Enak di Blog dan Perlu

Budi Putra

ww.jpg

Setelah acara yang diasuhnya langsung, Wimar’s World, yang dihentikan, kini sebagai panelis di talk-show Gubernur Kita di layar JakTV, ia pun tergusur sudah.

Itulah Wimar Witoelar, komentator politik yang “dimusuhi penguasa” hampir setiap zaman…

Ia menulis di Perspektif.Net:

Bukannya Foke muncul, malah Wimar menghilang.

Bukannya kampanye curang dihentikan, malah yang nanyain dihentikan.

Sudah berminggu-minggu semua orang termasuk Wimar menunggu kehadiran Fauzi Bowo, satu-satunya Calon Gubernur yang belum memenuhi undangan ke Gubernur Kita untuk memperkenalkan diri ke pemilih dan menerangkan visi dan misi sebagai Gubernur mendatang. Padahal banyak sekali pertanyaan untuk Bang Foke, antara lain mengenai niat dia sebagai penerus Gubernur Sutiyoso dan mengenai kampanye terselubung menggunakan duit rakyat.

Setelah episode Gubernur Kita Kamis lalu masih menyinggung etika kampanye Fauzi Bowo, Jak-TV mengaku ke WW mereka ditekan oleh orang Fauzi Bowo, dan akhirnya hari Senin pagi (21/5) memberhentikan Wimar dari tugas panelis Gubernur Kita.

Komentar [23]

Feed  •   Trackback  •   Kirim Komentar

23 Komentar untuk “Akhirnya Wimar Tersingkir dari JakTV”

  1. Voucha | 23 May, 2007 07:13

    Belom jadi gubernur, kelakuannya udah kayak gitu. Apalagi kalau udah jadi gubernur.

  2. Bang Jabrik | 23 May, 2007 08:08

    Bener sekali tuh pendapat Vouche!
    Kalau calon gubernur gak jelas programnya ngapain kita pilih?
    Kita orang jakarta berhak menentukan siapa yang bakal jadi gubernur kita, emangnye zaman Daendles dulu. Kagak suka jangan pilih, kecewa kita brentiin jadi gubernur ganti sama nyang laen!

  3. Naif Al'as | 23 May, 2007 20:38

    Di Indonesia budaya ‘preman’ seperti ini sudah sangat mengakar, sehingga sulit untuk dihilangkan. Jangan bermimpi Indonesia bisa menjadi negara yang demokratis (dalam arti sesungguhnya) jika mental para politikus masih seperti mental preman pasar.

  4. samtaha | 24 May, 2007 06:07

    turut berduka atas bertambahnya korban kekerasan dan perilaku kekuasaan pejabat negara……………semoga Foke jadi Gubernur Nusa Kambangan

  5. Piet Mambang | 24 May, 2007 12:36

    Namanya ‘garis tangan” Wimar emang begitu, sudah suratan takdir! Tapi kalau dibilang dimusuhin setiap penguasa jagat nusantara, juga tidak sepenuhnya benar. Kan jaman Gus Dur Wimar jadi jubir presiden, bukan?
    Tapi setidaknya orang seperti Wimar harus bangga, karena sudah siap menghadapi resiko atas pilihannya. Coba bandingkan sama pejabat yang korup, begitu diusut (belum ditahan), sudah kalang kabut cari alasan sakit. Belum lagi ada yang mati di penjara. (Padahal katanya kalau tahanan politik justru umur panjang di penjara, contohnya Bung Karno, Mandela, Xanana, sedikit diantaranya).
    Mungkin Wimar harus bikin tv/radio sendiri!

  6. abi | 24 May, 2007 14:26

    betul tuch harus ada pemimpin yang lebih berwibawa dan sopan untuk mengawasi rakayat dan pemecatan harus selalu di lakukan untuk perbaikan

  7. awwabin | 24 May, 2007 14:58

    apa aja kriteria pemimpin yang berwibawa?

  8. Piet Mambang | 25 May, 2007 09:06

    Mungkin kalimat penutup di perspektif ini bisa menjawab semuanya:

    …Anda pilih siapa: yang menampilkan diri dan berani menjawab, atau yang hanya tampil dalam gambar-gambar saja? You will get the Governor you deserve!

    Jangan-jangan nanti gubernur kita kayak YuGiOh, hebat digambarnya doang!

  9. budi santoso | 25 May, 2007 13:06

    asyik oi blm apa2 sdh nginjak kaki pinjem sepatu orang lain kalo ditanya pura2 gak tahu
    kalo jadi nglindes kali kalo merasa dikritisi,
    kasian bener nasib orang Jakarta kalo punya gubernur kaya gitu, kapan ya kita punya pemimpin yang “lembah manah, amanah, jujur, tidak berkuping tipis, etc2″???
    Merdeka!!!!!!

  10. Anthony | 26 May, 2007 21:17

    gampang aja.
    jgn pilih Fauzi Bowo saat pilkada nanti.

  11. ade hartianto | 27 May, 2007 11:34

    Apa isi dari pemecatan Wimar sendiri saya tidak tahu pasti, tapi semuanya berpulang pada keberadaan dari etika yang digulirkan oleh siapa saja, yang baik tentunya akan kembali bermunculan…..merdeka..!

  12. gagahput3ra | 29 May, 2007 10:28

    nambahin yang diatas :
    “gitu aja kok repot” :D

  13. Mas Win | 30 May, 2007 11:04

    Hiduplah Indonesia Raya!

  14. Intan | 30 May, 2007 16:07

    Jangan berprasangka buruk dulu, harus positive thinking donk. Jgn2 emang si Bowo sibuk, jd gak bs shooting. Lagian Wimar juga gak bisa ditolak org apa? Org gak mau muncul dia kok heboh…..gitu aja kok repot! Mengenai diberhentikannya Wimar, mana kita tahu alasan sebener-benernya apa? Itu kan cuman issue….emang lu tahu itu bener? ….yah, begitulah hidup, banyak lika-likunya. Mengenai pemecatan…..beratus-ratus org dipecat setiap harinya, dan masih lebih malang nasibnya dari Wimar…..sdhlah….berdoa aja, biar negeri kita aman & tentram. Masy tdk gampang tergoncang o/ isu2.

  15. Dedi Dwitagama | 4 June, 2007 08:54

    SIAPA akan menghilangkan SIAPA …? :D

  16. firman | 4 June, 2007 15:23

    Pasca-lengsernya Wimar dari acara Gubernur Kita, acara itu jadi BASI ABIS!!! gada lg komentar pedas namun konstruktif yang bisa mencerdaskan bangsa! Pantas bangsa ini ga cerdas2! Wong org yg berusaha nyerdasin diBreidel persis ketika Majalah Tempo dibreidel ampe 2X.
    Ah, negeri ini memang sedang sakit…
    makanya krisis multidimensional tak kunjung usai!
    BRAVO WIMAR…BRAVO TEMPO…

  17. Elizabeth | 5 June, 2007 22:06

    Bener2 makin ga jelas ajah.. dunia politik memang begitu. kejam! yang jelas sampe kapan Indonesia bangkit dari ‘kesakitan’ dan ‘kegilaan’ seperti ini? lagi-lagi masyarakat yang menjadi korbannya..haih..

  18. Warga Betawi | 16 June, 2007 01:42

    Makanya jangan pilih Cagub yang AROGAN … !

  19. Mark Steinmeyer | 15 August, 2008 10:41

    What’re you doing MetroTV. Why follows CNN, etc.

    CNN misleading war video and reports.

    By Mark Steinmeyer

    American and British media distort their reports. Most Indonesia’s media especially MetroTV Indonesia trusting blindly the Western media are consequently distorted.

    American broadcaster CNN has been using reports and the wrong pictures in their coverage of the conflict in South Ossetia. A Russian cameraman says footage of wrecked tanks and ruined buildings, which was purported to have been filmed in the town of Gori, in fact showed the South Ossetian capital Tskhinvali.

    Gori was said to be about to fall under the control of the Russian army but the cameraman says the video was actually shot in Tskhinvali, which had been flattened by Georgian shelling.

    Aleksandr Zhukov, from the Russiya Al-Yaum channel, said: “When we arrived and news came that Gori was being shelled, I saw my footage. I said: that’s not Gori! That’s Tskhinvali. Having crawled through the length and breadth of Tskhinvali, I don’t need much to tell from which point this or that footage was recorded. I can swear in front of any tribunal. I can point at this location on the map of the town, because I and the cameraman of the Rossiya channel videotaped that.”

    Igor Komissarov, deputy chairman of the Prosecutor’s Investigation Committee, said it had “initiated a genocide probe based on reports of actions committed by Georgian troops aimed at murdering Russian citizens, ethnic Ossetians, living in South Ossetia.”

    According to the latest figures, about 1,600 residents and 74 Russian peacekeepers have been killed as a result of Georgia’s attack on South Ossetia.

    Speaking at a joint media briefing with French President Nicholas Sarkozy, President Medvedev said double standards are inadmissible when evaluating the actions of politicians who are guilty of mass killings of civilians.

    “The situation when one, who committed thousands of crimes, is characterised as a terrorist, and another as a president of a sovereign state, is very strange,” he said.

    Meanwhile, Marina Gridneva, a spokesperson for the General Prosecutor’s Office, told Interfax that Russian law allows for foreign citizens to be brought to trial if they have committed a crime against Russia’s interests.

    Moscow’s Georgians and Ossetians united in misery. As conflict engulfs their homelands, in Moscow, Georgian and Ossetian nationals are trying to comprehend what has been happening. They have issue a common message: peace is what they want most.

    Tengiz Begishvili is from Georgia. He moved to Moscow sixteen years ago but still has lots of relatives and friends back in his native country.

    Watching the reports from the battlefield in South Ossetia, he says that what is happening there is beyond his understanding.

    “What should be done first of all is to hold a ceasefire,” he said. “We, Georgians, call Ossetians our brethren, and we can’t believe so many people have died or lost their homes in the last four days.”

    As a representative of one of the world’s biggest Georgian ex-pat communities - more than a million live in Russia - Tengiz is confident that an understanding can be found between Georgia and Russia.

    “I can put it straightforwardly - there are no problems between the Georgians and Russians,” he said. “I have a very good relationship with Abkhazians, Ossetians and Russians. And it hurts greatly to watch this conflict between Georgians and Ossetians.”

    Those who want to help ease the humanitarian problems have been visiting Moscow’s Ossetian community. These days it’s full of volunteers packing essentials that were brought here by people of different nationalities. Everything from bedding to toys will be delivered to refugees from South Ossetia as soon as possible.

    Trouble binds

    At the Georgian embassy in Moscow, people with an interest in the Ossetian tragedy are gathering.

    Oleg Taraev’s father and brother are in Tskhinvali now, but he says the trouble has brought together many nations.

    “In those four days we all - people from South and North Ossetia, Abkhazia, Russia, Dagestan, Chechnya, Kabardino-Balkaria - have been sticking together.”

    It’s not the first day people have come to the embassy, and while their identities change from day to day, their call to stop the violence remains.

    Putin also has said the West of double standards when it comes to judging war crimes.

    “As we all know, Saddam Hussein was hanged for burning down several Shiite villages. But now suddenly the situation is different. The Georgian leaders who in a matter of hours wiped out ten Ossetian villages, who ran over children and the elderly with tanks, who burned civilians alive, those people have to be protected,” he said.

    American Joe Mestas, who witnessed days of shelling, has said U.S. and Georgian leaders are responsible for the violence that has killed 2,000 people in the region. He told RT that Washington will have to answer for the violence.

    “I thought that since U.S. is supporting Georgia there would be some control over the situation in South Ossetia and that there would be a peaceful solution to the conflict. But what is happening there now it’s not just war, but war crimes. George Bush and [Georgian president] Mikhail Saakashvili should answer to the crimes that are being committed – the killing of innocent people, running over by tanks of children and women, throwing grenades into cellars where people are hiding,” Mestas said.

  20. Pandu Syaiful | 26 June, 2010 07:15

    Kalau aku orang kaya, aku akan bangun stasiun televisi. Buat acara talk show tiap malam yang dipandu Wimar Witoelar.

  21. joke s.s. | 23 September, 2010 12:54

    kalau dia seorang sarjana ,apalagi alumni Jerman serta pejabat pula seharusnya tahan akan kritik walaupun pedas.kalau tidak tahan kritik jangan jadi pejabat ,lebih baik jadi anak buah saja .Ini adalah konsekuensi negara demokratis ,bung. Cobalah tiru bpk kita SBY.

  22. Ina Ayu | 23 September, 2010 13:08

    Apa-apaan tiba-tiba nglantur ke Wimar Witoelar. Terus terang Wimar Witoelar kagak ade isinye. Cuman bisa bahasa Inggris doang. Makna talk shownya kagak ade ama sekali. Kagak ade pesan yang mampu menggerakkan pikiran kita. Ama sekali. Nol besar. Die hanye menang badan besar doang dan rambut kribo. Ada pepatah bilang. Makin tambun badan orang dan makin sedikit jauh atau jaug antara otak dan dubur maka makin tolol dan lugu dia. Makin kecil dan makin deket antara kepala dan anus, maka makin cerdas pintar dan licik dia!!! Percayalah. Lihat orang macam Amien Rais dan orang-orang pendek pasti licik positipnye cerdas. Lihat orang seperti SBY dan badan-badan tambun besar lainnya bodoh dan lugu dia !!! Kedekatan antara anus dan otak kepala jadinye cerdas !!! Lihat orang-orang seperti itu di sekeliling kalian, mungkin pula ciri-ciri itu, lihat, sadar atau kagak, ada pada diri masing-masing kalian sendiri. Makanye jangan pilih pemimpin berbadan besar dan tinggi, kecil otaknye. Prabowo dan Amien Rais misalnye pasti lebih cerdas. Kalau pilih pemimpin perempuan, jangan. Lihat di dunia ini, sedikit pemimpin perempuan, dan dalam sejarah pemimpin-pemimpin perempuan kejam-kejam. Aku perempuan dan kagak mau jadi pemimpin. Aku ditakdirkan seorang ibu untuk anak-anak yang baik, laki-laki dan perempuan, dan yang laki-laki calon-calon pemimpin.

  23. eiko | 7 May, 2011 14:21

    ibu ina ayu…bener emang cocok jadi ibu rumah tangga…dangkal banget otaknya…kasihan suami dan anak anak ibu…

Silakan berkomentar, kawan!