Enak di Blog dan Perlu

mailing-listBurhan Sholihin

Namanya tiba-tiba muncul di penjara wanita Tangerang. Dialah Prita Mulyasari. Ia perempuan biasa, bukan anggota geng pembawa sabu-sabu, bukan pula pembunuh.

“Dosa”–sebenarnya tak bisa dibilang begitu walau sudah diberi tanda kutip–yang ia lakukan adalah memunculkan nama Rumah Sakit Internasional Omni Hospital, Serpong, Tangerang, pada sebuah mailing list (milis). Gara-gara mengeluhkan layanan rumah sakit itu di sebuah milis, Prita “dititipkan” di penjara. Dia juga diancam hukuman penjara maksimal enam tahun dan atau denda maksimal Rp 1 miliar. Duh.

Ia dijerat dengan Pasal 27 ayat 3 Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, yang isinya, “Setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya informasi elektronik dan/atau dokumen elektronik yang memiliki muatan penghinaan dan/atau pencemaran nama baik.”

Petaka ini tak dimulai dari titik nol. Kisah sedih itu bermula ketika Prita menuliskan keluhannya ketika dirawat di Unit Gawat Darurat RS Omni Internasional pada 7 Agustus 2008. Surat yang semula hanya ditujukan ke sebuah milis tersebut ternyata beredar ke pelbagai milis dan forum di Internet. Pengelola rumah sakit itu, PT Sarana Mediatama Internasional, gusar dan melontarkan gugatan. Mereka juga memasang iklan untuk membersihkan nama.

Seorang teman saya yang tiap pekan membolak-balik buku-buku hukum menelusuri kasus-kasus top Tanah Air ini ikut-ikutan gusar. “Ini parah,” katanya. “Pasal pencemaran nama baik itu biang persoalan karena bisa ditarik-tarik seperti karet ke mana saja.” Persis zaman Orde Baru.

Soal pasal karet, pasal logam, atau pasal kayu, saya memang tak paham. Tapi begitukah cara orang menerima kritik? Dunia macam apa ini, mengapa orang Indonesia gemar sekali menggugat bila ada konsumennya yang mengeluh? Apakah rumah sakit itu sudah kehabisan teori pemasaran atau lupa membuka kitab-kitab lama pemasaran Philip Kotler? Sedikit keluhan lalu dijawab dengan gempuran gugatan? Bahkan warung nasi Padang pun punya cara yang lebih santun untuk mendengarkan keluhan pelanggannya.

Betapa kontrasnya cara itu dengan kasus keluhan Jeff Jarvis terhadap komputer Dell. Jarvis bukan orang biasa. Dia profesor di University of Michigan. Tulisan-tulisan dia di blog pribadinya, BuzzMachine.com, banyak dinanti orang.

Karena kecewa terhadap layanan purnajual laptop Dell, Jarvis menulis surat terbuka kepada pendiri Dell, Michael Dell. Judulnya “A Lemon”. Seperti judulnya, yang berarti brengsek atau jeruk limun, Jarvis menuliskan kekecewaannya karena ia dipingpong selama berbulan-bulan saat ingin membetulkan laptopnya. Padahal dia sudah membeli layanan tambahan berupa kupon servis Dell.

“Intinya, kupon murah telah memikat saya membeli sebuah komputer Dell, tapi produk Anda adalah ‘a lemon’ dan bukan Apple (pesaing Dell). Layanan konsumen Anda menjengkelkan.”

Kekecewaan Jarvis ini ternyata tak berhenti di blognya belaka. Seperti keluhan Prita, kekecewaan itu terus tersebar ke berbagai blog dan milis. Beberapa pengunjung blog menulis sindiran, “Dude, get Apple.” Dell pun makin terguncang karena media konvensional seperti Business Week pun ikut-ikutan meramaikan kasus tersebut. Bahkan situs berita raksasa seperti BusinessWeek juga menulis kasus itu.

Manajemen Dell panik. Namun, mereka tak gusar. Sejak itu mereka menyewa belasan orang khusus untuk memantau keluhan terhadap Dell. Tujuannya bukan untuk menggugat orang yang mengeluh, melainkan ingin mendapat masukan untuk memperbaiki produk dan layanannya. Bahkan dari cara ini mereka bisa melahirkan produk-produk baru.

Mengapa banyak orang Indonesia tak sesantun Michael Dell, ya? Apakah CEO yang tak lulus kuliah itu santun justru karena tak pernah ikut penataran P-4, ya?

Komentar [66]

Feed  •   Trackback  •   Kirim Komentar

66 Komentar untuk “Lemon, Prita, dan Penjara”

  1. Wisata Riau | 29 May, 2009 19:25

    wah… kayak kita harus belajar lebih dewasa lagi dalam menyikapi pelanggan…

    “kalau kamu ingin madu jgn pukul srangnya”

    sebuah kutipan dari sebuah buku “Cara mencari kawan”

    jadi… Rumah Sakit Internasional Omni Hospital telah menepuk air didulang..

    tunggu saja aksi.. media..

    hehehe…

    saya pertama kali koment disini, salam kenal semuanya…

    salam wisata riau

  2. Dody Baswardojo | 30 May, 2009 10:24

    Yth. Teman2 Bloger,

    Jujur saya berpihak pada yang lemah, dalam hal ini Ibu Prita sekeluarga. Karena pihak yang kuat adalah RS OMNI, oknum polisi, jaksa dan hakim (jadi bukan institusinya, biar lebih aman he he he).

    Lepas dari hal2 yang bersifat untung dan rugi, mereka tidak ingat bahwa mereka bermain-main dengan nyawa dan kebebasan milik orang lain. Saya tidak membahas dan mengkritik, cuma mengingatkan Arus balik Tsunami atau prahara serbuan pendapat masyarakat bagi RS OMNI dan oknum yang saya sebutkan. Ini hanya mengingatkan, segera berdamai dengan keluarga Ibu Prita, memohon maaf dan memberikan ganti untung. Apa yang disampaikan SALAM WISATA RIAU dan BURHAN SOLIHIN sangat jelas. Pastinya oknum manajemen RS OMNI membaca milis2 ini, pertimbangkanlah.

    Hormat saya,

    Dody Baswardojo

  3. Seng Seng | 31 May, 2009 21:25

    Saya setuju dengan pak Burhan, Wisata Riau dan Pak Dody. Memang kalau perusahaan tidak baik pasti akan bertindak seolah-olah perusahaan ini perusahaan baik dan langkah yang dilakukan adalah menggugat dan melaporkan ke pihak yang berwajib konsumennya dan ada saja okunum-oknum penegak hukum yang bersedia dimanfaatkan perusahaan-perushaan yang kurang ajar untuk menjerat si konsumen ini tentu dengan pasal-pasal karet yang celakanya pasal-pasal karet ini dibuat oleh wakil-wakil rakyat kita di DPR bersama-sama pemerintah yang kemudian disahkan menjadi Undang Undang yang akhirnya menimpa masyarakat yang memilih wakil-wakil rakyat ini. Sialnya lagi ketika pasal-pasal karet ini diuji materiilkan untuk dicabut/dihapus dari UU ternyata ditolak Mahkamah konstituisi. Maka habislah kita sebagai rakyat dikerjai oknum-oknum penegak hukum yang bekerjasama dengan pelaku usaha-pelaku usaha yang kurang ajar ketika pelaku usaha yang kurang ajar melaporkan kita dengan pasal-pasal karet tersebut saat kita mengkomplain produk yang kita beli. Yang perlu kita galang sekarang adalah dukungan terhadap ibu Prita dengan cara mengexpose kasusnya ke seluruh media agar Hakim yang menangani kasusnya tidak seenaknya memberikan putusan karena ada yang sekarang mengawasi kasus ini (masyarakat). Yang saya sampai hari ini bingung kemana lembaga-lembaga bantuan konsumen, kok tidak ada suaranya sama sekali. Karena ini masalah konsumen terhadap pelayanan jasa publik (jasa kesehatan).

    Salam
    Seng Seng

  4. Rudy Lamas | 1 June, 2009 12:05

    RS Omni International,nama international tapi management,amburadul,ini bukan zaman ORBA Bung…orang mengeluh
    langsung masuk bui.
    Kita semua harus lawan Managemen RS OMNI…RS nya di boikot saja
    SEBETULNYA ADA BEBERAPA TEMAN JUGA MENGELUH KALAU MAU BEROBAT KE RS OMNI,mereka bilang tobat ke RS OMNI gak lagi lah,ngapai berobat kesana,RS Siloam
    Gleneagles YANG LEBIH MODERN tidak seperti itu.

  5. erwees | 1 June, 2009 22:32

    kepada seluruh komentator gak usah gusar. Kita hidup di Republik Indonesia, bukan di USA or UK. Jadi . . . .
    begitulah hukum kita, sila pertamanya :
    keuangan yang maha kuasa

  6. myjellybee | 1 June, 2009 23:09

    “Putting lipstick on a bulldog”

    Mau dipercantik dengan cara bagaimana-pun tetap saja anjing bulldog!!! Meskipun RS Omni International menggugat seluruh pasien-nya yang kecewa-pun tidak akan membuat nama “besar” nya menjadi lebih baik!

    Kalau Bu Prita melayangkan complaint melalui milis, RS Omni International juga dapat memberi sanggahan pada milis yang sama! Kenapa harus ditangkap dan di bui? Dalam hal ini Bu Prita juga mengalami kerugian selaku pasien RS Omni International sendiri!

    Persaingan Rumah Sakit dewasa ini sangat kompetitif, bahkan tidak sedikit masyarakat indonesia yang justru memilih berobat keluar negeri yang notabene jauh lebih mahal! Mereka rela membayar dan mengeluarkan uang lebih banyak tentunya untuk mendapatkan layanan yang terbaik!

    So, kepada jajaran pimpinan direksi RS Omni International yang terhormat. Apabila anda sekalian masih ingin bertahan dalam bisnis ini, terimalah kritik dan masukan sebagai pembelajaran guna memperbaiki diri!

    Wajah anjing bulldog tidak akan bertambah cantik dengan memberinya lipstik. Nama “besar” RS anda yang sudah tercemar-pun tidak akan menjadi baik dengan memenangkan gugatan atas kasus Bu Prita.

    Anda hanya membuktikan bahwa RS anda tidak menghargai pasien selaku konsumen anda sendiri, dengan membungkam hak-nya berpendapat!

  7. White Blanc | 2 June, 2009 08:21

    Saya setuju dengan komentar myjellybee di atas.

    Kalau Ibu Prita menyampaikan keluhan dan kritik melalui web, mengapa RS Omni tidak memberikan tanggapan juga melalui media yang sama?

    Selain itu RS Omni juga dapat melakukan pendekatan asertif kepada Ibu Prita dan memberikan solusi/jalan keluar yang win-win kepada kedua belah pihak, bukan dengan melakukan tindakan melalui jalur hukum seperti ini.

    Sebagai seorang karyawan, wajarlah kalau pada saat perusahaan tempat kita bekerja dikenai kritik/komplain, kita merasa tidak senang bahkan emosi. Tapi ada baiknya memakai kritik ini sebagai masukan untuk mengintrospeksi apakah kinerja perusahaan kita sudah berjalan dengan baik. Apalagi RS Omni bergerak di industri jasa, wajar apabila ada konsumen yang merasa tidak puas karena ukuran kepuasan pelayanan itu lebih sulit diukur dan sifatnya lebih subyektif.

    Sebagai ibu dari 2 anak, saya merasa prihatin dengan Ibu Prita. Saya yakin pihak manajemen RS Omni pun adalah juga manusia-manusia yang juga mempunyai keluarga dan mungkin juga anak-anak yang masih balita. Semoga mereka terketuk hati nuraninya karena sudah memisahkan anak-anak balita dari ibunya karena urusan surat elektronik. Semoga Tuhan mengetuk hati mereka.

  8. Christ ajungan | 2 June, 2009 12:33

    Saya penghuni rumah Alam Sutera, Setelah menikmati pengalaman tidak menggembirakan dengan OMNI Internasional Tangerang dan kasus Ibu Prita, saya ikutan bersama banyak tetangga saya memboikot RS sialan ini. Mari kita boikot setan-setan penguasa di RS OMNI bersama dengan para aparat yang agak buntu otaknya itu.

  9. Indra Kusuma | 2 June, 2009 16:17

    Ayo boikot… Ibu Prita akan jadi pahlawan , RS Omni International akan jadi pecundang… bangkrut ditinggal kustomer , Ngerti ilmu kehumasan nggak sih ?? ngaku international kelakuan kayak preman… bangkrut adalah hasil akhir dari perbuatan Manajemen dan pengacaranya

  10. Ken | 2 June, 2009 17:46

    Boikot nih RS. Bikin di FB, forum Kompas, blogspo, blogger. Biar jadi 10X10X10 berantai orang yang blacklist ni RS belagu, biar bangkrut sekalian. Sepupu guwa dokter di sana, gw minta enyah dari situ!

  11. M.M. Amir | 2 June, 2009 18:16

    Kapan ya negara kita yang tercinta ini bisa bener-bener merdeka.
    Merdeka dari kebatilan dan merdeka dari ketidak-adilan?

  12. dewo | 2 June, 2009 21:41

    sandyakala ning omni…
    sudah saatnya gulung tikar sebelum selesai dibentangkan…
    sungguh manajemen yang salah kaprah!!!

  13. Ucokxxxxx | 2 June, 2009 22:18

    Kejaksaan punya klien baru nihh, asyiiik…bagi-bagi dongg

  14. Ucokxxxxx | 2 June, 2009 22:20

    Ehh katanya RS Omni kagak takut di boikot sama pesbuker, …. wah hebat yaaaaa

  15. zohan | 3 June, 2009 01:21

    rs sialan.

  16. echa | 3 June, 2009 07:59

    boikot aja rumah sakitnya ..
    cantumin donk alamat blog yang bikin petisi buat rumah sakitnya ..
    sebarin ke teman-teman yang tinggal di sekitar sana, jangan mau berobat disana

  17. iwan | 3 June, 2009 08:28

    Saya tinggal di BSD, saya prihatin dgn kasus ini. Walaupun perusahaan kami merujuk ke RS Omni, namun saya tidak akan berobat ke Omni…BOIKOT adalah HARGA MATI…bung

  18. nothingman | 3 June, 2009 09:55

    memang dunia sudah kacau. yg salah dibenarkan, yg benar disalahkan. yg jujur ditutup-tutupi, yg bohong diekspos. mudah2-an petinggi negara ini mau melihat & berbuat sesuatu untuk mendapatkan keadilan

  19. rumahkayubekas | 3 June, 2009 10:00

    Sungguh amat sangat menyedihkan/ memprihatinkan

  20. tuty | 3 June, 2009 10:14

    Ga ada yang beres di indonesia..
    ayo capres dan cawapres tolong diperhatikan dong nasib rakyatmu ini, udah biaya kesehatan mahal di indonesia penanganannya ga becus lagii..
    Yayasan Konsumen Indonesia juga harus sigap dengan kejadian ini..

  21. Kreshna Iceheart | 3 June, 2009 12:48

    Inilah akibat dari ekonomi pasar bebas yang kebablasan. Terlihat bahwa Indonesia mulai menganut politik right-wing konservatif pro-kapitalisme seperti di Amerika, dimana konsumen boleh diinjak-injak oleh perusahaan-perusahaan besar. Seperti di Amerika, freedom of speech dan kebebasan individu ditindas dan diinjak-injak demi kepentingan kapitalisme.

    Seandainya gua tidak golput sekalipun, gua tidak sudi memilih Presiden dan Capres yang pro ekonomi pasar bebas.

    Eropa dengan sistem ekonomi terkontrol berhasil melindungi kebebasan warga -nya dari penindasan kapitalisme. Sementara itu kebebasan individu sangat dijamin (left-wing liberal). Beda banget dengan Amerika. Amerika membuat gua jijik dan pingin muntah.

    Pokoknya gua tidak mau memilih Presiden dan Capres yang pro-Amerika dan pro pasar bebas!

  22. Gunwibisono | 3 June, 2009 12:49

    RS OMNI sdh kebangetan, Perusahaan, Rumah Sakit ataupun namanya apabila bonafit dan maju pasti menerima kritikan guna meningkatkan layanan. Saya tinggal di Serpong & semoga tdk akan pernah menginjakkan kaki ke OMNI. Payah lu OMNI. Dasar tak punya hati, pengecut lagi. Saya doain deh management-nya dapat murka dari Tuhan. Amiiiin

  23. futu | 3 June, 2009 13:26

    Kasus bu prita menunjukkan bahwa nurani aparat hukum cenderung tunduk pada juklak + aturan formal secara gelap mata, entah nurani sang jaksa dihiasi apa? mereka tidak berpikir pokok permasalahannya. Kalo mau mendidik agar masyarakat sadar hukum..bukan berarti makin hukum orang…bukalah mata hati anda…jangan sampai nasib prita2 yang lain akan menimpa konsumen yang bermaksud baik mengingatkan kekurangannya…

  24. Sumi | 3 June, 2009 14:12

    Untuk jajaran mangement RS OMNI kalian menyedihkan sekali…

  25. lilyardas | 3 June, 2009 14:57

    jadi inget… waktu itu pernah komplen ke Garuda Indonesia, gara2 layanannya yang merugikan saya. Saya komplen ke Kompas media cetak, kompas.com, tempo.com, republika.com dan beberapa milis umum, plus ke Garudanya sendiri

    Hasilnya? GM Marketing Garuda telp ke saya, minta maaf atas kesalahannya, plus mengirimkan Senior Managernya untuk secara pribadi ketemu saya di kantor, HANYA UNTUK MINTA MAAF! Padahal, siapa lah saya, cuma orang biasa, kaya kagak, ngetop kagak.

    Tapi saya salut banget dengan Garuda yang benar2 service oriented

  26. shkchy | 3 June, 2009 19:06

    aduuuh what a country!
    Indonesia harusnya dr dulu ky si dell e dell edell itu.
    Mungkin emang mental org2 indonesia ky gt kali y?
    lah mo gmn lg?

    mebi skrg kmbl ke diri sndri aj gmn kt menyikapi kritik dan persoalan

    well, smg pemimpin negri ini bs lbh tanggap
    makasih

  27. shkchy | 3 June, 2009 19:12

    aku pernah komplen di Pizza Hutt salah satu resto cpt saji, wkt itu aku beli sensasi delight (maklum duit ngepass heehehe) aku milih yg ada pinggirannya
    pas nyampe rumah aku buka tnyt ga ada pinggirannya, finnaly aku telp ke PH Ambarukmo Plaza n lgsg dianter 2paket berpinggiran (jg aku dpt pizza dobel)

    hehehe thx PH
    (tp sygnya PH kan produk Luar negri ya?)

  28. Chia | 3 June, 2009 19:23

    yah… Q ngga usa banyak berkomentar lah, takut nanti ikutan ditangkep bareng Bu Prita (nyidir-mode: on)

    dgn membaca artikel di atas bserta pbandinganna dgn prusahaan luar negri, jelas sudah knp slamana negara kita cm bs jd negara pecundang bobrok yg slalu diinjak2 tetangga2na.

  29. RUDY W | 3 June, 2009 20:54

    Omong-omong kok nggak ada yamg ngebahas tetang asuransinya. 1. Apakah pihak Asuransi juga akan membayar klaim dari RS OMNI yang telah melakukan salah diagnosa tetang trombosit, sehingga seharusnya Ibu Prita tidak perlu dirawat inap.
    2. Bagi yang ngerti aturan atau sop di laboratorium Rumah Sakit:
    a. Apakah Dibenarkan Lab Rumah sakit tidak melakukan Print Out hasil Diagnosa??
    B. Apakah Dibenarkan Rumah Sakit hanya memberikan keterangan lisan ke pasien dan dokter tentang hasil diagnosa???
    3. Bagi ahli hukum mohon infonya Apakah kata-kata saya ini juga dianggap pencemaran nama baik Rumah Sakit OMNI yang katanya berkwalitas International???

  30. Wayan | 3 June, 2009 21:03

    Takut berkomentar….UU no 28 UUD 45 gak berlaku dech…….takut…..Hai aparat malaysia tuch lawan ambalat diambil,,,koruptor ditangkap beraninya menjarain ibu2 gak punya dosa WNI pula,,,,dasar hnya berani pada rakyat kecil…tak sumpahin semua yang buat IBU PRITA dipenjara dan sakit hati masuk NERAKA

  31. pure | 3 June, 2009 21:10

    Udah banyak kejadian kayak yg dialami bu prita cuma ngga ke ekspos aja. Ada dokter-dokter dan petugas kesehatan yang cuma cari uang dan nggak ngeliat pasien itu sebagai manusia. Tapi ada juga yang bener-bener pengabdian ke masy. Tp untuk kasus bu prita, udah terlalu banget, kenapa lembaga hukum yang nanganin nggak selidiki dulu kasus yg dialami ibu prita ini dulu. jangan asal masukkan orang ke bui dunk ! ! . Bener-bener deh … bu prita jangan merasa anda salah dengan nulis email itu, klo itu memang bener-bener anda alami. Yakinlah Tuhan berpihak pada orang-orang yang benar. And RS Omni belajar berjiwa besar dan mengoreksi diri lah …. Anda masak nggak pusing dihujat banyak orang. Perbaikan mental dan kelakuan SDM anda itu penting. Mudah-mudahan kasus ini bisa membuat banyak orang, petugas kesehatan, rs yang lebih mawas diri dan PUNYA RASA KEMANUSIAAN. Merdeka ! ! !

  32. pure | 3 June, 2009 21:15

    He. he. klo semua yang comment pada ditangkep… penuh tuh rutan and ngabis-ngabisin jatah beras rutan aja…… takuuuuuuuuuut

  33. yayat | 3 June, 2009 22:40

    semoga aja semua komentar ini dibaca oleh pihak RS OMNI dan penegak hukum yang menjebloskan bu prita…… apa mereka tidak punya keluarga? atau anak? bagaimana kalo kasus ini menimpa pada keluarga meraka? orang komplen ko dipenjarakan seh?

  34. JOK | 3 June, 2009 22:44

    ih sikap RS OMNI trhdp bu prita sangat mengerikan sekali……… semoga aja semua orang merasa ngeri kalo brobat kesana….. SERAMMMMMMMMMMMMMMMMMMM

  35. zakichan | 4 June, 2009 02:20

    Yah namanya juga RS. OMNI (OMONGANNYA NIPU-pasien). Jadi ingat filem jadul “ROBOCOP” musuhnyakan OMNI Corp. Nyawa Pasien dijadiin bisnis..tidak manusiawi.
    Jangan-jangan ngomong seperti ini bisa masuk BUI.
    Dasar nasib rakyat selalu jadi korban ketidak adilan HUKUM KOLONIAL.

  36. thordeevast | 4 June, 2009 12:08

    Manajemen OMNI yang teramat sangat terhormat, jangan tersinggung ya,…yang akan anda layani itu MANUSIA. Tolonglah, tunjukkan sikap yg manusiawi. Cara2 preman hanya akan mematikan usaha dan merusak citra anda. Tidak ada salahnya berjiwa besar. Harap diingat kembali, fungsi rumah sakit adalah utk melayani masyarakat; jadi anda sekalian adalah PELAYAN MASYARAKAT. OK?

  37. mb | 4 June, 2009 12:59

    Tutup saja Omni Hospital. GITU AJA KOK REPOT.

  38. mb | 4 June, 2009 13:00

    Tutup saja OMNI Hospital. GITU AJA KOK REPOT

  39. Iwan | 4 June, 2009 13:22

    Ibu Prita kalau dihukum nantinya oleh pengadilan akan menebarkan kebencian kepada RS. Kalaupun bebas akan menambah anggapan yg menyatakan ini RS BOBROK. Pelajaran penting dan mahal bagi industri kesehatan.

  40. TB | 4 June, 2009 14:20

    Pelayanan publik di negeri tercinta kita semakin lama semakin ditingkatkan pelayanannya. Ada banyak kantor2 yang semakin mengedepankan pelayanan publik. Kepuasan pelanggan adalah tujuan utama yang ingin dicapai oleh setiap pemerintah/usahawan yang bergerak dibidang jasa. Rumah sakit OMNI malah melupakan itu semua. Melupakan kalau kepuasan pelanggan adalah sesuatu yang utama. Apa karena kepribadian menejemen RS OMNI Internasional yang gak becus ya… So…semoga saja kita semua bisa mengambil hikmah dari kasus ibu Prita. Jangan langsung menilai kalau diri kita adalah yang terbaik, tapi dengarkan suara-suara dari luar kita untuk selalu belajar dan memperbaiki apa yang kurang di diri kita. Boikot pada Rumah Sakit ini adalah jalan yang tepat. Kekuasaan ada di tangan rakyat, bukan di tangan penguasa. so…marilah sebarkan uneg-uneg kita dimana saja… Kasus ini semoga kemudian hari tidak terulang lagi…dan semoga bangsa kita menjadi semakin DEWASA…. AMIN…

  41. DR.IR.H.Tara | 4 June, 2009 14:49

    tahun 1999 ibu saya masuk rs medistra, gt subroto, karena struk darah tinggi, tidak bisa bicara, lidah kaku, anggota tubuh sebelah kiri lumpuh. masuk di ruang VIP, nama dokter lupa, pakaian seperti lagaknya anggota dpr, sudah masuk 18 jam, tidak di kasih infus, tapi di kasih makanan buburdgnlauk pauknya,obat dengan air minum.
    kami tanya kepada suster, kenapa dikasih makanan, obat dgn air minum, sedang ibu tdk bisagerakkanlidah yg kaku, mata melihat keatas terus, jawabnya enteng, dokter yg suruh,kami tunggu sdjam 11.00 keesokan n ya, 18 jam setelah masukrs. ketemu dengan dokter yg menagani, ia lihat data di ujung ranjang, sudah. katanya teruskan danobatnya qagar dimakan, kami tanya, ibu kami ga bisa minum ataumakan, selalu, tidak bisa masuk dan keluar, krn lidah udah ga bergerak. kami tanya apa tidak sebaiknya melaui infus, dokter enggan menjawab, dan kami cecar terus dgn pertanyaan, malah ia marah, katanya yg jadi dokter ia atau kami.
    memang ia dokternya, tapi kebetulan adik say DR. Ginakolog yg praktek di jerman kebetulan ada di bali, liburan, langsung ke jakarta bersama kami waktu bertanya. saya jadi emosi, saya bilang apa dokter ada perhatian dgn pasien, sedang saya tidur dikamar tungguin dokter dari awal. ia jawab kita harus serahkan pada mereka. jadi say emosi, saya bilang DOKTER SIALAN, GUA TANYA BENER-BENER MALAH SOK JAGO. SAYA TERUS BILANG KITA KELUAR DARI RS TSB. IA BILANG GA BISA, IA GA MAU TGG JAWAB. SAYA LEBIH MARAH LAGI. JADI SAYA PAKSA PINDAH KELUAR DAN KE RS HUSADA, YG JAUH RAMAH DAN PERHATIAN. DISANAH IBU SAYA DIRAWAT DGN SANGAT BAIK DAN PENUH PERHATIAN DGN DOKTERNYA YG SANGAT KOMUNIKATIF DGN KAMI. HINGGA IBU SAY SELAMA 26 HARI DI RS HUSADA, DAN BAIK HINGGA THN 2008 ALMARHUM.
    JADI TIDAK HERAN KALAU RS DI INDONESIA PADA BELAGU. TINGKAH RS SERTA DOKTER YG KAYA DEWA. MUNAFIK.
    SEJAK ITU SAYA SELALU BAWA KELUARGA SERTA REKOMENDASI KEKAWAN YG SAYA KENAL UTK TDK KERUMAH SAKIT ITU LAGI. SEKARANG INI SAYA SERING BAWA PASIEN KE KUALALUMPUR DISANAH LEBIH MURAH 40%S/D 50% DARI INDONESIA, SERTA PERAWATAN LEBIH PERHATIAN BAIK DARI RS JUGA DOKTERNYA.
    MOHON MENETRI KESEHATAN KITA PERHATIKAN INI.
    INI SDH TIDAK RAHASIA LAGI, BAHWA RS KITA BETINGKAH.
    SEMOGA SAYA GA DITANGKAP LAGI DGN LAPORAN SEBENARNYA INI.

  42. adheet | 4 June, 2009 15:40

    SAMBEL GLEDEG TU RUMAH SAKIT..!!!

  43. dhenok | 4 June, 2009 15:56

    Saya pernah membeli paket ayam di KFC untuk dibawa pulang. ketika sampai rumah, ternyata saya buka isinya ga sesuai paket. saya komplen melalui web KFC, bbrp jam kemudian langsung dapat tanggapan. saya ditelpon dan seorang managernya ke rumah untuk minta maaf memberi ganti rugi…terima kasih KFC
    begitu juga waktu makan di Pizza Hut. waktu itu saya cuma beli paket berdua (ngirit). eh ternyata pizzanya keras sekali, saya komplen ke pelayannya… eh pelayannya langsung minta maaf dan langsung diganti lengkap 1 paket lagi plus anak saya dikasih buah2… seneng banget, rasanya saya dihargai sekali, padahal saya cuma konsumen kecil dan bukan konsumen yg beli dlm jumlah yg banyak
    mungkin bener komentar SHKCHY, mungkin karena mereka franchise dr luar yg uda jelas aturan2 bagaimana cara menghormati konsumen. dan terlebih lagi mereka tahu cara menghargai sesama manusia, dengan senyum dan keramahannya menanggapi keluhan kita.

  44. Aas | 4 June, 2009 19:33

    Mungkin biaya pendidikan dokter yang mahal di tanah air ini menyebabkan lulusannya tega bertindak semena-mena. Putra sahabat saya baru saja didiagnosa leukemia oleh staf dokter di sebuah rumah sakit swasta terkenal di surabaya, namun saat dokter memutuskan untuk mengambil sumsum tulang belakang, keluarga berkeberatan dan akhirnya dibawa ke seorang herbalis. Ternyata si anak hanya menderita cikunguya dan dalam waktu satu minggu sudah sehat kembali. Kami membayangkan bila waktu itu kami menuruti hasrat dokter2 tsb untuk mengambil sumsum tulang belakang abdan (nama si anak), sedangkan diagnosanya masih belum bisa dipertanggungjawabkan…wah bagaimana jadinya???!!! Mari kita hidup sehat, makan makan sehat, berolah raga, jauhi rumah sakit……Hidup Bu prita, maju terus pantang mundur, kami mendukungmu dengan doa.

  45. hendri doni | 4 June, 2009 20:44

    Emang si dokter tu merasa dirinya tuhan dan selalu tepat dalam analisa orang. Pengalam saya sih berobat dirumah sakit besar, si dokter bukan nya sibuk buat analisa pasien, tapi malah sibuk tulis nota tagihan.

  46. zastro goedel | 5 June, 2009 07:52

    Dokter yang tidak komunikatif, itu jelas dokter masih bingung dalam buat diagnose dan obatnya. Takut kalau KETAHUAN dia ragu2 atau coba2.

    Saya sangat berpengalaman dengan dokter2. Cari coba cari dokter yang suka diajak tukar pikiran dan suka amal ilmunya. Pernah saya bertemu dokter seperti yang tak harapkan. pendirianny cocok dengan saya. “OBAT BUKAN SATU2NYA PENYEMBUH,(paling hnaya 50%) SISANYA ADALAH PENGETAHUAN UNTUK MENYIKAPI/MERAWAT (:MAKAN, PENCEGAHAN YANG DILARANG CARA HIDUP DSB KEJIWAAN DSB DSB

  47. zastro goedel | 5 June, 2009 07:56

    Apa yang ditetapkan dokter itu, semuanya PERCOBAAN alias kira2. Makanya konsultasi adalah cara bertemunya pengobatan yang tepat dan ramah.
    Jika sebaliknya, maka Pasien malah akan strees; dan kalu begini maka penyakit lain akan datang. Buktikanlah teman semoga berguna.

  48. BRAVO CHARLY | 5 June, 2009 09:10

    KALAU GW MAH SIH………….BOIKOT RUMAH SAKIT RS Omni Internasional…………JANGAN MENTANG MENTANG….ADA EMBEL EMBEL INTERNASIONAL…JADI GEDE KEPALA…….TUH RUMAH SAKIT…….UNTUNG GW BUKAN PRESIDEN RI….. KALAU GW PRESIDEN PASTI SDH GW BEKUKAN TUH….IZIN USAHANYA…….

    MERDEKA!!!!!

    MERDEKA DI TANAH INDONESIA…TERCINTA…

    MERDEKA !!!!!!!!!!

  49. andy | 7 June, 2009 08:22

    Yaaaa gitu deh nasib konsumen di Indonesia,ga jelas.Selalu dirugikan.Makanya mohon Bapak/Ibu di Legislatif dan Executif jgn lah masalah pasal Pencemaran Nama Baik atau Fitnah atau yg lain2 itu dipakai.Sebab selalu dimanfaatkan oleh Oknum Aparat Penegak Hukum.Saya sendiri pernah mengalaminya kena UU Darurat No.2 thn 51,aneh kan/negara aman2 aja terus th.2009 lg,msh dipake tuh UU.

  50. Rhe | 7 June, 2009 22:12

    Kasus Prita jadi membuka bobroknya pelayanan rumah sakit di Indonesia. Saya sendiri pernah mengalaminya tapi di rumah sakit lain. Ketika saya akan menjalani operasi usus buntu, saya harus berkonsultasi dengan dokter bedah yang sangat arogan di rumah sakit X. Belum2 dia udah under estimate ama pasien dengan mengatakan biaya rumah sakit operasi di rs tsb sangat mahal tanpa menanyakan keluhan saya. Belum lagi gayanya yang sangat arogan. Lansung saya urungkan niat saya untuk menjalani operasi di rs tsb dan pindah ke rs lain yang pelayanannya jauh lebih baik dan lebih ramah. Dilain waktu saya juga penah berobat ke dokter (kebetulan dokter langganan saya sedang tidak praktek) yang cuma nanya saya sakit apa (tanpa menanyakan gejalanya secara mendetil) trus langsung ngasih resep obat (tuh dokter sok tau banget). Setelah 2 hari tidak ada perubahan, saya kedokter langganan saya en beliau bilang tuh dokter salah kasih obat….wakakakak…untung saya ga kenapa2….
    Seharusnya rumah sakit dan dokter lebih meningkatkan pelayanannya karena taruhannya nyawa manusia. Toh dokter kan tidak selamanya sehat, suatu saat pasti akan merasakan jadi pasien juga..

  51. Ismet Jadam | 9 June, 2009 09:50

    Berdasar hasil dari diagnosa,
    Rumah Sakit Omni beserta jajarannya mengidap beberapa penyakit komplikasi :
    1. Paranoid
    2. Alergi
    3. Korengan
    4. Impoten
    Berarti manajemen rumah sakit ini juga harus berobat.

  52. dodi aris | 10 June, 2009 15:19

    hallo Y L K I…
    hallo Y L K I…
    hallo Y L K I…

  53. Anastasia Rahim | 9 July, 2009 21:22

    Bolehlah tapi macam kami ni di KL khawatir Indon tambah runtuh bagai durian ajtuh bila di bawah SBY lagi, kerana rakyat Indon maskin miskin pastilah kerana haluan SBY-Boediono memang neolib. Dan baca ini dan sebarkan ke email semua rakan-rakan kita, salam dari kami budak-budak seKL Malaysia:

    RATNA VS. PERSENTER SHIHAB TELEVISYEN METROTV
    By Anastasia Rahim, Malaysian Sudents Clubs KL Malaysia

    Dari KL Malaysia barusaja kami budak-budak mahasiswa seMalaysia tengok kitikan Ibu Ratna Sarumpaet terhadap televisyen MetroTv Indon dalam sebauh acara presenetr Sihab. Ibu Ratna benar adanya kerana ebrharap ada semacam keinsyafan daripada SBY bahawa beliau harusnya menyatakan undi (pemilu) harusnya dijalankan dua putaran. Tapi harapan Ratna tampaknya akan sia-sia kerana SBY ambisus sangat ingin jadi preiden lagi walau sesungguhnya undi putaran pertama ini tidak sah, secara kualiti, karena DPT dan prosesnya samasekali tidak berjalan jujur dan tidak adil. Ratna juga mengritik pedas Metro yang turut membenarkan kemenangan tu. Semua tv Indon tampaknya tidak menyelidik dan tidak ebrpemikiran kebenaran dan tidak untuk rakyat, tetapi sekadar bisnis dan ramai-ramai, hura-hura, tak tahu musti siapa yang perlu dibela – rakyat bukan? Kami meski PM kami ucapkan selamat kepada SBY-Boediono tu hanyalah basa-basi bukan sesungguhnya. Sesungguhnya kami simpulkan dari KL bahwa undi putran kali ini di Indon yalah tisak sah karena pemilih banyak terhasut oleh ulah Quick Count yang bagaimnapun mencederai dan emnodai sangat demokarsi yang benar. Demokrasi yang benar yalah apabila itu didasari oleh DPT yang benar, jadi secara kualiti benar, bukan sekadar kuantiti yang dibesar-besarkan oleh Qucik Count manapun. Demokrasi akan benar apabila itu didasari oleh proses adri awal mula iaitu DPT dan jalannya undi secara benar. Di Indon kali ini, itu tdiak berlaku, tidak terjadi. Yang berjalan dua hari ini yalah pembohongan kepada rakyat oleh “tangan-tangan rapi pendukung dan pemanfaat kekuasaan, oleh orang-orang yang perolehi keuntungan dari kelemahan dan ketidaktegasan SBY selama ni dan dimasa mendatang apabila dia tetap dimenangkan di dalam ketidak absahan undi kali ini. Sayang sekali pesaing-pesaing politik SBY-Boediono tampak tak berani eprtanyakan perkara pelik dan etruk ni. Mereka bodoh, mski SBY dah menantang “semua bisa dilakukan secara hukum.” Tapi rupanya mereka lemah, tersenyumlah SBY-Boediono melenggang ke Istana. Bagi kami budak-budak mahaiswa KL Malaysia, undi Indon kali ini tidak sah. Quick Count dan tokoh-tokohnya dan barangkali pula MetroTV harus didemoa besar oleh rakyat dan mahasiswa Indonesia, harusnya mereka membakar gedung televisyen tu dan menculik tokoht-koh makelar perancang Quick Count. Dimanapun di dunia ni tidak boleh ada quick count yang berakibat mendorong konstituen akhirnya terprovokasi memilih SBY-Boediono. Di manapun di dunia ini yang hanya sah dalam undi/pemilu semata yalah real count dan itupun harus didasarkan pada DPT dan proses undi yang benar-benar jujur. Selamat berjuang lawan-lawan politik SBY, selamat berjuang rakyat Indonesia dan mahasiswa Indonesia. Bolehkah, dapatkah, kalian menang dan gagalkan SBY? Harusnya boleh, dapat. Beramalkah, beramalah, demolah, demolah. Berjayalah mahasiswa dan rakyat Indon yang terzalimi oleh peenrus Orba SBY-Boediono! Sesungguhnya hanya JK-Wiranto ataupun Mega-Prabowo pemimpin yang hendak majukan Indonesia, sebab SBY tidak mampu dan tidak jelas. (Sebarang komen bolehlah dimajukan ke email kami: anastasiarah@msc.kl.my)

  54. Doni | 19 July, 2009 01:30

    sangat setuju dgn Michael Dell untuk membatasi kritikan dari konsumennya :)

    bukankah kritikan dari pelanggan/konsumen itu merupakan berkah yg sangat bernilai utk kemajuan suatu usaha :)

    hehe.. tentunya kritikan yg bener lho… jgn asal asbun ;)

  55. Adi Purwono | 31 July, 2009 08:16

    Sy bth artikel Krn TEMPO. 7 Jun ttg PM, khususnya ttg hak2 pasien, utk thesis sy S-2. It’s appreciated to anybody who able faxing to 021 7456420. Thanks. BTheWay, no wonder that the sicks having treatment to Sing, Malay, as wl as to State.
    R we a looser?

  56. Adi Purwono | 31 July, 2009 08:21

    wanna be a winner? Otoritas Kesehatan RI - empathy ajah, threat them as U wanna be treated. Easy khan, but jgn retorika ajah, Remember, U R being paid by rakyat

  57. Adi Purwono | 31 July, 2009 08:22

    wanna be a winner? Otoritas Kesehatan RI - empathy ajah, treat them as U wanna be treated. Easy khan, but jgn retorika ajah, Remember, U R being paid by rakyat

  58. ismael | 15 October, 2009 14:38

    bukan hanya tutup tapi kalo perlu jgn didadatangi lagi tuh rumah sakit…

  59. Siti Mardiyah | 8 December, 2009 17:52

    M e l e n g s e r k a n S B Y – b i s a !

    Tergantung komitmen dan upaya keras kita semua, khususnya kawan-kawan sesama mahasiswa seluruh Indonesia. Juga tergantung bekas-bekas dan jenderal-jenderal, tokoh-tokoh masyarakat, terutama yang di luar kekuasaan, apakah mereka memang masih punya hati nurani melihat banyak rakyat sudah bunuh diri, anak-anak busung lapar, ketidakadilan menjadi-jadi, kini setelah Indonesia di bawah SBY yang berkarakter dan bersikap bukan negarawan.

    Kawan-kawan harusnya jeli dan jangan mau dibodohi dosen kita yang penakut, itu tu pak Effendi Ghazali. Dosen-dosen yang lain tidak boleh bersikap mendua seperti pak Effendi dan harus berani dengan siasat cerdas meraih tujuan reformasi sejati. Melihat berkembangan terakhir sudah saatnya kita semua turun ke jalan untuk agenda tersembunyi yang cerdas. Kita setidaknya saat ini masih suka dengan bung Fadjrul yang selalu vokal dan berani, kita juga suka abang Massardi yang juga berani, setidaknya untuk saat ini, sampai mereka membuktikan mampu melengserkan SBY boneka itu.

    Gerakan 9 Desember tetap dan harus beragendakan pelengseran SBY. Poster-poster berbahasa Indonesia dan Inggris harus dibuat masif dan komunikatif: LENGSERKAN SBY! SBY STEP DOWN! dan sebagainya. Kalau sekadar demo damai basa-basi anti korupsi justru akan menguntungkan SBY yang tidak akan membawa negeri ini baik.

    Sudah enak dia 5 tahun, jangan ditambah berkuasa 5 tahun lagi sampai 2014. Kita semua sudah mengenali watak tidak jelas itu ada pada SBY. Watak tidak mungkin berubah. Kalau selalu ragu dan tidak jelas, Indonesia tidak akan mampu bangkit. Menjatuhkan SBY untuk situasi saat ini justru sejalan, seirama dan seuasi dengan UUD 1945. Lihat, tidak ada satu saja kebijakan SBY yang sesuai dengan UUD 1945. SBY kapitalis tidak, sosialis tidak, agama tidak. Kebijakan ekonomi dan politik SBY justru bersifat makelar dan koruptif masif tersembunyi.

    SBY tidak akan membawa perubahan signifikan dan sengaja membiarkan semuanya liar. SBY membiarkan semakin banyak ketidakadilan hukum dan ekonomi. Karakter tidak mungkin berubah. SBY berkarakter ragu, penakut, pengecut, namun selalu saja mencoba menyusun kata-kata berbunga-bunga, di saat menghadapi berbagai dilema yang harusnya dia pecahkan dengan memuaskan rakyat.

    SBY terinfeksi berbagai sindrom dan penyakit. Sindrom penakut, penyakit menular miskin wawasan kenegaraan dan miskin pengawasan dan pelaksanaan dalam kebijakan pemerintahan. Yang dia kenal, tahu sama tahu. Pejabat atau menteri melaksanakan program sekadar menuruti tren omongan orang tanpa wawasan pembangunan kenegaraan yang benar dan tanpa target manfaat rakyat. Seluruh dana aman dikorupsi bersama, inilah tahu sama tahu.

    Pemimpin negara yang terinfeksi sindrom dan penyakit menular tersebut tidak mungkin membangun negara. Ini sebab SBY nyaman dan menatang terus dengan semakin banyak menyusun kata-kata pidato bohong, menonjolkan pribadi seolah-olah negara miliknya.

    Di facebook dan yang lain, ini tentu saja normal, SBY dibilang l-e-m-o-t, lemah otak. Tetapi SBY tidak menyadari dan malah pura-pura tidak tahu dan tetap merangkai kata-kata pidato mencoba merayu rakyat, dan bersikap defensif.

    5 tahun itu berlalu rakyat tidak mendapat manfaat dari SBYdan 5 tahun lagi mungkin akan berlalu sama. Lambat dan tidak ada tindakan substantif kecuali pembohongan-pembohongan, pembodohan-pembodohan, cara-cara lama yang terus dipakai SBY. Dia tidak menyadari zaman sudah berubah, dan rakyat sangat cerdas. Pasti SBY akan diturunkan di tengah jalan dan tidak lama lagi kalau terus begini.

    Mencermati wataknya selama ini jelas SBY tidak akan berbuat banyak untuk rakyat Indonesia. SBY bukan tipe pemimpin dan apalagi bapak pembangunan seperti Suharto.
    Kepandaian menutupi borok-boroknya adalah khususnya karena abang kita yang pandai bicara dan menutupi kelemahannya, abang Andi Malarangeng, yang maaf ketularan oportunis dan licik. SBY dan abang Andi hanya jenis manusia saleman kata-kata.

    Tentu saja kalau ada di audit komprehensif maka semua proyek periode 2004-2009 bocor banyak, dikorupsi tidak nampak, atas nama proyek-proyek yang tidak ada manfaat untuk kecuali disunat sana sini. Maka SBY terpilih lagi. Korupsi terjadi justru banyak orang ambil manfaat dari pembiarannya. Korupsi merajalela justru karena SBY juga tidak ditakuti.

    SBY mengartikan reformasi sekadar slogan untuk dimanfatkan di pidato bukan memahami makna sejatinya dan luasnya dan dilaksanakan dengan maksimal. Ini juga kesalahan sistem, negara ini tidak punya MPR dalam arti sebagai majelis tertinggi yang bisa “menggantung” presiden buruk dan tidak ada GBHN.

    SBY parah kalau dibandingkan Suharto. SBY mengatakan tidak hutang tapi tetap hutang. SBY pinjam dari ADB dan World Bank tentu bukan dari IMF meskipun saat ini IMF menawarkan hutang baru dengan syarat longgar.

    SBY benar kalau dibilang lemot. Suharto memang pinjam ke IMF dan World Bank tetapi benar-benar untuk pembangunan masif dan tidak banyak bocor. Suharto punya pengawasan dobel tripel. Suharto tegas dan memecat siapa saja yang tidak beres. Dalam kabinet SBY, dana-dana menguap habis. Konon juga untuk mengongkosi kampanye 2009 antara lain dengan pelanjutan program BLT ini. Pemerintahnya konon juga terlibat skandal talangan tak perlu atas Bank Century, yang duitnya konon masuk ke putranya sendiri dan pembantu-pembantunya termasuk ke orang-orang KPU. Penuduh-penuduh bisa salah bisa benar. Mereka mengaitkan itu karena Budiono jadi wapres dan Mulyani kembali ditunjuk.

    SBY tidak mampu apalagi secepat dan setingkat Suharto. Suharto masif membangun termasuk mendirikan industri dan bisnis Batam yang kini sudah memudar, dan Suharto membangun jalan-jalan raya dan yang lain bukan sekadar sebelum kampanye, dalam merayu rakyat. SBY juga tak melanjutkan pembangunan proyek jalan layang dan tol signifikan yang terhenti setelah sekian lama sejak Suharto lengser.

    Di masa Suharto, semua jalan tol, layang dan jalan raya dibangun bagus dan awet karena dana tidak banyak bocor, bukti konkrit Suharto. Dia mengawasi dan memecat pejabat teras yang tidak beres. Suharto tidak kata berbunga tetapi tindakan.

    SBY lebih suka kata-kata berbunga. Suharto bernasionalisme dengan bukti konkrit tersebut. Kalau saja dahulu Suharto tidak dilengserkan pasti Indonesia sekarang sudah sama dengan Malaysia atau sedikit dibawah Singapura. Betapa tidak berartinya SBY saat ini dan dia seallu menutupi malunya bukan dengan lengser tetapi dengan membuat kata-kata berbunga dalam setiap kesempatan pidato. Samasekali tidak lucu. Dan lihat jalan layang Kalimalang itu yang sampai sekarang tetap tidak selesai dibangun, sekian lama setelah Suharto lengser dan sekarang sudah meninggal. SBY membuktikan tidak mampu meneruskan pembangunan manapun.

    Justru presiden boneka seperti SBY yang harus dilengserkan bukan Suharto yang kita sadari ternyata lebih cinta dan perduli rakyat.

    Bangsa ini memang tidak mampu mengenali pemimpin dan negarawan sejati atau bohongan. Suharto cinta pembangunan, Sukarno cinta rakyat, dilengserkan. Sementara, SBY boneka imperialis dan pembohong, dibiarkan, tidak dilengserkan. Kitas selalu dibodohi memaksa lengser presiden adalah makar dan melanggar Konstitusi UUD 1945 adalah kata-kata pertahanan penguasa. Justru menjatuhkan presiden macam SBY yang tidak perform dan tidak menjalankan amanat UUD 1945 adalah menegakkan kosntitusi tersebut. Lihat, tidak ada kebijakan SBY yang sejalan dengan UUD 1945.

    Suharto dalam beberapa tahun terakhir berkuasa berhasil membangun masif untuk rakyat dan bangsa Indonesia, SBY bahkan sampai 2014 juga tidak akan mampu. SBY asyik dengan pidato kata-kata. Ini karean SBY tidak diberi pelajaran oleh kita yang bersikeras menuntut dia lengser.

    Sebagai mahasiswa kita malu punya negara dengan presiden seperti ini yang tidak hanya boneka imperialis tapi juga miskin wawasan bernegara untuk kepentingan rakyat.

    Di facebook dan tv-tv, bahkan SBY dibilang, dan ini wajar saja, l-e-m-o-t. SBY sebenarnya pandai mengambil keuntungan pribadi dan dia telah menganggap dirinya pemilik Indonesia, sebuah sindrom yang lain. Beberapa kawan kita telah membuat analisa psikologis sifat dan watak SBY melalui pidato-pidato SBY.

    SBY menegakkan HAM sebatas HAM kebebasan berekspresi dan inipun sangat lemah karena membiarkan tim hakim di sebuah pengadilan negeri menggangsir kebebasan ini, renungakan kasus Prita Mulyasari vs RS Omni Internasional, dan SBY tidak minta hakim ketua tersebut dipecat, hanya untuk menunjukkan dia tidak boleh campur tangan, sebuah kepura-puraan dan kebodohan. Padahal jaksa agung dan ketua MA sekalipun diangkat oleh Presiden. Ini mebodohan kepada rakyat. Separah ini tidak mungkin terjadi di masa Suharto.

    SBY bukan menegakkan HAM secara komprehensif dan substantif. Buktinya siapa pembunuh Munir tidak terungkap dan kasus ini lenyap di telan lupa. Tidak substantif, karena jutaan rakyat dibiarkan tidak berubah nadib mereka, ini pelanggaran HAM masif.

    SBY juga membiarkan merajalela korupsi berjamaah dengan memarkup dan menyunat dana-dana proyek pemerintahannya sendiri. Sedangkan ketidakadilan hukum dan ekonomi menjadi-jadi, karena SBY dilihat tidak tegas, dilecehkan. Banyak pejabat dan menteri menjalankan proyek dengan dalih memperbaiki taraf hidup masyarakat, namun yang ada di kepala mereka sesungguhnya hanya bagaimana caranya mendapat jalan sukses berkorupsi tidak kelihatan, dan SBY tahu itu. SBY aman tidak dilengserkan. Indonesia dunia terbalik. Hasil pemilu 2009 sesungguhnya tidak sah karena hasilnya bukan mencerminkan kebenaran, dan juga karena politik duit antara lain jartingan pengaman sosial terselubung, BLT, dan sebagainya. Inilah yang merusak sistem demokrasi. Demokrasi menjadi tidak disukai karena selalu diselewengkan penguasa, dalam hal ini, SBY sendiri.

    Di Iran hari ini kita menyaksikan demo masif yang digerakkan pemimpin oposisi kalah pemilu saat melawan Ahamdinejad. Demo tersebut persis sama sebelum pelengseran Suharto. Gerakan di Iran kali ini didanai CIA dan bertujuan menjatuhkan Ahmadinejad, yang bersikeras tetap memperkaya uranium ke kadar senjata nuklir dan tidak mau menghentikan program ini.

    Di Indonesia esok 9 Desember dan dalam waktu dekat ke depan gerakan mahasiswa itu mungkin tidak akan mampu melengserkan SBY, karena tidak ada negara dan lembaga kuat dari luar yang berkepentingan. Amerika belum ada yang meyakinkan lebih nyaman kalau bukan dengan SBY. Dengan SBY presiden RI, Amerika tetap bisa mangangkuti berton-ton emas dari Papua dan migas dari daerah-daerah yang lain di Indonesia, membantu mengatasi ekonominya yang hancur lebur akibat krisis finansial. Jadi harus ada yang meyakinkan bahwa tanpa SBY kepentingan negeri Paman Sam itu jauh lebih selamat. Belum ada kelompok itu.

    Tetapi Tuhan bisa menghendaki lain, kalau seluruh umat beragama di Indonesia berjuang keras, bangun dan sadar, bahwa negerinya di bawah rezim boneka dan tidak becus, rakyatnya menajdi sengsara, walaupun Indonesia merdeka sejak tahun 1945.

    Yang pasti SBY bisa, bisa dilengserkan, juga atas nama UUD 1945 dan cara lain apa saja kalau mantan jenderal-jenderal terbuang tidak takut; seluruh rakyat menunggu, dan kalau mereka mau bersama-sama jaringan mahasiswa dalam arti luas, dan kalau juga mengajak seluruh tokoh masyarakat penting seperti pak Amien Rais dan pak Gus Dur serta tokoh-tokoh pendemo masa lalu, turun jalan tetapid engan poster-poster jelas, berbagai bahasa, komunikatif, dengan agenda pelengseran SBY.

    Pak gus Dur dan pak Amien punya basis massa masif dan signifikan. Bersama kita mahasiswa seluruh Indonesia dan kalau didukung perwira-perwira TNI dan polisi terbuang dan juga yang aktif, atas nama berbagai pelanggaran dan penyelewengan, kita bisa bersama-sama melengserkan SBY. Lebih cepat lebih baik. Mereka juga harus meyakinkan CIA dan Amerika, bicara jelas jangan mendua, saat ditanya agen-agen CIA. Mereja juga harus rajin mengirim email ke lembaga-lembaga internasional. Mreka juga harus aktif berkomunikasi bisa lewat email dengan CIA dan bertemu dengan agen-agen CIA di Bangkok dan Singapura bahwa SBY bukan harapan rakyat dan rakyat bisa marah masif dan kepentingan Amerika tidak dijamin aman. Amerika pasti tidak ingin kepentingan banyak industri masifnya di Indonesia terganggu akibat pemimpin yang membuat marah rakyatnya. Pak gus Dur dan pak Amien tidak boleh anda-anda orang sekadar bicara tetapi buktikan turun ke jalan dan teriakkan lengserkan SBY juga. Jangan biarkan rakyat itu menderita terus-menerus. Ayooolah, maju terus, sampai SBY benar-benar mundur. Setuju yang mengatakan bahwa pangkal masalahnya adalah sikap dan karakter SBY. Memang.

  60. Achmad Zaire | 8 December, 2009 18:04

    Wah artikel ‘cerdas’ kak Siti ini bisa untuk persiapan tanggal 9 Desember. Saya setuju sekali. Kita memang perlu cerdas, jangan lugu, dengan agenda anti korupsi yang disponsori Pak Presiden. Perlu memang ditarik ke agenda pelengseran. Malam ini harus ada yang mbikin poster turunkan presiden banyak-banyak, dan jangan sampai bahasa Inggrisnya salah. Kalau perlu dengan bahasa Belanda biar kerajaan Belanda dan PM tahu negara bekas jajahannya dikelola main-main olen inlander kolot Sby. Doom Sby !!!

  61. Ali Marwan | 8 December, 2009 18:20

    Mustahil bisa dilengserkan, la wong rakyatnya pada tidur nyenyak gitu. Kekenyangan duit BLT dan duit korupsi berjama’ah. Itu DPR kerjaaannya cuma cari bagian dan pura-pura galak namun maksudnya dengan angket bank century agar dapat bagian, ini sudah rahasia umum. Turun ke jalan dan diakhiri kerusuhan jalan keluar terbaik, buat presiden SBY menyerah.

  62. Marbun | 11 December, 2009 12:55

    senang membaca blog tempo, ini isyarat demokrasi yang baik, jangan dihapus kawan, pejabat dan presiden mestinya membaca semua blog di tempo, dan jangan sampai gatal menekan atau minta disensor, mestinya mereka berkaca rakyat indonesia kini luarbiasa, dan pemilik blog jangan sampai menghapus artikel-artikel variatif nan cerdas itu, kawan. horasss.

  63. Etty Margono | 16 December, 2009 17:07

    Tanggapan buat mbak Siti. Semua tergantung bukan mahasiswa saja namun juga kita semua dengan izin Allah. Kita mua harus terlibat aktif bersama seluruh kekuatan mahasiswa, kaum intelektual, tentara berhati nurani, polisi berhati nurani, dan semua komponen rakyat, ber-sama2.

    Kita mahasiswa tidak boleh putus asa, bergerak terus, dengan dukungan materiil dan moril mereka yang oposisi dan ingin menegakkan keadilan. Uang triliunan itu sangat besar bisa untuk membiayai banyak kebutuhan umum anak bangsa ini.

    Harus tetap pada jalan cerdas dan lihai menuju efektif. Apa kata dunia kalau Indonesia dalam korupsi berekayasa ini di saat presidennya senang jalan2 ke luar negeri dengan biaya duit negara duit rakyat.

    Oposisi harus memainkan semua jurusnya, untuk rakyat.

    SBY terbukti memang tidak bermutu. Maka begitu terpicu kuat, kita mahasiswa kak Siti dan rakyat kelompok termiskinkan dan terpinggirkan akan bergerak simultan. Kunci ada di lawan-lawan SBY baik di dalam maupun di luar pemerintahan, apa berniat mempercepat penantian kekuasaan yang terpilih ilegal dengan politik uang, a.l. dengan BLT, atau tetap status quo seperti sekarang dan tidak mungkin menatap cerah ke depan karena PD semakin kuat dengan dukungan curang seluruh birokrasi korup negeri ini, dan puas hanya sebagai pecundang2 bermadesu.

    Tuhan telah beri jalan ampuh, jalan erang dan nyata, yaitu roadmap krusial menuju neraka pemakjulan atau pemunduran wajib untuk Budiono dan Sri Mulyani, untuk menyelamatan SBY, roadmap keadilan bagi rakyat, melalui fokus talangan BC yang tidak sah, akibat penyalahgunaan otoritas oleh Budiobo dan Sri Mulyani.

    Pelaksanaan talangan atas Bank Century apapun pretex-nya sangat melanggar apalagi dengan kilah berdampak luas. Ini tidak mungkin sebab BC hanyalah bank gurem, tidak ada pengaruhnya samasekali dengan banyak perbankan nasional yang mengindikasikan sangat sehat seperti di iklan2 di tv2 kita. Talangan atas BC jelas tidak berdasar.

    Negara ini akan sangat dilecehkan di mata dunia dan berakibat merugikan pemerintah saat ini kalau kasus yang dibuat Sri Mulyani dan Budiono di masa itu, kini tidak diadili dan diebri sanksi tegas. Tidak mungkin investor datang atau mau bertahan di Indonesia, sebab timbul huge distrust trhadap [peemrintah] Indonesia, dan kasus 1998 nak terulang lagi.

    Budiono dan Sri Mulyani nampak pasti terciprat duit haram itu, dengan pengabulan bailout BC tarsebut.

    Ini penyalahgunaan kewenangan sangat memalukan dari Budiono dan Sri Mulyani. Kalau masih ada yang membela mereka ataupun kenampakan baik SBY sebagai pemimpin eksekutif negara adalah cinta membabi buta dan fanatik tanpa mampu melihat kebenaran dan fakta ini.

    Alasan Sri Mulyani maupun Budiono bahwa kalau BC tidak diselamatkan, akan berdampak signifikan pada sistem perbankan nasional, sangat bohong besar, tidak berdasar, tidak masuk akal. BC hanayalah bank gurem.

    Maka DPR, KPK dan MK harus membuat investigasi teliti dan menanyai hingga mengaku kepala PPATK dan menekan Roy Suryo yang juga menyalahgunakan disiplin ilmunya untuk kepentingan pribadi dan PD sehingga dia tidak menunjukkan kebenaran.

    Ingat, macam kami lihat, majoriti rakyat Nusantara tidak hanya haas dan lapar perliahatan keadilan etapi juga sudah haus dan lapar fisikan jasmani betulan. Institusi2 tersebut harus membongkar dan menunjukkan kebenaran kepada rakyat dan memperlihatkan keadilan kepada mereka dengan pemunduran kedua pejabat penyalahguna otoriti tersebut, tak ada jalan lain.

    DPR, KPK dan MK harus bekerjasama dan fokus tetap pada fakta penyalahgunaan kewenangang Budiono dan Sri Mulyani. Jangan ke-mana2.

    Sri Mulyani dan Budiono pasti akan habis dengan fokus ini dengan bukti2 kearah sana. Mereka harus mundur atau dipecat oleg SBY. Kalau SBY tidak membuat ini, dia pun bisa diimpeach.

    Ini bukan soal membela dan tidak membela partai A,B atau C. Ini soal keadilan bagi bangsa.

    Saatnya DPR, KPK, MK menunjukkan ke rakyat sebelum sebentar lagi timbul revolusi sosial yang lebih merugikan. Kini kita mahasiswa tidak diam, kita membuat daftar alamat rumah di dalam maupun luar negeri pejabat-pejabat pelanggar hukum dan wewenang negeri ini. Mereka tidak akan bisa lari, kami akan buru untuk diminta tanggung jawab bila sampai terjadi revolusi sosial.

    Penjeratan efektif adalah dengan menunjukkan bukti2 meyakinkan dan tak terbantahkan bahwa mereka menyalahgunakan kewewenangan dengan talangan sangat sangat ilegal tersebut. Bukti2 dan saksi2 perlu diperkuat dan cukup bahwa kedua pejabat tersebut memang telah menyalahgunakan kewenangan mereka. Habis pasti. Fokus ke sana. Bagi mereka yang pandai, mbak Siti, bahkan SBY melalui roadmap ini mudah dimakjulkan kalau Sri Mulyani dan Busiono tidak diganti. Bola di tangan DPR, KPK dan MK, juga bola ini harus didorong dengan tekanan2 luas oleh gerakan mahasiswa dan kaum intelektual seluruh negeri. Kini bukan saatnya lagi membawa bangsa ini dengan paradigma Orba, yang selalu membuat alur2 cerita dan skenario yang tidak pro rakyat.jalan2 cerita-erita dan dmasiTerserah KPK utamanya dan juga DPR apakah mereka akan saatnya sekarang membuktikan bahwa mereka berani untuk pro rakyat atau akan ikut membodohi rakyat seperti pemerintahan sekarang atau akan didemo besar sekali oleh rakyat dan mahasiswa. Anda dan kawan-kawan anda akan segera melihat bahwa oran2 KPK, ketua MK dan orang2 di DPR yang berani akan anda pilih menjadi pemimpin2 masa depan bila di antara mereka berani mencalonkan presiden menggantikan SBY — sebentar lagi.

  64. Burhan | 16 December, 2009 17:40

    Benar, aku dukung, yuk kita dukung siapapun yang berani demi rakyat. Kalau Bambang Susetyo benar maju terus, jangan dibuka semua sekarang, nanti penjahat-penjahat itu ada jalan berkelit. harus cerdas, pak Bambang. KPK dan pak Mahmud MD dari MK harus membantu yang benar, jangan hanya membela SBY dong? Memang betul ini bukan masalah perebutan jabatan empuk itu, kalaupun ya sah saja, poinnya ialah siapapun yang melangar hukum, terlepas mereka anggota kabinet atau bukan, harus digantung kalau merugikan uang negara!!!

  65. Maya | 4 June, 2010 14:58

    Aku tertarik soal siapa yang cocok jadi ketua KPK. Tapi aku ingin tahu lebih dulu kenapa Antasari dipenjara? Ini soal krusial. Apa betul dia bersalah? Kita semua ragu. Siapa yang tahu sebenarnya yang terjadi pada Antasasi. Yang tahu sebaiknya cerita atau komen di sini. Kamu nggak usah takut. Kamu bisa pakai nama samaran, bloon.

    Setelah Antasari dipenjara, para koruptor berpesta lagi. Lalu siapa pengganti sehebat Antasari terbukti tidak ada setelah penggantinya pun mundur. Lalu kira-kira siapa calon ketua KPK mendatang ini? Kalau hanya usia muda banyak, tapi apa ada yang seberani atau sehebat Antasari? Apakah bang Todung Mulya Lubis, atau bang Adnan Buyung Nasution mampu?

    Rasa-rasanya, pemerintah (Presiden dan DPR) sebenarnya mampu pilih atau mengajukan ketua KPK yang sehebat Antasari atau lebih hebat lagi agar korupsi terberantas maksimal dan koruptor-koruptor kakap benar-benar dipenjara biar kapok. Persoalannya mau nggak. Dan apa pemerintah ada niat sungguh-sungguh menempatkan orang seperti itu, seberani dari Antasari. Kayaknya nggak ada. Kayaknya negeri ini ful sandiwara belaka. Jangan-jangan dipenjaranya Antasari karena permainan koruptor2 sendiri lalu dibiarkan pemerintah?

  66. marjadi | 5 June, 2010 23:18

    kami yang wni tinggal di pontianak dan kalimantan barat lebih senang berobat ke kuching - malaysia ( rs normah ). dibandig pelayanan kesehatan di rs dalam negeri yang selain mahal,hak hak pasien tidak dihormati, dan tidak ada jaminan bebas dari mal praktek.
    kapan kita bisa meningkatkan kualitas pelaaayanan kesehatan kayak mereka

Silakan berkomentar, kawan!