Mar
9
Mardiyah
Selamat jalan Pak Koes,
Dua hari lalu, dalam kecelakaan Garuda, Pak Koesnadi Hardjasumantri pergi menghadap Sang Pencipta. Inna lillahi wa inailaihi raaji’un. Tunduk kepala kami mengantarkan kepergian bapak tercinta.
Bukan hanya karena lulusan UGM, saya menulis posting ini karena ingin menunjukkan seorang pemimpin yang betul-betul menjalani tugas hidup dengan sepenuh hati. Di tengah situasi negara yang centang perenang, dengan korupsi nyaris di semua lini, sosok Koesnadi Hardjasumantri layak menjadi penyemangat. Bahwa masih ada sosok yang dengan tegak menjalani hari-hari dengan ikhtiar yang terbaik. Sampai sepuh, usia 80-an tahun, Pak Koes masih mondar-mandir Jakarta - Yogya, aktif mengajar, memberi ceramah, juga menjadi dosen pembimbing yang tekun.
Bapak bertubuh besar ini sungguh menggoreskan banyak kenangan buat ratusan ribu anak didiknya di UGM. Saya termasuk di antaranya, meskipun saya tidak mengenal beliau secara pribadi. Awal 90-an, saya bergabung dengan Balairung, majalah kampus di UGM. Pada saat itu Pak Koes sudah tidak lagi menjabat rektor. Tapi, beliau masih selalu menyempatkan diri membaca Balairung dan mengomentari isinya.
Sering kali Pak Koes mengundang kami, anak-anak kencur yang sok aksi, ke rumah beliau. “Ini apa maksudnya kalian nulis begini, bukannya seharusnya begitu?” Lalu, mengalirlah pembicaraan panjang-lebar, diselingi ceramah juga gojekan. Ah, Bapak yang penuh perhatian.
Tidak jarang pula kami datang mengadu kepada Pak Koes. Biasanya karena persoalan klasik, dana kegiatan yang kelewat mepet. Bapak yang baik ini juga menjadi tempat kami mencari perlindungan, umpamanya saat ada yang kurang sreg dengan isi majalah. Termasuk ketika Balairung membuat polling ‘ecek-ecek’ tentang persepsi mahasiswa mengenai Pancasila yang langsung disambut dengan reaksi keras pihak rektorat dan kepolisian setempat. Lagi-lagi, Pak Koes menjadi tempat kami mengadu.
Begitu berpengaruh Pak Koes terhadap tumbuh-kembang mahasiswanya. Saya yakin bukan hanya Balairung, semua unit kegiatan mahasiswa diamati oleh beliau, juga dicereweti dengan omelan sayang.
Harus kita akui, jarang sekali ada pendidik yang berdedikasi seperti beliau. Sosok Pak Koes sebagai rektor UGM amat melekat, kira-kira seperti Gubernur Jawa Timur Mohammad Noer. “Yang lain kan cuma penggantinya,” begitu guyonan orang Jawa Timur tentang gubernur legendaris Mohammad Noer.
Kemarin, Yayan Sopyan, senior saya di UGM, menyampaikan terima kasih kepada Pak Koes dengan cara yang sangat tepat.
“Terimakasih, Pak Koes. Kami sudah tumbuh.”
Jadikan Kami Bangsa Pria Pemberani seperti Pak Koes!
Innalillahi wa innailaihi rajiun almarhum Koesnadi Hardjasoemantri.
Esa Hilang Dua Terbilang Patah Tumbuh Hilang Berganti, kata semboyan Divisi Siliwangi.
Telah gugur salah satu tokoh begawan ilmuwan cendekiawan yang begitu memahami arti pentingnya pengamalan ilmu dalam kesehariannya. Pak Koes adalah pemberani dalam aktivitas dan bidangnya, sungguh kita sangat kehilangan beliau dalam sebuah kecelakaan yang notabene masih “banyak pertanyaan” yang bisa diajukan dan diselidiki itu.
Memang kematian dan Kehidupan, Kebahagiaan dan Kesedihan adalah pasangan serta fenomena alam yang senantiasa akan dihadapi insan di alam dunia. Musibah adalah bagian dari hukum alam dalam ungkapan sebuah takdir, yang juga sebagai peringatan dari sang Maha Pencipta terhadap bangsa-bangsa di muka bumi.
Adakah bangsa-bangsa tersebut pandai serta mampu mengambil hikmah dari setiap kejadian yang sedang dihadapinya. Mampukah bangsa-bangsa ini akan lebih baik serta berikhtiar untuk bertahan terhadap fenomena alam atau malah lebih pandir serta mengatakan “ah itu sudah terjadi, biarlah terjadi.
Lepas dari faktor alam, faktor x serta sederet alasan akan penyebab sebuah kecelakaan, maka faktor manusia merupakan salah satu faktor penentu. Khususnya dalam moda transportasi, peran manusia sebagai operator dari sebuah mesin menjadi vital adanya.
Regulasi, kedisiplinan, ketaatan pada peraturan serta pengawasan yang melindungi kepentingan publik adalah menjadi tugas Presiden dan Wakil Presiden RI beserta kabinetnya di era reformasi ini untuk memperbaikinya.
Secara faktual dalam kehidupan sehari-hari, moda transportasi darat contohnya (angkutan kota, metromini, bis dsb) mempertontonkan sebuah ketidakmampuan penyelenggara negara ini dalam melindungi kepentingan publik. Jalan raya dan angkutan umum telah menjadi ajang ugal-ugalan dari sebagian kelompok pemilik angkutan umum, sopir serta preman yang begitu menguasai sarana vital keseharian warga bangsa ini. Aparat kepolisian, Dephub serta dinas terkait dipencundangi, keok serta tak berdaya dalam melindungi masyarakat pengguna angkutan umum ini.
Apalagi faktor kenyamanan serta keamanan penumpang masih jauh bumi dari langit. Beking serta perlindungan atas nama uang bagi kelompok operator angkutan umum yang jahat ini seakan menistakan sarana angkutan umum yang manusiawi, sopan serta beradab.
Angkutan rombeng yang tidak layak jalan, perilaku sebagian supir dan kondektur yang tidak sopan saat membawa penumpang adalah kebiasaan yang dianggap lumrah. Menutup mata terhadap kenyataan sehari-hari ini adalah sama dengan membiarkan pembusukan di dalam NKRI ini.
Mau tidak mau, Presiden dan Wapres RI saat ini harus bertindak selaku Prabu Rama dan Laksamana dalam mewujudkan Indonesia yang bermartabat, khususnya di bidang transportasi. Barangkali ada tepatnya, bila digambarkan saat ini bangsa Indonesia sedang menghadapi bala tentara Rahwana (Rah=darah, wana=hutan) yang mengharu biru negeri ini. Sebelum bala Rahwana ini semakin menguasai hajat hidup orang banyak, jadikan kami bangsa Pria Pemberani seperti Pak Koes!(Dk-07)
Kepada Redaksi terimakasih atas dimuatnya komentar ini.
Mks, Mar 2007
Darma
memang… bencana tidak bisa kita duga.. mungkin sekarang kita sedang diuji oleh-Nya. Tapi bukankah ujian adalah bentuk kasih sayang-Nya kepada kita. Saya sempat menyaksikan terbakarnya pesawat garuda itu. Jogja adalah tempat kelahiranku… disini aku dibesarkan dan disini pula aku merasakan gempa… angin puting beliung dan pesawat terbakar… Alloh.. lindungi kami… ampuni kami…
Saya pikir kita memang harus terus bertanya,”Seperti apa orang akan mengenang kita ketika kita meninggal dunia nanti?” dan “Jika kita mati, kata-kata apa yang akan terpatri di batu nisan kita?”. Dengan demikian insya allah kita akan dapat menjalani hidup dengan lebih baik. Amin.
pada akhir film “the last samurai” ada percakapan yang saya suka dari tom cruise&kaisar jepang.
Sang kaisar bertanya: “bagaimana katsumoto meninggal?”
Dan Tom Menjawab: “saya akan menceritakan bagaimana dia hidup”
Semoga beliau beristirahat dengan tenang bersama doa dan cinta dari yang ditinggalkan.
Selamat Jalan Pak Koes.
aku ra ngerti sopo kuwi pak koes dab…