Enak di Blog dan Perlu

Hari ini Kota Yogyakarta terasa bergelora. Ribuan warganya turun ke jalan menuju alun-alun utara di depan Keraton untuk memberikan dukungan kepada Sri Sultan Hamengku Buwono X.

Warga Yogyakarta berpawai mendukung penetapan Sri Sultan sebagai gubernur.

Warga Yogyakarta berpawai mendukung penetapan Sri Sultan sebagai gubernur. Foto: Triyanto Hapsoro

Inilah salah satu gerakan sosial terbesar di era media sosial. Tak heran bila keriuhan di Yogyakarta itu juga terasa gemanya di Twitter. Para pekicau merekam aksi massa di Yogyakarta itu dalam bentuk foto-foto lalu disebarkan ke linimasa.

Salah seorang pekicau, Henny Ermawati, juga ikut menyebarkan foto lewat Twitter.

spanduksby

Twitter menjadi alat yang ampuh untuk menyebarkan gerakan sosial ini menjadi bergaung ke mana-mana, melampaui batas-batas Daerah Istimewa Yogyakarta. Tak peduli mau pro penetapan Sri Sultan sebagai gubernur, atau pro pemilihan gubernur, yang penting para pekicau mengirimkan laporannya.

Berikut ini ada beberapa foto yang dikirim oleh @boenghendra dan @dabgenthong ke Twitter.

Pekicau @boenghendra merekam para prajurit Mangkubumen yang berbaris membawa panji-panji.

lombokabang

Foto-foto @boenghendra lainnya bisa dilihat di YFrog.

Seorang pekicau lain, Triyanto Hapsoro alias @dabgenthong tak mau kalah dengan foto-foto yang menangkap peristiwa kasual dalam pawai.

cucimuka

Foto di atas karya Triyanto Hapsoro, misalnya, melukiskan antusiasme,simpati, dan kreativitas warga Yogyakarta yang menyediakan air cuci muka bagi peserta longmarch.

Warga Papua di Yogyakarta ikut memeriahkan pawai. Foto: Triyanto Hapsoro

Warga Papua di Yogyakarta ikut memeriahkan pawai. Foto: Triyanto Hapsoro

Gusti Prabu ikut berpawai di tengah massa. Foto: Triyanto Hapsoro

Gusti Prabu ikut berpawai di tengah massa. Foto: Triyanto Hapsoro

Foto-foto @dabgenthong alias Triyanto Hapsoro lainnya dilihat di Plixi.

Pada akhirnya, bukan hanya masalah keistimewaan Yogyakarta, pro penetapan atau pemilihan gubernur, yang mengemuka. Kita juga bisa melihat bagaimana media sosial memainkan peran penting gerakan sosial di Yogyakarta.

Media sosial merekam, menyimpan, dan menggemakan gaung sebuah gerakan ke delapan penjuru angin, seperti yang telah ditunjukkan para pekicau di Twitter.

Komentar [42]

Feed  •   Trackback  •   Kirim Komentar

42 Komentar untuk “Pawai Raksasa di Yogyakarta dalam Gambar”

  1. wahyudw | 13 December, 2010 15:46

    KITA DUKUNG YOGYA YUKKK

  2. Teguh Widodo | 13 December, 2010 18:49

    Hanya satu kata “JANGAN USIK YOGYAKARTA KALAU PINGIN SEL
    AMAT “

  3. Teguh Widodo | 13 December, 2010 18:52

    YOGYAKARTA IS MY LIFE……SUSAH UNTUK MELUKISKAN DNG KATA….HIDUP…MATIKU…..HANYA…UNTUKMU…!!!!!!!

  4. Anto | 14 December, 2010 09:15

    HANYA SATU KATA “PENETAPAN!!!!!!”

  5. il principe | 14 December, 2010 09:53

    bukankah presiden sama wakilnya berdarah jawa ia… kenapa mereka tidak mengerti apa yang terjadi di DIY, apa karena keluarga atau kerabat mereka ada yang berminta jadi Gubernur DIY…??? kita tanya sama rumput yang bergoyang…

  6. insider | 14 December, 2010 10:38

    SBY bukan saja orang Jawa, tapi ia ketua trah Hamengku Buwono di Jakarta. SBY masih keturunan HB 4.

  7. il principe | 14 December, 2010 13:17

    piye to iki klo gitu…

  8. joni | 14 December, 2010 13:24

    weleh-weleh nasib yogya kok yang nentukan orang yang bukan asli keturunan yogya, hasilnya ya weleh-weleh, biarkan yogya di putus oleh orang yogya sendiri.

  9. nunuk haryono | 14 December, 2010 13:53

    bangganya aku melihat gambar 2 ini. Bravo Jogja, jangan lelah berjuang….!

  10. agus | 14 December, 2010 14:00

    Yogya emang kalem, ning yen di utik-utik ojo nganti metu kadikdayaane

  11. Syafril Syarief | 15 December, 2010 09:18

    Persoalan Jogja tidak perlu dibesar-besarkan.Pemerintah mempunyai gagasan yang baik sekali untuk mengadakan pemilihan langsung untuk gubernur Jogja.Rakyat Jogja sangat mencintai Sultan jadi apabila ada pemilihan langsung dan pada akhir Sultan yang akan terpilih.

  12. bambang | 15 December, 2010 09:27

    sekarang sih dibaik-baiki biar mau, sesok ngatur, ayoo yogya pantang mundur

  13. Ratman Boomen | 16 December, 2010 07:35

    SBY turunkan saja…bikin rusuh Indonesia melulu….

  14. orang luar yogya | 16 December, 2010 07:38

    saya orang batak.. tapi lama sekolah diyogya… saya dukung apa yg sdh berjalan selama ini di yogya..
    Penetapan YES.. klo Yogya jadi negara sendiri, saya akan minta suaka utk bisa jadi warga negara Yogya..

  15. tara | 16 December, 2010 18:24

    SBY ingat pepatah “jangan mengusik macan yang sedang tidur.” Masih banyak PR yang harus diselesaikan di negeri ini

  16. subaihadiwaluyo | 17 December, 2010 06:05

    ISTIMEWA…
    Gerbang Peradaban Indonesia..
    Harum Dan Harappan Selalu Ada Disana…
    Meski Kecewa …
    Suarra nya pun Benning Dan Bijaksana….
    Djokjakarta ku…..

  17. Kurniawati | 17 December, 2010 07:29

    Perlukah dilanjutkan pemerintahan SBY? Mungkin tidak perlu. Pemerintah SBY tidak melakukan pengawasan efektif, asal ABS, dan malah menciptakan orang-orang bahkan di tingkat Rt/Rw terus berusaha memeras warga dengan berbagai cara. Proyek pengasapan nyamuk, misalnya, sengaja diciptakan dengan isu sudah ada warga yang sakit demam berdarah, bahkan di perumahan-perumahan BTN dan Perumnas yang bersih yg sesungguhnya tidak perlu. Mereka meminta setiap KK Rp 20.000 - Rp 50.000. 15. Padahal kami semua setelah pemerintahan dipegang SBY ini sangat sulit memenuhi kebutuhan keluarga karena harga-harga kebutuhan naik terus. Pengasapan harusnya dilakukan di lokasi-loaksi kumuh saja. Semua dijadikan proyek cari, pemerasan halus. Hentikan segera pemerintahan SBY, sebab tidak punya wibawa, tidak efektif dan malah sangat merugikan rakyat.

  18. mas_tok | 17 December, 2010 13:25

    i <3 u Jogja….

  19. pascualDuarte | 18 December, 2010 07:41

    setelah sidang rakyat trus ngapain lagi nih..

  20. LILIK RUSTANTO | 18 December, 2010 21:17

    SBY….Semua Bela Yogya….ngapain masih ngotot,tuh mendagrinya juga….singkirkan sekalian

  21. LILIK RUSTANTO | 18 December, 2010 21:23

    yang merasa dibesarkan di kota damai jogja….monggo nyengkuyung..maturnuwun,bung andi,bung AB,juga bung ANaz,roy juga…ingatkan kawan2mu yang ngotot untuk ngebiri jogja….hidup jogja

  22. Prasojo | 20 December, 2010 10:11

    Aq wong mojokerto setuju PENETAPAN

  23. paulino | 20 December, 2010 10:43

    Ayo masyarakat jogya jika SBY keras kepala lebih baik memisahkan diri dari RI alias Referendum seprti Timor-Timur kita dukung,jogya merdeka….

  24. paulino | 20 December, 2010 10:53

    jogya lebih baik merdeka SDM sangatlah mendukung tenaga terampil dan berprofesional sangat mendukung untuk menjadi satu negara baru di 20011 referendum yes..yogja yes…

  25. joko | 20 December, 2010 17:21

    Ya betul, yogya merdeka aja. Daripada membebani RI. Karena Yogya itu miskin, sehingga sangat memberatkan pemerintah pusat. kalau saya lebih senang Yogya pisah dari RI

  26. brema | 21 December, 2010 10:59

    kalau Yogya membentuk negara baru saya sangat-sangat tidak setuju.
    Apa kalian tidak mengerti bahwa Indonesia negara yang sangat unik di dunia ini. Indonesia adalah negaraku,Indonesia adalah hidup dan matiku.Slamanya aku tidak akan setuju kalau Indonesia pecah lagi………tidak untuk selamanya…….Indonesia harus tetap satu.

  27. multy wahab | 22 December, 2010 12:45

    hati hatilah bangsaku jangan2 sekarang ini penjajahan pecah belah udah mulai datang lagi melalui orang2 yg duduk di pemerintahan sekarang….masak jogja dari dulu aman tenteram damai mau dibikin kaco ..wahai sby cs … mbok urus daerah yg kacau balau yg lain aja ya….?

  28. fera | 2 January, 2011 08:30

    SBY gak lahir di bulan juni, jadi kurang ngerti jogja tuchh, beda ama mantan Presiden RI sebelumnya Pak Soekarno dan Pak Soeharto yang lahir di bulan Juni yang ngerti sama Jogja. nah loooo

  29. Shinta | 10 January, 2011 09:54

    Dari TV barusaha kita mendengarkan pidato Megawati, perempuan pemimpin yang jujur dan bersemangat. PDI-P akan menang 2014 bersama Hanura dan Gerindra. Partai Demokrat selesai. Itulah maka PD ingin mencumbui PDI-P. Golkar tetap kingmaker atau bunglon. 2014 milik PDI-P, Hanura dan Gerindra. Blunder Partai Demokrat adalah tidak mengatasi tingginya jumlah pengangguran riil, tidak mensejahterakan rakyat secara riil dan justru membiarkan harga-harga naik terus. PD ceroboh, hanya membesar-besarkan tingkat pengangguran dan kesejahteraan BPS yang manipulatif, tidak mencerminkan kenyataan riil dalam kehidupan rakyat Indonesia secara keseluruhan.

  30. elya | 24 January, 2011 13:21

    Horee… ayoo….bareng2 semue TV “beli” (liput) fenomena alam biase seperti pusaran angin pada tanaman padi seperti di Sleman. Padahal itu hal biase saat angin bertiup keras. Tanaman padi akan roboh membentuk berbagai pola, istilah krennye, crop circle. Kadang juge disengaja anak-anak iseng. Mane ade UFO mampir ke Sleman lagi? Jangan-jangan kerjaan iseng CIA Amerike kali ye…? Kik kik kik kik…. Barangkali untuk alihkan isu Gayus dan lainnye kali ye? Kik kik kik kik…. Buktinye “dibeli” (dijadikan berita) juge ame telepisi-telepisi kite. Kik kik kik….. Kalau semuenye yang sepele diberitain, mane mungkin telepisi-telepisi itu fokus ke isu-isu penting dan serius ikut mbongkar ye…? Juge mau aje ye telepisi-telepisi kite mau aje meresensi film-film Hollywood ye, alat penjajahan, pentololan dan demoralisasi, amoralitas terhadap budaye bangse kite ye…? Tolol kali ye? Film-film Hollywood dan hal remeh-temeh sepertinye udeh jadi agame mereka kali ye? Tolol betul ye?

  31. syaidah | 26 January, 2011 15:23

    Crop circle ataupun lingkar tanaman umumnya dibentuk dengan cara memotong tanaman padi, gandum ataupun tanaman sejenis yang lain, saat tuai (panen) ataupun selepas tuai. Bisa dengan sabit biasa ataupun mesin-besar penuai semacam traktor. Crop circle teruk macam tu bernilai seni tinggi kerana koompleksiti dan keindahannya.

    Di Inggeris dan Amerika, crop circle memang sengaja dibuat manusia untuk nilai seni. Dibuat dengan mesin besar penuai pada saat sebuah tuai. Ataupun pabila manual dilakukan selepas tuai saat seluruh batang dan tangkai tanaman dibersihkan. Macam mana fenomena crop circle di Sleman Yogyakarta Jawa Tengah Indonesia?

    Itu semata boleh akibat daripada twister berkekuatan sedang, tapi bukan jejak UFO. Twister yalah angin kencang. Tampak kejauhan macam awan hitam berbelalai berkelok dan tajam ke bumi. Angin kencang macam ni tak nampak di kedekatan kecuali ada benda-benda terbawa termainkan. Twister bergerak dinamik dan boleh juga cepat pergi. Kesan gerakan boleh menghasilkan karya seni sederhana seperti crop circle Sleman.

    K e r a n a g i l a.

    Tapi bisa juga kerja daripada orang main-main. Di negeri jiran tu dikenal dengan banyak orang main-main (iseng) ataupun semi gila kerana stres berpanjangan kerana penguasa dari masa ke masa tidak pernah mensejahterakan mereka. Beberapa anak muda ataupun orang boleh sahaja merosakkan tanaman padi yang belum dituai di Sleman tu. Kegilaan oknum-oknum di kuasa bahkan sejak dahulu di negeri jiran tu lama merembet ke kalangan bawah, kerana mereka dicipta susah ekonomi. Beberapa pemuda ataupun orang dalam kes Sleman boleh kerana soal kecil ataupun bisa pula bermotif besar semacam kebohongan politik. Mereka mungkin tak suka dengan pemilik tanaman. Sebuah acara di tv indon, MetroTV, Sentilan Sentilun, berkata itu kerana tangan-tangan Kumpulan Bohong iaitu Orbo (Orde Bohong), boleh jadi mereka kerana dibayar untuk membuat sensasi.

    Crop circle sederhana macam tu mudah dibuat dengan gaharu ataupun lain-lain lagi. Petani tradisional di manapun umumnya ada gaharu ditarik lembu ataupun ditarik tangan/bahu. Alat tani tersebut lazimnya membuat pola-pola garis cekung pada permukaan tanah gembur selepas selesai dibajak untuk benih padi muda yang akan ditanam tampak urut rapi. Gaharu dibuat dari beberapa belahan buluh saiz satu meter kali satu setengah meter di mana 4 hingga 6 hujung bahagian bawah dibuat tajam untuk membuat garis-garis cekung pada tanah gembur pada sawah. Gaharu bersaiz besar ataupun kecil idnah untuk membuat crop circle macam di Sleman. Caranya alat diberi pemberat boleh orang berdiri ataupun duduk di atasnya, ataupun dengan karung plastik pemberat mengandungi pasir ataupun gumpalan tanah setengah kering. Gaharu ditarik digerakkan berputar ataupun lurus sesuai keinginan dan daya seni mereka. Jejak kaki pengguna tidak berbekas kerana ditutup kerja gaharu. Tapi pabila diperiksa teliti biasanya masih ada sedikit jejak kaki. Itulah mungkin polis pasang pula police line melingkari crop circle, supaya tak tengok dekat masyarakat awam.

    Untuk tahu harus ada penyelidikan terhadap petani tu sendiri dan beberapa orang tempatan misalnya apa dia ada pertikaian dengan tetangga ataupun orang lain. Bisa juga diselidiki apakah petani ataupun orang lain tu keesokan hari ataupun seterusnya boleh beli sepeda motor baru, bererti kemungkinan ada pihak memberi pampasan lumayan besar pada kerosakan tanamannya. Tapi pabila dia terlihat marah, bererti jujur tidak tahu. Ini bermakna ada orang lain main-main ataupun iri. Pertikaian boleh juga diterusi pihak lain. Orang ini boleh dibayar pihak tertentu untuk kepentingan lebih luas bagi membuat sensasi, mungkin masih dalam rangka alihan isu.

    T u a n D a y a t.

    Sensasi berhasil mengalihkan isu dengan efektif bagi sebuah rezim yang burok. Bukti majoriti masyarakat Indonesia teralihkan melalui televisyen-televisyen negeri jiran tu. Mengalihkan isu paling mudah, bermula hal-hal ringan sampai serius, bisa melalui crop circle sehingga hal serius. Maksud sama, supaya televisyen-televisyen meliput remeh-temeh. Topik-topik penting pemerintahan nak berkurang. Masyarakat dibuat lupa. Pengalihan isu berat yalah rekaan penangkapan suspek teroris (pengganas) tapi mangsanya orang tua ataupun anak muda tidak makan sekolahan tak berdosa dari desa-desa di negeri jiran tu. Itu sebabnya di negeri jiran tu penangkapan pengganas jarang dilakukan di kota misalnya di hotel sekelas hotelnya tuan Mandra (Mandarin Hotel), hotelnya tuan Niko (Nicco Hotel), ataupun hotelnya tuan Dayat (Hyatt Hotel).

    Crop circle juga boleh dilakukan melalui sebuah pesawat mirip helicopter yang dilengkapi mesin penghembus angin sangat kuat dan peranti mesin computer di dalamnya untuk mencipta dan membuat pola-pola sederhana crop circle. Operasi biasanya dilakukan rahsia biasanya di malam hari dan waktu hujan sehingga tidak diketahui orang. Proses ini tidak mudah sebab melibatkan kerja raahsia. Beberapa orang dahulu sudah melakukan sterilisasi di lokasi untuk tidak manusia. Kedua-dua sebuah alat sensor sebelumnya dipasang di lokasi untuk memudahkan pesawat mencari lokasi. Alat ini sering dipasang bagi memudahi pesawat peletup bom mencapai sasaran tepat, macam dalam perang Amerika Syarikat di Irak.

    Televisyen teliti tak, kritis tak, nak mudah terjebak dalam senario macam tu dan justeru turut berbohong, kerana justeru menunjokkan fakta/realiti sahaja. Mereka tampak buta dalam tengok makna sebuah realiti direka. Media yang kritis akan selektif dan akan membuat liputan analisis dan memaparkan nara sumber kritikal pula dan anti rejim, yang suka membuat rekaan. Pabila tak mak rakyat tu akan semakin bodoh. Crop circle, oleh kerananya, nak tetap dipercayai sebagai fenomena ghaib ciptaan Allah ataupun bahkan dianggap sebagai jejak UFO. Tentu, konon, sebuah alihan isu boleh pula digunakan organisasi mata-mata asing bangsa maju untuk tengok macam mana perkembangan kesadaran rakyat ataupun kejujuran sebuah rezim. [Bila punya opini lain, sila majukan ke kami: syaidahbintimuhsin@mscterengganu.my ]

  32. siau sien | 26 January, 2011 15:25

    Kita orang semua tahu itu MMbak. Emang hasil rekayasa. Cuman kita orang tidak tahu apa tujuan sebenarnya.

  33. Keling | 27 January, 2011 11:16

    Waktu lalu muncul spanduk menghujat Din Syamsuddin oleh Gadis (Gerakan Anti Din Syamsuddin) di depan gedung DPR. Hari ini ada spanduk mendukung SBY: “Jangan ganggu SBY Bekerja”. Ini seperti dulu ketika Suharto mau jatuh. Ada kelompok-kelompok pendukung seperti itu.

  34. tukul jombang | 4 February, 2011 17:59

    Katanya perekonomian membaik tapi rakyat buktinya banyak yang susah. Mereka banyak yang semakin melarat, enggak bisa makan. Kenapa mereka masih mau menerima dan tdiak bangkit seperti di Mesir? Jampi-jampi penenang apa yang dipunyai pemerintah sekarang? Kita rakyat sudah tidak bisa makan, tidak punya daya beli, tapi diem saja. Sementara harga sembako tidak terjangkau lagi, naik tinggi dan pemerintah membiarkan semuanya mahal. Pengangguran makin banyak. Lihat di jalan-jalan dan di bus-bus, mereka berjubel, semua susah. Sementara yang kaya main kaya. Ini bukan soal berkuasa 30 tahun atau baru 6 tahun. Ini soal kemampuan mengeloal negara. Bagaimana negara bisa menghidupi kalau enggak punya sumber penghasilan, negara enggak punya pabrik, hanya punya satu sumber pendapatan, narikin pajak doang. Apa enggak masuk jurang? Maka harga bbm dan sembako naik terus, lapangan pekerjaan untuk rakyat enggak ada. Mereka petani juga enggak punya sawah, mereka nelayan tidak punya perahu, punyanya hanya motor ojek, lalu ke kota-kota, ngojek. Uang yang didapat pun kini enggak ada nilainya. Beda dengan masa Megawati dan sebelumnya. Uang Rp 20 - 50 ribu saja nilainya masih agak lumayan, bisa membeli banyak barang. Sekarang enggak ada. Mereka makin susah sekarang, tidak bisa makan.

  35. maemunah tasik | 4 February, 2011 19:14

    Betul, lebih baik hari-hari ini menonton liputan upaya penggulingan di Mesir.

    Kenapa rakyat disini yang sudah sangat susah masih diem dan mau menerima dan enggak bangkit seperti di Mesir? Jampi-jampi apa yang dipunyai pemerintah sekarang dong? Hebat ya.

    Sebaiknya media jangan membesar-besarkan evakuasi, toh itu niatnya jauh lebih banyak untuk PENCITRAAN. Jangan menyenangkan pemerintah, sebab mereka sudah senang dan makmur, gaji dan tunjangan mereka jauh dari cukup. Buktinya Megawati bilang gaji dia dulu cukup dan malah lebih, katanya sambil nyengar-nyengir toh. Lebih baik menyenangkan rakyat dengan memberi mereka uang dan makan cukup dengan pengawasan yang baik sehingga uang dan raskin benar-benar sampai ke tangan mereka.

  36. Ibu Anita Syakiyah | 16 February, 2011 06:51

    Gitu saja kok repot!
    Logika LAKSMANA memang tak jelas dan NGAWUR. Saat ditanya dalam acara Metro Pagi 16 Feb 2011, bertajuk Ancaman vs Wibawa Pemerintah, apakah UU Anti Subversi atau semacam ISA (Internal Security Act) milik Malaysia diperlukan di Indonesia? Perlu, katanya. Ia lalu mengatakan, tetapi UU seperti itu di masa lalu disalahgunakan. Dari dua kalimat tersebut saja logika Laksmana kacau. Laksmana adalah pakar hukum pidana tetapi tak mampu menyusun nalar yang logis.
    Jelas UU Subversi tidak boleh ada lagi, sebab UU seperti itu akan memberi keleluasaan sebuah pemerintah menyalahgunakan kekuasaan atas nama UU itu. Di Mesir saja, misalnya, UU itu barusaja, dan sudah, dilempar ke tong sampah, karena selama ini disalahgunakan juga oleh pemerintahan Husni Mubarak, selama 30 tahun! Dulu di sini sama, disalagunakan oleh Pak Harto selama 32 tahun! Untuk apa kayak strika, bolak-balik?
    Presenter Metro TV pagi itu, maklum lulusan sekolah jurnalistik kelas Lenteng Agung, tolol. Ia tidak mikir untuk apa pertanyaan tolol itu ditanyakan. Semua sudah jelas sedari awal. UU seperti itu adalah warisan negara totaliter negara komunis dan sering kali masih dimanfaatkan rejim-rejim penindas umumnya di negara-negara berkembang. Jadi enggak perlu dan enggak ada gunanya, untuk tidak mengatakan tolol berat, kalau lagi-algi mau kembali ke masa lampau itu? Itu justru akan, lagi-lagi, membantu dan memberikan dukungan kepada pihak-pihak yang memiliki agenda untuk memudahkan jalan bagi kemungkinan dibuat dan disahkannya UU tersebut. Syetan dan nalar mana lagi yang membolehkan?
    Masalah kekerasan baru-baru ini sangat jelas by design (diciptakan). Oleh siapa, tanyalah pada rumput yang bergoyang! Tentu bisa merupakan rekayasa untuk seperti banyak kata orang yaitu untuk mengalihkan isu. Melihatnya mudah. Jika kejadian seperti ini terus dibiarkan oleh pemerintah maka itu jelas rekayasa!
    Jadi tak perlu dengan apalagi UU Anti Subversi. Jelas perbuatan dalam kasus kekerasan atas nama Ahmadiyah diklaim sesat adalah perbuatan melanggar hukum, anti kemanusiaan, anti Pancasila, dan melanggar berat HAM, yang dilakukan DENGAN SENGAJA dan TERENCANA. Tambah lagi? Ada yang menggerakkan. Sangat nyata. Lihat! Ada tanda pita biru dikenakan oleh setiap pelaku kriminal itu. Itu jelas murni kejahatan. Kenapa terjadi?
    Ini semua karena aparat hukum yaitu kepolisian adalah sangat lemah. Sebuah negara atau pemerinatah akan berwibawa di mata rakyatnya dan rakyatnya mednapat rasa aman tenteram jika kekerasan dengan kedok ats nama dan alasan apapun, yang dilakukan oleh organisasi massa main hakim sendiri manapun, tidak dibiarkan oleh aparat polisi. Itu kuncinya. Aparat polisi harus menegakkan hukum. Kembali, apakah perlu UU Subversi?
    Tidak perlu. Cukup sekali hanya dengan KUHP dan KUHAP. Di Amerika dan Israel, dan harusnya juga di Indonesia, pelaku kekerasan, teroris sekalipun, cukup dijerat hanya dengan Crimnal Code, UU Hukum Pidana (KUHP). Itulah kecerdasaran Amerika dan Israel. Kuncinya sebetulnya ada di tangan penegak hukum terutama polisi.
    Dengan UU biasa, KUHP, dan polisi menjalankan tugas dengan teliti dan serius, dengan kata lain polisi berfungsi dengan baik, sementara aparat hukum kunci lainnya (jaksa dan hakim) juga berfungsi baik, maka pelaku-pelaku kekerasan seperti itu mudah dijerat, bahkan dengan hukuman seumur hidup atau hukuman mati. Mereka jsudah masuk dalam tindak pidana di KUHP, karena dengan sengaja menghilangkan nyawa orang lain juga dengan perencanaan. Jadi ada-ada saja kalau harus kembali ke UU Subversi. Selain itu ada juga jalan lain di luar KUHP. Pemerintah harus segera membubarkan organisasi massa yang melanggar hukum. Gitu saja kok repot!

  37. Ariza Ong | 16 February, 2011 10:56

    Behhhh, oalaaah, haiyaa….. dagang nyawa anak rakyat untuk mendapat anggaran lalu dikorupsi sama-sama. Oalaaaah, anak kecil masih TK juga tahu, itu kan cara jenderal-jenderal nakal di kepolisian mendapatkan daya-tawar agar disediakan anggaran keamanan atas nama macam-macam. DPR harus tahu itu, SBY juga harus tahu itu, sebab sponsor anggaran anti terorisme dari Amerika sudah berkurang, sebab Amerika sendiri susah ekonomi, haiyaaaaa….begitu manusia pejabat di negerimu, behhhh, haiyaaaa….

  38. Ibu Jaya | 15 March, 2011 16:28

    Operasi Sajadah Siliwangi? Binatang apa lagi ini? Kenapa SBY diam. Apa negara ini sudah tidak memiliki pemimpin? Indonesia berdasarkan Pancasila. Sila kedua adalah perikemanusiaan, yang berarti menjunjung tinggi manusia dan nyawa. Kenapa orang main hakim main bunuh sesama warga negara hanya mereka beda keyakinan dan agama, SBY tidak ambil sikap? Oknum-oknum tentara Siliwangi diduga terlibat dalam kekerasan atas warga Ahmadiyah tak bersalah ini? Mayjen Moeldoko, Pangdam III Siliwangi, sudah membantah Adnan Buyung yang mensinyalir anggota pasukan tentara Siliwangi terlibat. SBY kalau terus membiarkan kezaliman sesama anak bangsa ini pasti dia bisa jatuh. Tidak lama lagi.

  39. Ibu Regina Siahaan | 8 April, 2011 17:37

    Hapuskan segera sistem debt kolektor oleh bank atau penggunaan tukang pukul berkedok debt kolektor. Debt kolektor? Bukan. Orang-orang kulit item itu tidak pantas disebut debt kolektor. Dia “Si Item Mengerikan” itu tukang pukul atau preman. Penampilan dia ada yang angker, ada yang biasa-basa saja, tetapi dia biasanya mudah marah dengan mengancam. Dia dipekerjakan Citibank menagih hutang. Kalau kalian halus, dia kooperatid. Tetapi kalau kalian panic, dia biasanya kasar dan mengancam dengan mulut. Dia akan melakukan kekerasan fisik. Ini pengalaman saya pribadi. Dulu suami saya pernah hutang cukup banyak, tetapi alhamdulillah kami akhirnya mampu melunasinya. Setelah suami saya belum bayar, dia selalu datang ke rumah kami dan baru pergi setelah diberi uang jajan dan minum Coca cola atau the botol. Coca cola atau the botol saja, dia tidak mau pergi, walaupun suami saya sudah bilang akan dibayar segera. Kasus Irzen Okta yang meninggal akibat kekerasan debt kolektor Citibank setidaknya membuat sadar DPR, polisi dan pemerintah. Kenapa negeri ini baru bertindak setelah kasus memilukan itu? Kalau di antara kalian ada yang hutang kredit Citibank lebih baik segera lunasi kemudian tutup saja jangan berhutang lagi. Atau keluarga kalian bisa mengalami seperti Okta. Petugas-petugas debt kolektor sewaan Citibank itu memang meminta uang waktu itu sekali datang Rp 100 ribu. Ini mungkin juga dilakukan oleh bank-bank lain terhadap penunggak kartu kredit yang gagal membayar. Laki-laki gempal itu baru pergi, biasanya setelah suami saya memberi uang itu, ini betul. Bahkan di kompleks perumahan saudara saya, seorang bos debt kolektor, juga orang item, bahkan mobilnya 4. Tiap hari kerjaannya hanya dan main handfon. Kalau pergi, penampilan pejabat dan memiliki sopir pribadi. DPR terutama dan SBY harus berani menghapuskan penggunaan tukang-tukang pukul ini. Kalau tidak, maka DPR dan pemerintah preman juga.

  40. Garniyah | 15 April, 2011 15:46

    Aduh, uang sebanyak itu diberikan ke perompak Somalia? Senang dong. Itu kan uang rakyat? Kenapa tidak dikirim saja Kopasus? Inilah kalau negara dipimpin pemimpin tidak berani. Alasannya macam-macam, takut awak kapal meti kek, tokek kek. Habis dong uang rakyat.

  41. Bu Su'iman | 15 April, 2011 16:47

    Itu namanya teror oleh penguasa/pemerintah/negara, atau bahasa krennya terror by the state, untuk, benar kata Garniyah, mengalihkan isu-isu penting, supaya rakyat lupa. 1) kasus skandal bank century, dll. Betul 1000% !!! Sudah didiapkan 1 juta pengalihan isu dan kejadian, antara lain, rekayasa ulat bulu, yang disebar dimana-mana, dan masih banyak lagi. Pokoknya TV-TV itu akan dibuat sibuk, dan rekening-rekening pemimpin redaksi dan wartawan kolaboratornya penuh duit dari polisi. Siapa bilang SBY bodoh, dia pintar, sepintar Suharto juga.

  42. hobby | 12 September, 2013 21:32

    hobby…

    Pawai Raksasa di Yogyakarta dalam Gambar : Blog Tempo Interaktif…

Silakan berkomentar, kawan!