Enak di Blog dan Perlu

Kurniawan

Seorang teman saya baru saja berkeliling Jakarta memantau peristiwa banjir hari ini. Dia lalu menceritakan sebuah kejadian tragis yang disaksikannya saat mengunjungi Cipinang Muara, Jakarta Timur. Kawasan itu sudah terendam air setinggi dada.

Menurut teman saya, di sana ada seorang reporter dan kamerawan televisi nasional Indonesia. Keduanya mencoba membuat laporan langsung evakuasi di lokasi tersebut. Masalahnya, evakuasi sudah selesai dan para korban sudah selamat.

Apa akal? Sang reporter lantas merancang sebuah drama seolah-olah evakuasi sedang berlangsung. Dia meminta sekitar enam orang warga yang menjadi korban untuk berakting sedang diselamatkan.

Di antara mereka ada yang disuruh naik kembali ke atap rumahnya, ada yang disuruh bergantungan di tali tambang dengan badan tenggelam sambil pura-pura berusaha mencapai perahu karet penyelamat.

Tapi, adegan “live” ini rupanya kurang dikoordinasikan dengan studio televisi mereka. Pihak studio tak kunjung menyiarkan adegan tersebut. Maka, para korban diperintahkan bertahan dalam posisinya yang dramatis itu selama hampir setengah jam menunggu siaran langsung tiba.

Ya, namanya orang dipaksa berendam di air setengah jam, wajar saja jika mereka kedinginan karena basah kuyup. Para korban pun mulai marah-marah dan mengomel panjang lebar. Sang reporter-cum-presenter yang cakep itu pun sibuk menenangkan mereka.

Sebenarnya, apakah adegan semacam ini perlu dan etis? Apakah demi memenangi persaingan antarstasiun TV yang jor-joran menyiarkan peristiwa banjir, maka drama buatan semacam ini dibolehkan?

Kalau akal sehat bicara, tak ada pembenaran apapun atas reka-adegan semacam itu. Secara jurnalistik pun, pembohongan telah terjadi. Secara etis, siapa sih yang tega menyuruh para korban banjir itu berendam lagi? Kecuali, kita semua memang telah kehilangan akal sehat.

Komentar [17]

Feed  •   Trackback  •   Kirim Komentar

17 Komentar untuk “Drama Banjir Buatan di TV”

  1. ime | 6 February, 2007 17:37

    Reporter dan kamewaran ini dah ngalain bapak polisi yang lakuin reka ulang dari peristiwa. Sepertinya ini bukan kali pertama, dan dah sering dijumpain kalo kamerawan ato fotografer telat. Dari sisi kemanusiaan ini dah benar, selain kehilangan akal sehat ini sama aja tidak fear kan.

  2. sandy | 6 February, 2007 20:03

    hehehe…mungkin benar adegan seperti itu sering kali diperagakan oleh para jurnalis TV dalam liputan peristiwa dan TKP Kriminal…trus? selanjutnya terserah anda…

  3. eddy | 6 February, 2007 22:45

    Huakaka! Saya benar2 gak tau kisah ini parodi atau tragedi! Kalau memang benar adanya (sory!), duh!, saya cuma bisa terkesima! Selebihnya, ngumpat orang2 pekerja tv itu dalam hati!

  4. Yasha | 6 February, 2007 23:30

    They would do anything to get TOP PICTURE dalam tayangan live nya maupun taping.

    No action, no news.

  5. pandoe | 7 February, 2007 07:58

    Untuk adegan itu, artisnya dibayar berapa ya? Mungkin kalau setara dengan honor selebritis, ya nggak apa.

  6. nidya | 7 February, 2007 09:05

    hihihi… sepertinya wartawan yang suka memanipulasi fakta, ada bakat bikin film d.. siapa tau bisa jadi penulis skenario ato bahkan sutradara ato malah produser. kan lumayan bisa jadi kerja sampingan..:p

  7. Biho | 7 February, 2007 10:21

    Biadab, curang!

  8. Tukang Koran | 7 February, 2007 11:29

    Seharusnya ada semacam kredit: “Diperagakan oleh model” saat adegan ini ditayangkan :-)

  9. firmansyah afandi | 7 February, 2007 13:41

    Dasar biadab!..ngak manusiawi..reporternya kurang cerdas :D…Mau terkenal,tapi malah jadi pembohong di masyarakat

  10. musafir muda | 7 February, 2007 20:11

    Turut prihatin juga pada trik-trik mereka yang mengaku insan pers. Dalam benakku, ada seribu satu pertanyaan setelah membaca fenomena ini. Apakah media yang bersangkutan tidak memberi pendidikan jurnalisme pada reporternya? Apakah trik-trik palsu tadi membuat batin seorang jurnalis puas atas karyanya? Duh…

  11. turunggo murko | 7 February, 2007 20:13

    Biadab sih biadab… lha korbannya jg rela gitu pengen masuk tipi… yang bego akhirnya sapa :D
    Kalo ada kejadian, kalo nggak mau ikutan nanti dikamplengin, nah barulah bisa dibilang biadab.
    Kararisruuhhh….

  12. JaF | 8 February, 2007 00:23

    Ah, si mas kayak nggak pernah ke lapangan aja hehe. Pernah dengar cerita ini nggak: “Kru sebuah televisi terkenal telat tiba di TKP pembunuhan. Mayat korban sudah dinaikkan ke mobil jenazah dan siap diberangkatkan. Namun berhubung ini televisi terkenal, mereka bisa mengatur supaya mayat diturunkan dari mobil dan dinaikkan kembali, kali ini dibawah sorotan kamera.”

    Dramaaa.. oh drama… Sinetron kalah seru hehehe

  13. hanny | 9 February, 2007 12:58

    Lho, kayak syuting sinetron ya?

  14. blonty | 11 February, 2007 13:54

    perilaku sebagian jurnalis televisi kita memang payah, Wan… di daerah, banyak koresponden ‘miara’ stringer sendiri supaya beritanya banyak (dan honornya gede). Baca ini deh => http://blontankpoer.blogsome.com/2006/09/28/173/

  15. Arnowo | 18 January, 2008 15:03

    Kebetulan saya dari TV, dan sekarang sudah ambigu sekali secara profesional di TV, mana yang menjdai orang news, mana yang menjadi orang produksi. jadilah berita2 TV seperti sekarang, di segmen 2 isinya sudah DODOL GARUT, SERABI SOLO dll. Karena apa, karena industri TV sekarang sudah menerapkan sistem perekrutan macam Citibank, Easy in Easy out.
    Terbayanglah siapa di balik tayangan bajir tadi, must be a new producer that has age 26 old year.

    Iis Juli Arnowo
    Broadcast System Integrator
    Lotus Media, CV
    Cell: 021-91964349
    Tel/fax: 021-77215072
    email: lotusmediainfo@gmail.com
    Please visit us at http://lotusmedia.multply.com

  16. unhye | 5 February, 2010 13:36

    kok panjang banget

  17. syukriy | 5 February, 2010 15:37

    Ini gara-gara TV hanya mencari keuntungan, sampai tega membohongi pemirsanya.

Silakan berkomentar, kawan!