui atau tidak, tanpa menghidari rasa respect, lagu di indonesia sudah mengalami penurunan kuantitas.
Mgkn bkn mksd untk mengkritik, tp lbh tepat memberi masukan… Sy sdh tak sbr menunggu film ini. Bangkitlah Indonesia!
ada benarnya kalo mau review film ada baiknya setelah film itu dirilis atau tanpa perlu menkutip berbagai adegan yang nantinya malah jadi spoiler buat yang blon nonton…..kalo masalah sponsor ambil positifnya aja…dari pemilihan tema aja ini merupakan suatu dobrakan baru bagi perfilman indonesia seingat saya yang terakhir mengumbar isu patriotisme adalah nagabonar jadi 2 setelah itu mana ada lagi? yang ada pocong2an, cabul2an, cinta2an, mungkin karena pemilihan tema yang melenceng dari mainstream perfilman indonesia saat ini maka film ini juga dijauhi sponsor yang menurut mereka bila diluar jalur mainstream diatas maka tida akan laku dan mungkin penekanan sponsor disalah satu adegan film menjadi satu2nya cara untuk mendapatkan suntikan dana dari sponsor….sah2 aja bukan, daripada nonton film cabul atau horor ga jelas walau tanpa penekanan sponsor sekalipun, nah untuk masalah soundtrack juga tampaknya oke2 ajah, lagunya bang iwan itu tentang anak yang bermain bola di tanah reruntuhan puing karena mereka miskin tidak punya uang untuk membeli spatu, bola kulit dan menyewa lapangan sepakbola yang sesuai, sedangkan di film bayunya sendiri adalah dari keluarga yan cukup berada sampai bergabung ke SSI Arsenal yang sudah pasti hanya orang2 mampu saja yang bisa bermain disana, lagipula soundtrack dari netral jga mantep kok…dapet feelnya apalagi ditambah bagian dari salah satu lagu nasional kita….intinya film ini sudah cukup berbeda dari pada film indonesia kebanyakan jadi itu pun sudah cukup diberikan kredit atas keberanian membawa tema yang malah dihindari sebagian besar film maker kita…
sekali merah tetap merah…
sekali garuda tetap garuda…
merah putih adalah “HARGA MATI” !!!
blokir alim suhenda plissss
faceboo.com
plisssss blok me alim suhendar???
Nikmati aja deh … Ini kan film genre anak-anak. Jangan terlalu dipusingkan dengan jalan ceritanya.
Memang sinetron indonesia,asal asalan,anak SMP sudah pacaran patah hati,beratem gara gara cinta…ceritanya juga cengeng melulu,tidak ada bisa dibawa untuk diingat.
Tidak seperti masa Christine Hakim,Didi Petet…..coba seperti drama PULANG yang diperankan Didid Petet ada makna yang diambil dan adegan meluncur enak…
film ini keren bgt…
syang kalau tdk di tonton oleh rakyat Indonesia
film ini.. membuat gua bangkit dr sepak bola…
Bgitu Liat Iklan Film Ini di TV Langsung Berhasrat pingin nonton…jarang bgt film olah raga,anak2,tim nasional lg.
Idenya udah Keren bgt kalo ada kekurangan yah bisa disempurnakan u film selanjutnya…lanjutanya mungkin??
Smoga makin bnyk film2 smacam ini u olah raga yg laen…sehingga bisa menjadi Inspirasi demi kemajuan olah raga Indonesia yg jg makin Kandas.
kalau saya lihat trailernya, rasanya film ini cukup menarik dan baik kemasannya
dari segi acting-pun, saya rasa jauh dari kelas sinetron.
saya setuju dengan pendapat rikki, bila ingin mereview, lebih baik setelah filmnya release di bioskop, supaya masyarakat bisa menilai sendiri dan kita pun belajar untuk menghargai karya orang lain
Film ini lebih layak ditonton walau dengan segala kekurangan yang disampaikan di atas. Dinikmati saja, jauh lebih baik dari nonton film atau sinetron yang ngga jelas !!
ya ampun, komentarnya gitu banget ya. menpora aja ngehargai nih film, nah situ? malah ngejatohin…
hargai dong film anak negeri…
situ sendiri blom tentu bisa bikin film yang sama, apalagi lebih bgus dari film GDD…
please dong ahhh
:. kk . DapaT Dimana FiLmnYa ? .:
ya apapun kelebihan dan kekurangannya kita harus menghargai, apalagi film-film yang bertema anak2 trus ada unsur patriotismenya itu sangat jarang, film ini juga mengajarkan anak tentang nasionalisme dan cinta indonesia.soundtracknya juga pas, bisa bikin merinding kalo dengar apalagi kalo dinyanyikan seluruh penonton di senayan waktu timnas kita bertanding,disitulah kita merasa kalo kita tuh punya cinta yang sama cinta Indonesia dengan segala kekurangan dan kelebihannya
Sangat setuju…kita harus meng-apresiasi film2 anak bangsa yg membangkitkan rasa Nasionalisme seperti ini, kepakkan sayapmu garuda Indonesia
Baru nonton iklannya di TV aja sy sudah terharu, tak terasa meleleh air mata…bangga kita sebagai bangsa yg besar melihat anak2 yg bercita2 ingin menyandang garuda di dadanya, patut kita renungi brsama…
Saya rasa kritikan itu penting, apa lagi dengan niat baik untuk kemajuan Film Indonesia..yah biarkanlah setiap orang memiliki peranannya masing-masing..
Terus terang Saya belum menonton Film ini, ya iyalah, premier nya aja tanggal 18 Juni ini..hehehe..tapi terus terang dengan mendengarkan judulnya saja, ampun dah,buat hati bergetar euy, ini dia impian setiap anak Indonesia yang mencintai sepakbola,memperkuat TimNas Indonesia dengan lambang Garuda di dadanya…
So, tetap hargai niat baik film ini sebagai salah satu bentuk cerminan Nasionaisme..hehehe…
Hidup Sepakbola Indonesia..
Hidup Indonesia!!
Bagi saya semua harus sesuai porsinya masing-masing,kritikus harus bisa memberikan kritik yang membangun dan tidak menjatuhkan,shg calon penonton msh mempunyai semangat utk nonton toh ini film Indonesia produk indonesia dg tema pratriotik jg ada PESAN yg baik disitu,pembuat film bisa menjadikan kritik sbg Cermin agar menghasilkan Karya yg lebih baik lagi,dengan begitu menjadi semua lebik baik….” ok..?’
Bravo GARUDA’s Spirit…!!!
waduh neh film kyknya keren abiz walupun saya belum nonton tpi yakin ini film banyak pesan nya dan pastinya lebih banyak muatan semangat nya…hidup olahraga sepakbola indonesia….
saya sudah menonton filmnya. Buat saya sebagai film anak2, ceritanya bagus & seru.menurut saya film ini film yang menggunakan sepak bola sebagai setting cerita. Jadi bukan film tentang SEPAK BOLA. jadi harus dibedakan… tapi semangat nasionalismenya boleh banget! kalo masalah sponsor, film Denias yang di puji para kritikus juga banyak sponsornya. buat saya sah2 aj, coba liat film JAMES BOND, apa kurang banyak sponsornya?!?! so buat gue film ini bagussss…
sebagai orang yang sudah menonton film ini menurut saya film ini bagus dan mendidik. Bayu sebagai tokoh utama dapat dijadikan panutan bagi kita semua untuk menanamkan rasa nasionalisme yang tinggi. banyak juga hal-hal mendasar yang dapat kita contoh (maka dari itu sebaiknya jangan lewatkan kesempatan untuk menonton. kalau masalah sponsor memang agak berlebihan, tp over all tidak menjadi masalah.
Tema yang dipilih juga berbeda dari film-film yang beredar di masyarakat yang berbau-bau sensual dan horror. itu saja sudah menunjukkan keunggulan film ini. intinya,majulah perfilman Indonesia!
“Garuda di dadaku..garuda kebanggaanku..”
kayaknya sah-sah aja ya mereview film sebelum rilis. di luar negeri pun begitu. justru rate film dari kritikus yang mendorong penonton untuk memilih film yang ditonton dan jadi masukan buat si pembuat film. masalah kritikan bagus atau jelek itu kan tergantung selera si kritikus. coba deh cek di yahoo movies, satu film di review oleh banyak kritikus, pndapatnya beda-beda. salah satu kritikus favorit saya sih roeper & ebert, rasanya kok cocok aja sama selera saya kalo baca tulisannya. tapi review jelek jg kadang malah menggoda kita untuk nonton loh, kita kan jadi penasaran…emang bener jelek,pdhl temanya keren? iya ga?.. saya malah tertarik untuk nonton setelah baca review ini loh,hehehe.
Kita ambil positifnya aja deh.Klo emang blum maksimal dari segi penggarapan filmnya ya di maklumi aja.kedepannya moga aja perfilmman kita bagus.Saya malah penasaran ingin banget nonton ni film.film ini munkin lebih berkualitas dari pada film2 tema pocong2an dkk n cinta2an yg dari segi manfaat kurang banget..saya menilai film tsbt film sampah
bagi saya, apresiasi terhadap sebuah karya sih, sah-sah saja. setiap individu berhak atas pendapatnya sendiri-sendiri. mungkin bagi sebagian orang film ini bagus, mungkin juga bagi sebagian lagi kualitasnya masih belum bisa diacungi jempol. tetapi menurut saya sejelek apapun pendapat orang tentang film ini, masih jauh lebih berkualitas dibanding dengan tontonan-tontonan lain yang sekarang lagi marak di negeri kita. apalagi tontonan yang bisa dilihat oleh anak-anak. karena tontonan untuk anak-anak yang berkualitas produksi dalam negeri sangat jarang. ada benarnya juga jika sebuah karya menuai kritikan, itu akan jadi pelajaran berharga bagi sineas-sineas kita untuk berkarya jauh lebih baik lagi. anyway…menulis sebuah review film secara detail dan lengkap sebelum film itu dirilis memang menjengkelkan bagi mereka2 yang tertarik dan berminat menonton. sama juga ketika kita ingin sekali membaca sebuah buku cerita, baru saja kita berniat membeli bukunya, eh ada teman yang dengan santai dan cueknya menceritakan isi buku tersebut. Kritikan si penulis terhadap film ini memang berbobot,dan harus diperhatikan oleh si film maker. di sisi lain, giliran si penulis yang memperhatikan beberapa komplain dari temen-temen karena reviewnya yang sangat detail dan lengkap, sangat mengganggu yang lain. satu hal yang pasti, untuk kemajuan dan kehidupan yang lebih baik, kita memang harus mau diingatkan, dan open mind terhadap kritik.
Coba buka site berikut: entertainment.kompas.com Mungkin bisa dipakai perbandingan.
salam olahraga…eh qaris..gw bukannnya mo sok tau tp gw tebak nyokap lo g pernah bliin lo sampo..asal lo tau aj..di indomaret klo g slh sampo lg diskon deh…lo kebanyakan nongkrond di kamar mandi seh..makanya g ngerti film2..
“Tapi, kenapa pula Pak Usman (Sang Kakek, yang diperankan Ikranegara) harus berteriak kepada Bayu agar keramas, lalu Bayu menjawab dengan mengambil botol shampo dan memencetnya”
Ris, nyokap lo ga pernah nyuruh lu shampo-an ya? ato lu botak?
iya ni..aq baru liat clip nya aja langsung merinding..sangat menggugah rasa nasionalisme..gue salut…bayu loe kerenz..
baru nonton iklannya aja gw udh terharu..
Ada sudut pandang yang populer atau konvensional, ada sudut pandang pribadi, ada sudut pandang besar dari kaum mayoritas, ada sudut pandang kecil dari kaum minoritas Namun tidak ada sudut pandang yang menyatakan Anda benar atau anda salah Semuanya hanya bergantung dari sudut pandang mana anda melihat.
saya baru aja nonton film ini… memang sih alurnya sedikit diluar harapan saya… TAPI saya berharap ini adalah LANGKAH AWAL untuk para film maker kita bahwa tidak hanya tema percintaan dan hantu-hantuan saja NASIONALISME juga satu topik menarik untuk digarap… bravo INDONESIA semoga semagat GAruda tetap menyala…
yang bikin postingan disini orang tolol…..tolol tau ga lu…gw g suka y film anak bangsa yang sedang ingin berkembang maen lu kritik. tai tau g lu, kalau emang lu jago…bikin film lu sendiri..dasar GOBLOOOKKKKK…
“Alhamdulillah, pada 45 menit kedua, film mulai lancar. Entah mengapa, mungkin karena mereka sudah menemukan kimiawi saat penggarapan film berjalan separuh.”
hmmm
sayang sekali penulis mungkin lupa bahwa proses shooting dilakukan bukan berdasarkan kronologis jalan cerita, tapi berdasarkan lokasi dan scene yang berkaitan dengan lokasi tersebut.
jadi, apa yang anda lihat di 45 menit kedua, bisa jadi di take di awal-awal proses shooting berlangsung.
kritikan anda juga banyak yang tidak substansial. mengkritik sih boleh, tapi bagi saya anda terlihat seperti nenek-nenek tua menjelang masa menopause: argumentative for the sake of the argument.
menyedihkan.
Jadi inget kisah sepasang kekasih yang satu ilmuwan pria yang satu seniwati. karena terpisah jarak si istri hanya bisa mengirimkan luapn cintanya melalui surat. sementara sang ilmuwan hanya sibuk menganalisa dari bahn apa kertas itu dibuat, menggunakan tinta apa tulisan itu dibuat, berapa kg/cm2 tekanan ketika menulis..tapi dia lupa ungkapan cinta sang istri pada setiap surat yang dia berikan.
So..jangan lupa saya dan jua mungkin anda dan orang-orang yang nonton itu bukan ilmuwan film..saya nonton film ini hanya ingin tergugah semangat nasionalisme di tengah terpuruknya harga diri bangsa kita. Dan film ini memberikan itu…semoga muncul BAYU-BAYU yang lain dimasa datang.
lumayan koq,
inikan musimnya liburan dr pd adek^ kita nonton pocong2an + cabul bagusan dikasih garuda didadaku,
sukses buat NETRAL sumpah ngerinding euy……
setuju….
“Nah, anehnya, setelah mengetahui kebohongan Bayu soal lukisan itu, sang kakek langsung ke sekolah sepak bola Arsenal. Pertanyaannya: dari mana sang kakek tahu Bayu ada di sana? Bukankah dia tidak tahu? Mungkin penjaga kuburan yang kasih tahu, tapi ini cuma tebakan saya ”
Menurut saya kakeknya tahu pas membaca tulisan bayu yang ditempel di dinding kamarnya… Bukankah itu muncul dalam adegan saat kakenya masuk kamar Bayu??
saya kira film ini bagus untuk membangkitkan semangat nasionalisme kita terutama anak-anak Indonesia.
Sukses film Indonesia yang bermutu….
Film ini jauh lebih bagus dari pada Ketika Cinta Bertasbih……padahal directornya ga terkenal. keren…….tinggal tunggu KING nih, pasti keren juga apalagi secara teknis lebih serius dari garuda di dadaku. Budget gede nih film KING….Untung garuda di dadaku ditayangin sebelahan sama KCB jadi gue ada pilihan lain…
sumpah tadi gua udah nonton!!
BAGUS BGT!!
bikin gua lebih menghargai timnas indonesia!!
gua suka banget: “GARUDA DIDADAKU!! GARUDA KEBANGGAANKU, KUYAKIN HARI INI PASTI MENANG!!!!!”
nasionalis abis!! menurut gua ini film pengugah nasionalisme pertama yg bener2 bisa buat gua makin cinta sama Indonesia!!
Judul filmnya ngalahin isi filmnya.
satu lagi.. anak kecil kok ngomongnya lo-gue sihh??
baru nonton filmnya keren abizzz…lagunya netral top banget….gue ampe merinding…
yah…sayang bgt…blom smpet nonton….tapi gak papa…biar di kritik…kok sy malah mao nonton…viva timnas….lagu yg bikin merinding kalo dateng ke stadion bung karno….just feel the chemist
ho…ho..besok..bolos kerja….ah…nonton di blok m plaza
belum nonton sih, tp klo liat pas cuplikan nya di http://www.garudadidadaku.com kayanya “wah”, setuju banget tuh sama yang bilang ngebangkitin rasa nasionalis, klo kata orang gede blg kurang greget tp klo kata anak kecil ini bisa jadi inspirasi mereka untuk jadi seperti apa yang mereka tonton, jangankan anak kecil mungkin kawan-kawan sekalian juga baru tau ada SSI arsenal di INDONESIA, dari pada nonton film horor yang tambah ga jelas, ya mending nonton ini lah yang udah jelas, baru nonton cuplikannya ajah udah bangkit rasa nasionalis, anak kecil mungkin klo udah nonton malah mau jadi pemain sepakbola
Wah..yang nulis review sama nih ama di Jakarta Globe, cuman yang ini versi bahasa Indonesia..mas..kalo nonton makanya jangan sambil sms…situ boleh bilang bosan, tapi yang jelas seluruh penonton tepuk tangan…kasian de lu bikin review karena dengki film Indonesia maju
* satu lagi.. anak kecil kok ngomongnya lo-gue sihh?? (by Eggster)..
Yah namanya anak kecil jaman sekarang kaleee…emangnya lo ga pernah denger anak kecil ngomong lo gue? lo tinggal di hutan?
Daripada sinetron..aku kamu basiii..ga natural
pertama kali saya menonton film “garuda di dadaku”, saya merasa itu adalah film terbaik yang pernah saya lihat. saya sangat suka dengan Bayu(emir) yang memerankan perannya dengan baik walaupun terlihat kaku,,,
walaupun begitu, saya tetap menidolakan Emir…
maju sepak bola Indonesia !!!!
Baru nonton iklannya di TV aja sy sudah terharu, tak terasa meleleh air mata…bangga kita sebagai bangsa yg besar melihat anak2 yg bercita2 ingin menyandang garuda di dadanya, patut kita renungi brsama…
orang2 ini kenapa sih, komentar film aja dibawa2 ke arah2 diluar koridor kritik film. menurut saya ini film critic. ya wajar lah mengangkat kekurangan apalagi memang major. rasanya ga ada kok disini yang suka kita hancur, semua pasti pada ga mau kalo film kita pun rusak seperti sinetron.
kembali pada film critic, ya sah2 saja kok bilang film ini great ato sucks. tergantung diliat dari mana. masalah tidak setuju, ya ngomong tidak setujunya dimana, di SHOT APA, ADEGAN yg MANA?, trus ALUR yg mana, jadi tidak melebar ke masalah yg ga perlu. ini kan review PRODUK, bukan kelakuan orang, jadi gimana kita sedetil mungkin, yg kurang ya kurang, yg bagus ya bagus..bukan berniat menghancurkan ato memuji, tapi sekali lagi ini film kritik.
btw thx reviewnya nih sob, gw pgn ngajakin anak gw nonton sih, lg nyari film mana yg pas buat dia. gw jg ga mau dong anak gw dijejali film jelek dari kecil.
gw masih mau lanjut browse ke film KING, salah satu dari ini pasti gw tonton.
bravo utk film indonesia!!
bagi saya, film2 sperti ini seharusnya lebih banyak lagi dikeluarkan oleh sineas2 indonesia, daripada sinetron2 & film2 ABG, apalagi film2 horor yg -maaf- memang kurang bermutu.
di dalam menonton film, saya sudah sering observasi, kalau mau ditarik garis besar, ada 2 tipe penonton:
1. yg selalu mencari kesalahan2 kecil, ie: alias fokus sekali pada detail2 kesalahan
2. yg selalu mencari sisi bagus/positif-nya dari film itu
saya mungkin termasuk yg tipe ke-dua.
dan jujur saja, meskipun mungkin tampak ada kesalahan kecil disana-sini, namun bagi saya, ide, inspirasi & pesan moral, hal2 positif ini sudah JAUH menutupi kesalahan2 yg ada.
dan saya memang pulang dengan hati yg terinspirasi & termotivasi, & bagi saya INIlah yg penting, meski saya bukan anak2 seumur Bayu lagi, saya sudah berusia 27 thn, tapi tetep film ini berbicara sangat jujur, utk terus “menjadi pemberani & terus berjuang meraih mimpi2 kita” , daripada selalu menjadi orang yg pragmatis & gampang kecewa.
maju terus dunia perfilm-an indonesia!
film2 kaya gini harus dirilis lebih banyak lagi,
utk smakin menyadarkan banyak orang, memberi inspirasi, serta memajukan industri perfilman indonesia!
seharusnya semua film Indonesia harus seperti film ini karena dengan di adakannya film ini dapat memotivasi anak - anak bangsa untuk selalu berkarya agar dapat meraih semua mimipi - mimpi yang diinginkan
film nya emang bagus banget tuh sampai kaya mau nonton 2 kali n ini kan cerita anak yang ingin bercita cita menjadi pemain sepak bola makanya kita juga harus bisa menggapai cita cita kita ayo!!!!!!!
yang buat vilm ini kreatif juga yah sampai banyak banget yang ingin nonton aku aja mau nonton pas hari per1 kehabisan tiket dan udah hari yang ke 8 masih bisa dapet tapi sampai 1 ruangan bioskop penuh total gilaaa cakep bener thaks yah yng udh buat vilm ini smoga sukses slalu trimssssss
iya, adegan sampo2annya too much deh, tp lucu juga buat seling2an.. adegan favorit gue itu pas si heri ditepuk tanganin temen2 sekolahan gara2 naksir si cewe kuburan itu.. sangat anak2 sekal, jd inget masa SD yang begitu polos. hehehe..
memang kayaknya klo diliat dari kualitas agak kurang, karena kaku dan gambar ‘bermain’ bola nya kurang… tapi isi moralnya bagus.. bagus untuk ditonton anak2 sekolahan jaman sekarang yg rasa kebangsaannya udah tipis.. dan ah.. gue suka sekali pemilihan judulnya.. Garuda di Dadaku, keren.
bos, gue menghargai kritik orang mau bagus mau jelek, tapi yg ditullis di review yang ditulis qaris ini bukan saja review, tapi juga spoiler, yang membuat orang mengetahui semua isi film ini.
Seharusnya film2 horror dan cinta2-an dikurangi, dan lebih fokus ke film yang ceritanya unik. Jujur saya beberapa hari yang lalu menonton film susuk pocong, dan kemudian menonton film ini, dan jujur-maaf- saya jauh lebih menyukai film GDD,dan menurut saya Ifa Isfansyah berhasil membuat film yang sangat bagus, dengan ending yang membuat kita ingin mengetahui kisah bayu di Garuda menentang matahari.
bravo untuk Garuda di dadaku
belum lama gue juga menonton sama bokin film GDD, sempat diawal gue bertanya sama pacar gue “ini mata gue yg ga fokus apa filmnya ya?”….trus cewe gue menjawab “filmnya yg ga fokus kok”…..mulai dari kualitas gambar yg disuguhkan kurang menarik, jalan ceritanya biasa aja, pemerannya (kakek) ada salah dalam mengucapkan kalimat, disini gue liat ga ada klimaksnya dalam critanya….disini gue mau menegaskan lagi, apa yg harus dihargai dari karya yg seperti ini….? perfilman INDONESIA lebih baik mati suri lagi dari pada setengah2 membuat filmnya, akhir2 ini sudah banyak film indonesia di produksi tetapi kualitas & isi ceritanya standar…sampai saat ini film indonesia masih mati suri kok…”ada pembuat film pasti ada kritik dong, masa bikin film ga mau dikritik, nanti makin seenak2nya tuh SUTRADARA bikin filmnya (NGAWUR)”
wah filmnya lucu dan menyedihkan karena kakek bayu sakit karena melihat bayu berlatih sepak bola di ssb arsenal
Dah..nonton2 aja..lo aja jadi sutradara..
Film bagus gini dibilang jelek..
Drpd film indo laen..Mending ini lah..
Ni film..film indo plg bagus yg pernah gw tonton
ini film gua bilang bagus bgt…
terlepas dari segi teknisnya, content-nya over packaging. bravo to producer yg sdh berhasil membangkitkan semangat nasionalisme. lbh dari itu, gua lbh milih GDD sbg tontonan anakku drpd TRANSFORMER-2 yg sdh pasti isinya anarkis.
GDD menanamkan semangat persahabatan, kerja keras, pantang menyerah untuk anak2, juga tetap berjuang untuk hal yg dicita2kan. di era konsumerisme ini, anak2 yg dilimpahi harta oleh ortunya sdh lupa bgm berjuang utk cita2, krn semua sdh tersedia. shg produk yg dihasilkan adalah generasi cengeng yg tdk tau/malas untuk berjuang. so, menurut saya film ini edukatif sekali, very recommended!
saya nggak bilang bahwa GDD jelek. mending lah sebagai tontonan anak-anak semasa liburan, daripada sinetron? but, kalau boleh bilang, saya akan menyarankan untuk menonton KING. digarap dengan lebih apik baik secara teknikal maupun jalan cerita. emosinya lebih kena.
dmn caranya download GDD?tanks…
Saya belum nonton film ini, tapi terus terang idenya lumayan, gak melulu tentang setan2 yang jelas tidak mendidik apalagi menghibur…
Lagi pula saya menyukai lagu Garuda didadaku yang dibawakan dengan penuh energi oleh Netral…
Majulah bangsaku
eh, buat orang yg cmn bisa ngejek, ngritik, ato caci maki film , gue yakin, mereka pasti ga bisa bikin film bagus. ujung2nya juga film horor ato cinta gombal2 basi. pake ngatain ngawur segala, boleh lah di kritik, tp malah bukan NGEJELEK-JELEKIN FILMNYA! paling ga bilangnya kurang ini itu, bukan bilang ga ada klimaksnya atau APA HARUS DIHARGAI!?? mngkn kalo masalah fokus mending lo beli kacamata deh ato salahin bioskopnya, gue udh ntn filmnya fokus2 aja mnrt gue.
FILM ME APIK TEEEEEEEEEEEENNNNNNNNNNNNNNAAAANNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNN !!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
ada yang baru lagi
MERAH PUTIH!!!
aq sih belum nonton tapi ada kebanggaan tersendiri buat negri ini tangan2 kreatif mulai bermunculan d bidangnya masing2 yang penting positif dan berguna bagi bangsa walau hanya secuil semangat untuk negriku
inspirasi bisa datng dr mn aja tingal kita berusa
salam jak buat semua, kecuali ang dan qaris si plontos.
saya sebagai fans fanatik sepakbola, terutama sepakbola indonesia, jujur, saya sangat menyukai film ini. film ini sangat bagus dan mengajak anak indonesia untuk tidak pernah berhenti bermimpi. buat yang cuma bs ngata2in, dari gua personal, bukan dr thejak “makan tai lo!”
salam damai dari jak, tp bukan untuk ang si cina, dan qaris si plontos.
waduh wa udah lama mau nomton garuda di dadaku ama keluarga besar di rmh tapi belum munculx2
wa pengen nya film tersebut cepet tayang di layar kaca
GW TERHARU DAN MERINDING MELIHAT FILM ITU KARENA MEMBANGKITKAN RASA NASIONALISME
VIVA SEPAKBOLA NASIONAL DAN BANGKITLAH TUNAS2 MUDA UNTUK HARUMKAN NAMA BANGSA
qaris plontos!
keren n mantaps filmnya…
Untuk Mas Ifa: Filmnya bagus!!! Terus berkarya!!!
Menurutku film ini layak masuk nominasi utk tahun depan (award apa sajalah yg berlaku dan diakui).
Dan film yg berkualitas begini mestinya dibuat lebih banyak oleh sineas2 kita daripada mereka buang2 waktu dan uang bikin film2 horor yg semakin lama semakin maksa & jelas2 ga ada manfaatnya.
Maju terus film Indonesia!!!
…..perlu disupportlah film anak2 yg mengetemahkan nasionalisme,kita semua(para cowo khususnya)punya empiris yg sama thd hal itu,mimpi akan tim nasional kita berlaga kelak di pentas piala dunia,mungkin akan terwakili oleh penonton kecil kita yg menonton film ini..sayang gua blom sempet nonton film ini,padahal gua maen sbg guru lukis disitu..
JAYALAH INDONESIAKU,….
Bagus….Aku salut ma yg buat film’a…
ha ha
bagus <3garuda
Belum nonton euiy…
Film nya seru, lumayanlah.
filmnya bagus bgt, film neh menyadarkan anak2 indonesia untuk slalu berusaha menggapai cita2nya.
lebih bagus daripada film esek esek(komedi berbau sex)
kalo dibandingin sama king mah jauuhhh.. “king” tuh baru film bertema olahraga pembangkit nasionalisme